Perkuat Pengelolaan Sampah Pasar, Pemilahan dari Sumber Jadi Prioritas
Selasa, 11 Agu 2026 07:12
Kunjungan Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, ke Kantor Perumda Pasar Makassar, Senin (10/8/2026). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, termasuk di kawasan pasar yang menjadi salah satu sumber produksi sampah terbesar di perkotaan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, ke Kantor Perumda Pasar Makassar, Senin (10/8/2026).
Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA tersebut membahas pengelolaan dan pemilahan sampah di sejumlah unit pasar, sekaligus mengevaluasi langkah yang telah dilakukan Perumda Pasar Makassar dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Melinda mengapresiasi berbagai pembenahan yang telah dilakukan Perumda Pasar Makassar selama setahun terakhir. Namun, ia menekankan pentingnya memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber.“Lebih dari 50 persen sampah pasar itu organik. Jadi kuncinya adalah pemilahan dari sumber,” ujar Melinda.
Menurutnya, sampah pasar memiliki karakteristik yang didominasi sampah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, kulit bawang dan sisa bahan pangan lainnya. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan sistem yang terintegrasi, tidak hanya mengandalkan proses pengangkutan menuju TPA.
Melinda mendorong agar sampah organik dapat diolah sedekat mungkin dengan sumbernya. Selain pengolahan skala kawasan di masing-masing pasar, pemerintah juga tengah mendorong penyiapan sentra pengolahan sampah organik dengan kapasitas yang lebih besar.
“Idealnya kita punya sentra-sentra pengolahan sampah organik yang besar. Bukan hanya skala kecil seperti TeBa dan open windrow yang sifatnya sementara,” jelasnya.
Perumda Pasar Catat 11,3 Ton Sampah Organik Per Hari
Direktur Utama Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, menyampaikan bahwa pihaknya mulai melakukan penimbangan sampah secara rutin di 14 pasar sebagai bagian dari upaya membangun basis data pengelolaan sampah yang lebih akurat.
Hasil penimbangan menunjukkan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas pasar mencapai rata-rata 11.322 kilogram atau sekitar 11,3 ton per hari. Sementara sampah residu berada di kisaran 10 ton per hari.“Teman-teman saya minta menimbang agar bisa mengetahui berapa besar sampah residu, organik dan anorganik yang ada di pasar,” kata Ali.
Data tersebut selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan sarana, prasarana, fasilitas pengolahan serta armada pengangkutan sampah.
Perumda Pasar Makassar juga menyiapkan integrasi data pengelolaan sampah melalui portal Lontara. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu pemantauan kondisi masing-masing pasar, laporan pengelolaan, persoalan di lapangan hingga masukan masyarakat secara lebih terbuka dan terukur.
Penguatan Armada dan Fasilitas PengolahanTingginya volume sampah organik menjadi tantangan tersendiri bagi Perumda Pasar Makassar. Keterbatasan armada dan fasilitas pengolahan membuat penguatan sarana menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian.
Ali berharap penambahan armada khusus pengangkutan sampah organik dapat membantu mempercepat proses pengelolaan dari pasar menuju lokasi pengolahan.“Data organik kami cukup tinggi. Kalau bisa ditambah unit, mungkin dua unit, akan sangat membantu,” ujarnya.
Sejumlah unit pasar juga telah melakukan pengolahan awal menggunakan komposter dan TeBa. Hasil pengolahan sampah organik telah dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan di lingkungan pasar dan Kantor Perumda Pasar Makassar.
Namun, kapasitas fasilitas yang tersedia masih perlu ditingkatkan agar mampu mengimbangi volume sampah organik yang dihasilkan setiap hari.
Perkuat Edukasi dan Partisipasi Pedagang
Melinda menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat, khususnya pedagang dan pengelola pasar.
Karena itu, Perumda Pasar diminta memperkuat edukasi kepada seluruh tenant agar pemilahan dilakukan sejak sampah dihasilkan. “Kuncinya juga paling utama adalah pemilahan. Tugas Bapak/Ibu semua adalah bagaimana mengedukasi semua tenant di pasar,” tegas Melinda.
Menurutnya, pasar memiliki komunitas pedagang yang relatif terpusat sehingga edukasi, pengawasan dan penerapan aturan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Selain edukasi, penerapan sanksi bagi pedagang yang tidak mengikuti ketentuan pemilahan sampah juga dinilai penting untuk memastikan program berjalan secara konsisten.
Sampah Organik Berpotensi Menjadi Nilai Ekonomi
Penggiat lingkungan sekaligus bagian dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Mashud Azikin, menilai sampah organik pasar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru apabila dikelola dengan baik.
Sampah seperti kulit bawang, sisa sayuran, cabai, serai dan bahan organik lainnya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, eco-enzyme maupun pestisida nabati.“Pemilahan ini yang menjadi syarat utama kita mengelola sampah,” kata Mashud.
Pemanfaatan sampah tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat.
Kolaborasi Jadi KunciPemerintah Kota Makassar menempatkan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Penguatan koordinasi antara Perumda Pasar Makassar, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan, penggiat lingkungan dan para pedagang menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melalui pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik dan pengurangan sampah residu, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat terus ditekan.Sampah dipilah dari sumber, diolah sedekat mungkin dengan sumbernya, dan hanya sampah residu yang diarahkan ke TPA.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mewujudkan lingkungan kota yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tim Ahli dan Duta Lingkungan Hidup Fadly Padi, Dewan Pengawas Perumda Pasar Makassar Evy Aprialti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Helmy Budiman, jajaran kepala bagian dan kepala subbagian, para kepala pasar serta staf Perumda Pasar Makassar.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kunjungan Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, ke Kantor Perumda Pasar Makassar, Senin (10/8/2026).
Kunjungan yang berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA tersebut membahas pengelolaan dan pemilahan sampah di sejumlah unit pasar, sekaligus mengevaluasi langkah yang telah dilakukan Perumda Pasar Makassar dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Melinda mengapresiasi berbagai pembenahan yang telah dilakukan Perumda Pasar Makassar selama setahun terakhir. Namun, ia menekankan pentingnya memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumber.“Lebih dari 50 persen sampah pasar itu organik. Jadi kuncinya adalah pemilahan dari sumber,” ujar Melinda.
Menurutnya, sampah pasar memiliki karakteristik yang didominasi sampah organik, seperti sisa sayuran, buah-buahan, kulit bawang dan sisa bahan pangan lainnya. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan sistem yang terintegrasi, tidak hanya mengandalkan proses pengangkutan menuju TPA.
Melinda mendorong agar sampah organik dapat diolah sedekat mungkin dengan sumbernya. Selain pengolahan skala kawasan di masing-masing pasar, pemerintah juga tengah mendorong penyiapan sentra pengolahan sampah organik dengan kapasitas yang lebih besar.
“Idealnya kita punya sentra-sentra pengolahan sampah organik yang besar. Bukan hanya skala kecil seperti TeBa dan open windrow yang sifatnya sementara,” jelasnya.
Perumda Pasar Catat 11,3 Ton Sampah Organik Per Hari
Direktur Utama Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, menyampaikan bahwa pihaknya mulai melakukan penimbangan sampah secara rutin di 14 pasar sebagai bagian dari upaya membangun basis data pengelolaan sampah yang lebih akurat.
Hasil penimbangan menunjukkan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas pasar mencapai rata-rata 11.322 kilogram atau sekitar 11,3 ton per hari. Sementara sampah residu berada di kisaran 10 ton per hari.“Teman-teman saya minta menimbang agar bisa mengetahui berapa besar sampah residu, organik dan anorganik yang ada di pasar,” kata Ali.
Data tersebut selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan sarana, prasarana, fasilitas pengolahan serta armada pengangkutan sampah.
Perumda Pasar Makassar juga menyiapkan integrasi data pengelolaan sampah melalui portal Lontara. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu pemantauan kondisi masing-masing pasar, laporan pengelolaan, persoalan di lapangan hingga masukan masyarakat secara lebih terbuka dan terukur.
Penguatan Armada dan Fasilitas PengolahanTingginya volume sampah organik menjadi tantangan tersendiri bagi Perumda Pasar Makassar. Keterbatasan armada dan fasilitas pengolahan membuat penguatan sarana menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian.
Ali berharap penambahan armada khusus pengangkutan sampah organik dapat membantu mempercepat proses pengelolaan dari pasar menuju lokasi pengolahan.“Data organik kami cukup tinggi. Kalau bisa ditambah unit, mungkin dua unit, akan sangat membantu,” ujarnya.
Sejumlah unit pasar juga telah melakukan pengolahan awal menggunakan komposter dan TeBa. Hasil pengolahan sampah organik telah dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan di lingkungan pasar dan Kantor Perumda Pasar Makassar.
Namun, kapasitas fasilitas yang tersedia masih perlu ditingkatkan agar mampu mengimbangi volume sampah organik yang dihasilkan setiap hari.
Perkuat Edukasi dan Partisipasi Pedagang
Melinda menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat, khususnya pedagang dan pengelola pasar.
Karena itu, Perumda Pasar diminta memperkuat edukasi kepada seluruh tenant agar pemilahan dilakukan sejak sampah dihasilkan. “Kuncinya juga paling utama adalah pemilahan. Tugas Bapak/Ibu semua adalah bagaimana mengedukasi semua tenant di pasar,” tegas Melinda.
Menurutnya, pasar memiliki komunitas pedagang yang relatif terpusat sehingga edukasi, pengawasan dan penerapan aturan dapat dilakukan secara lebih efektif.
Selain edukasi, penerapan sanksi bagi pedagang yang tidak mengikuti ketentuan pemilahan sampah juga dinilai penting untuk memastikan program berjalan secara konsisten.
Sampah Organik Berpotensi Menjadi Nilai Ekonomi
Penggiat lingkungan sekaligus bagian dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Mashud Azikin, menilai sampah organik pasar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru apabila dikelola dengan baik.
Sampah seperti kulit bawang, sisa sayuran, cabai, serai dan bahan organik lainnya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos, eco-enzyme maupun pestisida nabati.“Pemilahan ini yang menjadi syarat utama kita mengelola sampah,” kata Mashud.
Pemanfaatan sampah tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat.
Kolaborasi Jadi KunciPemerintah Kota Makassar menempatkan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Penguatan koordinasi antara Perumda Pasar Makassar, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan, penggiat lingkungan dan para pedagang menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melalui pemilahan dari sumber, pengolahan sampah organik dan pengurangan sampah residu, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat terus ditekan.Sampah dipilah dari sumber, diolah sedekat mungkin dengan sumbernya, dan hanya sampah residu yang diarahkan ke TPA.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mewujudkan lingkungan kota yang lebih bersih, sehat dan berkelanjutan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tim Ahli dan Duta Lingkungan Hidup Fadly Padi, Dewan Pengawas Perumda Pasar Makassar Evy Aprialti, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Helmy Budiman, jajaran kepala bagian dan kepala subbagian, para kepala pasar serta staf Perumda Pasar Makassar.
(GUS)
Berita Terkait
Makassar City
Ubah Kebiasaan Warga Jadi Tantangan Program Pemilahan Sampah di Kelurahan Kapasa
Pemerintah Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, terus menggencarkan edukasi pemilahan sampah sebagai upaya mendukung penanganan persoalan sampah di Kota Makassar.
Selasa, 04 Agu 2026 19:36
Makassar City
Pemilahan Sampah di RT 04 Tamangapa Kini Jadi Percontohan
Budaya memilah sampah di RT 04/RW 07 Cluster Berlian Permata, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, telah diterapkan sejak tahun lalu.
Selasa, 04 Agu 2026 18:56
News
Larangan Sampah Belum Terpilah ke TPA Berlaku, Tamalate Siapkan 4 Zona Pengolahan Organik
Pemerintah Kecamatan Tamalate terus mengoptimalkan pengelolaan sampah setelah diberlakukannya kebijakan larangan sampah yang belum dikelola masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) mulai 1 Agustus 2026.
Senin, 03 Agu 2026 23:38
Sulsel
Perumda Pasar Makassar dan IBK Nitro Buka Beasiswa untuk Anak Pedagang
Perumda Pasar Makassar Raya bersama Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro Makassar membuka Program Beasiswa Jalur Kerja Sama bagi anak-anak pedagang pasar.
Rabu, 22 Jul 2026 23:05
Makassar City
Perumda Pasar Makassar Raya Tata Lapak dan Jalur Pedestrian Pasar Senggol
Perumda Pasar Makassar Raya terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan kawasan perdagangan yang tertib, bersih, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
Jum'at, 10 Jul 2026 17:27
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Gandeng Athirah, SMP - SMA Perguruan Islam Siap Bertransformasi & Bangkit
2
KONI Sidrap Dilantik, Bupati Syahar Targetkan Prestasi Naik di Porprov 2026
3
IAS Minta Kader Golkar Tak Alergi Kritik, Harus Lebih Banyak Mendengar
4
Peternak Sulsel Protes Harga Pakan Tinggi dan Harga Telur Anjlok
5
GELORA Literasi Keluarga Dorong Budaya Membaca Anak Kolaka dengan Teknologi Audio
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Gandeng Athirah, SMP - SMA Perguruan Islam Siap Bertransformasi & Bangkit
2
KONI Sidrap Dilantik, Bupati Syahar Targetkan Prestasi Naik di Porprov 2026
3
IAS Minta Kader Golkar Tak Alergi Kritik, Harus Lebih Banyak Mendengar
4
Peternak Sulsel Protes Harga Pakan Tinggi dan Harga Telur Anjlok
5
GELORA Literasi Keluarga Dorong Budaya Membaca Anak Kolaka dengan Teknologi Audio