Kontrak Karya Masmindo: Investasi untuk Masyarakat dan Perekonomian Daerah
Rabu, 18 Des 2024 15:00

Pakar hukum agraria dan sumber daya alam, Prof Abrar Saleng. Foto/Istimewa
MAKASSAR - Kontrak Karya (KK) yang dimiliki PT Masmindo Dwi Area (MDA) di Kabupaten Luwu merupakan instrumen hukum yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam. Pakar hukum agraria dan sumber daya alam, Prof Abrar Saleng, menjelaskan kontrak karya adalah perjanjian strategis yang melibatkan pemerintah, termasuk presiden, sebagai pemberi mandat.
“Kontrak karya adalah bentuk perjanjian strategis yang menjamin hak negara dan badan usaha untuk mengelola sumber daya alam demi kepentingan ekonomi nasional. Apalagi, MDA ini adalah perusahaan anak negeri, bukan milik asing, sehingga penting untuk meluruskan anggapan yang selama ini salah, seolah negara menjual asetnya kepada asing melalui kontrak karya,” jelas Prof. Abrar.
Sebagai kontraktor dengan hak eksklusif, MDA diberi kewenangan untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di bawah tanah kawasan konsesi. MDA sudah siap menjalankan usahanya dengan memenuhi semua dokumen sesuai regulasi.
Namun, jika ada pihak yang berusaha menghalangi dengan alasan yang tidak jelas, negara bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak perusahaan, termasuk dari hambatan administratif dan sosial. “Semua perangkat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, wajib hadir untuk mendukung kelancaran kontrak karya ini,” tegas Prof. Abrar.
Sinergi untuk Kepentingan Bersama
Prof. Abrar juga menekankan bahwa kontrak karya tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan negara. Kabupaten Luwu, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, sangat membutuhkan investasi seperti yang dilakukan MDA.
Investasi ini menciptakan lapangan kerja, meningkatkan infrastruktur, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini juga penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo.
Namun, hambatan seperti masalah kompensasi tanam tumbuh, ketidakpahaman mengenai areal kontrak karya, dan ketidaktahuan masyarakat terhadap manfaat investasi seringkali menjadi penghalang. Kadang-kadang, kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
Oleh karena itu, peran pemerintah sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan memastikan proses pengambilan lahan berjalan sesuai dengan aturan hukum.
“Jika konflik-konflik seperti ini terus terjadi, bukan hanya perusahaan yang dirugikan, tetapi juga negara dan masyarakat,” tambah Prof. Abrar.
Perlunya Dukungan Penuh Negara
Sebagai kontrak strategis, keberadaan kontrak karya seperti milik Masmindo perlu mendapat pengakuan dan dukungan penuh dari negara. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1976 yang dikeluarkan pada era Presiden Soeharto menegaskan bahwa dalam konflik antara pertambangan dan kepemilikan tanah, pertambangan harus menjadi prioritas. Hal ini tetap relevan hingga kini, terutama untuk proyek-proyek yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“Negara, dalam hal ini Satgas Percepatan Investasi Sulsel dan Polda Sulsel, harus hadir untuk menjamin kontrak karya ini berjalan dengan baik. Jika perusahaan tidak bisa melanjutkan kegiatannya, pendapatan negara dari sektor tambang akan lumpuh,” ujar Prof. Abrar.
Ia juga mengingatkan bahwa pertambangan tidak akan selamanya berada di suatu wilayah. Setelah masa kontrak selesai, perusahaan akan pergi, dan hak masyarakat atas tanah tersebut akan kembali utuh.
Kontrak Karya MDA tidak hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga untuk masyarakat dan negara. Inisiasi Satgas Percepatan Investasi oleh Kajati Sulsel, yang didukung oleh peran Polda Sulsel, merupakan langkah sinergi yang tepat untuk memastikan kelancaran investasi di Sulawesi Selatan. Seperti yang disampaikan Prof. Abrar bahwa kontrak karya adalah amanah negara, dan semua pihak harus hadir untuk mendukungnya.
“Kontrak karya adalah bentuk perjanjian strategis yang menjamin hak negara dan badan usaha untuk mengelola sumber daya alam demi kepentingan ekonomi nasional. Apalagi, MDA ini adalah perusahaan anak negeri, bukan milik asing, sehingga penting untuk meluruskan anggapan yang selama ini salah, seolah negara menjual asetnya kepada asing melalui kontrak karya,” jelas Prof. Abrar.
Sebagai kontraktor dengan hak eksklusif, MDA diberi kewenangan untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di bawah tanah kawasan konsesi. MDA sudah siap menjalankan usahanya dengan memenuhi semua dokumen sesuai regulasi.
Namun, jika ada pihak yang berusaha menghalangi dengan alasan yang tidak jelas, negara bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak perusahaan, termasuk dari hambatan administratif dan sosial. “Semua perangkat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, wajib hadir untuk mendukung kelancaran kontrak karya ini,” tegas Prof. Abrar.
Sinergi untuk Kepentingan Bersama
Prof. Abrar juga menekankan bahwa kontrak karya tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga masyarakat dan negara. Kabupaten Luwu, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, sangat membutuhkan investasi seperti yang dilakukan MDA.
Investasi ini menciptakan lapangan kerja, meningkatkan infrastruktur, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini juga penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo.
Namun, hambatan seperti masalah kompensasi tanam tumbuh, ketidakpahaman mengenai areal kontrak karya, dan ketidaktahuan masyarakat terhadap manfaat investasi seringkali menjadi penghalang. Kadang-kadang, kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
Oleh karena itu, peran pemerintah sangat penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan memastikan proses pengambilan lahan berjalan sesuai dengan aturan hukum.
“Jika konflik-konflik seperti ini terus terjadi, bukan hanya perusahaan yang dirugikan, tetapi juga negara dan masyarakat,” tambah Prof. Abrar.
Perlunya Dukungan Penuh Negara
Sebagai kontrak strategis, keberadaan kontrak karya seperti milik Masmindo perlu mendapat pengakuan dan dukungan penuh dari negara. Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1976 yang dikeluarkan pada era Presiden Soeharto menegaskan bahwa dalam konflik antara pertambangan dan kepemilikan tanah, pertambangan harus menjadi prioritas. Hal ini tetap relevan hingga kini, terutama untuk proyek-proyek yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
“Negara, dalam hal ini Satgas Percepatan Investasi Sulsel dan Polda Sulsel, harus hadir untuk menjamin kontrak karya ini berjalan dengan baik. Jika perusahaan tidak bisa melanjutkan kegiatannya, pendapatan negara dari sektor tambang akan lumpuh,” ujar Prof. Abrar.
Ia juga mengingatkan bahwa pertambangan tidak akan selamanya berada di suatu wilayah. Setelah masa kontrak selesai, perusahaan akan pergi, dan hak masyarakat atas tanah tersebut akan kembali utuh.
Kontrak Karya MDA tidak hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga untuk masyarakat dan negara. Inisiasi Satgas Percepatan Investasi oleh Kajati Sulsel, yang didukung oleh peran Polda Sulsel, merupakan langkah sinergi yang tepat untuk memastikan kelancaran investasi di Sulawesi Selatan. Seperti yang disampaikan Prof. Abrar bahwa kontrak karya adalah amanah negara, dan semua pihak harus hadir untuk mendukungnya.
(TRI)
Berita Terkait

News
PT Vale Dukung Masa Depan Berkelanjutan dengan Agroforestry di Sultra
Komitmen PT Vale terhadap keberlanjutan semakin nyata melalui penanaman pohon serentak yang digelar bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara.
Senin, 24 Mar 2025 14:02

News
Buka Puasa Bersama Media di Makassar, PT Vale Tegaskan Komitmen Pertambangan Berkelanjutan
Direktur & Chief Operation and Infrastructure Officer PT Vale, Abu Ashar, menegaskan bahwa PT Vale tidak hanya membangun proyek tambang, tetapi juga fondasi masa depan Indonesia.
Jum'at, 21 Mar 2025 23:21

Sulsel
Koperasi Sipakatuo: Wadah Petani Latimojong untuk Dukung Program Makan Siang Bergizi
PT Masmindo Dwi Area (MDA) turut mendukung Program Makan Siang Bergizi dengan memahami pentingnya kolaborasi terorganisir untuk keberlanjutan program.
Minggu, 09 Feb 2025 16:25

Sulsel
MDA Berbelasungkawa & Beri Dukungan Tanggap Darurat Pasca-Longsor di Rante Balla
PT Masmindo Dwi Area (MDA) mengungkapkan duka cita mendalam atas bencana longsor yang terjadi di jalan umum Dusun Padang, Desa Rante Balla, Kabupaten Luwu.
Minggu, 26 Jan 2025 19:40

News
Zero Hour Refurbished Truck: Langkah PT Vale Menuju Masa Depan Hijau
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) sebagai bagian dari Group MIND ID menorehkan langkah besar dengan meluncurkan program Zero Hour Refurbished Truck.
Selasa, 21 Jan 2025 14:41
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Idrus Marham: Mentan Amran Sulaiman Paling Cocok jadi Nakhoda KKSS
2

Kebakaran di Pulau Barrang Lompo Hanguskan Satu Rumah Milik Warga
3

Ada Oknum Diduga Ingin Ambil Alih Yayasan Atma Jaya Makassar Secara Paksa
4

Kemenkum Sulsel Komitmen Beri Pelayanan Terbaik, Maksimalkan Survei Kepuasan Masyarakat
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Idrus Marham: Mentan Amran Sulaiman Paling Cocok jadi Nakhoda KKSS
2

Kebakaran di Pulau Barrang Lompo Hanguskan Satu Rumah Milik Warga
3

Ada Oknum Diduga Ingin Ambil Alih Yayasan Atma Jaya Makassar Secara Paksa
4

Kemenkum Sulsel Komitmen Beri Pelayanan Terbaik, Maksimalkan Survei Kepuasan Masyarakat