Opini
Agar tak Kehabisan 'Bensin' di Ramadan
Rabu, 25 Feb 2026 23:06
Dr dr Rachmat Faisal Syamsu, M Kes, Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar. Foto: Istimewa
Oleh: Dr dr Rachmat Faisal Syamsu, M Kes
(Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar)
SETIAP awal Ramadan, masjid selalu tampak penuh. Saf rapat, wajah-wajah sumringah, dan Al-Qur’an kembali menjadi bacaan utama. Media sosial pun dipenuhi unggahan sahur, buka puasa, dan semangat hijrah.
Namun perlahan, pemandangan itu berubah. Di pertengahan bahkan di sepertiga awal Ramadan, masjid mulai lengang, tadarus tidak lagi seramai pekan pertama, dan Al-Qur’an yang semula setia dibuka kini lebih sering tertutup.
Ramadan seolah kehabisan “bensin”.
Fenomena ini bukan semata soal iman yang naik-turun, tetapi juga persoalan manusiawi. Dalam psikologi dikenal istilah motivational fatigue atau keletihan motivasi. Manusia sangat kuat di awal ketika dorongan emosi masih tinggi, namun mudah melemah ketika euforia menurun dan rutinitas kembali menekan. Tanpa strategi yang tepat, semangat ibadah pun merosot di tengah jalan.
Padahal, Allah tidak menilai siapa yang paling berapi-api di awal, melainkan siapa yang bertahan sampai akhir.
Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ironisnya, Ramadan sering kita perlakukan seperti lomba sprint, bukan maraton. Kita memforsir diri di sepuluh hari pertama, khatam berkali-kali, tarawih panjang, agenda padat lalu kelelahan sebelum mencapai garis akhir.
Akibatnya, sepuluh malam terakhir yang justru menyimpan Lailatul Qadar malah dijalani dengan sisa-sisa tenaga dan sisa-sisa perhatian.
Allah berfirman: “Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3) Namun, justru di malam-malam itulah masjid sering semakin sepi.
Agar tak kehabisan “bensin” di Ramadan, ada beberapa hal yang patut direnungkan;
Pertama, turunkan target, naikkan konsistensi. Ibadah kecil yang dijaga setiap hari lebih kuat secara psikologis dan spiritual daripada target besar yang cepat runtuh. Otak manusia mencintai keteraturan, bukan tekanan berlebihan.
Kedua, rawat energi fisik. Kurang tidur, makan berlebihan saat berbuka, dan kurang minum membuat ibadah terasa berat. Islam tidak mengajarkan ibadah yang menyiksa tubuh. Tubuh yang lelah akan menyeret hati pada kelalaian.
Ketiga, jaga makna, bukan hanya rutinitas. Ibadah yang kering dari rasa akan cepat ditinggalkan. Duduklah sejenak menjelang berbuka, diam, berdoa, dan berbicara jujur kepada Allah. Saat itulah hati diisi ulang.
Keempat, ingat tujuan puasa. Allah menegaskan: “Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Jika puasa membuat kita hanya lapar tetapi tidak lebih sabar, mungkin “bensin” kita bocor tanpa disadari.
Ramadan bukan tentang siapa yang paling kencang di awal, tetapi siapa yang masih melangkah ketika yang lain mulai berhenti. Karena sejatinya, yang kehabisan bensin bukan Ramadan melainkan hati kita yang lupa bagaimana cara mengisinya kembali.
Mari jaga Ramadan kita agar tak kehabisan “bensin”
(Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar)
SETIAP awal Ramadan, masjid selalu tampak penuh. Saf rapat, wajah-wajah sumringah, dan Al-Qur’an kembali menjadi bacaan utama. Media sosial pun dipenuhi unggahan sahur, buka puasa, dan semangat hijrah.
Namun perlahan, pemandangan itu berubah. Di pertengahan bahkan di sepertiga awal Ramadan, masjid mulai lengang, tadarus tidak lagi seramai pekan pertama, dan Al-Qur’an yang semula setia dibuka kini lebih sering tertutup.
Ramadan seolah kehabisan “bensin”.
Fenomena ini bukan semata soal iman yang naik-turun, tetapi juga persoalan manusiawi. Dalam psikologi dikenal istilah motivational fatigue atau keletihan motivasi. Manusia sangat kuat di awal ketika dorongan emosi masih tinggi, namun mudah melemah ketika euforia menurun dan rutinitas kembali menekan. Tanpa strategi yang tepat, semangat ibadah pun merosot di tengah jalan.
Padahal, Allah tidak menilai siapa yang paling berapi-api di awal, melainkan siapa yang bertahan sampai akhir.
Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ironisnya, Ramadan sering kita perlakukan seperti lomba sprint, bukan maraton. Kita memforsir diri di sepuluh hari pertama, khatam berkali-kali, tarawih panjang, agenda padat lalu kelelahan sebelum mencapai garis akhir.
Akibatnya, sepuluh malam terakhir yang justru menyimpan Lailatul Qadar malah dijalani dengan sisa-sisa tenaga dan sisa-sisa perhatian.
Allah berfirman: “Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3) Namun, justru di malam-malam itulah masjid sering semakin sepi.
Agar tak kehabisan “bensin” di Ramadan, ada beberapa hal yang patut direnungkan;
Pertama, turunkan target, naikkan konsistensi. Ibadah kecil yang dijaga setiap hari lebih kuat secara psikologis dan spiritual daripada target besar yang cepat runtuh. Otak manusia mencintai keteraturan, bukan tekanan berlebihan.
Kedua, rawat energi fisik. Kurang tidur, makan berlebihan saat berbuka, dan kurang minum membuat ibadah terasa berat. Islam tidak mengajarkan ibadah yang menyiksa tubuh. Tubuh yang lelah akan menyeret hati pada kelalaian.
Ketiga, jaga makna, bukan hanya rutinitas. Ibadah yang kering dari rasa akan cepat ditinggalkan. Duduklah sejenak menjelang berbuka, diam, berdoa, dan berbicara jujur kepada Allah. Saat itulah hati diisi ulang.
Keempat, ingat tujuan puasa. Allah menegaskan: “Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Jika puasa membuat kita hanya lapar tetapi tidak lebih sabar, mungkin “bensin” kita bocor tanpa disadari.
Ramadan bukan tentang siapa yang paling kencang di awal, tetapi siapa yang masih melangkah ketika yang lain mulai berhenti. Karena sejatinya, yang kehabisan bensin bukan Ramadan melainkan hati kita yang lupa bagaimana cara mengisinya kembali.
Mari jaga Ramadan kita agar tak kehabisan “bensin”
(GUS)
Berita Terkait
News
TikTokisasi Pendidikan dan Menurunnya Budaya Membaca
Budaya membaca di kalangan mahasiswa tampaknya terus mengalami penurunan. Sebaliknya, mereka semakin akrab dengan berbagai platform media sosial yang menyajikan informasi secara cepat, singkat, dan instan.
Rabu, 15 Jul 2026 15:39
News
Dilema Dakwah Digital: Viral di TikTok Saja Tak Cukup Menjaga Iman Gen Z
Sebuah video berdurasi kurang dari satu menit tiba-tiba memenuhi linimasa jutaan pengguna TikTok Indonesia.
Kamis, 02 Jul 2026 16:39
News
Antara Langit Takdir dan Bumi Usaha: Tafsir Spiritual QS.11: 6
Di tengah dunia yang makin cepat, rezeki sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar tanpa henti. Orang bekerja siang malam, mengejar peluang, bersaing di pasar kerja, bahkan berlomba di ruang digital. Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang sama: Apakah rezeki saya cukup?
Selasa, 23 Jun 2026 05:40
News
Keistimewaan Muharram
Pekan ini di Masjid Al Ukhuwwah Makassar, dua kali kajian tentang keistimewaan Muharram. Disampaikan oleh Ust. Faizal dan Ust Marzuki Umar. Tulisan ini mencoba merangkum dengan judul Keistimewaan Muharram
Minggu, 21 Jun 2026 08:59
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Himatik FT-UNM Resmi Buka Ice Sport 2026, Diikuti 22 Kelas JTIK
2
Kuota Haji Kabupaten Maros 2027 Berkurang 165 Orang
3
Kecam Tindakan Bupati Husniah, DPRD Gowa Tidak akan Lakukan Pemanggilan Ulang
4
PB IPMIL Raya Gandeng DPRD Sulsel Kawal Pembangunan Luwu Raya
5
Galesong Emotor Pratama Kenalkan QT Series dan Tyranno X untuk Pasar Makassar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Himatik FT-UNM Resmi Buka Ice Sport 2026, Diikuti 22 Kelas JTIK
2
Kuota Haji Kabupaten Maros 2027 Berkurang 165 Orang
3
Kecam Tindakan Bupati Husniah, DPRD Gowa Tidak akan Lakukan Pemanggilan Ulang
4
PB IPMIL Raya Gandeng DPRD Sulsel Kawal Pembangunan Luwu Raya
5
Galesong Emotor Pratama Kenalkan QT Series dan Tyranno X untuk Pasar Makassar