Dirut RSUP Wahidin dr. Annas Ahmad Bongkar Tantangan Besar Penyakit Jantung di RI
Minggu, 26 Apr 2026 18:37
RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menggelar Wahidin International Symposium Event (WISE) 2026 dengan mengusung tema “Advancing Comprehensive Cardiovascular Care”. Foto: Istimewa
MAKASSAR - RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menggelar Wahidin International Symposium Event (WISE) 2026 dengan mengusung tema “Advancing Comprehensive Cardiovascular Care”, sebagai upaya memperkuat layanan penyakit jantung yang menyeluruh di Indonesia, khususnya kawasan Indonesia Timur.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad dalam sambutannya menegaskan bahwa WISE bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, inovasi teknologi, dan komitmen kemanusiaan.
“Atas nama Direksi dan Civitas Hospitalia, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh narasumber, peserta, dan mitra yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” ujar dr. Annas, Ahad, (25/04/2026).
WISE 2026 yang merupakan rangkaian HUT ke-33 RSWS ini menghadirkan pembicara internasional dan nasional mulai dari Jepang, Philipina, Malaysia hingga Jakarta.
Menurutnya, layanan kardiovaskular di masa depan tidak cukup hanya berfokus pada tindakan medis seperti angiografi, operasi jantung, atau perawatan intensif.
Namun, harus mencakup pendekatan komprehensif mulai dari promotif, preventif, deteksi dini, hingga rehabilitasi dan pemantauan jangka panjang.
“Kita tidak hanya berbicara bagaimana mengobati penyakit jantung, tetapi bagaimana membangun sistem yang mampu melindungi kesehatan jantung masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Berdasarkan data WHO, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit ini pada 2022, atau setara 32 persen dari total kematian global.
Di Indonesia, beban penyakit ini bahkan lebih tinggi. Data World Heart Federation mencatat sekitar 765 ribu kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2021, dengan tingkat kematian mencapai 410 per 100 ribu penduduk.
“Ini bukan lagi sekadar isu klinis, tetapi sudah menjadi persoalan strategis nasional,” jelasnya.
Selain itu, tingginya faktor risiko seperti hipertensi, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, hingga kurangnya aktivitas fisik turut memperparah kondisi tersebut.
Bahkan, penyakit jantung menjadi salah satu beban terbesar pembiayaan BPJS Kesehatan dengan nilai klaim mencapai Rp19,25 triliun pada 2024.
Melalui WISE 2026, RSUP Wahidin mendorong enam agenda utama dalam penguatan layanan kardiovaskular, yakni peningkatan pencegahan dan deteksi dini, pembangunan sistem kegawatdaruratan jantung, integrasi layanan multidisiplin, penguatan diagnosis dan intervensi berbasis teknologi, rehabilitasi jantung, serta pengelolaan data layanan secara terintegrasi.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di Indonesia Timur, RSUP Wahidin juga berkomitmen membangun jejaring layanan kardiovaskular bersama rumah sakit daerah, fasilitas kesehatan primer, pemerintah, dan organisasi profesi.
“Layanan jantung yang maju bukan hanya tentang kecanggihan alat, tetapi tentang sistem yang kuat, tenaga medis yang kompeten, serta budaya keselamatan pasien,” tambah dr. Annas.
Simposium ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi, inovasi, dan kerja sama yang dapat memperkuat layanan kesehatan jantung di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur secara luas.
“Dari Makassar, kita ingin berkontribusi bagi kemajuan layanan kesehatan global, tidak hanya menambah usia harapan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad dalam sambutannya menegaskan bahwa WISE bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, inovasi teknologi, dan komitmen kemanusiaan.
“Atas nama Direksi dan Civitas Hospitalia, kami menyampaikan selamat datang kepada seluruh narasumber, peserta, dan mitra yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” ujar dr. Annas, Ahad, (25/04/2026).
WISE 2026 yang merupakan rangkaian HUT ke-33 RSWS ini menghadirkan pembicara internasional dan nasional mulai dari Jepang, Philipina, Malaysia hingga Jakarta.
Menurutnya, layanan kardiovaskular di masa depan tidak cukup hanya berfokus pada tindakan medis seperti angiografi, operasi jantung, atau perawatan intensif.
Namun, harus mencakup pendekatan komprehensif mulai dari promotif, preventif, deteksi dini, hingga rehabilitasi dan pemantauan jangka panjang.
“Kita tidak hanya berbicara bagaimana mengobati penyakit jantung, tetapi bagaimana membangun sistem yang mampu melindungi kesehatan jantung masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia.
Berdasarkan data WHO, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit ini pada 2022, atau setara 32 persen dari total kematian global.
Di Indonesia, beban penyakit ini bahkan lebih tinggi. Data World Heart Federation mencatat sekitar 765 ribu kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2021, dengan tingkat kematian mencapai 410 per 100 ribu penduduk.
“Ini bukan lagi sekadar isu klinis, tetapi sudah menjadi persoalan strategis nasional,” jelasnya.
Selain itu, tingginya faktor risiko seperti hipertensi, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, hingga kurangnya aktivitas fisik turut memperparah kondisi tersebut.
Bahkan, penyakit jantung menjadi salah satu beban terbesar pembiayaan BPJS Kesehatan dengan nilai klaim mencapai Rp19,25 triliun pada 2024.
Melalui WISE 2026, RSUP Wahidin mendorong enam agenda utama dalam penguatan layanan kardiovaskular, yakni peningkatan pencegahan dan deteksi dini, pembangunan sistem kegawatdaruratan jantung, integrasi layanan multidisiplin, penguatan diagnosis dan intervensi berbasis teknologi, rehabilitasi jantung, serta pengelolaan data layanan secara terintegrasi.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di Indonesia Timur, RSUP Wahidin juga berkomitmen membangun jejaring layanan kardiovaskular bersama rumah sakit daerah, fasilitas kesehatan primer, pemerintah, dan organisasi profesi.
“Layanan jantung yang maju bukan hanya tentang kecanggihan alat, tetapi tentang sistem yang kuat, tenaga medis yang kompeten, serta budaya keselamatan pasien,” tambah dr. Annas.
Simposium ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi, inovasi, dan kerja sama yang dapat memperkuat layanan kesehatan jantung di Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia Timur secara luas.
“Dari Makassar, kita ingin berkontribusi bagi kemajuan layanan kesehatan global, tidak hanya menambah usia harapan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.
(UMI)
Berita Terkait
Makassar City
PLP FPsi UNM Serahkan Laporan Survei Kepuasan Pegawai RSUP Wahidin Sudirohusodo
Manajemen RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo menerima kunjungan tim dari Pusat Layanan Psikologi (PLP) FPsi UNM. Kedatangan mereka untuk penyerahan laporan hasil Survei Kepuasan Pegawai Tahun 2025.
Kamis, 11 Sep 2025 11:57
Sulsel
KPU Sulsel Tetapkan RS Wahidin jadi Lokasi Pemeriksaan Kesehatan Cakada di Pilgub
KPU Sulsel menetapkan Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo sebagai lokasi pemeriksaan calon gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan untuk tahapan Pilgub 2024.
Sabtu, 24 Agu 2024 20:22
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dari Semangat Kartini, Perempuan Gowa Diajak Lebih Berani Memimpin
2
Berat Hampir 1 Kg, Paket Sabu yang Ditemukan di Pangkep Ditaksir Senilai Rp1 M
3
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Santai Bahagia Hari Jadi ke-163 Jeneponto
4
Sebanyak 15.804 Jemaah Haji Makassar Nikmati Layanan Makkah Route
5
Dirut RSUP Wahidin dr. Annas Ahmad Bongkar Tantangan Besar Penyakit Jantung di RI
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Dari Semangat Kartini, Perempuan Gowa Diajak Lebih Berani Memimpin
2
Berat Hampir 1 Kg, Paket Sabu yang Ditemukan di Pangkep Ditaksir Senilai Rp1 M
3
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Santai Bahagia Hari Jadi ke-163 Jeneponto
4
Sebanyak 15.804 Jemaah Haji Makassar Nikmati Layanan Makkah Route
5
Dirut RSUP Wahidin dr. Annas Ahmad Bongkar Tantangan Besar Penyakit Jantung di RI