Sejumlah Faskes Rusak Akibat Gempa NTT, Tim Aju Ortopedi Unhas Jangkau RSUD Ruteng dan Borong

Senin, 17 Agu 2026 16:36
Sejumlah Faskes Rusak Akibat Gempa NTT, Tim Aju Ortopedi Unhas Jangkau RSUD Ruteng dan Borong
Tim Aju (Pelopor) Departemen Ortopedi dan Traumatologi Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama PABOI Sulselbar-Irja bergerak menjangkau fasilitas kesehatan terdampak di Kabupaten Manggarai.
Comment
Share
MANGGARAI - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat puluhan fasilitas pelayanan kesehatan terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).

Di tengah kondisi tersebut, Tim Aju (Pelopor) Departemen Ortopedi dan Traumatologi Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama PABOI Sulselbar-Irja bergerak menjangkau fasilitas kesehatan terdampak di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Tim yang dipimpin Dr Miftah, Sp OT tersebut telah meninjau RSUD Ruteng dan memberikan penanganan awal terhadap tiga pasien dengan kasus fraktur atau patah tulang. Setelah melakukan tindakan medis awal, tim melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Manggarai Timur, khususnya wilayah Borong, untuk memetakan kebutuhan penanganan korban bencana.

Pada saat bersamaan, pakar penanganan medis bencana nasional, Prof Dr dr Idrus Paturusi, memimpin tim advance di Labuan Bajo. Tokoh yang dikenal memiliki pengalaman dalam penanganan medis kebencanaan tersebut juga melakukan koordinasi strategis dengan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI saat meninjau Rumah Sakit Komodo di Labuan Bajo.

Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat respons medis terhadap dampak gempa, terutama setelah sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan dan sebagian tidak dapat beroperasi secara normal.

53 Orang Meninggal, 137 Luka-Luka

Berdasarkan pemutakhiran data BNPB dan Kemenkes RI yang dihimpun tim, gempa NTT telah menyebabkan 53 orang meninggal dunia, 137 orang luka-luka, serta lebih dari 5.600 warga mengungsi.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 25 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 20 orang. Korban meninggal lainnya tercatat di Sikka empat orang, Ende dua orang, Manggarai Barat satu orang, dan Nagekeo satu orang.

Dampak gempa juga meluas terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Dari 21 rumah sakit yang terdampak, tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat, enam rusak ringan, dan 12 rumah sakit dinyatakan aman secara struktur. Sebanyak empat rumah sakit masih beroperasi sebagian, sementara satu rumah sakit belum dapat beroperasi.

Kerusakan juga terjadi pada jaringan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Dari 190 puskesmas terdampak, sebanyak 20 unit mengalami kerusakan berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Selain itu, 49 puskesmas hanya dapat beroperasi sebagian dan 19 lainnya belum dapat beroperasi.

Di sektor permukiman, tercatat 914 rumah rusak berat, 126 rumah rusak sedang, dan 317 rumah rusak ringan. Akses transportasi juga terganggu akibat sedikitnya 33 titik longsor yang menghambat jalur darat antarkabupaten.

RSUD Ruteng Alihkan Perawatan ke Tenda Darurat

Di RSUD Ruteng, Tim Aju Ortopedi Unhas dan PABOI Sulselbar-Irja menemukan kondisi fasilitas yang terdampak akibat guncangan gempa. Sejumlah bagian bangunan dilaporkan mengalami retakan sehingga perawatan pasien dialihkan ke tenda darurat di halaman rumah sakit sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan gempa susulan.

Tim kemudian melakukan asesmen terhadap pasien dengan cedera ortopedi.

Sedikitnya tiga kasus fraktur atau patah tulang mendapat tindakan medis awal dari tim. Penanganan meliputi pembersihan luka, pembidaian, serta imobilisasi untuk menjaga kondisi pasien sebelum memperoleh penanganan definitif.

Setelah penanganan awal di Ruteng, Tim Aju melanjutkan perjalanan darat menuju Borong, Manggarai Timur. Pergerakan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan medis korban, khususnya pasien dengan cedera tulang dan trauma, dapat segera dipetakan dan ditangani.

Prof Idrus Paturusi Koordinasi dengan Wamenkes

Sementara itu, ProfnIdrus Paturusi bersama Tim Utama Ortopedi Unhas dan PABOI Sulselbar-Irja melakukan koordinasi langsung dengan Wamenkes RI di Labuan Bajo.

Koordinasi dilakukan ketika rombongan meninjau Rumah Sakit Komodo yang dipersiapkan sebagai salah satu fasilitas rujukan bagi korban gempa.

"Pembahasan difokuskan pada kebutuhan pelayanan kesehatan dalam situasi darurat, terutama menghadapi kerusakan sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak," katanya dalam keterangan diterima, Senin, (17/08/2026).

Salah satu langkah yang dibahas adalah penyiapan rumah sakit lapangan atau field hospital sebagai bagian dari strategi memperkuat kapasitas pelayanan medis di daerah terdampak.

Selain itu, percepatan distribusi implan ortopedi dan instrumen operatif darurat juga menjadi perhatian untuk mengantisipasi kebutuhan pasien dengan cedera tulang yang memerlukan tindakan lebih lanjut.

Jalur Evakuasi Medis Disiapkan

Tim juga mendorong pembukaan jalur evakuasi medis terpadu melalui jalur udara dan darat. Langkah tersebut diperlukan terutama untuk menangani pasien dengan kasus patah tulang kompleks dari wilayah yang aksesnya terganggu, termasuk Borong dan daerah sekitarnya.

Pasien yang membutuhkan tindakan definitif dapat diarahkan menuju fasilitas rujukan yang masih mampu beroperasi secara optimal.

Dalam kondisi bencana, kecepatan penanganan menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi dan kecacatan. Karena itu, kasus patah tulang terbuka menjadi salah satu prioritas yang harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Tim merekomendasikan penguatan layanan di fasilitas kesehatan darurat melalui distribusi perlengkapan medis, antara lain kit bedah minor dan mayor, obat analgetik, antibiotik intravena, serta perangkat fiksasi eksternal.

Kebutuhan tersebut terutama diarahkan ke puskesmas yang masih beroperasi sebagian agar tetap mampu memberikan pertolongan awal kepada korban sebelum dirujuk ke rumah sakit yang memiliki kapasitas lebih lengkap.

Pergerakan Tim Aju Ortopedi Unhas dan PABOI Sulselbar-Irja dari Ruteng menuju Borong sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan respons medis tidak hanya terpusat di wilayah yang memiliki fasilitas kesehatan relatif lengkap, tetapi juga menjangkau daerah terdampak yang mengalami keterbatasan akses dan layanan kesehatan.

Dalam situasi tanggap darurat pascagempa, sinergi antara Kemenkes, BNPB, pemerintah daerah, rumah sakit rujukan, tenaga medis, dan tim spesialis menjadi kunci untuk memastikan korban memperoleh penanganan cepat, tepat, dan berkesinambungan.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru