Prof Eko Hadi Sujiono Bawa Pengalaman Riset Belanda ke UNM
Rabu, 26 Agu 2026 07:48
Prof Eko Hadi Sujiono ketika menjalani penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Perjalanan seorang peneliti ke luar negeri tidak selalu berakhir ketika pesawat membawanya pulang ke Indonesia. Ada ilmu yang dibawa, jejaring yang terus terhubung, cara bekerja yang berubah, dan pengalaman yang kemudian dibagikan kepada generasi berikutnya.
Hal itu menjadi bagian dari perjalanan Prof Eko Hadi Sujiono ketika menjalani penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda, pada 2002 hingga 2004.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor bidang fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001, Eko mendapat kesempatan melanjutkan penelitian di lingkungan akademik yang mempertemukan fisika, material, elektronika, dan teknologi.
Kesempatan tersebut datang melalui Prof Tjia May On, ko-promotor Eko saat menempuh pendidikan doktoral di ITB. Tjia menyampaikan undangan dari Prof Horst Rogalla, peneliti di bidang elektronika superkonduktor.
Eko kemudian berangkat ke Belanda dan bergabung dengan lingkungan penelitian Mesa+ Research Institute, Department of Applied Physics, Low Temperature Division.
Bagi peneliti muda saat itu, pengalaman tersebut bukan hanya tentang bekerja di laboratorium luar negeri. Ada pelajaran yang lebih panjang, yakni bagaimana penelitian dikembangkan dari pertanyaan dasar tentang material hingga diarahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.
Dari Material hingga Sinyal Elektronik
Salah satu bidang yang ditekuni Eko selama berada di Twente berkaitan dengan teknologi superkonduktor.
Secara sederhana, superkonduktor merupakan material yang pada kondisi tertentu, terutama suhu sangat rendah, dapat menghantarkan listrik dengan hambatan yang sangat kecil. Sifat tersebut menarik perhatian peneliti karena dapat digunakan dalam berbagai aplikasi teknologi yang membutuhkan kecepatan dan sensitivitas tinggi.
Salah satu topik yang dipelajari Eko adalah superconducting analog-to-digital converter atau Super ADC. ADC merupakan perangkat yang berfungsi mengubah sinyal analog menjadi data digital.
Teknologi tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suara manusia, misalnya, merupakan sinyal analog. Ketika seseorang berbicara melalui telepon, suara ditangkap perangkat, diubah menjadi data digital, diproses, kemudian dikirimkan ke perangkat penerima.
Proses serupa juga ditemukan dalam berbagai perangkat elektronik, sensor, kamera, alat kesehatan, dan sistem komunikasi.
Dari penelitian tersebut, Eko belajar bahwa penelitian material tidak berhenti pada pertanyaan mengenai material dengan sifat terbaik. Ada pertanyaan berikutnya: bagaimana material tersebut dapat bekerja di dalam sebuah perangkat? Pertanyaan inilah yang membawa penelitian dari laboratorium menuju teknologi.
Meneliti Lapisan Sangat Tipi
Penelitian Eko juga berkaitan dengan pembuatan dan karakterisasi lapisan tipis superkonduktor.
Meski berukuran sangat kecil, kualitas lapisan tersebut berpengaruh terhadap kinerja perangkat. Peneliti harus memastikan material dibuat dalam kondisi yang tepat. Suhu, komposisi, dan waktu proses harus dikendalikan. Hasilnya kemudian diperiksa menggunakan berbagai instrumen.

Satu kesalahan kecil dapat memengaruhi hasil akhir.
Bagi Eko, proses tersebut memberikan pelajaran penting tentang penelitian. Hasil yang baik tidak selalu diperoleh melalui satu percobaan. Peneliti sering kali harus mencoba, mencatat hasil, menemukan kekurangan, memperbaiki proses, kemudian mencoba kembali.
Di situlah ketekunan menjadi bagian penting dari ilmu pengetahuan.
Menyentuh Teknologi Terahertz
Selain superkonduktor, pengalaman penelitian Eko di Twente juga memperkenalkannya lebih jauh pada teknologi terahertz.
Terahertz merupakan wilayah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sangat tinggi. Teknologi ini memiliki potensi untuk berbagai aplikasi, mulai dari pencitraan dan pemeriksaan material hingga pengembangan sistem komunikasi dan sensor.
Namun, teknologi tersebut membutuhkan perangkat yang mampu menghasilkan, menangkap, dan mengolah sinyal dengan tingkat ketelitian tinggi.
Bagi peneliti, tantangannya bukan hanya memahami teori, tetapi juga membuat material dan perangkat mampu bekerja secara konsisten.
Dari sinilah pengalaman penelitian di laboratorium internasional menjadi penting. Eko tidak hanya belajar mengenai material, tetapi juga bagaimana fisika, material, elektronika, dan rekayasa teknologi dipertemukan dalam satu penelitian.
Jejaring yang Terbentuk di Belanda
Ada hal lain yang dibawa Eko dari Belanda, yakni jejaring akademik.
Selama berada di University of Twente, ia bertemu dengan peneliti dari berbagai negara. Di antaranya Prof Khartikeyan dari India, Prof Ariando dari National University of Singapore, serta Prof Darminto dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam lingkungan akademik dan penelitian. Namun, hubungan yang terbentuk tidak berhenti setelah mereka meninggalkan Belanda.
Jejaring akademik yang berawal dari diskusi penelitian dapat bertahan selama bertahun-tahun apabila dirawat melalui komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama. Hubungan tersebut bahkan kemudian berkembang menjadi kolaborasi penelitian.
Pada 2026, Eko bersama Prof Khartikeyan terlibat dalam penelitian kolaboratif mengenai baterai seng-udara (zinc-air battery).
Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang dikembangkan dalam sistem penyimpanan energi. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan energi menjadi salah satu persoalan yang terus diteliti.
Ilmu yang Dibawa Pulang ke Makassar
Bagi Eko, pengalaman di luar negeri tidak berhenti pada catatan perjalanan akademik.
Setelah kembali ke Indonesia, pengalaman tersebut diteruskan melalui kegiatan pendidikan, penulisan buku, pembinaan kelompok riset, serta pengembangan perangkat penelitian, termasuk alat deposisi lapisan tipis di Universitas Negeri Makassar.
Di sinilah makna pengalaman internasional menjadi lebih luas.
Ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan semata-mata berapa lama ia pernah berada di luar negeri atau berapa banyak konferensi internasional yang diikuti.
Dari Laboratorium ke Persoalan Masyarakat
Perguruan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Ada kebutuhan untuk memastikan penelitian memiliki hubungan dengan persoalan nyata.
Di Sulawesi Selatan, misalnya, terdapat berbagai persoalan yang dapat menjadi ruang penelitian, mulai dari pendidikan di daerah, kualitas lingkungan, kebutuhan energi, pengelolaan air, teknologi tepat guna hingga penguatan usaha masyarakat.
"Laboratorium kampus dapat menjadi salah satu tempat untuk mencari jawabannya," ucap Prof Eko.
Karena itu, pengalaman riset internasional menjadi penting ketika mampu memperluas cara pandang, tetapi tetap diarahkan untuk menjawab kebutuhan di daerah.
Berpikir global, tetapi bekerja untuk persoalan di sekitar.
Pengabdian di UNM
Pengalaman panjang Eko di dunia penelitian, termasuk saat berada di University of Twente, menjadi bagian dari rekam jejaknya sebagai akademisi.
Ia berencana membawa itu sebagai bekal pada dinamima Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030.
"Yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa, dosen muda, dan peneliti," ucap Eko.
Dia bilang, bagaimana kamous dapat semakin produktif, bagaimana mahasiswa dapat terlibat dalam penelitian sejak dini, bagaimana dosen muda memperoleh kesempatan membangun kelompok riset, bagaimana kerja sama internasional dapat menghasilkan penelitian bersama, bukan sekadar seremoni, menjadi pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tantangan perguruan tinggi ke depan.
Pulang Membawa Ilmu
Pengalaman penelitian di University of Twente, Belanda, kemudian menjadi bagian dari perjalanan akademik Prof Eko Hadi Sujiono setelah kembali ke Makassar.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama berada di lingkungan riset internasional diterapkan dalam kegiatan akademik di Universitas Negeri Makassar (UNM), mulai dari pendidikan, pengembangan kelompok riset hingga pengembangan perangkat penelitian.
Jejaring yang dibangun selama di Belanda juga terus dipelihara dan berkembang menjadi kolaborasi penelitian. Salah satunya dilakukan bersama peneliti dari India dalam penelitian mengenai baterai seng-udara (zinc-air battery) pada 2026.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa riset internasional tidak berhenti ketika seorang peneliti kembali ke tanah air. Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh dapat menjadi modal untuk memperkuat penelitian dan pendidikan di perguruan tinggi.
Bagi Eko, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan perkembangan riset global dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya di lingkungan UNM.
Hal itu menjadi bagian dari perjalanan Prof Eko Hadi Sujiono ketika menjalani penelitian pascadoktoral di University of Twente, Belanda, pada 2002 hingga 2004.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor bidang fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001, Eko mendapat kesempatan melanjutkan penelitian di lingkungan akademik yang mempertemukan fisika, material, elektronika, dan teknologi.
Kesempatan tersebut datang melalui Prof Tjia May On, ko-promotor Eko saat menempuh pendidikan doktoral di ITB. Tjia menyampaikan undangan dari Prof Horst Rogalla, peneliti di bidang elektronika superkonduktor.
Eko kemudian berangkat ke Belanda dan bergabung dengan lingkungan penelitian Mesa+ Research Institute, Department of Applied Physics, Low Temperature Division.
Bagi peneliti muda saat itu, pengalaman tersebut bukan hanya tentang bekerja di laboratorium luar negeri. Ada pelajaran yang lebih panjang, yakni bagaimana penelitian dikembangkan dari pertanyaan dasar tentang material hingga diarahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.
Dari Material hingga Sinyal Elektronik
Salah satu bidang yang ditekuni Eko selama berada di Twente berkaitan dengan teknologi superkonduktor.
Secara sederhana, superkonduktor merupakan material yang pada kondisi tertentu, terutama suhu sangat rendah, dapat menghantarkan listrik dengan hambatan yang sangat kecil. Sifat tersebut menarik perhatian peneliti karena dapat digunakan dalam berbagai aplikasi teknologi yang membutuhkan kecepatan dan sensitivitas tinggi.
Salah satu topik yang dipelajari Eko adalah superconducting analog-to-digital converter atau Super ADC. ADC merupakan perangkat yang berfungsi mengubah sinyal analog menjadi data digital.
Teknologi tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suara manusia, misalnya, merupakan sinyal analog. Ketika seseorang berbicara melalui telepon, suara ditangkap perangkat, diubah menjadi data digital, diproses, kemudian dikirimkan ke perangkat penerima.
Proses serupa juga ditemukan dalam berbagai perangkat elektronik, sensor, kamera, alat kesehatan, dan sistem komunikasi.
Dari penelitian tersebut, Eko belajar bahwa penelitian material tidak berhenti pada pertanyaan mengenai material dengan sifat terbaik. Ada pertanyaan berikutnya: bagaimana material tersebut dapat bekerja di dalam sebuah perangkat? Pertanyaan inilah yang membawa penelitian dari laboratorium menuju teknologi.
Meneliti Lapisan Sangat Tipi
Penelitian Eko juga berkaitan dengan pembuatan dan karakterisasi lapisan tipis superkonduktor.
Meski berukuran sangat kecil, kualitas lapisan tersebut berpengaruh terhadap kinerja perangkat. Peneliti harus memastikan material dibuat dalam kondisi yang tepat. Suhu, komposisi, dan waktu proses harus dikendalikan. Hasilnya kemudian diperiksa menggunakan berbagai instrumen.

Satu kesalahan kecil dapat memengaruhi hasil akhir.
Bagi Eko, proses tersebut memberikan pelajaran penting tentang penelitian. Hasil yang baik tidak selalu diperoleh melalui satu percobaan. Peneliti sering kali harus mencoba, mencatat hasil, menemukan kekurangan, memperbaiki proses, kemudian mencoba kembali.
Di situlah ketekunan menjadi bagian penting dari ilmu pengetahuan.
Menyentuh Teknologi Terahertz
Selain superkonduktor, pengalaman penelitian Eko di Twente juga memperkenalkannya lebih jauh pada teknologi terahertz.
Terahertz merupakan wilayah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi sangat tinggi. Teknologi ini memiliki potensi untuk berbagai aplikasi, mulai dari pencitraan dan pemeriksaan material hingga pengembangan sistem komunikasi dan sensor.
Namun, teknologi tersebut membutuhkan perangkat yang mampu menghasilkan, menangkap, dan mengolah sinyal dengan tingkat ketelitian tinggi.
Bagi peneliti, tantangannya bukan hanya memahami teori, tetapi juga membuat material dan perangkat mampu bekerja secara konsisten.
Dari sinilah pengalaman penelitian di laboratorium internasional menjadi penting. Eko tidak hanya belajar mengenai material, tetapi juga bagaimana fisika, material, elektronika, dan rekayasa teknologi dipertemukan dalam satu penelitian.
Jejaring yang Terbentuk di Belanda
Ada hal lain yang dibawa Eko dari Belanda, yakni jejaring akademik.
Selama berada di University of Twente, ia bertemu dengan peneliti dari berbagai negara. Di antaranya Prof Khartikeyan dari India, Prof Ariando dari National University of Singapore, serta Prof Darminto dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam lingkungan akademik dan penelitian. Namun, hubungan yang terbentuk tidak berhenti setelah mereka meninggalkan Belanda.
Jejaring akademik yang berawal dari diskusi penelitian dapat bertahan selama bertahun-tahun apabila dirawat melalui komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama. Hubungan tersebut bahkan kemudian berkembang menjadi kolaborasi penelitian.
Pada 2026, Eko bersama Prof Khartikeyan terlibat dalam penelitian kolaboratif mengenai baterai seng-udara (zinc-air battery).
Teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang dikembangkan dalam sistem penyimpanan energi. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan pengembangan energi terbarukan, teknologi penyimpanan energi menjadi salah satu persoalan yang terus diteliti.
Ilmu yang Dibawa Pulang ke Makassar
Bagi Eko, pengalaman di luar negeri tidak berhenti pada catatan perjalanan akademik.
Setelah kembali ke Indonesia, pengalaman tersebut diteruskan melalui kegiatan pendidikan, penulisan buku, pembinaan kelompok riset, serta pengembangan perangkat penelitian, termasuk alat deposisi lapisan tipis di Universitas Negeri Makassar.
Di sinilah makna pengalaman internasional menjadi lebih luas.
Ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan semata-mata berapa lama ia pernah berada di luar negeri atau berapa banyak konferensi internasional yang diikuti.
Dari Laboratorium ke Persoalan Masyarakat
Perguruan tinggi menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah. Ada kebutuhan untuk memastikan penelitian memiliki hubungan dengan persoalan nyata.
Di Sulawesi Selatan, misalnya, terdapat berbagai persoalan yang dapat menjadi ruang penelitian, mulai dari pendidikan di daerah, kualitas lingkungan, kebutuhan energi, pengelolaan air, teknologi tepat guna hingga penguatan usaha masyarakat.
"Laboratorium kampus dapat menjadi salah satu tempat untuk mencari jawabannya," ucap Prof Eko.
Karena itu, pengalaman riset internasional menjadi penting ketika mampu memperluas cara pandang, tetapi tetap diarahkan untuk menjawab kebutuhan di daerah.
Berpikir global, tetapi bekerja untuk persoalan di sekitar.
Pengabdian di UNM
Pengalaman panjang Eko di dunia penelitian, termasuk saat berada di University of Twente, menjadi bagian dari rekam jejaknya sebagai akademisi.
Ia berencana membawa itu sebagai bekal pada dinamima Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030.
"Yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa, dosen muda, dan peneliti," ucap Eko.
Dia bilang, bagaimana kamous dapat semakin produktif, bagaimana mahasiswa dapat terlibat dalam penelitian sejak dini, bagaimana dosen muda memperoleh kesempatan membangun kelompok riset, bagaimana kerja sama internasional dapat menghasilkan penelitian bersama, bukan sekadar seremoni, menjadi pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tantangan perguruan tinggi ke depan.
Pulang Membawa Ilmu
Pengalaman penelitian di University of Twente, Belanda, kemudian menjadi bagian dari perjalanan akademik Prof Eko Hadi Sujiono setelah kembali ke Makassar.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya selama berada di lingkungan riset internasional diterapkan dalam kegiatan akademik di Universitas Negeri Makassar (UNM), mulai dari pendidikan, pengembangan kelompok riset hingga pengembangan perangkat penelitian.
Jejaring yang dibangun selama di Belanda juga terus dipelihara dan berkembang menjadi kolaborasi penelitian. Salah satunya dilakukan bersama peneliti dari India dalam penelitian mengenai baterai seng-udara (zinc-air battery) pada 2026.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa riset internasional tidak berhenti ketika seorang peneliti kembali ke tanah air. Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring yang diperoleh dapat menjadi modal untuk memperkuat penelitian dan pendidikan di perguruan tinggi.
Bagi Eko, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan perkembangan riset global dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, khususnya di lingkungan UNM.
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
Himatik FT-UNM Gelar ACO 2026, Bekali Calon Engineer Lewat Semangat Konstelasi
Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (Himatik) Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT-UNM) menggelar Academic Culture Orientation (ACO) di Gedung Dekanat FT-UNM, Sabtu (22/8/2026).
Senin, 24 Agu 2026 06:26
News
FIKK UNM Latih Siswa SMP Negeri 11 Makassar Terapkan School Active Break untuk Kurangi Risiko Sedentari
Program Studi Promosi Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMP Negeri 11 Makassar, melalui pelatihan Peregangan Dinamis Gerakan School Active Break di Sekolah sebagai Mitigasi Risiko Sedentari Siswa.
Kamis, 20 Agu 2026 18:15
News
Output Riset Tumbuh 12 Persen, UNM Pimpin Akselerasi PTN Kawasan Timur
Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatat pertumbuhan output riset sebesar 12 persen pada periode Januari–Juni 2026. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam pemetaan 11 perguruan tinggi negeri kawasan Timur Indonesia yang ditampilkan berdasarkan data Elsevier.
Rabu, 19 Agu 2026 15:25
News
Tiga Dekade Mengabdi, Prof Eko Hadi Sujiono Nyatakan Siap Pimpin UNM
Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Negeri Makassar (UNM), 17 Agustus 2026, menjadi hari yang memiliki makna khusus bagi Prof Eko Hadi Sujiono.
Selasa, 18 Agu 2026 19:03
Sulsel
Tutup Rangkaian ICE SPORT 2026, Himatik FT-UNM Sukses Gelar Laga Futsal
Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika dan Komputer (Himatik) Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT-UNM) resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan ICE SPORT 2026.
Selasa, 18 Agu 2026 10:05
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Respon Bupati Barru Andi Ina soal Isu Gabung Gerindra
2
Patarai Amir Diusulkan Jadi Plt Ketua Golkar Maros
3
Lewat Gerak & Permainan di Air, Zivana Montessori Hadirkan Program Hidroterapi untuk Anak
4
Tinjau Jalan di Pelosok Wasuponda, Wabup Lutim Minta Desa Segera Lapor ke Dinas Terkait
5
IAS Pacu Konsolidasi Golkar Maros, Target Bidik Kejayaan di Pileg 2029
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Respon Bupati Barru Andi Ina soal Isu Gabung Gerindra
2
Patarai Amir Diusulkan Jadi Plt Ketua Golkar Maros
3
Lewat Gerak & Permainan di Air, Zivana Montessori Hadirkan Program Hidroterapi untuk Anak
4
Tinjau Jalan di Pelosok Wasuponda, Wabup Lutim Minta Desa Segera Lapor ke Dinas Terkait
5
IAS Pacu Konsolidasi Golkar Maros, Target Bidik Kejayaan di Pileg 2029