Pertanian Bantaeng Tumbuh 1,97 Persen di Tengah Tekanan Iklim

Sabtu, 19 Sep 2026 11:34
Pertanian Bantaeng Tumbuh 1,97 Persen di Tengah Tekanan Iklim
Bupati Bantaeng, M Fathul Fauzy Nurdin saat meninjau salah satu area pertanian. Foto: Istimewa
Comment
Share
BANTAENG - Sektor pertanian Kabupaten Bantaeng tetap mencatat pertumbuhan positif di tengah tekanan kondisi iklim dan penurunan produksi sejumlah komoditas utama pada triwulan II 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng, sektor pertanian tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi sebesar 25,13 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantaeng.

Namun, pertumbuhan tersebut berlangsung ketika produksi sejumlah tanaman pangan mengalami penurunan. Ketua Tim Statistik Produksi BPS Kabupaten Bantaeng, Hikmawati, mengatakan produksi padi turun sekitar 26 persen seiring berkurangnya luas panen. Sementara itu, produksi jagung turun sekitar 42 persen.

Kondisi berbeda terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura. Produksi cabai besar dan cabai keriting meningkat lebih dari 50 persen. Sementara bawang merah, cabai rawit, dan kentang mengalami penurunan produksi.

"Penurunan produksi komoditas pertanian ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang telah mulai terjadi pada triwulan II 2026," katanya.

Tekanan terhadap produksi pertanian terjadi di tengah perubahan iklim dan berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah pertanian.

Berdasarkan laporan BMKG Sulawesi Selatan, curah hujan pada Mei hingga Juli 2026 diprediksi berangsur menurun. Awal musim kemarau di Bantaeng diperkirakan terjadi pada Juli, dengan puncak kemarau pada Agustus hingga September 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, mengatakan ketersediaan air turut memengaruhi waktu tanam dan panen, terutama pada tanaman pangan.

“Pertanian kita tetap tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap PDRB Bantaeng. Namun kita juga menghadapi penurunan produksi padi dan jagung. Salah satu kondisi yang kita hadapi adalah berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian,” ungkapnya.

Menurut Mahyuddin, dampak kekeringan berbeda di setiap wilayah. Lahan yang masih memiliki sumber air relatif dapat mempertahankan kegiatan budidaya. Sementara lahan yang bergantung pada curah hujan menghadapi tekanan yang lebih besar.

Dinas Pertanian juga mencermati adanya perubahan pola tanam di sebagian areal pertanian, dari tanaman pangan ke hortikultura.

Kondisi itu terlihat ketika produksi padi dan jagung menurun, sementara produksi cabai besar dan cabai keriting justru meningkat lebih dari 50 persen.

“Petani menyesuaikan kegiatan budidayanya dengan kondisi air, musim dan komoditas yang memungkinkan dikembangkan. Tetapi produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, tetap harus kita jaga,” kata Mahyuddin.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pertanian melakukan pemetaan wilayah berdasarkan sumber air, luas tanam, dan luas panen.

Pada wilayah yang masih memiliki ketersediaan air, petani didorong melakukan percepatan tanam dan menggunakan varietas genjah. Pola tanam juga disesuaikan dengan kondisi iklim.

Sementara di wilayah dengan ketersediaan air terbatas, penanaman diarahkan agar tidak dipaksakan apabila berisiko mengalami kekeringan sebelum masa panen.

Dinas Pertanian juga memperkuat pendampingan penyuluh, pengendalian organisme pengganggu tanaman, ketersediaan benih unggul bersertifikat, serta identifikasi wilayah yang menjadi penyumbang penurunan produksi padi dan jagung.

Untuk musim tanam berikutnya, pemerintah mengarahkan penguatan produksi benih lokal melalui penangkar dan UPT Balai Benih Tanaman Pangan (BBTP). Upaya lainnya meliputi peningkatan produktivitas sentra padi dan jagung, sinkronisasi pola tanam dengan ketersediaan air, serta penguatan sarana produksi, mekanisasi, dan pascapanen.

“Yang kita jaga bukan hanya bagaimana petani bisa menanam, tetapi bagaimana mereka menanam pada waktu yang tepat, dengan komoditas yang tepat dan dukungan yang tepat. Produksi tanaman pangan harus kita amankan, produktivitas kita tingkatkan, dan kesejahteraan petani tetap menjadi tujuan utama,” pungkas Mahyuddin.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru