Opini
Linieritas Penting, tetapi Guru Bukan Garis Lurus
Senin, 05 Okt 2026 21:49
Guru BK SMK Darussalam Makassar, Zaid Buri Prahastyo. Foto/Istimewa
Oleh: Zaid Buri Prahastyo -
Guru BK SMK Darussalam Makassar
Ada guru yang ijazahnya berjalan lurus menuju ruang kelas. Ada pula yang jalannya berbelok, menyeberang disiplin, lalu menemukan dirinya di tempat yang tidak pernah direncanakan. Saya termasuk yang kedua. Selama 17 tahun menjadi guru Bimbingan dan Konseling, saya membawa satu kenyataan: ijazah saya adalah Sarjana Perikanan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin persoalan linieritas. Bagi saya, ini adalah bagian dari perjalanan yang membentuk cara saya melihat pendidikan. Saya tidak mengatakan bahwa linieritas tidak penting. Seorang guru tetap membutuhkan fondasi keilmuan dan kompetensi yang memadai. Namun, ada pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: apakah seorang guru hanya boleh membawa apa yang tertulis di ijazahnya ke dalam ruang kelas?
Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam praktik pembelajaran bersama murid Asisten Perawat, saya membawa sesuatu yang dianggap berada di luar dunia BK: ekosistem perairan. Saya membawa laut, sungai, ikan, dan lingkungan perairan ke ruang BK.
Bukan untuk mengajarkan perikanan, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengalaman akademik seorang guru tidak harus kehilangan makna ketika ia memasuki ruang profesional yang berbeda. Warna bukan pengganti fondasi. Tetapi fondasi juga tidak seharusnya menghapus warna.
Dalam pembelajaran tersebut, murid membaca kasus, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mempresentasikan gagasan, dan saling memberikan umpan balik. Salah satu kesepakatan kelas yang muncul bahkan sederhana: “Tidak boleh baper.”
Namun, di balik kalimat itu, saya melihat sesuatu yang penting. Murid belajar menerima kritik, mendengar perspektif berbeda, dan memperbaiki gagasan. Bahkan, murid yang biasanya pasif mulai terlibat dalam proses umpan balik.
Pengalaman itu membuat saya berpikir: mungkin persoalannya bukan semata-mata seberapa lurus latar belakang seorang guru dengan materi yang dibawanya, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya mampu membuat murid bergerak, berpikir, bertanya, dan berkembang.
Tentu, ini bukan berarti penguasaan keilmuan dapat diabaikan. Guru yang mengajar di luar bidang keahliannya tetap membutuhkan kompetensi, pengalaman, dukungan profesional, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana: linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang. Saya melihat hal itu seperti ekosistem yang saya pelajari dalam perikanan.
Tidak ada satu unsur yang hidup sendirian. Sungai memengaruhi laut. Lingkungan memengaruhi manusia. Dan manusia kembali memengaruhi lingkungan. Pendidikan pun demikian.
Seorang murid tidak pernah datang ke ruang kelas hanya membawa nilai rapor. Ia membawa keluarga, lingkungan, pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan bayangan tentang masa depannya. Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Guru juga perlu membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan yang mereka hadapi.
Dunia mereka pun semakin kompleks. Perubahan teknologi, lingkungan, kesehatan, dan dunia kerja tidak mengenal batas mata pelajaran. Karena itu, pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi yang kuat sekaligus kemampuan untuk menghubungkan berbagai perspektif.
PPG bagi saya akhirnya bukan sekadar perjalanan memperoleh sertifikat pendidik. Ia menjadi ruang untuk berdamai dengan perjalanan saya sendiri.
Saya tetap guru BK. Tetapi saya tidak perlu meninggalkan laut yang pernah membentuk saya. Saya datang ke ruang kelas dengan seluruh pengalaman yang saya miliki. Sebab, pada akhirnya, guru bukan hanya ijazahnya. Ia adalah apa yang dipelajarinya, dialaminya, direfleksikannya, dan bagaimana semua itu digunakan untuk membantu murid tumbuh.
Linieritas adalah garis pijakan, bukan batas imajinasi.
Guru BK SMK Darussalam Makassar
Ada guru yang ijazahnya berjalan lurus menuju ruang kelas. Ada pula yang jalannya berbelok, menyeberang disiplin, lalu menemukan dirinya di tempat yang tidak pernah direncanakan. Saya termasuk yang kedua. Selama 17 tahun menjadi guru Bimbingan dan Konseling, saya membawa satu kenyataan: ijazah saya adalah Sarjana Perikanan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin persoalan linieritas. Bagi saya, ini adalah bagian dari perjalanan yang membentuk cara saya melihat pendidikan. Saya tidak mengatakan bahwa linieritas tidak penting. Seorang guru tetap membutuhkan fondasi keilmuan dan kompetensi yang memadai. Namun, ada pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: apakah seorang guru hanya boleh membawa apa yang tertulis di ijazahnya ke dalam ruang kelas?
Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam praktik pembelajaran bersama murid Asisten Perawat, saya membawa sesuatu yang dianggap berada di luar dunia BK: ekosistem perairan. Saya membawa laut, sungai, ikan, dan lingkungan perairan ke ruang BK.
Bukan untuk mengajarkan perikanan, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengalaman akademik seorang guru tidak harus kehilangan makna ketika ia memasuki ruang profesional yang berbeda. Warna bukan pengganti fondasi. Tetapi fondasi juga tidak seharusnya menghapus warna.
Dalam pembelajaran tersebut, murid membaca kasus, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mempresentasikan gagasan, dan saling memberikan umpan balik. Salah satu kesepakatan kelas yang muncul bahkan sederhana: “Tidak boleh baper.”
Namun, di balik kalimat itu, saya melihat sesuatu yang penting. Murid belajar menerima kritik, mendengar perspektif berbeda, dan memperbaiki gagasan. Bahkan, murid yang biasanya pasif mulai terlibat dalam proses umpan balik.
Pengalaman itu membuat saya berpikir: mungkin persoalannya bukan semata-mata seberapa lurus latar belakang seorang guru dengan materi yang dibawanya, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya mampu membuat murid bergerak, berpikir, bertanya, dan berkembang.
Tentu, ini bukan berarti penguasaan keilmuan dapat diabaikan. Guru yang mengajar di luar bidang keahliannya tetap membutuhkan kompetensi, pengalaman, dukungan profesional, dan kemauan untuk terus belajar.
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana: linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang. Saya melihat hal itu seperti ekosistem yang saya pelajari dalam perikanan.
Tidak ada satu unsur yang hidup sendirian. Sungai memengaruhi laut. Lingkungan memengaruhi manusia. Dan manusia kembali memengaruhi lingkungan. Pendidikan pun demikian.
Seorang murid tidak pernah datang ke ruang kelas hanya membawa nilai rapor. Ia membawa keluarga, lingkungan, pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan bayangan tentang masa depannya. Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Guru juga perlu membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan yang mereka hadapi.
Dunia mereka pun semakin kompleks. Perubahan teknologi, lingkungan, kesehatan, dan dunia kerja tidak mengenal batas mata pelajaran. Karena itu, pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi yang kuat sekaligus kemampuan untuk menghubungkan berbagai perspektif.
PPG bagi saya akhirnya bukan sekadar perjalanan memperoleh sertifikat pendidik. Ia menjadi ruang untuk berdamai dengan perjalanan saya sendiri.
Saya tetap guru BK. Tetapi saya tidak perlu meninggalkan laut yang pernah membentuk saya. Saya datang ke ruang kelas dengan seluruh pengalaman yang saya miliki. Sebab, pada akhirnya, guru bukan hanya ijazahnya. Ia adalah apa yang dipelajarinya, dialaminya, direfleksikannya, dan bagaimana semua itu digunakan untuk membantu murid tumbuh.
Linieritas adalah garis pijakan, bukan batas imajinasi.
(TRI)
Berita Terkait
Sulbar
Dukung Pendidikan, PLN Nyalakan Listrik Sekolah Rakyat di Mamuju
Sekolah Rakyat di Kabupaten Mamuju kini mendapat pasokan listrik berdaya 555 kVA dari PT PLN (Persero). Hal itu menjadi bukti nyata kepedulian PLN terhadap dunia pendidikan.
Jum'at, 25 Sep 2026 20:32
Sulsel
Guru Jeneponto Ikuti Bimtek Literasi dan Numerasi
Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi dan Numerasi (Litnum) digelar di UPT SMP Negeri 1 Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Selasa (22/9/2026).
Selasa, 22 Sep 2026 20:13
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
News
Tak Sekadar Menambang, PT Vale Bangun Generasi Penggerak Hilirisasi di Bumi Nikel
Kabupaten Luwu Timur diproyeksikan mampu bertransformasi untuk menjadi pusat literasi nikel dan pendidikan industri berkelanjutan di Indonesia Timur.
Rabu, 16 Sep 2026 20:39
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Darmawangsyah Muin Terpilih Ketua HKTI Gowa, Didampingi LBK dan Idris Rate
2
Pengurus PAN Sulsel Bakal Dilantik, Ketum Zulkifli Hasan Dijadwalkan Hadir
3
Pemkot Gelar Nobar Timnas di Balai Kota, Dispora Sulap Lapangan Parkir Jadi Stadion Mini
4
Penikaman di Pantai Seta-seta Tewaskan Satu Warga, Polisi Amankan Terduga Pelaku
5
Karantina Sulsel Tanam 285 Pohon, TPA Antang Didorong Jadi Hutan Kota
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Darmawangsyah Muin Terpilih Ketua HKTI Gowa, Didampingi LBK dan Idris Rate
2
Pengurus PAN Sulsel Bakal Dilantik, Ketum Zulkifli Hasan Dijadwalkan Hadir
3
Pemkot Gelar Nobar Timnas di Balai Kota, Dispora Sulap Lapangan Parkir Jadi Stadion Mini
4
Penikaman di Pantai Seta-seta Tewaskan Satu Warga, Polisi Amankan Terduga Pelaku
5
Karantina Sulsel Tanam 285 Pohon, TPA Antang Didorong Jadi Hutan Kota