Karhutla Ancam Lukisan Hewan Cadas Tertua di Dunia
Selasa, 13 Okt 2026 20:48
Kondisi Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep)-Maros. Foto: Istimewa
MAROS - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep)-Maros, Sulawesi Selatan, mengancam kelestarian situs prasejarah yang menyimpan lukisan cadas berusia lebih dari 45.000 tahun.
Luas area yang terbakar dilaporkan mencapai 26 hektare. Api yang awalnya terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng itu kemudian merembet hingga ke Gunung Arung Sabila, Kecamatan Minasatene, bahkan memasuki zona rimba dan zona inti taman nasional.
Kondisi medan karst yang terjal, angin kencang, serta keterbatasan akses dan sumber air menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
Petugas Manggala Agni bersama TNI, Polri, relawan, dan pengelola taman nasional terus berupaya mengendalikan api. Upaya pemadaman dilakukan dengan menggunakan mesin pompa air, selang, serta alat pemadam punggung. Petugas juga membuat sekat bakar untuk mencegah penjalaran api ke kawasan lain, termasuk permukiman warga.
Namun, sejumlah titik api sulit dijangkau karena berada di lereng curam dan celah-celah batuan karst. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengutamakan keselamatan personel sekaligus memprioritaskan perlindungan kawasan yang berisiko terdampak.
Arkeolog dari Griffith University, Australia, Basran Burhan, memperingatkan kebakaran di kawasan karst Maros-Pangkep berpotensi merusak lukisan cadas yang menjadi salah satu bukti penting sejarah kehidupan manusia purba.
Menurut Basran, dampak kebakaran terhadap lukisan gua dapat terjadi meskipun api tidak bersentuhan langsung dengan permukaan gambar.
Panas ekstrem dapat mengubah temperatur batuan dan mempercepat proses pelapukan. Jika terkena api secara langsung, batuan berpotensi retak, pecah, hingga mengalami pengelupasan yang merusak lapisan lukisan.
“Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” kata Basran.
Jelaga yang menempel dapat mengaburkan bentuk gambar dan menutupi warna asli pigmen. Kerusakan tersebut menjadi perhatian serius karena lukisan cadas di kawasan Maros-Pangkep merupakan warisan arkeologi bernilai tinggi yang tidak dapat dipulihkan jika lapisan gambar telah rusak.
Basran menyebut kawasan karst Maros-Pangkep memiliki sekitar 734 situs prasejarah, dengan lebih dari 400 situs di antaranya menyimpan lukisan cadas.
Sebagian besar situs berada di tepian tebing karst sehingga rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah titik api dilaporkan berada hanya beberapa meter dari mulut gua.
Perkiraan cuaca turut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian kebakaran. Perkirawan BMKG Sulawesi Selatan, Nur Rahmi Utami, mengatakan wilayah Maros dan Pangkep masih diprakirakan mengalami musim kemarau.
Dalam beberapa minggu ke depan, suhu udara di wilayah tersebut diprediksi berkisar 25–36 derajat Celsius. Sementara itu, kondisi cuaca tiga hingga tujuh hari ke depan diprakirakan didominasi cerah hingga cerah berawan.
Angin kencang juga berpotensi mempercepat penjalaran api dan membawa asap ke kawasan sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan dukungan personel dan strategi yang tepat. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mengantisipasi perluasan kebakaran ke kawasan hutan dan permukiman.
Basran mengingatkan, kebakaran serupa pernah terjadi di kawasan tersebut pada 2014 dan 2015. Menurutnya, kejadian berulang menunjukkan perlunya langkah mitigasi yang lebih serius dan berkelanjutan.
Ia mendorong penguatan upaya pencegahan, termasuk penghijauan menggunakan tanaman lokal untuk membantu menjaga suhu dan kelembapan mikro di sekitar gua.
Upaya tersebut dinilai penting karena perubahan suhu dan kelembapan dapat mempercepat kerusakan batuan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan proses pengendapan kristal garam di dalam batuan karst dapat memicu pengelupasan permukaan batu, yang dikenal sebagai fenomena “kulit semangka”.
Kebakaran yang terjadi saat ini dikhawatirkan memperburuk kerentanan tersebut akibat paparan panas dan asap.
Selain mengancam kelestarian situs prasejarah, kebakaran juga menjadi tantangan bagi upaya pengusulan kawasan karst Maros-Pangkep sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Luas area yang terbakar dilaporkan mencapai 26 hektare. Api yang awalnya terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng itu kemudian merembet hingga ke Gunung Arung Sabila, Kecamatan Minasatene, bahkan memasuki zona rimba dan zona inti taman nasional.
Kondisi medan karst yang terjal, angin kencang, serta keterbatasan akses dan sumber air menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.
Petugas Manggala Agni bersama TNI, Polri, relawan, dan pengelola taman nasional terus berupaya mengendalikan api. Upaya pemadaman dilakukan dengan menggunakan mesin pompa air, selang, serta alat pemadam punggung. Petugas juga membuat sekat bakar untuk mencegah penjalaran api ke kawasan lain, termasuk permukiman warga.
Namun, sejumlah titik api sulit dijangkau karena berada di lereng curam dan celah-celah batuan karst. Kondisi tersebut membuat petugas harus mengutamakan keselamatan personel sekaligus memprioritaskan perlindungan kawasan yang berisiko terdampak.
Arkeolog dari Griffith University, Australia, Basran Burhan, memperingatkan kebakaran di kawasan karst Maros-Pangkep berpotensi merusak lukisan cadas yang menjadi salah satu bukti penting sejarah kehidupan manusia purba.
Menurut Basran, dampak kebakaran terhadap lukisan gua dapat terjadi meskipun api tidak bersentuhan langsung dengan permukaan gambar.
Panas ekstrem dapat mengubah temperatur batuan dan mempercepat proses pelapukan. Jika terkena api secara langsung, batuan berpotensi retak, pecah, hingga mengalami pengelupasan yang merusak lapisan lukisan.
“Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” kata Basran.
Jelaga yang menempel dapat mengaburkan bentuk gambar dan menutupi warna asli pigmen. Kerusakan tersebut menjadi perhatian serius karena lukisan cadas di kawasan Maros-Pangkep merupakan warisan arkeologi bernilai tinggi yang tidak dapat dipulihkan jika lapisan gambar telah rusak.
Basran menyebut kawasan karst Maros-Pangkep memiliki sekitar 734 situs prasejarah, dengan lebih dari 400 situs di antaranya menyimpan lukisan cadas.
Sebagian besar situs berada di tepian tebing karst sehingga rentan terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah titik api dilaporkan berada hanya beberapa meter dari mulut gua.
Perkiraan cuaca turut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian kebakaran. Perkirawan BMKG Sulawesi Selatan, Nur Rahmi Utami, mengatakan wilayah Maros dan Pangkep masih diprakirakan mengalami musim kemarau.
Dalam beberapa minggu ke depan, suhu udara di wilayah tersebut diprediksi berkisar 25–36 derajat Celsius. Sementara itu, kondisi cuaca tiga hingga tujuh hari ke depan diprakirakan didominasi cerah hingga cerah berawan.
Angin kencang juga berpotensi mempercepat penjalaran api dan membawa asap ke kawasan sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan dukungan personel dan strategi yang tepat. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan titik api, tetapi juga mengantisipasi perluasan kebakaran ke kawasan hutan dan permukiman.
Basran mengingatkan, kebakaran serupa pernah terjadi di kawasan tersebut pada 2014 dan 2015. Menurutnya, kejadian berulang menunjukkan perlunya langkah mitigasi yang lebih serius dan berkelanjutan.
Ia mendorong penguatan upaya pencegahan, termasuk penghijauan menggunakan tanaman lokal untuk membantu menjaga suhu dan kelembapan mikro di sekitar gua.
Upaya tersebut dinilai penting karena perubahan suhu dan kelembapan dapat mempercepat kerusakan batuan. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan proses pengendapan kristal garam di dalam batuan karst dapat memicu pengelupasan permukaan batu, yang dikenal sebagai fenomena “kulit semangka”.
Kebakaran yang terjadi saat ini dikhawatirkan memperburuk kerentanan tersebut akibat paparan panas dan asap.
Selain mengancam kelestarian situs prasejarah, kebakaran juga menjadi tantangan bagi upaya pengusulan kawasan karst Maros-Pangkep sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
(GUS)
Berita Terkait
News
7 Penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin Batal Akibat Karhutla
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Selasa, 13 Okt 2026 16:34
Sulsel
Rusa Dekati Kebun Warga Pasca Kebakaran di Area Padang Bantilang
Induk rusa bersama anaknya terlihat minum di tepi sungai kecil dekat kebun warga di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Senin (12/10/26).
Senin, 12 Okt 2026 13:23
Sulsel
Kebakaran Lahan 3 Hektare di Lutim Padam Setelah Tiga Jam Pemadaman
Kebakaran lahan seluas sekitar 3 hektare terjadi di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu (03/10/26) malam.
Minggu, 04 Okt 2026 19:38
News
Bukaan Lahan Tanamalia Melonjak 218 Persen, Satgas Karhutla Perketat Patroli
Luas bukaan lahan di kawasan hutan Loeha Raya-Tanamalia, Kabupaten Luwu Timur (Lutim), melonjak 218 persen selama musim kemarau Juni–September 2026.
Jum'at, 02 Okt 2026 17:16
News
Kebakaran Gunung Bulu Saukang Maros, 400 Pendaki Dievakuasi
Kebakaran hutan melanda jalur pendakian Gunung Bulu Saukang, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (6/9/2026) malam.
Senin, 07 Sep 2026 12:44
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Akibat Kabut Asap, Pos Polair Parepare Bagikan Masker dan Himbau Nelayan
2
Target Kembalikan Kejayaan Golkar, AMPI Lutim Kini Dipimpin Bangkit Revormansyah
3
Di Forum PBB, Munafri Usul Pendidikan Lalu Lintas Masuk Kurikulum Sekolah
4
Pelindo Aktifkan Kembali Layanan STS Nipa, Perkuat Posisi Indonesia di Jalur Global
5
7 Penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin Batal Akibat Karhutla
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Akibat Kabut Asap, Pos Polair Parepare Bagikan Masker dan Himbau Nelayan
2
Target Kembalikan Kejayaan Golkar, AMPI Lutim Kini Dipimpin Bangkit Revormansyah
3
Di Forum PBB, Munafri Usul Pendidikan Lalu Lintas Masuk Kurikulum Sekolah
4
Pelindo Aktifkan Kembali Layanan STS Nipa, Perkuat Posisi Indonesia di Jalur Global
5
7 Penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin Batal Akibat Karhutla