FSIKP UMI dan Balai Bahasa Sulsel Perkuat Kerja Sama Pengembangan Literasi

Selasa, 02 Jun 2026 19:44
FSIKP UMI dan Balai Bahasa Sulsel Perkuat Kerja Sama Pengembangan Literasi
Jajaran pimpinan FKSIP UMI menerima kunjungan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, di Aula Dekanat FSIKP UMI, Selasa (2/6/2026). Foto: Istimewa.
Comment
Share
MAKASSAR - Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) bersama Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menjajaki penguatan kerja sama di bidang kebahasaan, sastra, dan literasi. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam bidang bahasa dan literasi.

Pembahasan kerja sama itu berlangsung saat kunjungan Balai Bahasa Sulawesi Selatan ke FSIKP UMI di Aula Dekanat FSIKP UMI, Selasa (2/6/2026). Rombongan dipimpin Ketua Tim Kerja Pembinaan Bahasa dan Sastra Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Suharyanto, didampingi Ketua Duta Bahasa Sulawesi Selatan, Siti Anindya Athiyyah A. Lutfi yang merupakan alumni FSIKP UMI.

Dekan FSIKP UMI, Dr. Nurjannah Abna, mengatakan pertemuan tersebut menjadi langkah untuk memperkuat kemitraan yang telah terjalin antara kedua lembaga.

"Kami menyampaikan terima kasih atas kunjungan Balai Bahasa Sulawesi Selatan ke FSIKP UMI. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kolaborasi dalam membangun generasi muda yang memiliki kecakapan literasi, kemampuan komunikasi, serta sikap positif terhadap Bahasa Indonesia," ucapnya.

Menurut Nurjannah, bahasa memiliki peran penting tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bangsa dan sarana membangun karakter masyarakat.

"Bahasa bukan hanya sarana menyampaikan gagasan, tetapi juga cerminan jati diri bangsa. Karena itu, kami siap mendukung dan menjadi mitra strategis Balai Bahasa dalam berbagai program pengembangan bahasa dan literasi, termasuk pelaksanaan Program Krida Bahasa bagi mahasiswa dan generasi muda," tutur alumni Program Studi Sastra Arab FSIKP UMI ini.

Ia menambahkan, terdapat sejumlah peluang kerja sama yang dapat dikembangkan, mulai dari penguatan literasi, pembinaan Bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, peningkatan kompetensi kebahasaan mahasiswa dan dosen, hingga penelitian, publikasi ilmiah, dan program pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Suharyanto menjelaskan bahwa pemasyarakatan Bahasa Indonesia menjadi salah satu program prioritas Balai Bahasa Sulawesi Selatan untuk menumbuhkan sikap positif berbahasa di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi capaian mahasiswa UMI yang aktif mengikuti berbagai program kebahasaan yang diselenggarakan Balai Bahasa Sulawesi Selatan. Pada ajang Pemilihan Duta Bahasa 2026, mahasiswa UMI berhasil masuk dalam 20 besar peserta terbaik tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

"Prestasi ini menunjukkan kualitas dan potensi mahasiswa UMI yang sangat baik. Kami berharap wakil UMI dapat melangkah lebih jauh hingga masuk 10 besar dan melanjutkan tradisi prestasi yang selama ini telah dibangun," ujarnya.

Balai Bahasa Sulawesi Selatan juga memperkenalkan Program Krida Bahasa yang akan dijalankan para finalis Duta Bahasa sebagai bentuk edukasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Program tersebut menargetkan sekitar 580 generasi muda berusia 16 hingga 30 tahun untuk mengikuti pembinaan dan pelatihan penulisan esai serta artikel semi-ilmiah populer. Peserta akan mendapatkan lokakarya penulisan, pendampingan, hingga proses kurasi karya.

Dari seluruh karya yang dihasilkan, sebanyak 10 artikel terbaik akan dipilih untuk mengikuti pembekalan lanjutan di tingkat nasional. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi, keterampilan menulis, serta pemahaman penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah.

FSIKP UMI menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam berbagai program yang diinisiasi Balai Bahasa Sulawesi Selatan. Kedua pihak berharap kolaborasi tersebut dapat menghasilkan program yang memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas literasi masyarakat sekaligus memperkuat peran Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru