KREKI Dorong Masyarakat Kuasai Bantuan Hidup Dasar untuk Hadapi Kondisi Darurat
Sabtu, 29 Agu 2026 12:48
Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu diketahui masyarakat untuk memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami kondisi medis mengancam nyawa.
SELAYAR - Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu diketahui masyarakat untuk memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami kondisi medis yang mengancam nyawa.
Kesadaran dan kemampuan melakukan BHD tersebut menjadi perhatian Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) yang menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di RSUD KH Hayyung, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.
Bantuan Hidup Dasar merupakan serangkaian tindakan pertolongan pertama yang diberikan kepada seseorang yang mengalami kondisi mengancam nyawa, seperti henti jantung, henti napas, maupun kondisi tidak sadar yang terjadi secara tiba-tiba.
Dokter Nur Rahmansyah, yang menjadi pemateri sekaligus instruktur dalam kegiatan tersebut, mengatakan BHD dapat dilakukan dalam berbagai kondisi kegawatdaruratan.
“BHD bisa dilakukan dalam situasi apa saja, seperti serangan jantung hingga kecelakaan lalu lintas, dan dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari tenaga medis hingga masyarakat awam,” ujar dr Nur Rahmansyah.
Menurutnya, kemampuan melakukan BHD tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga medis. Masyarakat awam yang menjadi orang pertama menemukan korban dalam kondisi darurat juga memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan awal.
Dalam pelatihan tersebut, peserta yang terdiri atas masyarakat awam dan sejumlah staf rumah sakit mendapatkan materi sekaligus praktik langsung mengenai teknik pertolongan pada kondisi kegawatdaruratan.
Salah satu praktik yang dilakukan adalah pijat jantung luar atau kompresi dada (CPR) dengan menggunakan manekin. Praktik tersebut bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta agar memahami langkah dasar yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang mengalami kondisi yang membutuhkan bantuan hidup dasar.
Dr Nur Rahmansyah menekankan pentingnya keberanian masyarakat untuk mengambil tindakan awal ketika menemukan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
“BHD bukan hanya kewajiban tenaga medis, dalam hal ini dokter, tetapi merupakan tanggung jawab semua orang, terutama orang yang pertama kali menemukan atau melihat pasien yang membutuhkan bantuan hidup dasar,” jelasnya.
Ia menambahkan, tindakan sederhana yang dilakukan dengan tepat dan cepat dapat memberikan peluang bagi seseorang untuk mendapatkan pertolongan sebelum tenaga medis tiba.
“Keputusan untuk melakukan hal kecil bisa menyelamatkan hidup bagi orang yang membutuhkan di sekitar kita. Setidaknya, para peserta pernah melakukan tindakan tersebut meskipun praktiknya dilakukan pada manekin,” katanya.
Melalui pelatihan ini, KREKI berharap semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dasar mengenai pertolongan kegawatdaruratan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi kondisi darurat, tetapi mampu memberikan pertolongan awal secara tepat sambil menunggu bantuan medis.
Kesadaran dan kemampuan melakukan BHD tersebut menjadi perhatian Komunitas Relawan Emergensi Kesehatan Indonesia (KREKI) yang menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di RSUD KH Hayyung, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan sebelum mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.
Bantuan Hidup Dasar merupakan serangkaian tindakan pertolongan pertama yang diberikan kepada seseorang yang mengalami kondisi mengancam nyawa, seperti henti jantung, henti napas, maupun kondisi tidak sadar yang terjadi secara tiba-tiba.
Dokter Nur Rahmansyah, yang menjadi pemateri sekaligus instruktur dalam kegiatan tersebut, mengatakan BHD dapat dilakukan dalam berbagai kondisi kegawatdaruratan.
“BHD bisa dilakukan dalam situasi apa saja, seperti serangan jantung hingga kecelakaan lalu lintas, dan dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari tenaga medis hingga masyarakat awam,” ujar dr Nur Rahmansyah.
Menurutnya, kemampuan melakukan BHD tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga medis. Masyarakat awam yang menjadi orang pertama menemukan korban dalam kondisi darurat juga memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan awal.
Dalam pelatihan tersebut, peserta yang terdiri atas masyarakat awam dan sejumlah staf rumah sakit mendapatkan materi sekaligus praktik langsung mengenai teknik pertolongan pada kondisi kegawatdaruratan.
Salah satu praktik yang dilakukan adalah pijat jantung luar atau kompresi dada (CPR) dengan menggunakan manekin. Praktik tersebut bertujuan memberikan pengalaman kepada peserta agar memahami langkah dasar yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang mengalami kondisi yang membutuhkan bantuan hidup dasar.
Dr Nur Rahmansyah menekankan pentingnya keberanian masyarakat untuk mengambil tindakan awal ketika menemukan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
“BHD bukan hanya kewajiban tenaga medis, dalam hal ini dokter, tetapi merupakan tanggung jawab semua orang, terutama orang yang pertama kali menemukan atau melihat pasien yang membutuhkan bantuan hidup dasar,” jelasnya.
Ia menambahkan, tindakan sederhana yang dilakukan dengan tepat dan cepat dapat memberikan peluang bagi seseorang untuk mendapatkan pertolongan sebelum tenaga medis tiba.
“Keputusan untuk melakukan hal kecil bisa menyelamatkan hidup bagi orang yang membutuhkan di sekitar kita. Setidaknya, para peserta pernah melakukan tindakan tersebut meskipun praktiknya dilakukan pada manekin,” katanya.
Melalui pelatihan ini, KREKI berharap semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dasar mengenai pertolongan kegawatdaruratan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi kondisi darurat, tetapi mampu memberikan pertolongan awal secara tepat sambil menunggu bantuan medis.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Senior dan Tokoh Kampus Diharap Turut Jaga Suasana Sejuk Pilrek UNM
2
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif Kehilangan Sosok Wartawan Senior Arif Situju
3
Sambut HUT ke-419 Makassar, DPPPA Siapkan Festival Perempuan dan Anak
4
Cegah Stunting, Pemkab Maros Libatkan 11 Perusahaan jadi Orang Tua Asuh
5
Andi Patarai Amir Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Maros
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Senior dan Tokoh Kampus Diharap Turut Jaga Suasana Sejuk Pilrek UNM
2
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif Kehilangan Sosok Wartawan Senior Arif Situju
3
Sambut HUT ke-419 Makassar, DPPPA Siapkan Festival Perempuan dan Anak
4
Cegah Stunting, Pemkab Maros Libatkan 11 Perusahaan jadi Orang Tua Asuh
5
Andi Patarai Amir Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Maros