Pengamat Sarankan Wali Kota Makassar Appi Sebaiknya Hengkang dari Golkar

Senin, 21 Sep 2026 15:59
Pengamat Sarankan Wali Kota Makassar Appi Sebaiknya Hengkang dari Golkar
Diskusi Politik bertemakan Appi: Hengkang atau Bertahan di Redaksi BKM, Gedung Graha Pena Makassar pada Senin (21/09/2026). Foto: Muhaimin
Comment
Share
MAKASSAR - Pengamat Politik Sulsel, Asratillah menilai, Munafri Arifuddin sebaiknya hengkang dari Partai Golkar. Menurutnya, pilihan pindah lebih baik, jika di partai lama sudah tidak nyaman.

Pernyataan ini mencuat dalam Diskusi Politik bertemakan Appi: Hengkang atau Bertahan di Redaksi BKM, Gedung Graha Pena Makassar pada Senin (21/09/2026).

"Kita punya modal politik seperti Pak Appi. Kita wali kota, kita pernah menjadi ketua partai ya. Kemudian perolehan suara kita cukup signifikan, dan tiba-tiba kita kurang nyaman di partai lama. Yang kita pikirkan pasti adalah kelanjutan karir politik kita, ya," kata Asratillah.

Asratillah kemudian memberikan perumpamaan ketika seseorang yang bekerja dalam perusahaan ingin resign, karena sudah tidak nyaman dengan suasananya kantornya.

"Sama misalnya barangkali teman-teman yang ada di tempat kerja tertentu kan, ya menganggap punya kapasitas diri yang bagus ya. Tapi tiba-tiba pimpinannya dirotasi dan mendapatkan seorang pimpinan yang kurang cocok dengan apa dengan karakter kerja Anda ya. Ya pasti Anda berpikir dua kali untuk tetap bertahan di tempat kerja yang sama," ujarnya.

"Ya mending saya berpikir untuk mencari tempat kerja yang lain, yang bisa mendorong dan cocok dengan kapasitas pribadi saya," sambung Asratillah.

Direktur Profetik Institute ini yakin figur politik yang cukup kuat seperti Appi, pasti akan berpikir tentang bagaimana masa depan dan karir politiknya di tahun 2029 dan 2031. Makanya, Asratillah menyarankan agar Appi sebaiknya hengkang dari Golkar.

"Dan seorang politisi kalau berbicara karir politik, itu tidak bisa berbicara individu. Pasti dia mesti mencari kendaraan politik yang kondusif. Nah, yang jadi pertanyaan, apakah Golkar masih kondusif bagi Pak Appi?," jelasnya.

Asratillah menyarankan, ketika Appi pada akhirnya hengkang dari Golkar, sebaiknya secara etis.

"Ya, kalau pun misalnya mengambil keputusan untuk hengkang, ya kan ada namanya tata cara dan adab-adab ya berhenti dari partai lama kemudian masuk ke partai yang baru ya. Ya soal partai yang baru, ya nanti tergantung keputusan pribadi, kalau misalnya sudah tidak cocok dengan partai yang lama," tandasnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Rahmat Muhammad menilai pembahasan mengenai kemungkinan Appi hengkang atau bertahan perlu melihat data dan indikator politik yang lebih konkret.

Menurut Rahmat, keputusan seorang aktor politik untuk meninggalkan atau tetap berada dalam sebuah partai tidak terlepas dari kalkulasi politik.

“Soal hengkang atau tidak, itu yang saya katakan tadi: apakah seseorang pergi untuk benar-benar tidak kembali, atau pergi tetapi masih membuka kemungkinan untuk kembali, semuanya tentu memiliki kalkulasi,” ujar Rahmat.

Ia menjelaskan bahwa posisi seorang aktor politik tidak dapat dipisahkan dari kolektivitas, ketokohan, tempat, dan momentum.

Dalam konteks tersebut, Partai Golkar menjadi salah satu ruang politik yang penting karena memiliki sejarah panjang dan pengalaman menghadapi berbagai dinamika politik.

Rahmat juga menilai perpindahan partai pada era politik saat ini memiliki konteks yang berbeda dibandingkan masa lalu.

Menurut dia, seorang tokoh yang berpindah partai dapat membawa modal politik, jaringan, serta basis dukungan yang telah dibangun sebelumnya.

“Itu bukan sekadar soal ‘loncat’ dari satu partai ke partai lain. Di dalamnya ada modal politik yang ikut dibawa,” katanya.

Karena itu, Rahmat melihat posisi Appi sebagai wali kota memiliki arti penting dalam membaca arah politiknya ke depan.

Status tersebut memberikan modal politik yang berbeda dibandingkan ketika Appi belum menjabat sebagai kepala daerah.

Ia pun mengingatkan agar Appi tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa.

“Saya kira belum saatnya mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Yang lebih penting adalah membaca momentum, menghitung konsekuensi, dan melihat bagaimana posisi politik itu berkembang ke depan,” jelas Rahmat.

Bagi Golkar, tantangannya adalah menjaga konsolidasi organisasi sekaligus mempertahankan hubungan dengan para aktor politik yang memiliki basis dukungan.

Sementara bagi Appi, pilihan untuk bertahan atau mengambil jalur politik lain akan berkaitan dengan kalkulasi, momentum, serta perkembangan politik menuju agenda pemilu berikutnya.
(UMI)
Berita Terkait
Berita Terbaru