Angkat Isu Judi Online, Film 'Menang Untuk Kalah' Tayang 19 November 2026
Jum'at, 06 Nov 2026 06:07
Foto bersama para pemeran film Menang untuk Kalah, di bioskop XXI Trans Mall Studio, Kamis (5/11/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Dunia perfilman Indonesia akan kembali kehadiran film drama keluarga yang mengangkat isu sosial yang dekat dengan realita masyarakat saat ini.
Berjudul "Menang Untuk Kalah", film garapan sutradara Hasto Broto ini siap tayang serentak di seluruh bioskop tanah air mulai Kamis, 19 November 2026 mendatang.
Produser sekaligus Director, Hasto Broto, menjelaskan bahwa terinspirasi dari berbagai kejadian nyata di masyarakat, Para Kreator meramu kisah-kisah tersebut menjadi sebuah film drama keluarga yang berjudul Menang Untuk Kalah.
"Film ini menceritakan kisah seorang kepala keluarga yang terperangkap judi online (judol) akibat tidak mampu mengontrol nafsunya. Tingginya hasrat memenuhi keinginan mengalahkan kebutuhannya. Walau sebenarnya ia menyadari, kemampuan finansialnya belum mumpuni," jelasnya, Kamis (5/11/2026).
Melalui film ini, lanjut dia, Para Kreator ingin menyampaikan pesan pentingnya pertimbangan matang dalam pengambilan keputusan, juga pengendalian diri bagi seorang kepala rumah tangga.
"Selain itu, komunikasi diskusi antar anggota keluarga juga menjadi hal yang tak kalah penting. Film ini juga berusaha mengingatkan penonton agar menjauhi judol atau hal-hal yang merusak mental lainnya. Jangan sampai nafsu sesaat menguasai diri dan pada akhirnya menempatkan keluarga pada resiko besar," ujarnya.
Hasto menambahkan bahwa cerita dalam film tersebut senyata mungkin agar sesuai dengan realita sosial yang sering dijumpai.
"Jujur mengemas cerita dalam film ini senyata mungkin, sesuai realita sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Unsur dramatis dalam film ini pun dibuat sangat kental. Sehingga tanpa sadar, alur ceritanya mengayun emosi penonton," tambahnya.
Lulu Tobing yang memerankan sebagai Dewi, menyampaikan pesan bahwa segala keputusan dalam kehidupan berumah tangga harus dikomunikasikan secara bersama-sama.
"Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa segala sesuatu yang namanya juga berkeluarga harus dibicarakan bersama di forum keluarga. Mengambil keputusan bersama-sama, tidak sendirian, agar kita bisa menghindari pengambilan keputusan yang salah," ucapnya saat memberikan keterangan.
Di sisi lain, ia membeberkan proses syuting di Bandung membuat hubungan antar-pemain semakin menyatu dan akrab, serta melalui berbagai tahapan yang membantu mereka membangun chemistry dengan lebih kuat.
"Kalau saya sama Mas Surya sudah temenan lama, jadi sudah pasti gampang saja chemistry-nya. Kalau sama anak-anak ini, Putri sama Ajil, mereka juga anak-anak yang hangat dan seru. Jadi, enggak ada kesulitan buat saya, khususnya untuk bisa merasakan bahwa kita ini keluarga. Apalagi, kami juga melewati banyak proses, dari reading, terus ada workshop," bebernya.
Sementara, Surya Saputra pemeran Bima, menyampaikan bahwa efek judol sangat berpengaruh yang bisa membawa dampak negatif di dalam keluarga.
"Di sini, kita ingin mengingatkan seluruh masyarakat bahwa judi online itu sangat berbahaya. Apalagi, judi online sekarang sudah mengarah ke usia yang lebih muda; anak 10 tahun saja sudah banyak yang bermain judi online. Jadi, kita ingin menyampaikan bahwa bahaya ini bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi keluarga di sekitarnya juga pasti akan menjadi korban," pesannya.
Selain itu, Putri Ziani yang berperan sebagai Reina, mengatakan bahwa komunikasi antar anak dan orang tua harus intens dan tanpa ada yang ditutupi.
"Mungkin kalau dari aku, buat anak perempuan pertama, saling terbuka saja sama keluarga. Ngobrol sama papanya, jangan mendem sendiri. Intinya, harus saling terbuka," katanya kepada awak media.
Untuk penyutradaraan, Para Kreator mendapuk Hasto Broto menyutradarai film ini. Hasto mengarahkan film ini dengan pendekatan emosional yang sangat kuat namun tidak berlebihan.
Kesedihan, kehancuran, keriangan serta kebahagiaan yang tergambar dalam film ini terasa sangat natural. Hasto juga menuntut seluruh pemeran untuk mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya.
Adapun aktor/aktris yang membintangi film ini di antaranya Surya Saputra (Bima), Lulu Tobing (Dewi), Ajil Ditto (Rako), Putri Ziani (Reina), Yessy Gusman (Eyang Lastri), Allesandrio Reinhard Karamoy (Stefan).
Selain itu, film ini didukung juga oleh aktor/aktris kawakan, yakni Tike Priatnakusumah (Ibu Bos), Beddu (Samsul), Tigor (Debt Collector 1), Johan Edward Tampubolon (Debt Collector 2).
Demi menambah kualitas film ini, Para Kreator juga melibatkan Paulus Simangunsong dalam melatih akting serta membantu pemeran mendalami karakter. Selain itu, Asep Kalila ditunjuk sebagai Director of Photography (DoP) film ini.
Secara keseluruhan, proses pembuatan film “Menang Untuk Kalah”, dari tahap script development, writing hingga final editing memakan waktu lebih kurang 10 bulan. Sedangkan kegiatan syutingnya sendiri berlangsung selama 22 hari dan mengambil lokasi di area Bandung Raya.
Selain menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, film ini juga ditopang oleh lagu-lagu yang liriknya menyatu dengan adegan serta relate terhadap perasaan banyak orang. Film ini merupakan film Indonesia dengan lagu. Original Soundtrack terbanyak yang dibuat khusus.
Film ini sendiri akan tayang di seluruh bioskop tanah air mulai hari Kamis, 19 November 2026. Skenarionya ditulis oleh Jujur Prananto. Seorang penulis yang sarat pengalaman dengan karya-karya besar seperti “Petualangan Sherina” dan “Ada Apa Dengan Cinta?” serta “Suzzanna: Santet (Dosa di atas dosa)”.
Sinopsis
Ketika hasrat untuk memiliki tempat tinggal bagus sudah tak tertahan, Bima (Surya Saputra) memutuskan untuk membeli sebuah rumah di klaster yang cukup mewah. Ia pun melengkapi rumah tersebut dengan berbagai perabotan baru.
Tak cukup sampai disitu, Bima juga memenuhi nafsunya untuk mengganti barang-barang lainnya dengan yang baru. Padahal, ia dan keluarganya belum membutuhkan hal tersebut. Sejujurnya, Bima menyadari jika kemampuan finansialnya tidak mumpuni untuk melakukan semua hal itu di saat yang bersamaan.
Semua itu dibeli dengan cara kredit yang pada akhirnya sangat membebani keuangan Bima. Pemasukan bulanannya tak mampu menutupi cicilan. Biaya pokok rumah tangga dan tabungan ludes untuk menutup angsuran. Namun tetap tak cukup. Hutang pun muncul.
Di sisi lain, Dewi (Lulu Tobing), istri Bima yang tidak mengetahui kondisi keuangan Bima secara utuh, merasa gembira dengan keputusan suaminya. Kedua anaknya pun, Reina (Putri Ziani) dan Rako (Ajil Ditto), merasa bangga akan keputusan Papa mereka. Sang kepala rumah tangga sedang mendapat rezeki besar, pikir mereka.
Namun, tiba-tiba musibah menimpa keluarga ini. Berbagai persoalan lainnya datang menyusul. Tak hanya persoalan keuangan, masalah lainnya turut hadir. Kepanikan melanda. Bima kebingungan hingga memilih judi online (judol) sebagai jalan pintas. Bima berharap akan ada solusi. Namun alih-alih selamat dari masalah, malah “kiamat” yang Bima dapat.
Persoalan tak henti datang dan malah semakin melebar. Upaya lain dilakukannya. Namun, lagi-lagi salah keputusan. Bima semakin hanyut dalam kekalutan. Ia terjebak rasa frustasi yang membuatnya semakin nekat.
Kegembiraan yang semula dirasakan seketika berubah menjadi kekecewaan. Dewi memilih mengungsi ke rumah ibunya. Reina ikut dengan Dewi. Sementara Rako mendampingi ayahnya. Melihat situasi itu, mertua Bima, Eyang Lastri (Yessy Gusman), bertanya-tanya dalam hati, ada persoalan apa yang menimpa keluarga anaknya?.
Sebenarnya, apa saja kenekatan Bima? Apa musibah yang melanda? Separah apa masalahnya? Mampukah Bima dan keluarga lepas dari situasi itu?.
Dapatkan jawabannya di bioskop kesayangan anda. Saksikan Film Menang Untuk Kalah mulai hari Kamis, 19 November 2026.
Berjudul "Menang Untuk Kalah", film garapan sutradara Hasto Broto ini siap tayang serentak di seluruh bioskop tanah air mulai Kamis, 19 November 2026 mendatang.
Produser sekaligus Director, Hasto Broto, menjelaskan bahwa terinspirasi dari berbagai kejadian nyata di masyarakat, Para Kreator meramu kisah-kisah tersebut menjadi sebuah film drama keluarga yang berjudul Menang Untuk Kalah.
"Film ini menceritakan kisah seorang kepala keluarga yang terperangkap judi online (judol) akibat tidak mampu mengontrol nafsunya. Tingginya hasrat memenuhi keinginan mengalahkan kebutuhannya. Walau sebenarnya ia menyadari, kemampuan finansialnya belum mumpuni," jelasnya, Kamis (5/11/2026).
Melalui film ini, lanjut dia, Para Kreator ingin menyampaikan pesan pentingnya pertimbangan matang dalam pengambilan keputusan, juga pengendalian diri bagi seorang kepala rumah tangga.
"Selain itu, komunikasi diskusi antar anggota keluarga juga menjadi hal yang tak kalah penting. Film ini juga berusaha mengingatkan penonton agar menjauhi judol atau hal-hal yang merusak mental lainnya. Jangan sampai nafsu sesaat menguasai diri dan pada akhirnya menempatkan keluarga pada resiko besar," ujarnya.
Hasto menambahkan bahwa cerita dalam film tersebut senyata mungkin agar sesuai dengan realita sosial yang sering dijumpai.
"Jujur mengemas cerita dalam film ini senyata mungkin, sesuai realita sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Unsur dramatis dalam film ini pun dibuat sangat kental. Sehingga tanpa sadar, alur ceritanya mengayun emosi penonton," tambahnya.
Lulu Tobing yang memerankan sebagai Dewi, menyampaikan pesan bahwa segala keputusan dalam kehidupan berumah tangga harus dikomunikasikan secara bersama-sama.
"Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa segala sesuatu yang namanya juga berkeluarga harus dibicarakan bersama di forum keluarga. Mengambil keputusan bersama-sama, tidak sendirian, agar kita bisa menghindari pengambilan keputusan yang salah," ucapnya saat memberikan keterangan.
Di sisi lain, ia membeberkan proses syuting di Bandung membuat hubungan antar-pemain semakin menyatu dan akrab, serta melalui berbagai tahapan yang membantu mereka membangun chemistry dengan lebih kuat.
"Kalau saya sama Mas Surya sudah temenan lama, jadi sudah pasti gampang saja chemistry-nya. Kalau sama anak-anak ini, Putri sama Ajil, mereka juga anak-anak yang hangat dan seru. Jadi, enggak ada kesulitan buat saya, khususnya untuk bisa merasakan bahwa kita ini keluarga. Apalagi, kami juga melewati banyak proses, dari reading, terus ada workshop," bebernya.
Sementara, Surya Saputra pemeran Bima, menyampaikan bahwa efek judol sangat berpengaruh yang bisa membawa dampak negatif di dalam keluarga.
"Di sini, kita ingin mengingatkan seluruh masyarakat bahwa judi online itu sangat berbahaya. Apalagi, judi online sekarang sudah mengarah ke usia yang lebih muda; anak 10 tahun saja sudah banyak yang bermain judi online. Jadi, kita ingin menyampaikan bahwa bahaya ini bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi keluarga di sekitarnya juga pasti akan menjadi korban," pesannya.
Selain itu, Putri Ziani yang berperan sebagai Reina, mengatakan bahwa komunikasi antar anak dan orang tua harus intens dan tanpa ada yang ditutupi.
"Mungkin kalau dari aku, buat anak perempuan pertama, saling terbuka saja sama keluarga. Ngobrol sama papanya, jangan mendem sendiri. Intinya, harus saling terbuka," katanya kepada awak media.
Untuk penyutradaraan, Para Kreator mendapuk Hasto Broto menyutradarai film ini. Hasto mengarahkan film ini dengan pendekatan emosional yang sangat kuat namun tidak berlebihan.
Kesedihan, kehancuran, keriangan serta kebahagiaan yang tergambar dalam film ini terasa sangat natural. Hasto juga menuntut seluruh pemeran untuk mengeluarkan kemampuan akting terbaiknya.
Adapun aktor/aktris yang membintangi film ini di antaranya Surya Saputra (Bima), Lulu Tobing (Dewi), Ajil Ditto (Rako), Putri Ziani (Reina), Yessy Gusman (Eyang Lastri), Allesandrio Reinhard Karamoy (Stefan).
Selain itu, film ini didukung juga oleh aktor/aktris kawakan, yakni Tike Priatnakusumah (Ibu Bos), Beddu (Samsul), Tigor (Debt Collector 1), Johan Edward Tampubolon (Debt Collector 2).
Demi menambah kualitas film ini, Para Kreator juga melibatkan Paulus Simangunsong dalam melatih akting serta membantu pemeran mendalami karakter. Selain itu, Asep Kalila ditunjuk sebagai Director of Photography (DoP) film ini.
Secara keseluruhan, proses pembuatan film “Menang Untuk Kalah”, dari tahap script development, writing hingga final editing memakan waktu lebih kurang 10 bulan. Sedangkan kegiatan syutingnya sendiri berlangsung selama 22 hari dan mengambil lokasi di area Bandung Raya.
Selain menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, film ini juga ditopang oleh lagu-lagu yang liriknya menyatu dengan adegan serta relate terhadap perasaan banyak orang. Film ini merupakan film Indonesia dengan lagu. Original Soundtrack terbanyak yang dibuat khusus.
Film ini sendiri akan tayang di seluruh bioskop tanah air mulai hari Kamis, 19 November 2026. Skenarionya ditulis oleh Jujur Prananto. Seorang penulis yang sarat pengalaman dengan karya-karya besar seperti “Petualangan Sherina” dan “Ada Apa Dengan Cinta?” serta “Suzzanna: Santet (Dosa di atas dosa)”.
Sinopsis
Ketika hasrat untuk memiliki tempat tinggal bagus sudah tak tertahan, Bima (Surya Saputra) memutuskan untuk membeli sebuah rumah di klaster yang cukup mewah. Ia pun melengkapi rumah tersebut dengan berbagai perabotan baru.
Tak cukup sampai disitu, Bima juga memenuhi nafsunya untuk mengganti barang-barang lainnya dengan yang baru. Padahal, ia dan keluarganya belum membutuhkan hal tersebut. Sejujurnya, Bima menyadari jika kemampuan finansialnya tidak mumpuni untuk melakukan semua hal itu di saat yang bersamaan.
Semua itu dibeli dengan cara kredit yang pada akhirnya sangat membebani keuangan Bima. Pemasukan bulanannya tak mampu menutupi cicilan. Biaya pokok rumah tangga dan tabungan ludes untuk menutup angsuran. Namun tetap tak cukup. Hutang pun muncul.
Di sisi lain, Dewi (Lulu Tobing), istri Bima yang tidak mengetahui kondisi keuangan Bima secara utuh, merasa gembira dengan keputusan suaminya. Kedua anaknya pun, Reina (Putri Ziani) dan Rako (Ajil Ditto), merasa bangga akan keputusan Papa mereka. Sang kepala rumah tangga sedang mendapat rezeki besar, pikir mereka.
Namun, tiba-tiba musibah menimpa keluarga ini. Berbagai persoalan lainnya datang menyusul. Tak hanya persoalan keuangan, masalah lainnya turut hadir. Kepanikan melanda. Bima kebingungan hingga memilih judi online (judol) sebagai jalan pintas. Bima berharap akan ada solusi. Namun alih-alih selamat dari masalah, malah “kiamat” yang Bima dapat.
Persoalan tak henti datang dan malah semakin melebar. Upaya lain dilakukannya. Namun, lagi-lagi salah keputusan. Bima semakin hanyut dalam kekalutan. Ia terjebak rasa frustasi yang membuatnya semakin nekat.
Kegembiraan yang semula dirasakan seketika berubah menjadi kekecewaan. Dewi memilih mengungsi ke rumah ibunya. Reina ikut dengan Dewi. Sementara Rako mendampingi ayahnya. Melihat situasi itu, mertua Bima, Eyang Lastri (Yessy Gusman), bertanya-tanya dalam hati, ada persoalan apa yang menimpa keluarga anaknya?.
Sebenarnya, apa saja kenekatan Bima? Apa musibah yang melanda? Separah apa masalahnya? Mampukah Bima dan keluarga lepas dari situasi itu?.
Dapatkan jawabannya di bioskop kesayangan anda. Saksikan Film Menang Untuk Kalah mulai hari Kamis, 19 November 2026.
(MAN)
Berita Terkait
Lifestyle
Adaptasi Novel Popular, Film Whalefall Resmi Tayang di Bioskop Indonesia
Bioskop Indonesia kembali kedatangan film thriller survival terbaru produksi 20th Century Studios dan Imagine Entertainment berjudul "Whalefall", yang mulai tayang serentak pada 14 Oktober 2026.
Kamis, 15 Okt 2026 18:10
News
Sutradara Film Solata Bawa Film Berlatar Sulawesi Selatan Keliling Eropa Tahun Depan
Setelah tayang perdana di bioskop pada November 2025 lalu, film SOLATA tayang perdana secara internasional di Sofia [Bulgaria] pada Januari 2026. Film besutan sutradara Ichwan Persada tersebut tayang perdana di acara Sofia Menar Film Festival
Minggu, 27 Sep 2026 13:07
News
Kisah Nyata Cinta hingga Maut Memisahkan, Baby Udon Siap Tayang 3 September
Aktor Denny Sumargo bersama Fanny Kondoh membagikan kisah mendalam di balik pembuatan film terbaru mereka berjudul "Baby Udon".
Minggu, 30 Agu 2026 08:49
Lifestyle
Nobar Film SOLATA Sambil Berdonasi untuk Korban Gempa NTT
Pengusaha Menulis Buku Indonesia [PEMBIS] bekerjasama dengan Darut Tauhid Peduli dalam waktu dekat akan menggelar nonton bareng film SOLATA. Tak sekedar nonton bareng, kegiatan ini juga bagian dari program donasi untuk korban bencana gempa bumi
Senin, 24 Agu 2026 19:59
Lifestyle
Setelah Yordania, Film Solata Kembali Berkiprah di Festival Film Cekoslowakia
Film SOLATA baru saja mendapat sambutan meriah saat hadir di Jordan Children and Youth’s Film Festival pada 18 Agustus lalu.
Minggu, 23 Agu 2026 13:52
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
2
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto
3
Ahli Pidana Sebut Penetapan Tersangka Kedua Bahtiar Cacat Hukum dan Tidak Sah
4
November Makin Ceria, Asmo Sulsel Tawarkan Promo Honda Beragam Keuntungan
5
Sulsel Raih Tiga Penghargaan pada GENTING Collaboration Summit 2026
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
2
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto
3
Ahli Pidana Sebut Penetapan Tersangka Kedua Bahtiar Cacat Hukum dan Tidak Sah
4
November Makin Ceria, Asmo Sulsel Tawarkan Promo Honda Beragam Keuntungan
5
Sulsel Raih Tiga Penghargaan pada GENTING Collaboration Summit 2026