Tekan Kasus HIV Remaja, Dinkes Sulsel Gelar Skrining Serentak di 24 Daerah

Kamis, 24 Sep 2026 12:18
Tekan Kasus HIV Remaja, Dinkes Sulsel Gelar Skrining Serentak di 24 Daerah
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memperkuat langkah pencegahan penyebaran HIV/AIDS, khususnya di kalangan remaja.

Melalui program "Andalan Sehati" yang diintegrasikan dengan peringatan Hari Jadi Sulsel ke-357 serta Hari Kesehatan Nasional pada 12 November 2026 mendatang.

Pengelola HIV/AIDS Dinkes Sulsel, Rasma, menjelaskan bahwa program tahun ini dikemas secara kolaboratif antara pencegahan HIV, malaria, dan Penyakit Tidak Menular (PTM).

"Di dalam tahap proses ke sana, dulu tahun lalu juga ada itu Andalan Sehati. Kita kemas dalam program namanya andalan Sehati. Jadi itu menyasar anak SMA, SMK atau MA ataupun pesantren sederajat," jelasnya, Kamis (24/9/2026).

Kata dia, Dinkes Sulsel menargetkan skrining kesehatan akan dilakukan serentak di 24 kabupaten/kota.

"Untuk tahun ini rencananya itu untuk sekolah-sekolah akan berkolaborasi HIV malaria dengan PTM penyakit tidak menular. Jadi nanti akan ada pemeriksaan tekanan darah, cek gula untuk anak-anak sekolah. Target kita 10.357. 357, karena dalam rangka hari jadi Sulsel 357 dan sekaligus juga dilenggarakan dengan penyemut hari kesehatan. Jadi untuk HIV akan fokus ke anak sekolah," katanya saat dikonfirmasi.

Rasma menambahkan, Pemprov Sulsel saat ini masih dalam proses persiapan dan tengah berkoordinasi intensif dengan Dinas Pendidikan dalam agenda tersebut.

"Jadi nanti Sulsel masih sementara berproses, masih kami akan masih berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan juga Kanwil Agama yang membawahi pesantren untuk nanti pelaksanaan hari ini ya pelaksanaan andalan sehati itu," sambungnya.

Selain itu, kata dia, kegiatan tersebut juga akan menjangkau masyarakat umum, namun difokuskan khusus untuk program Pustada dan TBC.

"Harapannya dengan adanya skrining dan edukasi di sekolah itu kita bisa ada upaya pencegahan dengan sosialisasi tentunya dengan pelibatan guru, kepala sekolah, guru BK. Kemudian sekiranya misalnya ada dari karena nanti teknisnya kita akan menggunakan formulir, formulir skrining," sebutnya.

Dia bilang, apabila dari hasil skrining tersebut terdapat jawaban yang memerlukan penanganan lanjutan, siswa akan diarahkan untuk menjalani proses konseling lebih lanjut

"Sekiranya ada di jawaban-jawaban itu yang memerlukan tindak lanjut berikutnya untuk lebih dikonseling kemudian apakah perlu tindak lanjut sampai tes itu akan kita lakukan seperti itu. Dengan harapannya untuk anak sekolah ini akan ada sosialisasi secara serentak di 24 kabupaten kota yang akan kita lakukan," terangnya kepada wartawan.

Rasma menegaskan bahwa upaya tersebut diharapkan dapat mencegah penyebaran HIV di kalangan anak sekolah.

"Semoga itu menjadi salah satu usaha untuk pencegahan anak sekolah karena data tadi yang kita lihat untuk umur 15 sampai 24 tahun terus terang 3 tahun terakhir ini terus-menerus mengalami peningkatan," tegasnya.

Rasma mengungkapkan, peningkatan kasus tersebut terjadi khusus pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun yang sebagian besar masih berstatus sebagai anak sekolah.

"Peningkatan kasus khusus karena kita tahu 15 sampai 24 tahun itu masih anak sekolah anak kelas 2, kelas 3 bahkan mungkin yang sudah kuliah. Jadi itulah kenapa kami di kegiatan ini kita menargetkan 10.000 lebih untuk skrining anak sekolah," ungkapnya.

Rasma membeberkan, angka kasus HIV di Sulsel tergolong tinggi dan masuk dalam daftar 10 daerah dengan penemuan kasus HIV terbanyak secara nasional.

"Untuk mungkin karena kita juga ini adalah perkotaan di Indonesia timur gitu ya. Dari jadi untuk tahun 2025 ini sampai 2006 Sulsel itu berada di peringkat sembilan. Untuk kasus HIV baru temuan-temuan kasus HIV baru. Data masih ada Agustus, September, Oktober, November, dan Desember, masih ada 4 bulan semoga tidak terjadi lonjakan," bebernya.

Rasma menyebutkan bahwa jumlah kasus baru HIV di Sulawesi Selatan hingga bulan Agustus telah mencapai ribuan kasus.

"Karena kita sudah di angka 1.000 lebih 1.075 kemarin per Agustus, kemarin tahun lalu di angka 2000 sekian. Harapannya semoga tidak terjadi lonjakan sampai menghampiri lagi angka 2000. Kita masih menunggu 4 bulan ini dulu. Upaya sendiri yang dilakukan kan Makassar juga menjadi salah satu penyumbang," imbuhnya.

Rasma menyampaikan pelaksanaan program skrining tersebut rencananya akan mulai berjalan pada bulan Oktober.

"Bukan hanya SMA saja tapi SMK di 24 Kabupaten Kota. Jadi mungkin nanti kami akan tapi saya belum bisa terlalu banyak karena masih sementara proses," jabarnya.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan penghitungan, tetapi total target keseluruhan skrining tersebut diproyeksikan mencapai angka 10.000 lebih.

"Kami masih mencoba mendata dari Disdik dulu berapa sekolah per kabupaten nanti baru kami akan sebar target-target per kabupaten itu berapa. Tapi tentunya porsi-porsi seperti Makassar pasti lebih banyak. Di sini kan ada komplek pesantren, SMK Padat semua. Jadi mempertimbangkan juga seperti itu. Tetapi untuk targetnya per kabupaten belum belum ada sama sekali. Kami masih koordinasi-koordinasi dulu," pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru