Menyulap Eceng Gondok Menjadi Produk Bernilai

Maman Sukirman
Jum'at, 31 Okt 2025 19:24
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan.
1/2
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan.
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan, Senin (31/10/2025).
2/2
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan, Senin (31/10/2025).
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan.
Sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan, Senin (31/10/2025).
Comments
Makassar - Di sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah ibu rumah tangga dari Komunitas Pemberdayaan Kasih Bunda tekun menganyam lembaran eceng gondok yang telah dikeringkan, Senin (31/10/2025). Tanaman yang selama ini kerap dianggap sebagai gulma pengganggu perairan tersebut diolah menjadi aneka produk kerajinan bernilai ekonomi, seperti tas, topi, tudung saji, hingga miniatur perahu pinisi dan rumah adat Toraja.

Keterampilan yang diwariskan dan dikembangkan secara bersama itu tidak sekadar menghasilkan kerajinan, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk memperoleh penghasilan sekaligus memperkuat kemandirian keluarga. Produk yang lahir dari tangan para perajin kemudian memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas melalui pemasaran yang memanfaatkan perkembangan teknologi dan kanal digital.

Di sisi lain, pemanfaatan eceng gondok turut membawa pesan ekologis. Tanaman yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dan danau tersebut justru diberi nilai baru melalui proses pengolahan yang kreatif. Dari ruang produksi yang sederhana, para perempuan ini membuktikan bahwa kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan pasar dapat berjalan beriringan, menjadikan sumber daya yang semula dipandang sebagai masalah sebagai peluang yang memberi manfaat bagi masyarakat.
(MAS)
Foto Terkait
Foto Terbaru