Program Biogas PLN Peduli Wujudkan Harapan dan Energi Bersih di Sinjai

Selasa, 03 Mar 2026 19:28
Program Biogas PLN Peduli Wujudkan Harapan dan Energi Bersih di Sinjai
Kandang sapi dari Program Biogas Kampung Energi Terpadu bantuan dari TJSL PLN UID Sulselrabar di Kabupaten Sinjai. Program ini juga sebagai sarana pengolahan limbah. Foto: Istimewa
Comment
Share
SINJAI - Di Dusun Bakae, Desa Saukang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Andi Hasriani (51) selalu memulai pagi lebih awal. Sebelum merajut langkahnya menuju bangku sekolah untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang guru honorer yang pemberani, Hasriani terbiasa mengatur banyak hal di rumah sejak pukul 04.00 pagi, memastikan dapurnya rapi dan sarapan keluarga siap tersaji.

Sudah beberapa minggu kompor di dapurnya menyala dengan api biru biogas, bukan tabung gas seperti sebelumnya. Hasriani memiliki banyak alasan untuk tersenyum, api di kompor adalah salah satunya.

Biogas, sumber energi bersih hasil dari kotoran sapi warga yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya, kini bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari Hasriani dan ketujuh rumah lain di Dusun Bakae, sebagai wujud uji coba dari Program Biogas Kampung Energi Terpadu di area tersebut.

Program Biogas Kampung Energi Terpadu yang menghadirkan biodigester berkapasitas 12 meter kubik di Dusun Bakae ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), yang dilaksanakan bersama Yayasan Peduli Bangsa Sinjai serta mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sinjai.

Bagi Hasriani, biogas merupakan solusi yang sangat nyata untuk kebutuhan sehari-hari yang meringankan beban ekonominya. Sebelum adanya biogas, Hasriani mengatakan bahwa ia menghabiskan sekitar empat tabung gas atau sejumlah Rp72.000 per bulan untuk kebutuhan memasak sehari-hari di rumah.

“Alhamdulillah, dengan biogas kami tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Dana yang tadinya dipakai untuk membeli tabung gas dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan rumah sehari-hari,” ujar Hasriani.

Selain menghemat pengeluaran, kompor biogas ini dinilai lebih aman. Biogas bekerja pada tekanan rendah tanpa tabung, sehingga risikonya jauh lebih kecil dibandingkan tabung gas.

“Kalau pakai tabung gas, selalu ada rasa khawatir takut bocor atau meledak. Tapi sekarang dengan biogas, saya lebih tenang dan merasa aman saat memasak untuk keluarga,” tambahnya.

Manfaat biogas ke depan tidak hanya berhenti di dapur. Residu hasil pengolahan kotoran sapi berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian. Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah, menekan biaya pupuk kimia, serta mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, residu biogas juga berpeluang dikembangkan sebagai bahan pakan ternak, seperti ikan dan ayam, sehingga menciptakan siklus pemanfaatan yang saling menguatkan antara energi, pertanian, dan peternakan.

Yang membuat program ini semakin bermakna adalah keberadaan sapi-sapi yang menjadi sumber biogas berasal dari sapi milik warga penerima manfaat sendiri. Dengan kata lain, pengelolaan energi ini benar-benar berbasis komunitas, dari warga, dikelola bersama warga, dan kembali memberi manfaat bagi warga. Limbah ternak yang dulu tidak memiliki nilai, kini terdapat keberkahan di dalamnya.

Ke depan, harapan juga bertumbuh. Jika pengelolaan biodigester terus berkembang, tidak mustahil jumlah rumah tangga penerima manfaat juga akan bertambah, demikian pula peluang pemanfaatan residu biogas yang optimal. Secara sederhana, semakin banyak dapur yang menyala dengan biogas, semakin besar pula kemandirian energi desa.

Pada kesempatan yang berbeda, Bupati Sinjai, Ratnawati Arif, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PLN UID Sulselrabar atas dukungan Program Biogas Kampung Energi Terpadu di Dusun Bakae, Desa Saukang, Kecamatan Sinjai Timur.

“Program ini menurut saya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menyediakan akses energi memasak yang lebih ramah lingkungan serta meningkatkan kualitas lingkungan desa,” ungkap Ratnawati Arif.

Menurutnya, pemanfaatan limbah ternak menjadi energi dan pupuk organik nantinya turut mendorong kemandirian energi dan ketahanan ekonomi masyarakat. “Ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun desa ke arah yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan bahwa program ini dimaksudkan untuk menghasilkan dampak berkelanjutan jangka panjang dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan ketahanan.

“Melalui TJSL PLN Peduli, kami meninjau berbagai jenis energi terbarukan yang aman, bersih, ramah lingkungan, dan berbasis pada berbagai sumber daya yang berkelanjutan. Biogas di Dusun Bakae ini menjadi contoh nyata bagaimana limbah ternak dapat diubah menjadi sumber energi bersih serta memberikan dampak langsung bagi ekonomi masyarakat,” jelas Edyansyah.

Ia menambahkan, pengembangan Program Biogas Kampung Energi Terpadu tidak semata-mata pemanfaatan energi bersih, tetapi juga perluasan jangkauan manfaat bagi masyarakat desa.

“Bukan hanya itu, kami berharap program ini dapat terus berkembang ke depannya dan menjangkau rumah-rumah lainnya. Selain itu, program ini juga akan menunjang kemandirian energi dan kesejahteraan masyarakat desa,” tambahnya.

Bagi Hasriani, begitu besar manfaat yang ia rasakan. Dari kandang sapi yang berada di dusun tempatnya tinggal kini lahir energi baru yang menyalakan dapur, mengurangi beban ekonomi keluarga, menghadirkan rasa aman, dan menumbuhkan harapan. Kini melalui biogas, warga Dusun Bakae, Desa Saukang, melangkah mantap menuju masa depan yang lebih mandiri, bersih, dan berkelanjutan.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru