LPS Ajak Mahasiswa Unhas Bangun Kesadaran Finansial Sejak Dini

Jum'at, 12 Jun 2026 13:20
LPS Ajak Mahasiswa Unhas Bangun Kesadaran Finansial Sejak Dini
Pimpinan LPS dan Unhas berfoto bersama seusai kuliah umum dan penandatanganan PKS di Kampus Unhas Tamalanrea. Foto/Tri Yari Kurniawan
Comment
Share
MAKASSAR - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengajak generasi muda membangun kesadaran finansial sejak dini. Hal itu dinilai penting di tengah maraknya pinjaman online, investasi bodong, dan judi online yang menyasar anak muda.

Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, dalam kuliah umum bertema “Kesadaran Finansial: Fondasi Integritas dan Kemandirian Generasi Muda” di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Unhas Tamalanrea, Jumat (12/6/2026). Kegiatan itu dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara LPS dan Universitas Hasanuddin (Unhas).

Farid menyoroti kondisi Indonesia yang didominasi generasi usia produktif. Sekitar 69 persen penduduk berada pada kelompok Generasi X, milenial, dan Generasi Z, sementara hampir seluruhnya telah memiliki telepon pintar yang memudahkan akses terhadap berbagai layanan, termasuk keuangan digital.

Namun, tingginya akses tersebut belum diimbangi kemampuan literasi yang memadai. Menurutnya, rendahnya literasi membuat generasi muda rentan terjebak berbagai masalah keuangan, mulai dari pinjaman online berbunga tinggi, investasi bodong, hingga judi online.

“Punya gadget, mudah akses media sosial dan layanan keuangan, tetapi mungkin literasinya masih kurang. Karena itu kita perlu literasi keuangan yang baik supaya tidak mudah terkena jebakan finansial,” ujar Farid.

Ia mengungkapkan, anak muda saat ini menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menjadi sasaran pinjaman online dan judi online. Sekitar 60 persen pengguna pinjaman online berasal dari kalangan muda. Sementara itu, perputaran dana judi online di Indonesia diprediksi mencapai Rp1 kuadriliun pada 2025.

Menurut Farid, membangun kesadaran finansial bukan sekadar soal mengelola uang, tetapi juga mencerminkan karakter seseorang. Karena itu, ia memperkenalkan prinsip “3D” dalam pengelolaan keuangan, yakni memperoleh penghasilan secara halal, mengelolanya secara hemat, dan menggunakannya secara fokus untuk masa depan.

Ia menekankan kesadaran finansial bukan soal uang semata, tetapi soal karakter. Menabung di bank adalah salah satu cara sederhana untuk membangun disiplin, konsistensi, kemampuan menunda kesenangan, dan mengelola risiko untuk kebutuhan masa depan.

Ia juga membagikan sejumlah tips dasar pengelolaan keuangan kepada mahasiswa, di antaranya menetapkan tujuan keuangan, menyisihkan pendapatan untuk tabungan sejak awal, membeli kebutuhan daripada keinginan, serta menjadikan pendidikan dan pengetahuan sebagai investasi terbaik.

Selain kuliah umum, LPS dan Unhas juga menandatangani perjanjian kerja sama yang mencakup penguatan literasi keuangan, program magang, beasiswa, hingga penelitian.

Farid menjelaskan, kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi melahirkan program nyata yang memberikan manfaat bagi mahasiswa.

“Kami berharap literasi keuangan mahasiswa meningkat sehingga tidak mudah terkena jebakan finansial. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan magang untuk mengenal industri, serta terlibat dalam penelitian yang dapat mendukung kebijakan,” ujarnya.

Saat ini LPS telah menjalin kerja sama dengan 14 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Unhas. Berbagai program edukasi keuangan juga terus dilakukan melalui kampus, sekolah, pesantren, dan masyarakat umum.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof Muhammad Ruslin, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, kerja sama dengan LPS sangat relevan untuk mendukung penguatan literasi keuangan mahasiswa sekaligus pengembangan pembelajaran di lingkungan kampus.

“Unhas memiliki komitmen kuat dalam pengembangan literasi keuangan. Apalagi kami juga memiliki Bank Unhas yang dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa,” katanya.

Ruslin menambahkan, kerja sama tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari penelitian, pengembangan kurikulum yang memuat materi dari LPS, hingga peningkatan dukungan beasiswa dan bantuan pendidikan bagi mahasiswa.

“Kami berharap kolaborasi ini bisa menginspirasi mahasiswa agar lebih terbuka wawasannya terkait literasi keuangan dan mampu mengambil keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan,” ujarnya.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru