Jejak Hino di Balik Kemajuan Industri Transportasi Indonesia

Sabtu, 08 Agu 2026 13:17
Jejak Hino di Balik Kemajuan Industri Transportasi Indonesia
Hino Indonesia bekerja sama dengan SMKN 5 Makassar membuka kelas industri dan menyerahkan bantuan truk Hino 300 untuk mendukung pendidikan vokasi. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Pagi itu, sebuah truk Hino 300 tidak sedang mengangkut barang. Kendaraan itu justru menjadi 'guru' bagi puluhan siswa SMKN 5 Makassar yang tengah belajar memahami bagaimana kendaraan niaga bekerja.

Di sekitar kendaraan, pelajaran tentang mesin diesel common rail, sistem pengereman udara, dan kelistrikan tidak lagi berhenti sebagai teori di ruang kelas. Semuanya hadir dalam bentuk nyata, bisa disentuh, diperiksa, dan dipelajari.

Bagi Muhammad Fahri Al Fajri, kesempatan itu berarti lebih dari sekadar pengalaman praktik. Ia mengaku amat senang dapat mengikuti kelas industri Hino yang dilihatnya sebagai pintu menuju dunia kerja yang selama ini dipelajari dari bangku sekolah.

Ya, sejatinya kisah tentang masa depan transportasi dimulai dari sini. Bukan dari kemilau kendaraan baru di ruang pameran otomotif, melainkan dari ruang belajar tempat calon mekanik dipersiapkan untuk menjaga kendaraan tetap bergerak.

“Terima kasih kepada Hino telah memberi saya kesempatan untuk bergabung di kelas industri Hino. Harapan saya ke depannya agar bisa mendapatkan ilmu yang lebih baru dan lebih baik agar karier saya lebih baik,” kata Fahri.

Harapan sederhana seorang siswa itu menggambarkan satu hal penting dalam industri transportasi: kendaraan yang tangguh membutuhkan manusia yang mampu merawat dan mengoperasikannya.

Di titik itulah perjalanan Hino di Indonesia menemukan makna yang lebih luas. Selama 43 tahun, Hino tidak hanya menghadirkan kendaraan niaga untuk mengangkut barang dan manusia. Perusahaan ini juga membangun mata rantai yang menghubungkan manufaktur, industri komponen, pendidikan vokasi, jaringan layanan purna jual, hingga pelanggan yang setiap hari menggantungkan kegiatan ekonominya pada kendaraan komersial.

Jejak Hino di Balik Kemajuan Industri Transportasi Indonesia

Dari Ruang Kelas ke Dunia Kerja
Pada 19 Juni 2026, PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) menyerahkan satu unit Hino 300 beserta sejumlah komponen kendaraan kepada SMKN 5 Makassar. Bantuan tersebut menjadi bagian dari Hino Indonesia Partnership School (HIPS), program yang dirancang untuk mempertemukan pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan nyata industri.

Bersamaan dengan itu, Hino dan SMKN 5 Makassar menandatangani nota kesepahaman untuk membuka kelas industri. Sebanyak 20 siswa akan menjadi angkatan pertama pada tahun ajaran 2026/2027.

Bagi Hino, langkah tersebut memiliki arti khusus. SMKN 5 Makassar menjadi sekolah mitra kedelapan dalam program HIPS sekaligus sekolah industri pertama yang dibangun Hino di kawasan Sulawesi.

“Ini adalah kegiatan pertama kali adanya sekolah industri binaan dari Hino. Sebelumnya total kami punya tujuh sekolah, dan ini pertama kalinya ada sekolah industri di luar Jawa, tepatnya di Makassar,” ujar Ikhwan Nur Rifai, Training Division Section Head PT Hino Motors Sales Indonesia.

Program itu tidak berhenti pada penyediaan kendaraan praktik. Hino menyiapkan pembelajaran yang diarahkan pada kebutuhan industri, mulai dari pengembangan kompetensi teknis, pemahaman teknologi kendaraan niaga, hingga pembentukan sikap kerja.

Tujuannya jelas yakni melahirkan calon mekanik dan tenaga teknis yang memiliki bekal untuk memasuki dunia kerja.

“Ke depannya kami akan membantu teman-teman melaksanakan program Hino Indonesia Partnership School di sekolah ini sehingga mereka bisa dikembangkan menjadi mekanik, calon mekanik, maupun calon inspektor yang dapat mengembangkan kariernya dan berkarya di dealer Hino, khususnya di Makassar ataupun dealer Hino di Indonesia secara umum,” kata Ikhwan.

Program tersebut sekaligus menjawab kebutuhan industri kendaraan niaga yang terus berkembang. Ketika teknologi kendaraan semakin kompleks, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami teknologi tersebut juga ikut meningkat.

Dari tujuh sekolah mitra sebelumnya, Hino mencatat sekitar 160 lulusan telah terserap di jaringan dealer Hino di berbagai daerah. Para peserta kelas industri yang memenuhi standar kompetensi juga ditargetkan memiliki peluang untuk direkrut setelah lulus.

Training Division Head HMSI, Pieter Andre, menambahkan SMKN 5 Makassar dipilih karena memiliki kompetensi otomotif yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Kami berharap para siswa yang mengikuti kelas industri ini memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap kerja sesuai standar mekanik junior Hino sehingga siap bekerja setelah lulus,” ujarnya.

Bagi Kepala SMKN 5 Makassar, Amar Bachti, kemitraan tersebut membuka kesempatan bagi sekolah untuk mendekatkan proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. “Kami berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan bisnis Hino di Indonesia,” kata Amar.

Dari ruang kelas seperti inilah sebuah kendaraan niaga mendapatkan makna yang lebih panjang. Bukan hanya bagaimana kendaraan dapat bergerak, tetapi siapa yang memastikan kendaraan itu tetap bergerak.

Menggerakkan yang Ada di Balik Kendaraan
Jauh sebelum seorang mekanik memeriksa mesin di bengkel, ada rantai panjang yang membuat sebuah kendaraan hadir di jalan.

Ada pabrik yang memproduksi kendaraan. Ada pemasok komponen. Ada pekerja. Ada jaringan distribusi. Ada mekanik yang menjaga kendaraan tetap beroperasi. Ada pengusaha yang menggunakan kendaraan untuk mengangkut penumpang dan barang. Dan ada masyarakat yang pada akhirnya merasakan manfaat dari transportasi yang terus bergerak.

Hino membangun bagian dari rantai tersebut melalui fasilitas manufakturnya di Indonesia. Melalui PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Hino mengoperasikan fasilitas produksi terintegrasi dengan luas area sekitar 296.000 meter persegi dan luas bangunan lebih dari 169.000 meter persegi.

Fasilitas tersebut didukung sekitar 1.548 tenaga kerja dengan kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit kendaraan per tahun untuk berbagai segmen, mulai dari kendaraan light duty, medium duty, hingga bus.

Perjalanan manufaktur tersebut juga semakin terkait dengan industri dalam negeri melalui penggunaan komponen lokal.

Pada 2026, HMMI menerima pembaruan sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 tentang Tata Cara Perhitungan TKDN.

Dari 46 model kendaraan Hino yang diproduksi di Indonesia, 31 model telah memiliki sertifikat TKDN. Sebanyak 10 model di antaranya telah diperbarui sesuai regulasi terbaru dengan nilai TKDN mencapai 71,75 persen.

Angka itu bukan sekadar persentase di atas kertas. Di belakangnya terdapat aktivitas industri komponen, tenaga kerja, pemasok lokal, serta rantai pasok yang saling terhubung.

“Semakin tinggi penggunaan komponen dalam negeri, semakin besar pula manfaat yang dapat dirasakan oleh industri pendukung, tenaga kerja lokal, dan ekosistem otomotif nasional,” ujar Repelita Ginting, Plant Manager PT HMMI.

Sejak memulai kegiatan manufaktur di Indonesia hingga Juli 2026, Hino mencatat telah memproduksi lebih dari 651.995 unit kendaraan niaga. Kendaraan-kendaraan tersebut digunakan di berbagai sektor, mulai dari logistik, transportasi publik, konstruksi, pertambangan hingga perkebunan.

Hino juga memproduksi sasis bus besar di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan transportasi massal dalam negeri sekaligus pasar ekspor. Di sinilah kendaraan niaga menjadi lebih dari sekadar produk. Ia menjadi bagian dari sistem ekonomi yang lebih besar.

Sebuah truk yang mengangkut hasil perkebunan, misalnya, menghubungkan sentra produksi dengan pasar. Bus menghubungkan satu kota dengan kota lain. Armada logistik menjaga barang bergerak dari pusat distribusi menuju konsumen.

Transportasi pada akhirnya bukan hanya tentang perjalanan dari titik A ke titik B. Transportasi adalah tentang bagaimana kehidupan ekonomi tetap berjalan.

Jejak Hino di Balik Kemajuan Industri Transportasi Indonesia

43 Tahun Menjadi Bagian dari Perjalanan Indonesia
Jejak Hino di Indonesia bahkan telah dimulai jauh sebelum kendaraan-kendaraan itu memenuhi jalan raya seperti sekarang.

Pada 1967, sebanyak 150 unit bus Hino tipe BT-51 dikirim Pemerintah Jepang ke Indonesia sebagai bagian dari bantuan. Beberapa tahun kemudian, kendaraan Hino turut hadir dalam sejumlah proyek pembangunan, termasuk proyek irigasi Tadjum di Jawa Tengah pada 1971, pembangunan Jalan Trans Sumatera pada 1973-1974, serta proyek LNG di Lhokseumawe, Aceh, pada 1976-1977.

Seiring waktu, kehadiran Hino berkembang dari kendaraan yang mendukung proyek pembangunan menjadi bagian dari industri kendaraan niaga nasional.

Produksi lokal diperkuat. Jaringan penjualan dan layanan purna jual diperluas. Pelatihan mekanik dan pengemudi dikembangkan. Hubungan dengan sekolah vokasi dibangun.

Sejak ekspor perdana pada 2011, kendaraan utuh atau completely built-up (CBU), kendaraan completely knocked down (CKD), serta komponen produksi Hino Indonesia juga telah dikirim ke berbagai negara, antara lain Vietnam, Filipina, Bolivia, Haiti, Papua Nugini, Thailand, Malaysia, Pakistan, Taiwan, dan Jepang.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah industri yang tumbuh di dalam negeri pada akhirnya dapat menjadi bagian dari rantai produksi global.

Namun, ukuran keberhasilan industri transportasi tidak hanya berada di pabrik atau angka produksi. Ukuran itu juga terlihat di jalan.

Kepercayaan yang Tumbuh di Jalan Raya
Di Sulawesi, kendaraan Hino menjadi bagian dari aktivitas transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah dengan karakter geografis yang menantang.

Darmawan Suaib, pengusaha bus di Sulawesi, mengaku memilih Hino untuk melayani rute Palu-Ampana. Baginya, keputusan tersebut berkaitan dengan kebutuhan menjaga kendaraan tetap beroperasi dalam perjalanan yang panjang.

“Kami memilih Hino karena reputasinya yang sudah terbukti dalam hal keandalan dan daya tahan. Dengan desain bodi yang modern dan fitur-fitur unggulan, kami optimistis bus Hino ini akan menjadi andalan baru di rute Palu-Ampana,” ujarnya.

Darmawan juga menyoroti layanan purna jual dan jaringan yang menjadi pertimbangan penting dalam operasional.

Bagi pengusaha kendaraan niaga, kendaraan yang berhenti beroperasi bukan sekadar persoalan teknis. Ada jadwal yang terganggu, penumpang yang harus dilayani, barang yang harus dikirim, dan pendapatan yang ikut dipertaruhkan.

Karena itu, cerita tentang kendaraan komersial selalu memiliki dua sisi yakni produk dan layanan yang membuatnya terus bergerak.

Pengalaman serupa dirasakan Nasrul dari CV Marrai Jaya Abadi. Ia telah menggunakan Hino sekitar empat tahun dan pada pengujung tahun lalu menambah satu unit kendaraan.

Menurut Nasrul, salah satu pertimbangannya adalah kemudahan dalam perawatan dan respons layanan ketika menghadapi persoalan operasional.

“Pengalaman saya menggunakan Hino bagus. Alat-alatnya tidak terlalu rumit dan mudah dicari. Kalau untuk bahan bakar juga bagus. Pelayanan Hino di sini responsnya cepat apabila kami ada keluhan atau ingin bertanya,” tuturnya.

Pengalaman Darmawan dan Nasrul menunjukkan bahwa perjalanan sebuah kendaraan tidak berhenti ketika unit keluar dari pabrik atau selesai dibeli. Justru setelah kendaraan berada di tangan pelanggan, perjalanan berikutnya dimulai.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru