Tujuh UMKM Sulsel Buka Jalan ke Pasar Global di KKI 2026

Minggu, 23 Agu 2026 12:38
Tujuh UMKM Sulsel Buka Jalan ke Pasar Global di KKI 2026
Tujuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sulawesi Selatan membuka peluang menembus pasar global melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Foto/Istimewa
Comment
Share
JAKARTA - Tujuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sulawesi Selatan membuka peluang menembus pasar global melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Dari rangkaian business matching ekspor, UMKM Sulsel mencatat potensi transaksi lebih dari Rp380,75 juta dengan sejumlah buyer dari Kanada hingga Singapura.

Business matching ekspor tersebut berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 sebagai bagian dari KKI 2026 yang digelar 20–23 Agustus. Fasilitasi ini dilakukan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan untuk mempertemukan UMKM potensial dengan calon pembeli dari luar negeri.

Dari tujuh UMKM yang mengikuti business matching, telah disepakati sejumlah Letter of Intent (LOI) dengan buyer mancanegara. Produk kopi menjadi komoditas yang paling menonjol, khususnya kopi Arabica dari Malino, Toraja, dan Enrekang.

Kopi Luwak Malino dari Gowa mencatat nilai LOI terbesar, yakni Rp245 juta, melalui kesepakatan dengan PT Cahaya Abadi Terbit dari Kanada untuk produk kopi Arabica Malino.

Nilai LOI berikutnya dicatat CV Panrita Jaya Group dari Makassar sebesar Rp92,25 juta. Perusahaan tersebut menawarkan kopi Arabica Toraja dan Arabica Enrekang kepada PT Sumber Kurnia Alam dari Singapura.

Kopi Luwak Malino kembali mencatat LOI sebesar Rp32 juta dengan buyer yang sama dari Singapura.

Selain tiga transaksi tersebut, sejumlah UMKM Sulsel lainnya masih berada dalam tahap penjajakan pasar internasional melalui market test dan pengiriman sampel produk.

My Coffeeza Indonesia dari Enrekang, misalnya, tengah menjajaki pasar kopi Arabica Enrekang bersama Indonesia Specialty Coffee (ISC) dan Indonesia Trading House Guangzhou (ITHG) di China.

Sementara itu, Kopivolusi Niwa Indonesia dari Makassar menjajaki pasar kopi Arabica dengan Dua DC Coffee dari Amerika Serikat. PT Bunly Abadi Bersama dari Makassar juga tengah mengembangkan peluang ekspor kacang mete ke Toko Indo di Singapura dan Etoobai di Amerika Serikat.

Kepala Perwakilan BI Sulsel Rizki E Wimanda mengatakan, fasilitasi business matching ekspor merupakan bagian dari upaya memperkuat UMKM Sulsel dari sisi hulu hingga hilir.

Menurut dia, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga perlu dibarengi penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas usaha, serta perluasan akses pasar.

Upaya tersebut dilakukan melalui program UMKM Rewako yang mengusung konsep Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgable.

"Selanjutnya, BI Sulsel turut melibatkan beberapa UMKM Sulawesi Selatan untuk melakukan 14 sesi offline dan satu sesi online business matching ekspor di Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026," kata Rizki.

Perkuat Akses Pembiayaan
Penguatan akses pasar UMKM juga berjalan beriringan dengan perluasan akses pembiayaan. Dalam KKI 2026, BI memfasilitasi business matching pembiayaan UMKM yang menghasilkan kesepakatan antara delapan lembaga keuangan dengan UMKM mitra masing-masing. Delapan lembaga keuangan tersebut yakni BRI, BCA, BSI, Bank Mandiri, SMBC, Panin Bank, OCBC, dan BNI.

Hingga Juli 2026, fasilitasi business matching pembiayaan yang dilakukan BI telah mencapai Rp285 miliar. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan inklusif sebesar Rp150 miliar dan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp135 miliar. Nilainya diperkirakan masih akan bertambah seiring realisasi pembiayaan hingga akhir 2026.

Penandatanganan kesepakatan pembiayaan tersebut disaksikan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman dan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman pada 21 Agustus 2026.

Aida mengatakan, BI berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi pasokan maupun permintaan.

Dari sisi pasokan, BI memberikan insentif likuiditas kepada perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran pembiayaan kepada UMKM. Sementara dari sisi permintaan, digitalisasi pembayaran melalui QRIS turut membantu membangun rekam jejak usaha yang dapat mendukung akses pembiayaan.

"Tantangan pembiayaan UMKM tidak semata terkait ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan," kata Aida.

Ia menekankan pentingnya komitmen, inovasi, dan sinergi antara BI, pemerintah, sektor keuangan, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pembiayaan UMKM.

Bagi UMKM Sulsel, KKI 2026 tidak hanya menjadi ruang promosi produk lokal, tetapi juga menjadi pintu untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Potensi transaksi yang terbentuk dari business matching menjadi salah satu indikator bahwa produk daerah, khususnya kopi dan komoditas unggulan lainnya, memiliki peluang untuk bersaing di pasar global.

BI Sulsel bersama pemangku kepentingan terkait terus mendorong peningkatan daya saing UMKM agar mampu naik kelas, memperluas pasar, dan berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang inklusif dan berkelanjutan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru