PT Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan dari Sulawesi ke Kriyanusa 2026

Minggu, 27 Sep 2026 17:14
PT Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan dari Sulawesi ke Kriyanusa 2026
Sedikitnya 37 jenis produk UMKM binaan PT Vale) dari Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi hadir dalam pameran yang berlangsung di JCC, Jakarta, 26–30 September 2026. Foto/IST
Comment
Share
JAKARTA - Dari hamparan sawah di Kolaka, produk pertanian organik kini menempuh perjalanan hingga ke Jakarta. Di tempat lain, hasil pemberdayaan masyarakat berupa pangan olahan, kerajinan, kain tenun, hingga produk herbal mendapat ruang untuk berhadapan langsung dengan pasar yang lebih luas.

Cerita itu bertemu di Kriyanusa 2026. Sedikitnya 37 jenis produk UMKM binaan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) dari Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi hadir dalam pameran yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, 26–30 September 2026.

Bergabung di booth Grup MIND ID, produk-produk tersebut memperlihatkan beragam potensi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kehadiran PT Vale. Wastra dan kerajinan, pangan olahan, hingga produk herbal ditampilkan dalam satu ruang, membawa cerita tentang proses panjang di balik setiap produk.

Bagi PT Vale, keikutsertaan di Kriyanusa bukan sekadar membawa produk ke sebuah pameran. Ajang tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemberdayaan yang dimulai dari penguatan kapasitas, pendampingan usaha, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses terhadap jejaring pasar.

Community Development Officer PT Vale, Salwa, mengatakan pengembangan UMKM merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan untuk mendorong masyarakat meningkatkan kapasitas dan mengembangkan usahanya.

“PT Vale terus melakukan pelatihan dan pendampingan serta membantu memperluas jejaring pasar agar produk UMKM binaan dapat semakin dikenal masyarakat,” ujar Salwa.

Menurut dia, pameran nasional juga memberi pengalaman baru bagi pelaku UMKM. Mereka tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi dapat melihat secara langsung karakter konsumen dan peluang pasar yang berada jauh dari daerah asal.

“Kriyanusa menjadi peluang bagi UMKM binaan dari tiga wilayah kehadiran PT Vale untuk belajar dan melihat pasar yang lebih luas. Dari sini, mereka dapat mengenali berbagai peluang dan potensi pasar di luar Sulawesi,” tambahnya.

Dari Penguatan Kapasitas hingga Menjangkau Pasar
Jauh sebelum produk-produk tersebut berada di ruang pameran Kriyanusa, proses pengembangannya telah berlangsung di masing-masing wilayah.

PT Vale menyesuaikan program dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat. Di Pomalaa, misalnya, pengembangan UMKM berjalan beriringan dengan pemberdayaan sektor pertanian melalui pengembangan pertanian organik dengan metode System of Rice Intensification (SRI).

Program tersebut kemudian berkembang ke penguatan kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pengembangan berbagai produk pangan olahan.

Dukungan tidak berhenti pada pelatihan. Sarana penunjang produktivitas seperti mesin penggiling padi dan peralatan pengolahan pangan turut diberikan untuk membantu masyarakat mengembangkan hasil produksi menjadi produk dengan nilai tambah.

External Relations Officer PT Vale IGP Pomalaa, Sri Mitha Fitriani, mengatakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

“Pendampingan dimulai dengan membangun kapasitas sumber daya manusianya melalui berbagai pelatihan dan pendampingan. Harapannya, kualitas dan kapasitas produk UMKM binaan terus meningkat sehingga mampu menjangkau pasar yang semakin luas,” ujar Sri Mitha.

Dari proses itulah sejumlah produk masyarakat kemudian mendapat kesempatan tampil di tingkat nasional.

Dari Sawah Kolaka hingga Panggung Kriyanusa
Bagi Salmi (54), petani sekaligus penggerak UMKM yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK), perjalanan menuju Kriyanusa dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: belajar mengolah lahan dengan pendekatan pertanian organik.

Salmi mengenal pengembangan pertanian organik melalui program pendampingan di Kabupaten Kolaka sejak 2021. Apa yang semula berangkat dari praktik pertanian kemudian berkembang. Komunitasnya mulai mengembangkan tanaman pangan dan hortikultura sekaligus mengolah hasilnya menjadi beragam produk bernilai tambah.

Kini, produk-produk itu menempuh perjalanan lebih jauh. Di Kriyanusa, Salmi dan komunitasnya memperkenalkan beras merah dan beras hitam organik, minuman herbal kunyit asam, teh bunga telang, rengginang, abon ikan, keripik, sambal, hingga biji kakao fermentasi.

“Keikutsertaan kami dalam pameran UMKM membuka mata bahwa masih banyak peluang yang bisa kami kembangkan. Kami senang mendapat kesempatan hadir di Kriyanusa dan memperkenalkan produk yang selama ini kami kembangkan,” tutur Salmi.

Bagi Salmi, proses tersebut bukan hanya tentang memperkenalkan produk kepada konsumen. Pendampingan yang diterimanya juga mengubah pengetahuan dan cara pandang dalam mengembangkan usaha.

“Awalnya kami belum mengenal pertanian organik. Setelah mendapat sosialisasi dan pendampingan, kami mulai belajar dan mengembangkannya. Kami berterima kasih atas ilmu, peralatan, dan pendampingan yang diberikan kepada para petani,” tambahnya.

Membuka Jalan Produk dari Morowali
Cerita lain datang dari Morowali. Ilham (37), salah satu pelaku UMKM binaan, membawa produk seperti teh bunga telang, beras organik, serbuk kunyit asam, bunga rosella, dan virgin coconut oil (VCO) ke Kriyanusa.

Produk-produk tersebut merupakan bagian dari pengembangan potensi masyarakat yang telah berjalan sejak 2021. Pemberdayaan di wilayah tersebut mencakup sejumlah komoditas, mulai dari beras dan sayuran hingga produk herbal.

Bagi Ilham, kesempatan tampil di pameran berskala nasional membuka kemungkinan baru bagi produk yang selama ini berkembang di tingkat lokal.

“Kami berterima kasih karena difasilitasi untuk mengikuti pameran besar seperti Kriyanusa. Bagi kami, kesempatan ini menjadi bagian dari proses yang selama ini dijalani, mulai dari pendampingan hingga produk yang kami hasilkan dapat diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas,” ujar Ilham.

Kriyanusa pun menjadi ruang pertemuan antara produk lokal dan pasar nasional. Di sana, pelaku UMKM dapat melihat langsung bagaimana produk mereka diterima, sekaligus mengenali peluang pengembangan yang mungkin dilakukan setelah kembali ke daerah.

Membawa Keragaman Potensi ke Panggung Nasional
Keragaman produk yang ditampilkan di booth Grup MIND ID menggambarkan karakter potensi ekonomi dari tiga wilayah kehadiran PT Vale.

Pada kategori kriya dan fesyen, terdapat anyaman lokal, aksesori rajut, kerajinan bercorak budaya Sulawesi, batik, syal, hingga kain tenun.

Sementara dari kategori pangan dan herbal, pengunjung dapat menemukan beras organik, kopi, abon ikan, produk kakao, keripik, sambal, VCO, serta berbagai minuman herbal berbahan kunyit, rosella, bunga telang, dan jahe.

Setiap produk membawa cerita yang berbeda. Namun, ada satu benang merah yang menghubungkannya: perjalanan dari potensi lokal menuju produk yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pasar lebih luas.

Kehadiran UMKM binaan PT Vale di Kriyanusa 2026 menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Setelah melalui pelatihan dan pendampingan di daerah, produk masyarakat kini mendapat kesempatan bertemu dengan konsumen di tingkat nasional.

Bagi PT Vale, proses itu menjadi bagian dari upaya mendorong UMKM binaan agar tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga terus meningkatkan kualitas, memperluas jejaring, dan membangun kemandirian usaha.

Dari sawah, rumah produksi, dan komunitas di Sulawesi, produk-produk itu akhirnya sampai di panggung Kriyanusa. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa ketika kapasitas bertumbuh dan akses terbuka, potensi lokal memiliki ruang untuk menjangkau pasar yang lebih jauh.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru