Smart Fertility Clinic Perkuat Edukasi dan Teknologi Layanan Bayi Tabung

Sabtu, 24 Okt 2026 16:58
Smart Fertility Clinic Perkuat Edukasi dan Teknologi Layanan Bayi Tabung
Rebranding Smart Fertility Clinic berlangsung di Lantai 9 RS Primaya Makassar, Sabtu (24/10). Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Perjalanan mendapatkan keturunan tidak hanya bergantung pada teknologi medis, tetapi juga pemahaman pasangan terhadap kondisi kesuburan dan pilihan penanganannya. Berangkat dari pendekatan tersebut, Smart Fertility Clinic memperbarui identitas dan konsep layanannya di RS Primaya Makassar untuk memperkuat edukasi serta keterlibatan pasangan dalam program bayi tabung.

Rebranding Smart Fertility Clinic tersebut berlangsung di Lantai 9 RS Primaya Makassar, Sabtu (24/10). Pembaruan ini tidak sekadar mengubah identitas klinik, tetapi juga menegaskan pendekatan pelayanan yang berpusat pada pasien, didukung edukasi dan pemanfaatan teknologi reproduksi berbantu sesuai kebutuhan medis.

Melalui konsep Bayi Tabung Pintar, klinik mendorong pasien memahami setiap tahapan in vitro fertilization (IVF), mulai dari pemeriksaan awal, stimulasi sel telur, pengambilan sel telur, pembentukan embrio, hingga pemindahan atau pembekuan embrio.

CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengatakan layanan IVF tersebut telah beroperasi di Makassar selama tiga tahun dengan nama Primaya IVF. Selama periode itu, layanan tersebut telah membantu ratusan pasangan menjalani program kehamilan.

“Dengan adanya Smart Fertility ini di Makassar, kami percaya bisa menjadi salah satu tujuan para pejuang garis dua untuk dapat memiliki keturunan,” ujarnya.

Menurut Laura, perubahan identitas ini sejalan dengan pengembangan teknologi dan peningkatan layanan klinik. Sejumlah pilihan pemeriksaan dan metode lanjutan turut dikembangkan, antara lain preimplantation genetic testing for aneuploidy (PGT-A), metode FICSI, serta seleksi embrio berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan setiap pasangan. “Tidak semua teknologi harus digunakan pada setiap pasangan karena penanganan fertilitas perlu mempertimbangkan kondisi medis dan hasil pemeriksaan masing-masing,” katanya.

Dari sisi pembiayaan, Smart Fertility Clinic menyediakan pilihan paket layanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Klinik juga mengedepankan edukasi agar pasangan memahami manfaat, tahapan, kebutuhan pemeriksaan, serta komponen biaya sebelum memulai program kehamilan.

Laura menyebut klinik telah melakukan skrining terhadap ratusan pasangan. Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, sekitar 15 bayi juga telah lahir melalui layanan tersebut.

Director of Medical & Scientific Smart Fertility Clinic, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, MPH, Subsp. FER, FRANZCOG (Hons), FICRM, mengatakan rebranding ini membawa semangat untuk menghadirkan pelayanan yang semakin berpusat pada pasien atau patient-centered approach.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui konsep smart care, yang mendorong pasien memahami persoalan kesuburan, pemeriksaan yang diperlukan, serta pilihan penanganan sebelum menjalani program kehamilan.

“Kami ingin mengembangkan pelayanan yang lebih dekat dengan pasien. Konsep yang kami hadirkan adalah Bayi Tabung Pintar, yakni pendekatan yang bertujuan memberdayakan pasien agar memahami proses bayi tabung dan setiap tahapan yang harus dilalui,” jelasnya.

Budi menambahkan, edukasi juga diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan suami dalam program kehamilan. Sebab, gangguan kesuburan tidak hanya berkaitan dengan kondisi perempuan, tetapi juga dapat disebabkan faktor laki-laki.

Karena itu, pemeriksaan awal dianjurkan bagi kedua pasangan. Salah satu pemeriksaan penting ialah analisis sperma untuk mengetahui kondisi dan kualitas sperma sehingga dokter dapat menentukan penanganan berdasarkan penyebab gangguan kesuburan.

Dokter androlog, dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And, mengatakan pemeriksaan terhadap suami perlu menjadi bagian dari evaluasi awal pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan.

“Edukasi pasangan dari awal memang sangat penting. Kita perlu mengetahui analisis sperma yang ada dan mengetahui permasalahan pasangan ini ada di mana,” katanya.

Menurut Rahmawati, pemeriksaan sejak awal membantu dokter menentukan penanganan yang tepat. Dengan demikian, evaluasi kesuburan tidak hanya berfokus pada istri, tetapi juga mempertimbangkan kondisi suami.

Sementara itu, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Nathalia V. Mappewali, Sp.OG, M.Kes, menjelaskan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kesuburan perempuan. Jumlah dan kualitas sel telur dapat menurun seiring bertambahnya usia, terutama ketika memasuki usia 40 tahun ke atas.

Selain usia, riwayat kista, operasi, dan gangguan siklus menstruasi juga perlu dievaluasi karena dapat berkaitan dengan masalah kesuburan. Nathalia mengingatkan pasangan agar tidak menunda pemeriksaan apabila belum memperoleh keturunan.

Pasangan yang telah menikah selama satu tahun, rutin melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi, tetapi belum mengalami kehamilan dianjurkan berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani evaluasi kesuburan.

Rebranding Smart Fertility Clinic turut dihadiri sejumlah dokter yang bergerak di bidang fertilitas dan kesehatan reproduksi, di antaranya dr. Samrichard Rambulangi, Sp.OG, Subsp. FER; Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, MPH, Subsp. FER, FRANZCOG (Hons), FICRM; Prof. dr. John Rambulangi, Sp.OG, Subsp. FER; dr. Lucia Leonie Levita Stephanie, Sp.OG, M.Kes; dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And; dan dr. Nathalia V. Mappewali, Sp.OG, M.Kes.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru