Keluar Main 1994 Tayang 28 Maret, Angkat Persoalan Klasik Keluarga Dibalut Komedi

Luqman Zainuddin
Kamis, 07 Mar 2024 10:38
Keluar Main 1994 Tayang 28 Maret, Angkat Persoalan Klasik Keluarga Dibalut Komedi
Produser, sutradara, dan pemeran Keluar Main 1994 saat press conference di CGV Mall Panakkukang, Rabu 6 Maret. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Film Keluar Main 1994 siap tayang 28 Maret mendatang di seluruh Indonesia. Film ini mengangkat persoalan klasik dalam kehidupan keluarga, dengan bumbu-bumbu komedi dan asmara.

Film ini menghadirkan Arif Brata sebagai pemeran utama. Ia akan berduet dengan beberapa nama terkenal lain. Seperti komika Arie Kriting sebagai Kaka Frengky, Alisa Safitri sebagai Vivi, Adi Surya sebagai Ippang, Oki Palu sebagai Jufri, dan beberapa nama lain.

Film ini dikerjakan oleh DL Entertainment. Diproduseri oleh Liani Kawati, Amril Nuryan, Andi Ashari dan sutradara oleh Ihdar Nur, yang sekaligus sebagai pencetus ide cerita. Naskah ditulis oleh Elvin Miradi dan Mohammed Sabeq.

Ihdar Nur sendiri sudah memiliki pengalaman menyutradarai beberapa judul film, di antaranya yaitu Halo Makassar dan Anak Muda Palsu. Ia juga menyutradarai Aman Bos Series dan Pattumbu Series.

Dalam film ini, Arif Brata yang berperan sebagai Ibo akan mengenalkan dunianya, di mana bagi Ibo, satu-satunya hal yang menyenangkan adalah bermain sepak bola. Namun keluarganya menuntut Ibo lebih fokus untuk menuntut ilmu di sekolah.



“Film ini menggambarkan dunia remaja di masa itu. Kita diajak kembali ke tahun 90-an dengan nuansa Makassar yang kental. Film ini bisa menjadi tontonan yang fresh, dan banyak hal di balik pembuatan film ini. Film ini bisa menjadi topik yang menarik sekali untuk kita bahas bersama, tentang hubungan anak dan orang tua, tentang bagaimana orang tua melihat dan mengembangkan bakat anak, dan hal-hal lain yang juga bisa kita bahas sambil bernostalgia,” ungkap Liani kawati, salah satu produser film ini.

Senada dengan sang produser, Ihdar Nur sebagai sutradara juga mengungkapkan pengalamannya saat harus mengarahkan film ini.

“Menyenangkan sekali, mengerjakan film ini seperti kembali hidup di masa 90-an. Semua do the best dan kita akan sama-sama merayakan film ini dengan datang ke bioskop menonton Keluar Main 1994 mulai 28 Maret 2024 nanti," ungkap dia.

Hadirnya film Keluar Main 1994 ini menurutnya, berusaha untuk menjembatani dengan menyadarkan masyarakat bahwa sebenarnya ada jalan tengah yang bisa diambil oleh kedua belah pihak untuk menghindari konflik. Diawali dengan komunikasi yang baik, pada akhirnya anak akan menyadari bahwa membahagiakan orang tua tidak harus dengan jalan mengubur impian mereka.

Rasa bangga dan optimis terhadap film ini bukan hanya dirasakan oleh orang-orang di balik layarnya saja, namun para pemainnya pun ikut menyampaikan rasa tidak sabarnya menanti penayangan film ini di bioskop-bioskop di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Arif Brata.



“Kalau sekarang baru official trailer dan poster film Keluar Main 1994 yang dirilis, saya ingin filmnya segera dirilis, karena film ini luar biasa, rasa nostalgia dan bagaimana remaja di zaman itu mencari jati diri tergambar dengan sangat baik. Ibo, karakter yang saya perankan di sini, begitu cinta kepada sepak bola, tapi di sisi lain dia juga harus utamakan sekolahnya, sesuai dengan keinginan orang tuanya, dan disanalah ada Vivi yang datang di hidup Ibo, yang ternyata justru menimbulkan sebuah dilema. Nggak sabar rasanya menunggu film ini tayang,” ungkap Arif.

Film berbahasa Indonesia dengan dialek Makassar ini siap menghibur penonton di bioskop dengan ceritanya yang lahir dari keprihatinan akan masalah minat bakat anak yang seringkali berbenturan dengan visi dan rencana orang tua terhadap masa depan anaknya.

Di satu sisi, anak merasa memiliki hak untuk memilih jalur karir yang diimpikannya sementara di sisi lain orang tua yang merasa sudah memiliki pengalaman hidup di masa lalu merasa berkewajiban untuk mengarahkan anaknya ke jalur terbaik menurut mereka.

Akan seperti apa akhir cerita Ibo di Keluar Main 1994? Penonton akan sama-sama diajak mengikuti kisah Ibo. Satu-satunya hal menyenangkan bagi Ibo di dunia ini adalah bermain sepak bola. Ibo bersama teman-teman dekatnya: Jufri, Ippang, dan Concong sering bermain bersama di sore hari.

Namun hal ini tidak direstui oleh ayah Ibo, Pak Karim, yang menuntut Ibo untuk lebih fokus belajar agar bisa menjadi insinyur seperti bos-bosnya di tempat kerja. Atas desakan orang tuanya, akhirnya Ibo mendaftar ke bimbingan belajar.



Ternyata salah seorang pengajar di sana adalah Vivi, seniornya di sekolah yang selama ini ditaksirnya. Ibo pun menjadi semangat belajar di bimbel, bahkan Vivi meluangkan waktunya untuk mengajar Ibo secara khusus di luar bimbel karena Vivi memang suka mengajar. Ketika di sekolah diadakan turnamen sepak bola, Ibo dan kawan-kawannya sangat antusias.

Tapi kesibukan Ibo belajar bersama Vivi membuat teman-teman Ibo kesal. Ibo tidak pernah datang latihan, padahal lawan terberat mereka, kelas 3 IPA 1 berisi beberapa pemain yang hebat. Ibo pun harus memilih antara mengejar prestasi akademik, memenangkan turnamen sepak bola atau memenangkan hati Vivi.
(MAN)
Berita Terbaru