Opini

Islam Rendah

Senin, 02 Mar 2026 09:45
Islam Rendah
Syarifuddin Jurdi, Dosen UIN Alauddin Makassar dan Komisioner KPU Prov. Sulsel 2018-2023. Foto: Istimewa
Comment
Share
Oleh: Syarifuddin Jurdi
Dosen UIN Alauddin Makassar

Term Islam rendah dan Islam tinggi merupakan terminologi yang tidak secara langsung berhubungan dengan pembedaan dalam soal keimanan, tetapi lebih kepada kategori-kategori sosial dan orientasi masyarakat dalam ritual keagamaan.

Islam rendah sebenarnya orang lebih mengidentikkan dengan istilah Islam rakyat atau Islam pedesaan yang menunjukkan praktik agama yang berkembang di kalangan masyarakat pedesaan, suku-suku, dan kalangan awam perkotaan, meski tidak secara tegas disamakan dengan Islam sinkretis atau Islam abangan dalam varian yang dibangun Geertz.

Terminologi Islam rendah atau Islam awam merupakan kategori yang menunjukkan pada bentuk ritual keagamaan yang umumnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya sebelum munculnya organisasi pergerakan Islam yang mengajak kepada jalan yang lurus.

Islam rendah merupakan perwujudan dari Islam yang populer dalam masyarakat, Islam yang terkoneksi dengan tradisi lokal, mistisisme, tasawuf, dan pemujaan orang suci (wali/sufi). Berbeda dengan Islam tinggi (skriptural/urban), Islam rendah dinilai Ernest Gellner kurang mendukung modernisasi dan industrialisasi karena dianggap kolot.

Keimanan yang “mendua” menjadi ciri Islam rendah, Islam yang dianggap tidak kritis dan rasional, Islam yang tidak efektif mengadaptasikan dirinya dengan modernitas. Islam rendah merupakan Islam yang tumbuh dalam lingkup suku-suku dan tradisi pedesaan yang masih mengandalkan mitos dan keyakinan pada warisan leluhur.

Itulah sebabnya, banyak masyarakat muslim pedesaan masa lalu yang secara total menyatakan keimanannya, tetapi pada saat yang sama meyakini mitos dan takhayul.

Islam rendah merupakan bentuk Islam yang praktis, penuh dengan emosi dan seringkali berpusat pada tokoh-tokoh tertentu. Islam rendah ini mengandalkan emosi dibandingkan dengan nalar.

Ketika ada kelompok yang merendahkan Islam atau menghina Islam atau membakar kitab suci umat Islam, maka kelompok Islam ini dengan segala keterbatasan yang dimilikinya akan sangat emosional dan marah, mereka mengambil tindakan cepat untuk meresponsnya dengan semangat dan penuh dengan emosi.

Fenomena Islam rendah ini tidak hanya dapat dilihat dalam konteks kehidupan masyarakat primitif, tradisional atau pedesaan, tetapi telah bertransformasi sesuai dengan perkembangan teknologi, mereka yang mudah terbakar emosi, mudah mengungkapkan kemarahan di media sosial, mudah merendahkan orang lain atau menyalahkan orang lain, sembari membanggakan dirinya, itu merupakan perwujudannya, jenis Islam ini melakukan proses mutasi ke dalam bentuk yang lebih modern atau bisa disebut digital neo populism.

Islam rendah dapat dibedakan dengan Islam elite atau Islam tinggi yang sering dikategorikan dengan model Islam yang lebih modern, rasional dan patuh pada kaedah, norma dan konstitusi, sementara Islam rendah lebih bersifat emosional.

Kalau kita mengamati penggunaan media sosial misalnya, seringkali kita menjumpai ledakan emosi atau kemarahan massa atas isu agama, suatu bentuk perwujudan yang baru dalam perkembangan peradaban kita, kalau dahulu ekspresi kemarahan dilakukan secara fisik, kini kemarahan itu diluapkan atau berpindah ke ritual digital seperti menghujat tokoh agama tertentu atau menyebut si fulan ini bukan ahli agama, bukan ustadz atau ekspresi emosional lainnya.

Penampakkan yang lebih modern ini sebagai manifestasi dari fenomena digital atau influencer agama, sebagian dari kalangan Islam, di media sosial seringkali menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada tokoh-tokoh tertentu dan mengambil pilihan untuk menghujat dan menghakimi tokoh-tokoh yang lain.

Loyalitas buta yang tidak didasarkan pada pemikiran rasional dan kritis, seringkali melahirkan sikap emosional dan tidak kritis, sikap tersebut terkadang dilegitimasi oleh afiliasi ideologi atau ikatan primordial dengan kelompok dan elite agama tertentu.

Fenomena menarik yang muncul pada setiap penentuan awal ramadhan yang potensial berbeda seperti tahun 2026, muncul sejumlah intelektual yang memberi pencerahan mengapa terjadi perbedaan, mulailah pembahasan mengenai metode yang digunakan, penentuan awal bulan menggunakan metode rukyah atau pengamatan langsung, perhitungan astronomi yang akurat, serta pertimbangan keagamaan.

Jika kelompok yang menggunakan metode rukyatul hilal akan melakukan pengamatan langsung dengan mata telanjang atau bantuan alat seperti teleskop terhadap bulan sabit muda (hilal) setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan Syakban, apabila bulan tidak terlihat, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari.

Sementara kelompok yang menggunakan metode hisab menggunakan perhitungan matematis dan posisi astronomis benda langit untuk menentukan awal bulan tanpa harus melihat hilal secara fisik dengan cara menghitung apakah konjungsi (ijtimak) sudah terjadi dan apakah posisi hilal sudah berada di atas ufuk (wujudul hilal).

Kedua metode tersebut memiliki dalil dan argumentasi yang kuat, masing-masing intelektual dari kelompok yang memiliki metode yang berbeda itu memberikan pencerahan supaya bisa dipahami dan umat tidak bingung, seharusnya tidak ada lagi masalah, masing-masing dengan keyakinannya memulai ibadah ramadhan.

Namun dalam setiap momen ini akan muncul sebagian orang, baik mereka yang “pintar”, namun sulit membendung emosinya akan terprovokasi untuk terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu, atau mungkin ada kalangan intelektual sengaja memanfaatkan keadaan dengan berbagai motif dan kepentingan untuk memprovokasi massa secara emosional, sehingga terjadi kegaduhan.

Meski kita semua menyadari bahwa perbedaan ini bukanlah yang pertama terjadi, tetapi berulang, seharusnya seiring berjalannya waktu, perbedaan itu sudah dapat diorganisir sehingga menghasilkan kesejukan dan harmoni, bukan memproduksi kemarahan dan bahkan kebencian, cara kerja yang mengandalkan emosi dan kemarahan inilah yang dimasukkan dalam kategori Islam rendah.

Dalam makna yang lebih luas mengenai soal ini dapat dipahami bahwa Islam rendah adalah jenis Islam yang tidak terlalu “mementingkan akal”, mereka memiliki ciri yang sangat mudah dikenali seperti kurang fokus pada pendalaman dan analisis terhadap sesuatu secara kritis, lebih suka pada simbol-simbol dan perasaan, mudah terprovokasi atau terpancing dengan potongan-potongan informasi atau video pendek yang tidak jelas sumbernya, Islam rendah lebih mempercayai narasi yang menyentuh emosi daripada melakukan verifikasi informasi, misalnya tabayun atau mencari dalil-dalil yang relevan.

Pada masa lalu, Islam rendah dikonstruksi melalui ritual fisik yang beragam bentuknya, bisa melalui suatu ritual keagamaan tertentu, melakukan ziarah dan lain sebagainya, kini Islam rendah bermetamorfosis melalui pembelaan agama melalui status, kolom komentar maupun melalui ujaran kemarahan lainnya.

Tak sedikit yang dapat kita saksikan, ketika tokoh politik yang menjadi idolanya dipersoalkan, dikritik atau berurusan dengan masalah hukum, maka muncul pembelaan melalui media sosial.

Cara kerja semacam ini merupakan pola yang direproduksi dengan memunculkan pihak-pihak yang harus disudutkan, pengikut Islam ini akan menghujat pihak yang diposisikan sebagai kelompok atau individu yang seakan-akan melakukan tuduhan terhadap elite atau tokoh idolanya, mereka dengan identitas dan simbol agama justru balik menuduh atau "menista" kelompok lain, ini merupakan cara instan bagi seseorang merasa dirinya religius tanpa harus mendalami teks agama.

Pada media sosial, terjadi peran komentar dan status sebagai cara untuk menunjukkan bahwa eksistensinya ditentukan oleh kemampuannya memberi pembelaan terhadap “kebenaran”, pembuatan konten yang bersifat emosional dengan membabi buta menyalahkan pihak lain, dirinya serta kelompoknya merupakan pihak yang paling benar, jenis inilah yang menjadi ciri Islam rendah.

Pada platform media sosial yang menghasilkan diskusi yang tajam misalnya di TikTok atau X (dulu twitter) cenderung mempromosikan konten yang memicu amarah karena menghasilkan engagement tinggi. Ini memperkuat perilaku emosional Islam rendah dalam skala yang lebih luas.

Dalam setiap momen dan peristiwa keagamaan dan atau soal politik yang dikaitkan dengan agama, Islam rendah akan selalu hadir untuk memberikan respons dengan ekspresi yang meledak-ledak, nada emosional dalam komentar dan status media sosialnya sangat kuat, Islam rendah kelihatan tidak sabaran dalam menghadapi situasi agama dan politik.

Sebelum era digital, kita mengenal amuk massa yang diekspresikan dengan gerakan, kini yang terjadi amuk massa digital lewat konten, status dan komentar yang menunjukkan semangat emosional itu.

Islam rendah akan merasa bahagia ketika berhasil memberi reaksi terhadap suatu isu agama yang memunculkan polemik, soal isu ini sangat bervariasi tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi, ketika mengumbar emosi atas nama nilai-nilai ilahiah atau atas nama Tuhan, mereka tidak merasa bersalah, meski mereka menghakimi dan secara vulgar menyalahkan, menjelekkan dan merendahkan pihak lain, malah justru itu dianggap sebagai kemarahan yang suci, keyakinan dan sikap semacam ini akan menghilangkan potensi untuk melakukan tabayyun sebagai suatu prinsip etis dalam berinteraksi atau berkomunikasi.
(UMI)
Berita Terkait
Berita Terbaru