Opini
Kritik sebagai Amanah Moral: Menyetel Nurani, Menjaga Peradaban
Minggu, 01 Mar 2026 05:35
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Foto: Istimewa
Oleh Samsir Salam
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
KRITIK sering dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban. Ia dianggap suara sumbang yang merusak harmoni, apalagi ketika diarahkan kepada kekuasaan atau kemapanan. Padahal, dalam tradisi etika dan keagamaan, kritik justru merupakan amanah moral—sebuah ikhtiar menyelamatkan nilai sebelum kerusakan menjadi kebiasaan.
Al-Qur’an tidak menempatkan kritik sebagai tindakan subversif, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif. Dalam surah Al-‘Ashr, Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ
(QS. Al-‘Ashr: 3)
Ayat ini menempatkan nasihat—yang dalam praktik sosialnya sering berupa kritik—sebagai syarat keselamatan. Artinya, kritik bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban etis. Tanpa kritik, iman dan amal saleh kehilangan daya korektifnya.
Di bulan Ramadhan, kewajiban saling mengingatkan itu menemukan maknanya yang paling jernih. Ramadhan bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menundukkan ego. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mimbar, dan peringatan tidak selalu harus disampaikan dengan suara tinggi. Justru dalam suasana spiritual ini, saling mengingatkan menjadi bentuk ibadah sosial—cara menjaga agar kesalehan personal tidak terputus dari tanggung jawab publik.
Masalahnya, tidak sedikit orang yang begitu gembira ketika menerima jabatan, tetapi berubah gusar ketika menerima kritik. Kekuasaan dirayakan sebagai kehormatan, sementara koreksi diperlakukan sebagai gangguan. Padahal, semakin tinggi jabatan, semestinya semakin luas pula kesediaan untuk diuji dan diingatkan. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan rasa benar sendiri.
Kritik yang berirama indah bukanlah kritik yang berisik. Ia bekerja seperti dawai: ditekan dengan presisi, disentuh dengan kejujuran. Tujuannya bukan mempermalukan, tetapi menyadarkan. Inilah kritik yang mengetuk nurani, bukan sekadar memuaskan emosi.
Al-Qur’an bahkan memuji keberadaan kelompok yang secara sadar mengambil peran korektif dalam masyarakat:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”(QS. Ali ‘Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa kritik sosial—amar ma’ruf nahi munkar—adalah fondasi peradaban yang sehat. Ketika kritik dibungkam atau dipelintir sebagai ancaman, sejatinya yang sedang dilemahkan adalah mekanisme penyelamatan moral masyarakat.
Ironisnya, yang sering ditolak bukan kritiknya, melainkan kebenaran yang dibawanya. Kita lebih mudah menuduh niat daripada menguji substansi. Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehancuran suatu kaum justru bermula ketika peringatan diabaikan:
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka…”(QS. Al-A‘raf: 165)
Kritik, dengan demikian, adalah bentuk kepedulian paling jujur. Ia tidak selalu nyaman, tetapi selalu diperlukan. Ia menjaga agar kekuasaan tetap rendah hati, agar masyarakat tidak terbuai, dan agar nurani publik tidak mati perlahan.
Jika kritik disampaikan dengan adab, dan diterima dengan kebesaran jiwa, maka ia akan menjadi musik peradaban—tidak bising, tetapi membimbing. Dan di situlah kritik menemukan makna tertingginya: sebagai amanah untuk menjaga arah, terutama di bulan Ramadhan, ketika kejujuran diuji bukan hanya oleh orang lain, tetapi oleh hati sendiri.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
KRITIK sering dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban. Ia dianggap suara sumbang yang merusak harmoni, apalagi ketika diarahkan kepada kekuasaan atau kemapanan. Padahal, dalam tradisi etika dan keagamaan, kritik justru merupakan amanah moral—sebuah ikhtiar menyelamatkan nilai sebelum kerusakan menjadi kebiasaan.
Al-Qur’an tidak menempatkan kritik sebagai tindakan subversif, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif. Dalam surah Al-‘Ashr, Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ
(QS. Al-‘Ashr: 3)
Ayat ini menempatkan nasihat—yang dalam praktik sosialnya sering berupa kritik—sebagai syarat keselamatan. Artinya, kritik bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban etis. Tanpa kritik, iman dan amal saleh kehilangan daya korektifnya.
Di bulan Ramadhan, kewajiban saling mengingatkan itu menemukan maknanya yang paling jernih. Ramadhan bukan hanya latihan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga latihan menundukkan ego. Ia mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari mimbar, dan peringatan tidak selalu harus disampaikan dengan suara tinggi. Justru dalam suasana spiritual ini, saling mengingatkan menjadi bentuk ibadah sosial—cara menjaga agar kesalehan personal tidak terputus dari tanggung jawab publik.
Masalahnya, tidak sedikit orang yang begitu gembira ketika menerima jabatan, tetapi berubah gusar ketika menerima kritik. Kekuasaan dirayakan sebagai kehormatan, sementara koreksi diperlakukan sebagai gangguan. Padahal, semakin tinggi jabatan, semestinya semakin luas pula kesediaan untuk diuji dan diingatkan. Kekuasaan tanpa kritik hanya akan melahirkan rasa benar sendiri.
Kritik yang berirama indah bukanlah kritik yang berisik. Ia bekerja seperti dawai: ditekan dengan presisi, disentuh dengan kejujuran. Tujuannya bukan mempermalukan, tetapi menyadarkan. Inilah kritik yang mengetuk nurani, bukan sekadar memuaskan emosi.
Al-Qur’an bahkan memuji keberadaan kelompok yang secara sadar mengambil peran korektif dalam masyarakat:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.”(QS. Ali ‘Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa kritik sosial—amar ma’ruf nahi munkar—adalah fondasi peradaban yang sehat. Ketika kritik dibungkam atau dipelintir sebagai ancaman, sejatinya yang sedang dilemahkan adalah mekanisme penyelamatan moral masyarakat.
Ironisnya, yang sering ditolak bukan kritiknya, melainkan kebenaran yang dibawanya. Kita lebih mudah menuduh niat daripada menguji substansi. Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehancuran suatu kaum justru bermula ketika peringatan diabaikan:
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka…”(QS. Al-A‘raf: 165)
Kritik, dengan demikian, adalah bentuk kepedulian paling jujur. Ia tidak selalu nyaman, tetapi selalu diperlukan. Ia menjaga agar kekuasaan tetap rendah hati, agar masyarakat tidak terbuai, dan agar nurani publik tidak mati perlahan.
Jika kritik disampaikan dengan adab, dan diterima dengan kebesaran jiwa, maka ia akan menjadi musik peradaban—tidak bising, tetapi membimbing. Dan di situlah kritik menemukan makna tertingginya: sebagai amanah untuk menjaga arah, terutama di bulan Ramadhan, ketika kejujuran diuji bukan hanya oleh orang lain, tetapi oleh hati sendiri.
(GUS)
Berita Terkait
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
News
Buah-buah 'Penolong' di Momen Hari Raya Idul Adha
Setelah Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Kamis, 28 Mei 2026 16:37
News
Penerapan Plea Bargain dalam Sistem Peradilan Pidana
Konstruksi mekanisme pengakuan bersalah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terbaru perlu dipahami dalam perspektif sistem hukum pidana yang bertradisi civil law.
Senin, 25 Mei 2026 06:21
News
Di Balik Kemudahan AI, Ada Krisis Daya Kritis
Hari ini, semakin banyak pelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit.
Minggu, 24 Mei 2026 05:36
News
Meratakan Lapangan Belajar Indonesia
Setiap tahun, ribuan siswa Indonesia duduk di bangku sekolah dengan harapan yang sama: mendapat pendidikan terbaik. Namun di balik harapan itu, tersimpan kesenjangan nyata.
Selasa, 19 Mei 2026 09:01
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hino Serahkan Truk & Hadirkan Kelas Industri di SMKN 5 Makassar
2
Summarecon Mutiara Makassar Hadirkan Great World Circus 2 On Ice 2026, Meriahkan Liburan Sekolah
3
LPS Siapkan Program Penjaminan Polis untuk Perkuat Industri Asuransi
4
LG Luncurkan Lini Produk 2026, Perkuat Ekosistem Rumah Pintar Berbasis AI
5
Pertamina & Hiswana Migas Salurkan Bantuan Sembako - LPG untuk Korban Gempa Sigi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hino Serahkan Truk & Hadirkan Kelas Industri di SMKN 5 Makassar
2
Summarecon Mutiara Makassar Hadirkan Great World Circus 2 On Ice 2026, Meriahkan Liburan Sekolah
3
LPS Siapkan Program Penjaminan Polis untuk Perkuat Industri Asuransi
4
LG Luncurkan Lini Produk 2026, Perkuat Ekosistem Rumah Pintar Berbasis AI
5
Pertamina & Hiswana Migas Salurkan Bantuan Sembako - LPG untuk Korban Gempa Sigi