KPTN-KTI 2026 Gelar Raker di Unhas, Perkuat Kolaborasi Majukan Mutu Pendidikan

Rabu, 19 Agu 2026 16:57
KPTN-KTI 2026 Gelar Raker di Unhas, Perkuat Kolaborasi Majukan Mutu Pendidikan
Suasana agenda KPTN-KTI 2026, di Unhas Hotel & Convention, Rabu (19/8/2026).Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah Rapat Kerja Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Indonesia (KPTN-KTI) 2026. Agenda tersebut digelar di Unhas Hotel & Convention, Rabu (19/8/2026).

Rapat kerja tersebut menjadi forum strategis bagi perguruan tinggi negeri di wilayah timur Indonesia untuk menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, serta memperjuangkan berbagai tantangan bersama, khususnya terkait anggaran dan pengembangan mutu pendidikan tinggi.

Ketua Dewan Pembina KPTN-KTI yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa kawasan Timur Indonesia memerlukan keberanian untuk melakukan berbagai terobosan strategis demi mendorong percepatan pembangunan dan kemajuan wilayah.

"Jadi, jika kita ingin berubah menjadi lebih baik, mari kita cari cara dan strategi yang berbeda. Mudah-mudahan dengan posisi Unhas sebagai "Ketua Kelas" atau Ketua Dewan Pembina, keberhasilan Unhas sebenarnya bisa ditiru oleh rekan-rekan perguruan tinggi lain yang tergabung dalam konsorsium ini," tegasnya dalam sambutan.

Rektor yang akrab disapa Prof JJ itu berharap Raker tersebut dapat menghasilkan keputusan yang konkret dan aplikatif.

"Sehingga kita tidak pulang ke universitas masing-masing hanya dengan laporan tanpa implementasi. Setiap kali bertemu dengan para Menteri bahkan jika bertemu Presiden sekalipun hal ini selalu saya suarakan. Saya tegaskan bahwa ini bukan soal kita tidak nasionalis, melainkan sebuah kenyataan yang tidak boleh disembunyikan. Kesiapan dan masa depan anak-anak di kawasan Timur Indonesia dipertaruhkan. Kenyataan tersebut adalah gap antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Kesenjangan ini harus kita dobrak. Tentu tidak mudah jika hanya mengandalkan pergerakan fisik semata. Hal ini membutuhkan komitmen dan kerja sama yang solid," harapnya.

Terkait target World Class University (WCU), Prof JJ menilai sudah tidak ada keraguan lagi, seraya menekankan bahwa berbagai kendala yang dihadapi perguruan tinggi di kawasan Timur Indonesia harus segera diatasi dan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

"Kawasan Timur sudah terlalu lama bersabar. Pertanyaannya, sampai kapan kesabaran ini harus diuji? Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan hanya karena kita merasa kesenjangan ini tidak pernah diupayakan penyelesaiannya. Dari sekian banyak PTN yang masuk jajaran World Class University, tidak ada satu pun dari kawasan Timur, kecuali Unhas. Apakah kondisinya harus terus seperti ini? Harusnya ada upaya nyata, harus ada tindakan afirmasi," sambungnya.

Selain itu, Prof JJ optimis kepasa para rektor memiliki komitmen kuat untuk membawa universitas masing-masing mencapai standar kualitas kelas dunia.

"Tidak ada pilihan lain, pendekatan utama untuk menuju World Class University adalah pengembangan riset dan sains. Jika kualitas sainsnya masih jauh di bawah, peluang untuk masuk jajaran universitas dunia akan tertutup. Pengembangan sains ini sangat memungkinkan. Tidak ada faktor genetik atau masalah kapasitas IQ pada masyarakat Timur. Potensi IQ kita sangat baik, hanya saja belum dioptimalkan karena belum menemukan strategi yang tepat," ucapnya dengan penuh rasa optimis.

Mantan Dekan FKIP Unhas itu juga menegaskan bahwa ketimpangan yang ada tidak boleh terus dibiarkan dan menawarkan pembentukan konsorsium tematik sebagai solusi konkret.

"Salah satu yang kami angkat adalah penyiapan SDM kawasan Timur untuk pengolahan industri mineral strategis. Selama ini, ketika ada penawaran proposal riset industri mineral, hampir tidak ada pendaftar dari UNIPA atau Musamus karena keterbatasan SDM. Ketiadaan SDM ini terjadi karena kita tidak pernah diberi kesempatan untuk menyiapkannya," tukasnya.

Prof JJ mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komitmen dan kerja sama guna membuktikan bahwa perguruan tinggi di kawasan Timur Indonesia mampu bersaing serta berdiri sejajar di tingkat nasional maupun internasional.

"Mengenai peran Unhas sebagai Ketua Dewan Pembina, keberadaan Unhas adalah untuk melayani seluruh perguruan tinggi di kawasan Timur. Ketika Bapak Menteri meminta saya menjadi Plt Rektor di beberapa tempat, saya sampaikan kepada Majelis MWA bahwa peran Unhas memang ditujukan untuk kemajuan bersama," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua KPTN-KTI, Prof Fredy Leiwakabessy, dalam sambutannya memaparkan bahwa konsorsium ini mencakup wilayah geografis yang sangat luas dan strategis.

"Kalau kita lihat posisi strategis geografisnya maka ada puau Kalimantan, seluruh pulau Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan seluruh Papua. Sehingga secara geografis, KPT-KTI memiliki luas geografis yang cukup besar, dan Kawasan Timur Indonesia ini menjadi masa depan bagi Indonesia," paparnya.

Rektor Universitas Pattimura itu berharap agar Raker tersebut dapat menghasilkan langkah-langkah nyata untuk memperjuangkan berbagai kepentingan riil di kawasan Indonesia Timur secara bersama-sama.

"Baik melalui forum ini, ada pikiran-pikiran rekomandatif yang mungkin saja bisa menjadi poin-poin yang kita perjuangkan bersama, baik melalui MRPTNI maupun melalui Forum Dosen Indonesia, yang mana kedua organisasi ini ketuanya ada di pimpinan perguruan tinggi Kawasan Timur Indonesia," harapnya.

Dia bilang, forum tersebut juga membahas strategi agar perguruan tinggi di Indonesia Timur dapat berkembang menjadi institusi pendidikan terkemuka yang mampu bersaing dan sejajar dengan kampus-kampus maju di Indonesia Barat.

"Ini yang bisa kita perjuangkan bersama-sama, baik di tahun-tahun ke depan. Tentu kita berharap semua perguruan tinggi kita bisa memberikan dampak yang signifikan bagi pembangunan seluruh Indonesia, kesejahteraan rakyat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun aspek lingkungan," tambahnya.

Selain itu, lanjut dia, pemenuhan target Indikator Kinerja Utama (IKU) juga menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi di Indonesia.

"Kebutuhan kita untuk menjawab Indikator Kinerja Utama juga menjadi sebuah pergumulan kita, seluruh perjuangan kita untuk bisa mencapai semua kinerja-kinerja yang telah kita tandatangani kontraknya bersama dengan Kementerian (Kemendikbud) maupun dengan Kementerian Keuangan," tutup Prof Fredy.

Raker tersebut diharapkan bisa memperkuat sinergi dan kolaborasi antarperguruan tinggi negeri di kawasan Timur Indonesia di masa depan.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru