Solidaritas Nyata Hadir Tatkala Musibah Menimpa Mitra Ojek Online
Sabtu, 30 Agu 2025 19:38

Manajemen Grab responsif bergerak mendampingi dan memberikan bantuan kepada para mitra ojek online yang mengalami musibah. Foto/Istimewa
JAKARTA - Jakarta, kota yang tak pernah berhenti bergerak, adalah rumah bagi ribuan pengemudi ojek online. Mereka mengantarkan makanan, menjemput penumpang, dan memastikan paket tiba dengan selamat.
Dalam kesehariannya, mereka adalah wajah dari ekonomi digital yang tampak di layar aplikasi, lalu melintas di jalanan dengan jaket hijau yang mudah dikenali. Namun, di balik rutinitas itu, risiko besar senantiasa mengintai.
Peristiwa yang terjadi pada 28–29 Agustus 2025 menjadi pengingat pahit tentang kerentanan para pengemudi. Tiga mitra Grab menjadi korban : dua luka serius, satu meninggal dunia.
Dari kejadian inilah, solidaritas diuji, dan kepedulian ditunjukkan dengan nyata.
Pada Jumat sore, 29 Agustus, Aji Pratama baru saja menyelesaikan pengantaran pesanan GrabFood. Ia berniat menemui rekannya yang sedang berada di sekitar lokasi demonstrasi.
Namun, nasib berkata lain. Sebuah peluru karet mengenai wajahnya dan menyebabkan luka serius di bagian hidung.
Ia segera dilarikan ke RSUD Tarakan untuk mendapat perawatan medis. Hanya beberapa jam setelah kejadian, perwakilan Grab datang untuk memastikan Aji mendapatkan penanganan terbaik.
Operasi hidung segera dijadwalkan, seluruh biaya perawatan ditanggung, dan administrasi rumah sakit dibantu langsung agar keluarga tidak terbebani.
Sejak hari pertama, tim Grab rutin hadir setiap hari, mendampingi keluarga sekaligus memantau kondisi medis. Langkah itu menjadi bukti bahwa perhatian yang diberikan bukan hanya berupa santunan, tetapi juga kehadiran nyata di saat paling dibutuhkan.
Sehari sebelumnya, Kamis malam 28 Agustus, insiden lain menimpa Moh Umar Amarudin. Malam itu, Umar berada di kawasan Jakarta Barat, tidak jauh dari kerumunan massa yang sedang melakukan penyampaian aspirasi.
Ia awalnya sedang menunggu rekannya, namun situasi lapangan tiba-tiba menjadi ricuh. Dorongan massa membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dalam hitungan detik, tubuhnya terinjak di tengah kerumunan yangpanik.
Cedera di bagian rusuk membuat Umar harus segera dilarikan ke RS Pelni. Di sana, dokter menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi patah tulang di rusuknya.
Dalam hitungan jam setelah kejadian, tim Grab hadir di rumah sakit, bahkan hingga dini hari, untuk memastikan kondisi Umar.
Kehadiran itu tidak sekadar menanyakan kabar, tetapi langsung memberi dukungan nyata : mulai dari mengurus administrasi, memastikan perawatan medis berjalan lancar, hingga menyiapkan kebutuhan tambahan yang mendesak.
Telepon genggam Umar yang hilang saat insiden diganti dengan perangkat baru agar ia tetap bisa berkomunikasi dan bekerja kembali setelah pulih.
Selain itu, bantuan finansial juga diberikan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari keluarganya yang ikut berjaga di rumah sakit.
Kehadiran tersebut memberi rasa tenang. Di tengah kecemasan keluarga yang khawatir dengan kondisi Umar, perhatian dan bantuan konkret membuat mereka tidak merasa sendiri menghadapi situasi sulit ini.
Kisah paling memilukan datang dari Almarhum Affan Kurniawan. Malam 28 Agustus itu, ia menjadi korban tabrakan kendaraan taktis.
Almarhum Affan sempat dilarikan ke RSCM, namun nyawanya tidak tertolong. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan sesama mitra pengemudi.
Almarhum Affan tercatat sebagai pengemudi yang terdaftar di dua platform besar, Grab dan Gojek, sehingga kabar duka ini dirasakan luas oleh komunitas ojol.
Sebagai bentuk penghormatan, Grab hadir di rumah duka di Menteng. Manajemen perusahaan datang langsung, menyampaikan belasungkawa, memberikan santunan bagi keluarga, serta mengirimkan karangan bunga.
Grab juga hadir dalam prosesi pemakaman, bukan sekadar sebagai formalitas, tetapi sebagai tanda bahwa perjuangan almarhum di jalan raya mendapat penghargaan yang layak.
Pendampingan hukum turut disiapkan untuk memastikan keluarga tidak menghadapi kesulitan tambahan.
Kehadiran perwakilan Gojek di rumah duka dan pemakaman turut menegaskan solidaritas lintas platform bagi almarhum dan keluarganya.
Tindakan cepat ini memperlihatkan bahwa hubungan perusahaan dengan mitra tidak hanya sebatas platform kerja.
Ada ikatan yang lebih dalam, sebuah komitmen untuk saling menjaga ketika musibah datang. Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, menegaskan hal ini dalam pernyataannya.
“Grab Indonesia hadir bukan hanya sebagai perusahaan, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mitra pengemudi. Kami berdiri bersama mereka untuk memastikan keadilan ditegakkan dan hak-hak mereka terlindungi. Karena itu, kami menyiapkan pendampingan, termasuk pendampingan hukum apabila dibutuhkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Tirza juga menambahkan bahwa tidak ada bentuk bantuan yang benar-benar bisa menutupi kehilangan atau luka akibat musibah.
“Kami menyadari, tidak ada angka atau santunan apa pun yang dapat menggantikan rasa sakit dan kehilangan. Namun, yang bisa kami lakukan adalah memastikan keluarga tidak menghadapi beban itu sendirian. Kami hadir memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pendampingan hukum, bantuan finansial, maupun perhatian sehari-hari,” jelasnya.
Ucapan tersebut tercermin dari tindakan di lapangan. Administrasi rumah sakit yang sering kali membingungkan bagi keluarga langsung dibantu. Biaya medis yang berpotensi membengkak ditanggung sepenuhnya. Santunan disalurkan tepat waktu.
Perangkat kerja yang hilang diganti. Dan yang terpenting, keluarga tidak dibiarkan menghadapi situasi sendirian. Kehadiran manajemen di rumah sakit maupun rumah duka menjadi simbol empati yang sulit diukur dengan angka.

Dalam peristiwa ini, dukungan Grab hadir dalam tiga lapisan. Pertama, memastikan aspek medis tertangani: operasi Aji dan Umar ditanggung penuh, termasuk jika muncul kebutuhan tambahan.
Kedua, bantuan material dan finansial: santunan diberikan kepada keluarga Affan, perangkat kerja baru bagi Umar, hingga dukungan harian yang membuat keluarga bisa bertahan di tengah masa sulit.
Ketiga, pendampingan hukum dan moral: mulai dari kunjungan rutin ke rumah sakit, menghadiri pemakaman, hingga memastikan keluarga mendapat perlindungan hukum jika diperlukan.
Bantuan-bantuan itu mungkin tidak bisa menghapus luka atau menggantikan kehilangan, tetapi menjadi sandaran penting bagi keluarga yang terdampak.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, perhatian seperti ini membuat mereka merasa tidak sendirian.
Peristiwa 28–29 Agustus 2025 juga membuka mata bahwa profesi pengemudi ojol sarat risiko. Setiap hari mereka berhadapan dengan lalu lintas padat, cuaca ekstrem, hingga potensi insiden sosial.
Namun, mereka tetap melaju karena menjadi tulang punggung keluarga sekaligus bagian vital dari kehidupan kota. Dukungan dan perlindungan bagi mereka bukan sekadarkewajiban, melainkan kebutuhan yang mendesak.
Solidaritas yang muncul beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa hubungan antara mitra dan perusahaan tidak hanya sebatas transaksi digital.
Ada sisi kemanusiaan yang kuat. Ketika musibah datang, yang dibutuhkan bukan hanya kompensasi finansial, tetapi juga pendampingan yang membuat keluarga merasa kuat. Grab, melalui rangkaian tindakannya, berusaha menghadirkan itu semua dengan cara yang nyata.
Akhirnya, musibah ini meninggalkan duka mendalam. Tidak ada santunan yang sebanding dengan nyawa, tidak ada bantuan yang bisa sepenuhnya menghapus rasa kehilangan.
Namun,langkah-langkah nyata yang telah dilakukan menjadi bentuk penghormatan, sekaligus ikhtiar untuk menunaikan amanah melindungi mitra.
Bagi Aji, Umar, dan Affan, peristiwa ini adalah catatan kelam. Bagi Grab dan komunitas ojol, ini menjadi pengingat bahwa di balik roda yang terus berputar, ada manusia-manusia yang harus dijaga. Dalam duka, ada kebersamaan yang menguatkan.
Dalam luka, ada solidaritas yang membuat langkah tetap bisa dilanjutkan. Dan di tengah jalanan yang tak selalu ramah, kehadiran yang tulus adalah bentuk perlindungan terbaik.
Dalam kesehariannya, mereka adalah wajah dari ekonomi digital yang tampak di layar aplikasi, lalu melintas di jalanan dengan jaket hijau yang mudah dikenali. Namun, di balik rutinitas itu, risiko besar senantiasa mengintai.
Peristiwa yang terjadi pada 28–29 Agustus 2025 menjadi pengingat pahit tentang kerentanan para pengemudi. Tiga mitra Grab menjadi korban : dua luka serius, satu meninggal dunia.
Dari kejadian inilah, solidaritas diuji, dan kepedulian ditunjukkan dengan nyata.
Pada Jumat sore, 29 Agustus, Aji Pratama baru saja menyelesaikan pengantaran pesanan GrabFood. Ia berniat menemui rekannya yang sedang berada di sekitar lokasi demonstrasi.
Namun, nasib berkata lain. Sebuah peluru karet mengenai wajahnya dan menyebabkan luka serius di bagian hidung.
Ia segera dilarikan ke RSUD Tarakan untuk mendapat perawatan medis. Hanya beberapa jam setelah kejadian, perwakilan Grab datang untuk memastikan Aji mendapatkan penanganan terbaik.
Operasi hidung segera dijadwalkan, seluruh biaya perawatan ditanggung, dan administrasi rumah sakit dibantu langsung agar keluarga tidak terbebani.
Sejak hari pertama, tim Grab rutin hadir setiap hari, mendampingi keluarga sekaligus memantau kondisi medis. Langkah itu menjadi bukti bahwa perhatian yang diberikan bukan hanya berupa santunan, tetapi juga kehadiran nyata di saat paling dibutuhkan.
Sehari sebelumnya, Kamis malam 28 Agustus, insiden lain menimpa Moh Umar Amarudin. Malam itu, Umar berada di kawasan Jakarta Barat, tidak jauh dari kerumunan massa yang sedang melakukan penyampaian aspirasi.
Ia awalnya sedang menunggu rekannya, namun situasi lapangan tiba-tiba menjadi ricuh. Dorongan massa membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Dalam hitungan detik, tubuhnya terinjak di tengah kerumunan yangpanik.
Cedera di bagian rusuk membuat Umar harus segera dilarikan ke RS Pelni. Di sana, dokter menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi patah tulang di rusuknya.
Dalam hitungan jam setelah kejadian, tim Grab hadir di rumah sakit, bahkan hingga dini hari, untuk memastikan kondisi Umar.
Kehadiran itu tidak sekadar menanyakan kabar, tetapi langsung memberi dukungan nyata : mulai dari mengurus administrasi, memastikan perawatan medis berjalan lancar, hingga menyiapkan kebutuhan tambahan yang mendesak.
Telepon genggam Umar yang hilang saat insiden diganti dengan perangkat baru agar ia tetap bisa berkomunikasi dan bekerja kembali setelah pulih.
Selain itu, bantuan finansial juga diberikan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari keluarganya yang ikut berjaga di rumah sakit.
Kehadiran tersebut memberi rasa tenang. Di tengah kecemasan keluarga yang khawatir dengan kondisi Umar, perhatian dan bantuan konkret membuat mereka tidak merasa sendiri menghadapi situasi sulit ini.
Kisah paling memilukan datang dari Almarhum Affan Kurniawan. Malam 28 Agustus itu, ia menjadi korban tabrakan kendaraan taktis.
Almarhum Affan sempat dilarikan ke RSCM, namun nyawanya tidak tertolong. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan sesama mitra pengemudi.
Almarhum Affan tercatat sebagai pengemudi yang terdaftar di dua platform besar, Grab dan Gojek, sehingga kabar duka ini dirasakan luas oleh komunitas ojol.
Sebagai bentuk penghormatan, Grab hadir di rumah duka di Menteng. Manajemen perusahaan datang langsung, menyampaikan belasungkawa, memberikan santunan bagi keluarga, serta mengirimkan karangan bunga.
Grab juga hadir dalam prosesi pemakaman, bukan sekadar sebagai formalitas, tetapi sebagai tanda bahwa perjuangan almarhum di jalan raya mendapat penghargaan yang layak.
Pendampingan hukum turut disiapkan untuk memastikan keluarga tidak menghadapi kesulitan tambahan.
Kehadiran perwakilan Gojek di rumah duka dan pemakaman turut menegaskan solidaritas lintas platform bagi almarhum dan keluarganya.
Tindakan cepat ini memperlihatkan bahwa hubungan perusahaan dengan mitra tidak hanya sebatas platform kerja.
Ada ikatan yang lebih dalam, sebuah komitmen untuk saling menjaga ketika musibah datang. Tirza Munusamy, Chief of Public Affairs Grab Indonesia, menegaskan hal ini dalam pernyataannya.
“Grab Indonesia hadir bukan hanya sebagai perusahaan, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mitra pengemudi. Kami berdiri bersama mereka untuk memastikan keadilan ditegakkan dan hak-hak mereka terlindungi. Karena itu, kami menyiapkan pendampingan, termasuk pendampingan hukum apabila dibutuhkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Tirza juga menambahkan bahwa tidak ada bentuk bantuan yang benar-benar bisa menutupi kehilangan atau luka akibat musibah.
“Kami menyadari, tidak ada angka atau santunan apa pun yang dapat menggantikan rasa sakit dan kehilangan. Namun, yang bisa kami lakukan adalah memastikan keluarga tidak menghadapi beban itu sendirian. Kami hadir memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pendampingan hukum, bantuan finansial, maupun perhatian sehari-hari,” jelasnya.
Ucapan tersebut tercermin dari tindakan di lapangan. Administrasi rumah sakit yang sering kali membingungkan bagi keluarga langsung dibantu. Biaya medis yang berpotensi membengkak ditanggung sepenuhnya. Santunan disalurkan tepat waktu.
Perangkat kerja yang hilang diganti. Dan yang terpenting, keluarga tidak dibiarkan menghadapi situasi sendirian. Kehadiran manajemen di rumah sakit maupun rumah duka menjadi simbol empati yang sulit diukur dengan angka.

Dalam peristiwa ini, dukungan Grab hadir dalam tiga lapisan. Pertama, memastikan aspek medis tertangani: operasi Aji dan Umar ditanggung penuh, termasuk jika muncul kebutuhan tambahan.
Kedua, bantuan material dan finansial: santunan diberikan kepada keluarga Affan, perangkat kerja baru bagi Umar, hingga dukungan harian yang membuat keluarga bisa bertahan di tengah masa sulit.
Ketiga, pendampingan hukum dan moral: mulai dari kunjungan rutin ke rumah sakit, menghadiri pemakaman, hingga memastikan keluarga mendapat perlindungan hukum jika diperlukan.
Bantuan-bantuan itu mungkin tidak bisa menghapus luka atau menggantikan kehilangan, tetapi menjadi sandaran penting bagi keluarga yang terdampak.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, perhatian seperti ini membuat mereka merasa tidak sendirian.
Peristiwa 28–29 Agustus 2025 juga membuka mata bahwa profesi pengemudi ojol sarat risiko. Setiap hari mereka berhadapan dengan lalu lintas padat, cuaca ekstrem, hingga potensi insiden sosial.
Namun, mereka tetap melaju karena menjadi tulang punggung keluarga sekaligus bagian vital dari kehidupan kota. Dukungan dan perlindungan bagi mereka bukan sekadarkewajiban, melainkan kebutuhan yang mendesak.
Solidaritas yang muncul beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa hubungan antara mitra dan perusahaan tidak hanya sebatas transaksi digital.
Ada sisi kemanusiaan yang kuat. Ketika musibah datang, yang dibutuhkan bukan hanya kompensasi finansial, tetapi juga pendampingan yang membuat keluarga merasa kuat. Grab, melalui rangkaian tindakannya, berusaha menghadirkan itu semua dengan cara yang nyata.
Akhirnya, musibah ini meninggalkan duka mendalam. Tidak ada santunan yang sebanding dengan nyawa, tidak ada bantuan yang bisa sepenuhnya menghapus rasa kehilangan.
Namun,langkah-langkah nyata yang telah dilakukan menjadi bentuk penghormatan, sekaligus ikhtiar untuk menunaikan amanah melindungi mitra.
Bagi Aji, Umar, dan Affan, peristiwa ini adalah catatan kelam. Bagi Grab dan komunitas ojol, ini menjadi pengingat bahwa di balik roda yang terus berputar, ada manusia-manusia yang harus dijaga. Dalam duka, ada kebersamaan yang menguatkan.
Dalam luka, ada solidaritas yang membuat langkah tetap bisa dilanjutkan. Dan di tengah jalanan yang tak selalu ramah, kehadiran yang tulus adalah bentuk perlindungan terbaik.
(TRI)
Berita Terkait

News
Affan yang Dilindas, Negara yang Diam
Endang Sari, Dosen Ilmu Politik FISIP Unhas memberikan opini terkait tragedi seorang ojek online, Affan Kurniawan yang dilindas mobil barracuda milik Brimob saat aksi demonstrasi di Jakarta.
Jum'at, 29 Agu 2025 20:53

Ekbis
5.000 Mitra Pengemudi Grab Hias Tumpeng di 80 Kota Masuk Rekor MURI
Dalam rangka merayakan 10 tahun GrabBike beroperasi sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Grab Indonesia memecahkan rekor dunia MURI
Sabtu, 16 Agu 2025 14:34

News
SPJM Gelar Edukasi Safety Riding & Servis Motor Gratis untuk Ojol
SPJM bersama entitas Pelindo Grup wilayah Makassar mengadakan kegiatan Edukasi Safety Riding dan Servis Motor Gratis bagi pengendara ojek online (ojol).
Selasa, 12 Agu 2025 14:25

News
Kalla Institute Gandeng Grab dan UTeM, Perkuat Sinergi Kampus-Industri
Kalla Institute terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri, dengan bekerja sama dengan Grab dan UTeM.
Senin, 04 Agu 2025 18:39

News
Ratusan Ojol Makassar, Gowa dan Maros Tolak Potongan 10 Persen
Setelah aksi 177 yang dilakukan di Monas mulai muncul banyak komunitas ojol lainnya yang berani menyuarakan bahwa mereka tidak sepakat dengan opini yang beredar selama ini yaitu komisi harus turun dari 20% menjadi 10%.
Senin, 21 Jul 2025 15:11
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Sebelum Dibakar, Massa Aksi Tembus dan Rusak Ruangan Ketua DPRD Sulsel
2

Ormas Kiwal Gowa Serukan Stop Demo Anarkis, Minta Jangan Terprovokasi
3

IMMIM Gelar Workshop Kemitraan Masjid untuk Monitoring dan Evaluasi Program
4

Wali Kota Makassar Jenguk Pegawai DPRD Korban Demo di RS Grestelina
5

Mencekam! Kantor DPRD Sulsel di Makassar Dibakar Massa
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1

Sebelum Dibakar, Massa Aksi Tembus dan Rusak Ruangan Ketua DPRD Sulsel
2

Ormas Kiwal Gowa Serukan Stop Demo Anarkis, Minta Jangan Terprovokasi
3

IMMIM Gelar Workshop Kemitraan Masjid untuk Monitoring dan Evaluasi Program
4

Wali Kota Makassar Jenguk Pegawai DPRD Korban Demo di RS Grestelina
5

Mencekam! Kantor DPRD Sulsel di Makassar Dibakar Massa