Opini

Pilkada Via DPRD: Jangan Korbankan Kedaulatan Rakyat

Senin, 29 Des 2025 22:21
Pilkada Via DPRD: Jangan Korbankan Kedaulatan Rakyat
Pengamat Kebijakan Publik & Politik, Ras MD. Istimewa
Comment
Share
Oleh: Ras MD
Pengamat Kebijakan Publik & Politik

Belakangan ini, wacana agar kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD mulai menguat. Dukungan dari sebagian elite politik, termasuk dari Partai Gerindra, membuat isu ini menjadi bahan perbincangan publik. Pertanyaan yang kemudian muncul: apakah cara ini benar-benar solusi bagi demokrasi lokal, atau justru ancaman bagi hak rakyat?

Sejak pilkada langsung diberlakukan, masyarakat Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan merasakan perubahan besar. Rakyat ikut menentukan siapa pemimpin di daerahnya. Di Makassar, Gowa, Luwu, hingga Toraja, warga belajar bahwa suara mereka berpengaruh terhadap arah kebijakan pemerintah: jalan dibangun, bantuan disalurkan, sekolah berdiri, dan pelayanan publik membaik.

Jika mekanisme ini diubah dan dikembalikan kepada DPRD, maka pengalaman politik itu bisa kembali hilang. Rakyat yang selama ini merasa menjadi bagian dari proses, akan kembali menjadi sekadar penonton. Inilah yang saya sebut sebagai erosi kedaulatan publik.

Betul, pilkada langsung memang membutuhkan anggaran besar. Pemprov dan kabupaten/kota harus menyediakan dana miliaran rupiah melalui hibah APBD untuk penyelenggara. Di sisi kandidat, biaya kampanye juga tidak kecil.

Tetapi demokrasi bukan sekadar soal mahal atau murah. Demokrasi adalah investasi sosial jangka panjang. Jika efisiensi dijadikan alasan untuk menarik hak rakyat memilih, maka kita sedang memilih solusi cepat yang justru berisiko melukai demokrasi itu sendiri.

Solusinya bukan mencabut hak rakyat, melainkan memperbaiki sistem: pembatasan biaya kampanye, audit dana politik yang lebih ketat, transparansi pendanaan, serta digitalisasi tahapan pilkada agar biaya logistik berkurang.

Ketika kepala daerah dipilih oleh DPRD, ruang kompetisi politik menjadi sempit dan sangat elitis. Kekuasaan berpindah ke meja perundingan politik antar elite. Proses seperti ini rentan terhadap lobi, kompromi kepentingan, dan transaksi politik yang sulit dikontrol publik.

Jika skema seperti ini diterapkan di Sulsel, kita bisa membayangkan bagaimana peta kekuatan politik di DPRD Makassar, Gowa, hingga Luwu menjadi faktor utama bukan lagi aspirasi warga. Kepala daerah berpotensi lebih loyal kepada elite yang mengangkatnya, dibanding kepada masyarakat sebagai pemilik mandat.

Pemimpin yang terpilih oleh rakyat memiliki legitimasi sosial yang kuat. Ia lahir dari partisipasi masyarakat. Inilah modal moralnya untuk memimpin.

Sebaliknya, jika kepala daerah terpilih lewat forum DPRD, legitimasi publiknya akan lebih rapuh. Warga dapat merasa: “Kami tidak memilihnya. Ia tidak mewakili kami.” Jika ini terjadi, dukungan masyarakat terhadap program pemerintah akan melemah. Pada titik ini, efisiensi yang diperoleh tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar.

Jika problem pilkada ada pada biaya politik dan gesekan sosial, maka jawabannya adalah reformasi kebijakan:
pertama, memperketat pengeluaran kampanye.
Kedua, menegakkan transparansi pendanaan politik.
ketiga, menyeleksi calon berbasis kapasitas, bukan popularitas instan.
Keempat, memperkuat kaderisasi partai agar calon tidak hanya muncul lima tahun sekali.

Demokrasi yang diperbaiki adalah demokrasi yang tumbuh. Tetapi demokrasi yang dipangkas adalah demokrasi yang kehilangan makna.

Pada akhirnya, saya ingin menegaskan:

“Pilkada bukan sekadar memilih pemimpin; ia adalah ruang rakyat merasakan kedaulatan. Menyerahkan pemilihan kepada DPRD, betapapun alasan efisiensi digunakan, tetap merupakan langkah yang berpotensi mereduksi hak dasar warga sebagai pemilik kedaulatan.”

“Demokrasi yang mahal dapat diperbaiki, tetapi demokrasi yang hilang sulit dikembalikan.”

Sulawesi Selatan sedang berada dalam fase penting pembangunan daerah. Di tengah berbagai tantangan, ekonomi, pelayanan publik, dan stabilitas sosial justru partisipasi rakyatlah yang perlu diperkuat, bukan dikurangi.
(UMI)
Berita Terkait
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
Pengamat Sarankan Wali Kota Makassar Appi Sebaiknya Hengkang dari Golkar
Sulsel
Pengamat Sarankan Wali Kota Makassar Appi Sebaiknya Hengkang dari Golkar
Pengamat Politik Sulsel, Asratillah menilai, Munafri Arifuddin sebaiknya hengkang dari Partai Golkar. Menurutnya, pilihan pindah lebih baik, jika di partai lama sudah tidak nyaman.
Senin, 21 Sep 2026 15:59
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
News
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Di sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.
Rabu, 19 Agu 2026 20:52
Berita Terbaru