Opini
Meramal Masa Depan Indonesia: Pemilu, Pilkada, dan Kuasa Partai Politik
Selasa, 10 Feb 2026 08:22
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Samsir Salam Kepulauan. Foto: Istimewa
Oleh Samsir Salam, S.Ag M.H
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
SETIAP Pemilu dan Pilkada sejatinya adalah cermin masa depan Indonesia. Dari sanalah kita bisa membaca arah demokrasi, kualitas kepemimpinan, sekaligus watak partai politik yang mengendalikan prosesnya. Jika pemilu dan pilkada dipahami sekadar agenda lima tahunan untuk merebut kekuasaan, maka jangan heran bila masa depan bangsa dibangun di atas fondasi yang rapuh.
Partai politik memegang peran sentral dalam pemilu dan pilkada. Parpol menentukan siapa yang diusung, bagaimana narasi dibangun, dan nilai apa yang dipertaruhkan. Namun dalam praktiknya, kontestasi sering kali berubah menjadi kompetisi logistik, bukan kompetisi gagasan. Politik uang, mahar pencalonan, dan transaksi dukungan masih menjadi penyakit laten yang terus diwariskan dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.
Ketika pemilu dan pilkada menjadi mahal, demokrasi pun kehilangan makna etikanya. Jabatan publik berisiko dipersepsi sebagai investasi, bukan amanah. Padahal dalam pandangan Agama Islam, kekuasaan adalah tanggung jawab moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan konstitusi, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Al-Qur’an mengingatkan secara tegas:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisā’: 58).
Ayat tersebut relevan membaca realitas pemilu dan pilkada. Amanat kepemimpinan tidak lahir dari manipulasi, apalagi transaksi. Ia hanya sah secara moral jika diperoleh melalui proses yang jujur, adil, dan bermartabat. Ketika partai politik mengabaikan prinsip ini, sesungguhnya yang dirusak bukan hanya demokrasi, tetapi juga kepercayaan publik dan nilai keimanan itu sendiri.
Lebih jauh, pilkada seharusnya menjadi ruang bagi rakyat menentukan pemimpin lokal terbaik yang memahami masalah daerah, berintegritas, dan mampu melayani. Namun jika pilkada dikendalikan sepenuhnya oleh elite partai tanpa mendengar aspirasi rakyat, maka demokrasi lokal hanya menjadi perpanjangan tangan oligarki nasional.
Di sisi lain, masa depan Indonesia masih bisa dibelokkan ke arah yang lebih baik. Partai politik dapat menjadikan pemilu dan pilkada sebagai sarana pendidikan politik, bukan sekadar mobilisasi suara. Kaderisasi yang serius, rekrutmen yang berbasis kapasitas dan integritas, serta penolakan tegas terhadap politik uang adalah langkah awal membangun demokrasi yang sehat.
Rakyat pun memegang peran kunci. Dalam perspektif Islam memilih pemimpin bukan sekadar hak politik, tetapi juga tanggung jawab moral. Membiarkan kecurangan, menerima politik uang, atau bersikap apatis sama artinya ikut menyuburkan ketidakadilan. Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”(QS. Hūd: 113).
Masa depan Indonesia di bawah kekuatan partai politik akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemilu dan pilkada dijalankan hari ini. Apakah ia menjadi jalan lahirnya pemimpin amanah, atau justru menjadi ritual demokrasi yang kehilangan ruh etika dan spiritualitasnya.
Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal suara terbanyak, tetapi soal nilai yang dijaga. Dan pemilu serta pilkada bukan sekadar arena politik, melainkan ujian kolektif:apakah kita masih memandang kekuasaan sebagai amanah, atau telah mereduksinya menjadi komoditas.
Jika yang kedua terus dibiarkan, maka masa depan Indonesia bukan sedang diramal—melainkan sedang dipertaruhkan.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
SETIAP Pemilu dan Pilkada sejatinya adalah cermin masa depan Indonesia. Dari sanalah kita bisa membaca arah demokrasi, kualitas kepemimpinan, sekaligus watak partai politik yang mengendalikan prosesnya. Jika pemilu dan pilkada dipahami sekadar agenda lima tahunan untuk merebut kekuasaan, maka jangan heran bila masa depan bangsa dibangun di atas fondasi yang rapuh.
Partai politik memegang peran sentral dalam pemilu dan pilkada. Parpol menentukan siapa yang diusung, bagaimana narasi dibangun, dan nilai apa yang dipertaruhkan. Namun dalam praktiknya, kontestasi sering kali berubah menjadi kompetisi logistik, bukan kompetisi gagasan. Politik uang, mahar pencalonan, dan transaksi dukungan masih menjadi penyakit laten yang terus diwariskan dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.
Ketika pemilu dan pilkada menjadi mahal, demokrasi pun kehilangan makna etikanya. Jabatan publik berisiko dipersepsi sebagai investasi, bukan amanah. Padahal dalam pandangan Agama Islam, kekuasaan adalah tanggung jawab moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan konstitusi, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Al-Qur’an mengingatkan secara tegas:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisā’: 58).
Ayat tersebut relevan membaca realitas pemilu dan pilkada. Amanat kepemimpinan tidak lahir dari manipulasi, apalagi transaksi. Ia hanya sah secara moral jika diperoleh melalui proses yang jujur, adil, dan bermartabat. Ketika partai politik mengabaikan prinsip ini, sesungguhnya yang dirusak bukan hanya demokrasi, tetapi juga kepercayaan publik dan nilai keimanan itu sendiri.
Lebih jauh, pilkada seharusnya menjadi ruang bagi rakyat menentukan pemimpin lokal terbaik yang memahami masalah daerah, berintegritas, dan mampu melayani. Namun jika pilkada dikendalikan sepenuhnya oleh elite partai tanpa mendengar aspirasi rakyat, maka demokrasi lokal hanya menjadi perpanjangan tangan oligarki nasional.
Di sisi lain, masa depan Indonesia masih bisa dibelokkan ke arah yang lebih baik. Partai politik dapat menjadikan pemilu dan pilkada sebagai sarana pendidikan politik, bukan sekadar mobilisasi suara. Kaderisasi yang serius, rekrutmen yang berbasis kapasitas dan integritas, serta penolakan tegas terhadap politik uang adalah langkah awal membangun demokrasi yang sehat.
Rakyat pun memegang peran kunci. Dalam perspektif Islam memilih pemimpin bukan sekadar hak politik, tetapi juga tanggung jawab moral. Membiarkan kecurangan, menerima politik uang, atau bersikap apatis sama artinya ikut menyuburkan ketidakadilan. Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”(QS. Hūd: 113).
Masa depan Indonesia di bawah kekuatan partai politik akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemilu dan pilkada dijalankan hari ini. Apakah ia menjadi jalan lahirnya pemimpin amanah, atau justru menjadi ritual demokrasi yang kehilangan ruh etika dan spiritualitasnya.
Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal suara terbanyak, tetapi soal nilai yang dijaga. Dan pemilu serta pilkada bukan sekadar arena politik, melainkan ujian kolektif:apakah kita masih memandang kekuasaan sebagai amanah, atau telah mereduksinya menjadi komoditas.
Jika yang kedua terus dibiarkan, maka masa depan Indonesia bukan sedang diramal—melainkan sedang dipertaruhkan.
(GUS)
Berita Terkait
News
Al-Kautsar: Teologi Kelimpahan dan Spiritualitas Anti-Kehampaan
Di tengah dunia modern yang dipenuhi ledakan teknologi dan arus informasi tanpa batas, manusia menghadapi ironi besar peradaban: semakin maju secara material, semakin rapuh secara spiritual. Kita hidup dalam era kelimpahan, tetapi banyak jiwa mengalami kehampaan.
Selasa, 12 Mei 2026 13:00
News
Hardiknas 2026, Kadang Kita Mendidik Otak Tetapi Lupa Menyentuh Hati
Hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Banyak yang berbicara tentang kurikulum, prestasi, dan kecerdasan. Namun ada satu hal yang sering terlupakan—adab.
Sabtu, 02 Mei 2026 09:41
News
Satu Mei, Banyak Janji: Satire atas Demokrasi yang Lupa Membayar
Hari Buruh Internasional yang lebih populer disebut May Day, kembali hadir sebagai panggung tahunan yang penuh semangat. Spanduk dibentangkan, orasi dikumandangkan, dan janji-janji kembali diproduksi dengan rapi.
Jum'at, 01 Mei 2026 17:04
News
Melihat Kembali Makna Hari Buruh
SUDAH lebih dari satu abad sejak Hari Buruh dicanangkan, berakar dari peristiwa pada 1 Mei 1886 di Chicago, ketika para pekerja turun ke jalan menuntut jam kerja yang lebih manusiawi sebuah perjuangan yang kemudian dikenang dunia sebagai titik awal lahirnya Hari Buruh Internasional.
Jum'at, 01 Mei 2026 08:32
News
Perempuan, Gender, dan Kepemimpinan Pendidikan
Setiap tanggal 21 April, Indonesia bersukacita merayakan Hari Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik.
Senin, 27 Apr 2026 11:22
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Legislator Makassar Usul Anggota Geng Motor Dikenai Sanksi Administratif
2
Minta Transparansi, Penghuni Vida View Siap Bawa Kisruh IPL dan P3SRS ke DPRD Makassar
3
Putra Mantan Bupati Bone Raih Predikat Terbaik Komcad ASN Sulsel, Dapat Hadiah Umrah
4
Program MBG di Parepare Disebut Tak Lagi Berdampak ke Peternak Lokal
5
Wabup Bantaeng Hadiri Pembentukan Komcad ASN Sulsel di Makassar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Legislator Makassar Usul Anggota Geng Motor Dikenai Sanksi Administratif
2
Minta Transparansi, Penghuni Vida View Siap Bawa Kisruh IPL dan P3SRS ke DPRD Makassar
3
Putra Mantan Bupati Bone Raih Predikat Terbaik Komcad ASN Sulsel, Dapat Hadiah Umrah
4
Program MBG di Parepare Disebut Tak Lagi Berdampak ke Peternak Lokal
5
Wabup Bantaeng Hadiri Pembentukan Komcad ASN Sulsel di Makassar