Opini
Jalan Berstatus Provinsi, Derita Menjadi Milik Kabupaten
Minggu, 25 Jan 2026 13:31
Pengamat Sosial Politik, Mustamin Raga. Foto: Istimewa
Oleh: Mustamin Raga
Pengamat Sosial Politik
Di Gowa, pagi sering dimulai dari poros yang sama. Jalan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat kecamatan, kecamatan dengan Kota Makassar, dan kehidupan dengan harapan.
Jalan itu bukan jalan kecil. Ia jalan penting. Jalur ekonomi. Jalur pendidikan. Jalur layanan kesehatan. Namun statusnya bukan milik kabupaten. Ia adalah jalan provinsi. Di sinilah ironi itu dimulai.
Ruas jalan provinsi yang melintas di Kabupaten Gowa, baik yang menghubungkan Sungguminasa dengan wilayah dataran tinggi, maupun yang menjadi penghubung antarkabupaten telah lama menjadi cerita harian warga.
Aspal yang mengelupas, tambalan yang cepat lelah, dan badan jalan yang menua sebelum waktunya. Ketika hujan turun, genangan muncul di titik yang sama. Ketika kemarau datang, debu berterbangan di jalur yang sama. Warga tahu persis titik-titik itu. Mereka menghafalnya lebih baik dari hafalan pejabat tentang status kewenangan.
Setiap kali keluhan muncul, jawabannya nyaris selalu seragam: “Itu jalan provinsi.” Kalimat itu tidak salah. Tapi ia juga tidak menyembuhkan apa pun.
Bagi warga Kabupaten Gowa yang setiap pagi melintas, status jalan tidak pernah menjadi pelindung dari risiko. Tidak ada satu pun ban bocor yang bisa dicegah oleh kata “provinsi”.
Tidak ada satu pun keterlambatan ambulans yang bisa dimaafkan oleh pembagian kewenangan. Jalan tetap jalan. Tubuh tetap tubuh. Nyawa tetap nyawa.
Ironi itu semakin terasa karena di sisi lain, jalan-jalan kabupaten di Gowa menunjukkan perbaikan. Ada ruas yang diaspal ulang, ada drainase yang dibenahi, ada pelebaran bertahap.
Kontras ini justru memperjelas luka: pembangunan berhenti di batas status. Seolah garis administrasi lebih kuat dari logika pelayanan publik.
Bergerak ke utara, ironi itu tidak memudar. Ia justru menebal di Luwu. Di Kabupaten Luwu dan wilayah Luwu Raya, jalan provinsi adalah urat nadi yang menghubungkan Palopo, Belopa, hingga wilayah pedalaman.
Ruas-ruas ini menjadi jalur distribusi hasil kebun, hasil tambang, hasil hutan, dan pergerakan manusia dalam skala besar.
Bebannya berat, lalu lintasnya intens, dan ketergantungan warga padanya nyaris mutlak. Namun justru di jalan-jalan inilah, penderitaan paling sering diwariskan.
Ada ruas provinsi yang setiap tahun rusak di titik yang sama. Ditambal, lalu rusak kembali. Bukan karena warga tidak tahu cara merawat, tetapi karena perawatan berkala tidak pernah benar-benar menjadi rutinitas.
Jalan menunggu rusak berat dulu baru diperhatikan. Padahal kerusakan ringan yang ditangani cepat jauh lebih murah dan manusiawi.
Di Luwu, banyak warga desa harus berangkat subuh agar sampai pasar sebelum siang, karena jalan memperlambat segalanya. Truk hasil bumi melaju pelan, motor menghindari lubang, dan biaya transportasi naik diam-diam. Kerugian itu tidak tercatat dalam APBD, tetapi terasa di dapur-dapur rumah tangga.
Sekali lagi, jawabannya sama “Itu jalan provinsi.”
Ironi itu mencapai puncaknya ketika provinsi berbicara tentang persentase jalan mantap, sementara warga berbicara tentang ruas tertentu yang tidak pernah mantap dalam hidup mereka. Statistik bertemu pengalaman, tetapi tidak selalu saling menyapa.
Inilah persoalan mendasar: pemerintah melihat jalan sebagai jaringan, warga melihat jalan sebagai pengalaman. Ketika dua cara pandang ini tidak dipertemukan, yang lahir adalah ketimpangan rasa keadilan.
Maka, Jalan provinsi di Gowa dan Luwu maupun di kabupaten lainnya mampu mengajarkan satu hal penting kepada kita bahwa status boleh berada di provinsi, tetapi penderitaan selalu bermukim di kabupaten.
Pengamat Sosial Politik
Di Gowa, pagi sering dimulai dari poros yang sama. Jalan yang menghubungkan desa-desa dengan pusat kecamatan, kecamatan dengan Kota Makassar, dan kehidupan dengan harapan.
Jalan itu bukan jalan kecil. Ia jalan penting. Jalur ekonomi. Jalur pendidikan. Jalur layanan kesehatan. Namun statusnya bukan milik kabupaten. Ia adalah jalan provinsi. Di sinilah ironi itu dimulai.
Ruas jalan provinsi yang melintas di Kabupaten Gowa, baik yang menghubungkan Sungguminasa dengan wilayah dataran tinggi, maupun yang menjadi penghubung antarkabupaten telah lama menjadi cerita harian warga.
Aspal yang mengelupas, tambalan yang cepat lelah, dan badan jalan yang menua sebelum waktunya. Ketika hujan turun, genangan muncul di titik yang sama. Ketika kemarau datang, debu berterbangan di jalur yang sama. Warga tahu persis titik-titik itu. Mereka menghafalnya lebih baik dari hafalan pejabat tentang status kewenangan.
Setiap kali keluhan muncul, jawabannya nyaris selalu seragam: “Itu jalan provinsi.” Kalimat itu tidak salah. Tapi ia juga tidak menyembuhkan apa pun.
Bagi warga Kabupaten Gowa yang setiap pagi melintas, status jalan tidak pernah menjadi pelindung dari risiko. Tidak ada satu pun ban bocor yang bisa dicegah oleh kata “provinsi”.
Tidak ada satu pun keterlambatan ambulans yang bisa dimaafkan oleh pembagian kewenangan. Jalan tetap jalan. Tubuh tetap tubuh. Nyawa tetap nyawa.
Ironi itu semakin terasa karena di sisi lain, jalan-jalan kabupaten di Gowa menunjukkan perbaikan. Ada ruas yang diaspal ulang, ada drainase yang dibenahi, ada pelebaran bertahap.
Kontras ini justru memperjelas luka: pembangunan berhenti di batas status. Seolah garis administrasi lebih kuat dari logika pelayanan publik.
Bergerak ke utara, ironi itu tidak memudar. Ia justru menebal di Luwu. Di Kabupaten Luwu dan wilayah Luwu Raya, jalan provinsi adalah urat nadi yang menghubungkan Palopo, Belopa, hingga wilayah pedalaman.
Ruas-ruas ini menjadi jalur distribusi hasil kebun, hasil tambang, hasil hutan, dan pergerakan manusia dalam skala besar.
Bebannya berat, lalu lintasnya intens, dan ketergantungan warga padanya nyaris mutlak. Namun justru di jalan-jalan inilah, penderitaan paling sering diwariskan.
Ada ruas provinsi yang setiap tahun rusak di titik yang sama. Ditambal, lalu rusak kembali. Bukan karena warga tidak tahu cara merawat, tetapi karena perawatan berkala tidak pernah benar-benar menjadi rutinitas.
Jalan menunggu rusak berat dulu baru diperhatikan. Padahal kerusakan ringan yang ditangani cepat jauh lebih murah dan manusiawi.
Di Luwu, banyak warga desa harus berangkat subuh agar sampai pasar sebelum siang, karena jalan memperlambat segalanya. Truk hasil bumi melaju pelan, motor menghindari lubang, dan biaya transportasi naik diam-diam. Kerugian itu tidak tercatat dalam APBD, tetapi terasa di dapur-dapur rumah tangga.
Sekali lagi, jawabannya sama “Itu jalan provinsi.”
Ironi itu mencapai puncaknya ketika provinsi berbicara tentang persentase jalan mantap, sementara warga berbicara tentang ruas tertentu yang tidak pernah mantap dalam hidup mereka. Statistik bertemu pengalaman, tetapi tidak selalu saling menyapa.
Inilah persoalan mendasar: pemerintah melihat jalan sebagai jaringan, warga melihat jalan sebagai pengalaman. Ketika dua cara pandang ini tidak dipertemukan, yang lahir adalah ketimpangan rasa keadilan.
Maka, Jalan provinsi di Gowa dan Luwu maupun di kabupaten lainnya mampu mengajarkan satu hal penting kepada kita bahwa status boleh berada di provinsi, tetapi penderitaan selalu bermukim di kabupaten.
(UMI)
Berita Terkait
News
Perempuan, Gender, dan Kepemimpinan Pendidikan
Setiap tanggal 21 April, Indonesia bersukacita merayakan Hari Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik.
Senin, 27 Apr 2026 11:22
News
Iman yang Bergerak: Dari Kesadaran Menuju Kemenangan
QS. At-Taubah/9: 20 menghadirkan satu pesan yang tegas sekaligus mendalam: bahwa iman sejati bukan sekadar keyakinan batin, melainkan energi yang melahirkan gerak hijrah dan jihad
Rabu, 22 Apr 2026 09:11
News
Jusuf Kalla Tidak Mungkin Menista Agama
Hanya berselang sehari, setelah Jusuf Kalla (JK) menentukan sikap, melaporkan dugaan fitnah atas dirinya yang dituding oleh Rismon Sianipar, menjadi pendonor di balik kisruh “ijazah palsu” Jokowi.
Senin, 20 Apr 2026 08:47
Sulsel
LBK Terima Demo, Luruskan Informasi Jalan Sapaya–Malakaji Masuk Proyek Multiyears
Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Gowa menggelar aksi unjuk rasa di kantor sementara DPRD Sulawesi Selatan, Jalan AP Pettarani, Makassar pada Rabu (15/4/2026).
Rabu, 15 Apr 2026 21:31
News
Milad Bawaslu: Antara Prosedur Demokrasi dan Krisis Integritas
MOMENTUM Milad Bawaslu bukan sekadar penanda usia kelembagaan, tetapi ruang kontemplasi atas tanggung jawab besar dalam menjaga arah demokrasi. Selamat Milad Bawaslu RI ke-18: Mengukuhkan Demokrasi.
Rabu, 08 Apr 2026 13:51
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tambang Diduga Tanpa Izin Beroperasi di Bontoramba Jeneponto, Polisi Cek Lokasi
2
Siswa Athirah Belajar Sains Maritim dari Proses Pembuatan Kapal Phinisi di Tana Beru
3
Kapolsek Tamalatea Tutup Aktivitas Tambang Diduga Ilegal di Bontoramba
4
Lurah Empoang Selatan Ubah Sampah Plastik Jadi Paving Block
5
Mercure Makassar Luncurkan Menu Baru The Light dengan Konsep Non-Alkohol
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Tambang Diduga Tanpa Izin Beroperasi di Bontoramba Jeneponto, Polisi Cek Lokasi
2
Siswa Athirah Belajar Sains Maritim dari Proses Pembuatan Kapal Phinisi di Tana Beru
3
Kapolsek Tamalatea Tutup Aktivitas Tambang Diduga Ilegal di Bontoramba
4
Lurah Empoang Selatan Ubah Sampah Plastik Jadi Paving Block
5
Mercure Makassar Luncurkan Menu Baru The Light dengan Konsep Non-Alkohol