Al-Qur'an, Akal dan Fitrah
Rabu, 11 Mar 2026 12:26
Syarifuddin Jurdi, Dosen UIN Alauddin Makassar dan Komisioner KPU Prov. Sulsel 2018-2023. Foto: Istimewa
Oleh: Syarifuddin JurdiDosen UIN Alauddin Makassar
Al-Qur’an dalam beberapa pesannya menyebut bahwa manusia itu sebenarnya diciptakan sebagai sebaik-baik makhluk, (akhsani taqwim), karena manusia merupakan mahluk Tuhan yang diberi kemampuan mempergunakan akal pikirannya yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, sehingga bisa memposisikan dirinya.
Posisi istimewa itu akan ditentukan oleh bagaimana sikap dan posisi yang dipilih manusia, dalam pesan al-Qur’an yang lain, disebutkan bahwa manusia bisa diturunkan derajatnya ke posisi atau derajat yang serendah-rendahnya, kecuali jika mereka beriman dalam menjalin ikatan dengan Tuhan untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan (hanif) sesuai dengan fitrah kejadianya (Rahardjo, 2017).
Manusia yang mengerjakan amal kebaikan akan memperoleh kemuliaan hidup, sementara manusia yang terus-menerus melakukan kejahatan, kerusakan dan dosa akan mendapatkan kehidupan yang rendah dan merugi.
Pesan moral Islam menekankan pada relasi spiritual dan relasi kemanusiaan, pesan itu diuraikan Allah Swt dalam surat Ali Imran (3): 112 “Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka...” hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya merupakan pesan sentral ayat ini.
Ketika menerjemahkan ayat ini, Dawam Rahardjo menyebut bahwa istilah “tali” (hablun) disitu mengandung arti perikatan, perjanjian, kesepakatan atau kontrak sebagai hasil aksi komunikasi, dalam pengertian filsuf Jerman Jurgen Habermas dalam teorinya mengenai pembentukan ruang publik (public sphere).
Kesepakatan atau penjanjian pertama adalah sebuah kontrak transendental, dimana manusia bersepakat atas petunjuk atau hidayah, setelah manusia beriman kepada Allah, untuk mengatur kehidupan dengan menempuh jalan hidup (syari’at) yang lurus (shirathal mustaqim).
Jalan lurus, sebagaimana disebut dalam surat al Fathihah, adalah jalan kenikmatan dalam kebahagiaan setelah menjalani hidup yang mulia yaitu bukan jalan atau cara hidup yang sesat dan jalan dan cara hidup yang dimurkai oleh Allah. Dengan menjaga tali hubungan itu, yaitu dengan menepati perjanjian dalam jalan hidup yang lurus, maka manusia akan beroleh kehidupan mulia dan terhindar dari kehinaan.
Umat Islam akan menjaga dan memelihara kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, dalam salah satu hadist disebutkan “bahwa agama itu adalah akal, tiada agama tanpa akal”. Dalam kaitan ini, “akal” mengandung makna “tali” yang merupakan simbol dari perjanjian atau perikatan.
Manusia yang berpegang teguh pada perjanjian primordial dengan Allah merupakan pusat kesadaran sosialnya, manusia akan condong kepada apa yang disebut “fitrah”, manusia tauhid akan memiliki kecenderungan kepada kebenaran atau hanif yang mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia.
Manusia fitrah merupakan sosok yang berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, tauhid dan kebaikan, manusia fitrah akan menghindari perbuatan buruk, apalagi bentuk kesyirikan dan kemaksiatan, manusia yang hanif itu merupakan manusia suci yang konsisten berpegang teguh pada kebenaran.
Point ini menunjukkan bahwa manusia yang hanif berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang mengasumsikan manusia itu berkecenderungan buruk, yaitu saling membunuh dan memangsa bagaikan serigala, John Locke mempunyai asumsi manusia memiliki kecenderungan baik. Para pemikir memiliki cara bagaimana memaknai orientasi manusia.
Qur’an menyebut bahwa manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai sebaik-baik makhluk (akhsani taqwim), diberi kemampuan mempergunakan akal pikirannya yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah, sehingga bisa memposisikan dirinya.
Tapi manusia bisa diturunkan ke derajat yang serendah-rendahnya, kecuali jika mereka beriman dalam menjalin ikatan dengan Tuhan untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan (hanif) sesuai dengan fitrah kejadianya. Dengan amal saleh itu, maka manusia akan mendapatkan pahala yang mengalir yang memulikakan hidupnya (Q.s. At-Tin ).
Fitrah manusia akan cenderung kepada kebaikan, al-Qur’an menceritakan nilai keutamaan manusia bila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lain, keutamaan manusia itu adalah memiliki akal sebagai sumber utama yang membedakan dengan mahluk lainnya.
Konsekuensi dari keutamaan manusia itu, Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat: 30-33 menceritakan bahwa ketika Tuhan akan memberikan kedaulatan-Nya kepada manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi, Tuhan memerintahkan kepada malaikat untuk tunduk mengakui kedaulatan manusia. Semua malaikat tunduk atas perintah Tuhan kecuali sebagian yang kemudian disebut “iblis”.
Alasanya adalah bahwa malaikat merasa lebih tinggi derajatnya, karena selalu tunduk dan patuh kepada dan senantiasai memahasucikan Tuhan, sedangkan manusia adalah makhluk yang dalam rekam jejaknya saling membunuh. Namun Tuhan memperlihatkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh malaikat, yaitu kemampuan menyebut nama segala sesuatu yang merupakan kemampuan akal.
Dengan akal atau agama itulah manusia mampu membedakan antara yang benar dan salah, yang buruk dan baik. Namun Tuhan mengakui bahwa manusia akan ditimpa kehinaan dalam kehiduapnnya, kecuali bila mereka bisa memegang dan memelihara tali hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam ikatan iman dan peribadatan, dan tali hubungan antara manusia dengan manusia melalui tindakan amal saleh yang menurut penafsiran Nurcholish Madjid adalah perbuatan dan perilaku yang serasi dengan lingkungan hidup. Kadua tali hubungan atau relasi itu saling berinteraksi dan berpengaruh dalam dinamika kehidupan.
Dalam al-Qur’an sendiri dikatakan bahwa manusia itu bisa memperoleh ilham keburukan maupun kebaikan, fa alhamaha fujuroha wa taqwaaha (Q.S. Asy-Syams [91]: 8). Manusia akan terbujuk untuk berbuat buruk jika bisa dipengaruhi oleh iblis atau setan yang memang mengemban misi, menggoda manusia untuk meragukan dan menjauhi kebenaran dan kebaikan dan mendekati kesalahan dan keburukan.
Prinsip teologis tersebut relevan dengan realitas kehidupan manusia, relasi sosial merupakan kebutuhan mendasar umat manusia, sebagaimana pesan al-Qur’an, mereka yang membangun hubungan simbiosis mutualism akan mencapai derajat kehidupan yang unggul, sementara mereka yang berbuat buruk akan mengalami kerugian dan penyesalan.
Allah Swt merupakan Tuhan Pemelihara alam semesta, Pencipta dan pengatur kehidupan manusia, Allah menganugerahkan akal pikiran untuk melakukan penalaran (reasoning), Tuhan masih mendidik dan mengilhamkan ilmu pengetahuan melalui wahyu-wahyu-Nya tentang hal-hal yang belum diketahui oleh manusia (Q.s. At-Tin: 1-5), baik dengan diminta atau tidak. Mendidik adalah bagian dari sifat Rahman dan Rahim (Kasih dan Sayang).
Kecintaan Allah pada manusia tanpa kecuali melalui sifat Rahmannya, sementara sifat Rahimnya Allah merupakan cinta Allah yang memerlukan syarat yang diperlukan.Dalam hal ini, paradigma al-Qur’an menekankan pada keutamaan manusia dengan menggunakan akal sebagai sumber utama kekuatan manusia dalam memaknai kehidupan.
Tema sentral dan fundamental dalam al-Qur’an sebagai sumber kebenaran mutlak mengatur relasi vertikal manusia dengan Allah dan relasi horisontal manusia dengan manusia lainnya. Akal manusia berfungsi untuk mencari dan menemukan kebenaran, tak sedikit temuan ilmiah yang dihasilkan oleh sarjana modern yang memiliki korelasi dengan kebenaran wahyu, itu merupakan produk akal manusia.
Wallahu a’lam bi shawab
Al-Qur’an dalam beberapa pesannya menyebut bahwa manusia itu sebenarnya diciptakan sebagai sebaik-baik makhluk, (akhsani taqwim), karena manusia merupakan mahluk Tuhan yang diberi kemampuan mempergunakan akal pikirannya yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, sehingga bisa memposisikan dirinya.
Posisi istimewa itu akan ditentukan oleh bagaimana sikap dan posisi yang dipilih manusia, dalam pesan al-Qur’an yang lain, disebutkan bahwa manusia bisa diturunkan derajatnya ke posisi atau derajat yang serendah-rendahnya, kecuali jika mereka beriman dalam menjalin ikatan dengan Tuhan untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan (hanif) sesuai dengan fitrah kejadianya (Rahardjo, 2017).
Manusia yang mengerjakan amal kebaikan akan memperoleh kemuliaan hidup, sementara manusia yang terus-menerus melakukan kejahatan, kerusakan dan dosa akan mendapatkan kehidupan yang rendah dan merugi.
Pesan moral Islam menekankan pada relasi spiritual dan relasi kemanusiaan, pesan itu diuraikan Allah Swt dalam surat Ali Imran (3): 112 “Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka...” hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya merupakan pesan sentral ayat ini.
Ketika menerjemahkan ayat ini, Dawam Rahardjo menyebut bahwa istilah “tali” (hablun) disitu mengandung arti perikatan, perjanjian, kesepakatan atau kontrak sebagai hasil aksi komunikasi, dalam pengertian filsuf Jerman Jurgen Habermas dalam teorinya mengenai pembentukan ruang publik (public sphere).
Kesepakatan atau penjanjian pertama adalah sebuah kontrak transendental, dimana manusia bersepakat atas petunjuk atau hidayah, setelah manusia beriman kepada Allah, untuk mengatur kehidupan dengan menempuh jalan hidup (syari’at) yang lurus (shirathal mustaqim).
Jalan lurus, sebagaimana disebut dalam surat al Fathihah, adalah jalan kenikmatan dalam kebahagiaan setelah menjalani hidup yang mulia yaitu bukan jalan atau cara hidup yang sesat dan jalan dan cara hidup yang dimurkai oleh Allah. Dengan menjaga tali hubungan itu, yaitu dengan menepati perjanjian dalam jalan hidup yang lurus, maka manusia akan beroleh kehidupan mulia dan terhindar dari kehinaan.
Umat Islam akan menjaga dan memelihara kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan, dalam salah satu hadist disebutkan “bahwa agama itu adalah akal, tiada agama tanpa akal”. Dalam kaitan ini, “akal” mengandung makna “tali” yang merupakan simbol dari perjanjian atau perikatan.
Manusia yang berpegang teguh pada perjanjian primordial dengan Allah merupakan pusat kesadaran sosialnya, manusia akan condong kepada apa yang disebut “fitrah”, manusia tauhid akan memiliki kecenderungan kepada kebenaran atau hanif yang mempengaruhi sikap dan tingkah laku manusia.
Manusia fitrah merupakan sosok yang berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, tauhid dan kebaikan, manusia fitrah akan menghindari perbuatan buruk, apalagi bentuk kesyirikan dan kemaksiatan, manusia yang hanif itu merupakan manusia suci yang konsisten berpegang teguh pada kebenaran.
Point ini menunjukkan bahwa manusia yang hanif berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang mengasumsikan manusia itu berkecenderungan buruk, yaitu saling membunuh dan memangsa bagaikan serigala, John Locke mempunyai asumsi manusia memiliki kecenderungan baik. Para pemikir memiliki cara bagaimana memaknai orientasi manusia.
Qur’an menyebut bahwa manusia diciptakan oleh Allah Swt sebagai sebaik-baik makhluk (akhsani taqwim), diberi kemampuan mempergunakan akal pikirannya yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah, sehingga bisa memposisikan dirinya.
Tapi manusia bisa diturunkan ke derajat yang serendah-rendahnya, kecuali jika mereka beriman dalam menjalin ikatan dengan Tuhan untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan (hanif) sesuai dengan fitrah kejadianya. Dengan amal saleh itu, maka manusia akan mendapatkan pahala yang mengalir yang memulikakan hidupnya (Q.s. At-Tin ).
Fitrah manusia akan cenderung kepada kebaikan, al-Qur’an menceritakan nilai keutamaan manusia bila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lain, keutamaan manusia itu adalah memiliki akal sebagai sumber utama yang membedakan dengan mahluk lainnya.
Konsekuensi dari keutamaan manusia itu, Allah dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat: 30-33 menceritakan bahwa ketika Tuhan akan memberikan kedaulatan-Nya kepada manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi, Tuhan memerintahkan kepada malaikat untuk tunduk mengakui kedaulatan manusia. Semua malaikat tunduk atas perintah Tuhan kecuali sebagian yang kemudian disebut “iblis”.
Alasanya adalah bahwa malaikat merasa lebih tinggi derajatnya, karena selalu tunduk dan patuh kepada dan senantiasai memahasucikan Tuhan, sedangkan manusia adalah makhluk yang dalam rekam jejaknya saling membunuh. Namun Tuhan memperlihatkan kemampuan yang tidak dimiliki oleh malaikat, yaitu kemampuan menyebut nama segala sesuatu yang merupakan kemampuan akal.
Dengan akal atau agama itulah manusia mampu membedakan antara yang benar dan salah, yang buruk dan baik. Namun Tuhan mengakui bahwa manusia akan ditimpa kehinaan dalam kehiduapnnya, kecuali bila mereka bisa memegang dan memelihara tali hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam ikatan iman dan peribadatan, dan tali hubungan antara manusia dengan manusia melalui tindakan amal saleh yang menurut penafsiran Nurcholish Madjid adalah perbuatan dan perilaku yang serasi dengan lingkungan hidup. Kadua tali hubungan atau relasi itu saling berinteraksi dan berpengaruh dalam dinamika kehidupan.
Dalam al-Qur’an sendiri dikatakan bahwa manusia itu bisa memperoleh ilham keburukan maupun kebaikan, fa alhamaha fujuroha wa taqwaaha (Q.S. Asy-Syams [91]: 8). Manusia akan terbujuk untuk berbuat buruk jika bisa dipengaruhi oleh iblis atau setan yang memang mengemban misi, menggoda manusia untuk meragukan dan menjauhi kebenaran dan kebaikan dan mendekati kesalahan dan keburukan.
Prinsip teologis tersebut relevan dengan realitas kehidupan manusia, relasi sosial merupakan kebutuhan mendasar umat manusia, sebagaimana pesan al-Qur’an, mereka yang membangun hubungan simbiosis mutualism akan mencapai derajat kehidupan yang unggul, sementara mereka yang berbuat buruk akan mengalami kerugian dan penyesalan.
Allah Swt merupakan Tuhan Pemelihara alam semesta, Pencipta dan pengatur kehidupan manusia, Allah menganugerahkan akal pikiran untuk melakukan penalaran (reasoning), Tuhan masih mendidik dan mengilhamkan ilmu pengetahuan melalui wahyu-wahyu-Nya tentang hal-hal yang belum diketahui oleh manusia (Q.s. At-Tin: 1-5), baik dengan diminta atau tidak. Mendidik adalah bagian dari sifat Rahman dan Rahim (Kasih dan Sayang).
Kecintaan Allah pada manusia tanpa kecuali melalui sifat Rahmannya, sementara sifat Rahimnya Allah merupakan cinta Allah yang memerlukan syarat yang diperlukan.Dalam hal ini, paradigma al-Qur’an menekankan pada keutamaan manusia dengan menggunakan akal sebagai sumber utama kekuatan manusia dalam memaknai kehidupan.
Tema sentral dan fundamental dalam al-Qur’an sebagai sumber kebenaran mutlak mengatur relasi vertikal manusia dengan Allah dan relasi horisontal manusia dengan manusia lainnya. Akal manusia berfungsi untuk mencari dan menemukan kebenaran, tak sedikit temuan ilmiah yang dihasilkan oleh sarjana modern yang memiliki korelasi dengan kebenaran wahyu, itu merupakan produk akal manusia.
Wallahu a’lam bi shawab
(UMI)
Berita Terkait
News
Dari Athena sampai Nusantara: Merawat Nalar di Tengah Kekuasaan yang Menggoda
TULISAN ini merupakan refleksi yang muncul setelah mengikuti bedah buku Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan karya Al Makin dalam Forum Guru Besar Insan Cita.
Rabu, 11 Mar 2026 06:07
News
Ekspresi Islam Indonesia
Di Indonesia, ekspresi kalangan Islam memiliki orientasi yang berbeda-beda dengan satu aliran yang mayoritas diikuti oleh Islam Indonesia yakni Ahlussunah wal-jama’ah, suatu barisan Islam yang mengikuti Rasulullah saw dan para sahabatNya.
Selasa, 10 Mar 2026 12:07
News
Satu Islam, Banyak Ekspresi
Islam sejak diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah saw 14/15 abad yang lampau tidak ada yang berubah, masih sama, tidak ada yang tambah dan juga tidak ada yang kurang.
Senin, 09 Mar 2026 16:46
News
Islam Ibadah dan Islam Politik
Istilah yang disematkan kepada Islam memang tidaklah sedikit, varian yang muncul akibat ekspresi Islam yang tidak sama, termasuk istilah yang saya gunakan dalam tulisan ini yakni Islam ibadah.
Sabtu, 07 Mar 2026 13:05
News
Demokrasi “Islam” Indonesia
Demokrasi Indonesia yang dirancang founding fathers mencerminkan kekhasan Indonesia, demokrasi yang dihasilkan dari tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa, demokrasi yang tidak seluruhnya mengikuti demokrasi Barat.
Jum'at, 06 Mar 2026 14:16
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler