Satu Mei, Banyak Janji: Satire atas Demokrasi yang Lupa Membayar
Jum'at, 01 Mei 2026 17:04
Oleh Samsir Salam.
HARI Buruh Internasional yang lebih populer disebut May Day, kembali hadir sebagai panggung tahunan yang penuh semangat. Spanduk dibentangkan, orasi dikumandangkan, dan janji-janji kembali diproduksi dengan rapi. Di hari ini, buruh menjadi pusat perhatian. Mereka disapa, dipuji, bahkan diperjuangkan setidaknya dalam kata-kata.
Namun seperti banyak hal dalam demokrasi kita, perhatian itu tampaknya memiliki masa berlaku: satu hari.
Selebihnya, buruh kembali ke habitat lamanya menjadi angka dalam statistik ketenagakerjaan, variabel dalam perhitungan investasi, dan objek dalam kebijakan yang sering kali tidak mereka rumuskan. Demokrasi, yang seharusnya menjadi ruang partisipasi setara, justru menjelma menjadi panggung yang timpang: suara buruh nyaring di jalanan, tetapi sayup di ruang kekuasaan.
Kita menyaksikan sebuah ironi yang terus berulang. Negara begitu disiplin menyelenggarakan prosedur demokrasi pemilu tepat waktu, lembaga lengkap, regulasi berlapis. Tetapi pada saat yang sama, ia tampak gamang dalam memenuhi hal yang paling mendasar: memastikan buruh menerima haknya secara adil dan tepat waktu. Seolah-olah demokrasi cukup diukur dari seberapa sering rakyat memilih, bukan dari seberapa layak mereka hidup setelahnya.
Lebih ironis lagi, nilai keadilan yang begitu elementer justru telah lama diajarkan dengan sangat sederhana. Sang Maestro pejuang kaum Mustadhafin nabi Muhammad saw. pernah bersabda:
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.”(HR. Ibnu Majah)
Sebuah pesan yang singkat, tetapi menghantam keras realitas kita hari ini. Di tengah kompleksitas regulasi dan jargon kebijakan, kita justru kesulitan menjalankan prinsip yang begitu mendasar. Upah ditunda, hak dinegosiasikan, dan keadilan sering kali menunggu entah sampai kapan.
Di titik ini, demokrasi seperti sedang bercermin dan yang tampak bukanlah wajah ideal yang sering diklaim, melainkan bayangan yang retak. Ia fasih berbicara tentang kedaulatan rakyat, tetapi ragu ketika harus berpihak secara nyata. Ia lantang menjanjikan kesejahteraan, tetapi pelan dalam menunaikannya.
“Satu Mei, banyak janji” bukan sekadar kritik, melainkan diagnosis. Ada yang keliru dalam cara kita memaknai demokrasi. Kita terlalu sibuk merawat prosedur, tetapi lalai memastikan substansi. Kita merayakan kebebasan politik, tetapi membiarkan ketidakadilan ekonomi berlangsung tanpa koreksi yang serius.
Maka, Hari Buruh seharusnya tidak lagi menjadi sekadar perayaan, tetapi momen pembongkaran membongkar ilusi bahwa demokrasi telah bekerja dengan baik. Sebab demokrasi yang sehat tidak hanya menjamin hak untuk bersuara, tetapi juga memastikan bahwa suara itu berbuah kesejahteraan.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mendasar: untuk siapa demokrasi ini bekerja?
Jika buruh yang menjadi tulang punggung ekonomi masih harus berjuang untuk hak yang paling dasar, maka mungkin masalahnya bukan pada kurangnya perayaan, melainkan pada terlalu banyaknya janji yang tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk ditepati.
HARI Buruh Internasional yang lebih populer disebut May Day, kembali hadir sebagai panggung tahunan yang penuh semangat. Spanduk dibentangkan, orasi dikumandangkan, dan janji-janji kembali diproduksi dengan rapi. Di hari ini, buruh menjadi pusat perhatian. Mereka disapa, dipuji, bahkan diperjuangkan setidaknya dalam kata-kata.
Namun seperti banyak hal dalam demokrasi kita, perhatian itu tampaknya memiliki masa berlaku: satu hari.
Selebihnya, buruh kembali ke habitat lamanya menjadi angka dalam statistik ketenagakerjaan, variabel dalam perhitungan investasi, dan objek dalam kebijakan yang sering kali tidak mereka rumuskan. Demokrasi, yang seharusnya menjadi ruang partisipasi setara, justru menjelma menjadi panggung yang timpang: suara buruh nyaring di jalanan, tetapi sayup di ruang kekuasaan.
Kita menyaksikan sebuah ironi yang terus berulang. Negara begitu disiplin menyelenggarakan prosedur demokrasi pemilu tepat waktu, lembaga lengkap, regulasi berlapis. Tetapi pada saat yang sama, ia tampak gamang dalam memenuhi hal yang paling mendasar: memastikan buruh menerima haknya secara adil dan tepat waktu. Seolah-olah demokrasi cukup diukur dari seberapa sering rakyat memilih, bukan dari seberapa layak mereka hidup setelahnya.
Lebih ironis lagi, nilai keadilan yang begitu elementer justru telah lama diajarkan dengan sangat sederhana. Sang Maestro pejuang kaum Mustadhafin nabi Muhammad saw. pernah bersabda:
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.”(HR. Ibnu Majah)
Sebuah pesan yang singkat, tetapi menghantam keras realitas kita hari ini. Di tengah kompleksitas regulasi dan jargon kebijakan, kita justru kesulitan menjalankan prinsip yang begitu mendasar. Upah ditunda, hak dinegosiasikan, dan keadilan sering kali menunggu entah sampai kapan.
Di titik ini, demokrasi seperti sedang bercermin dan yang tampak bukanlah wajah ideal yang sering diklaim, melainkan bayangan yang retak. Ia fasih berbicara tentang kedaulatan rakyat, tetapi ragu ketika harus berpihak secara nyata. Ia lantang menjanjikan kesejahteraan, tetapi pelan dalam menunaikannya.
“Satu Mei, banyak janji” bukan sekadar kritik, melainkan diagnosis. Ada yang keliru dalam cara kita memaknai demokrasi. Kita terlalu sibuk merawat prosedur, tetapi lalai memastikan substansi. Kita merayakan kebebasan politik, tetapi membiarkan ketidakadilan ekonomi berlangsung tanpa koreksi yang serius.
Maka, Hari Buruh seharusnya tidak lagi menjadi sekadar perayaan, tetapi momen pembongkaran membongkar ilusi bahwa demokrasi telah bekerja dengan baik. Sebab demokrasi yang sehat tidak hanya menjamin hak untuk bersuara, tetapi juga memastikan bahwa suara itu berbuah kesejahteraan.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun mendasar: untuk siapa demokrasi ini bekerja?
Jika buruh yang menjadi tulang punggung ekonomi masih harus berjuang untuk hak yang paling dasar, maka mungkin masalahnya bukan pada kurangnya perayaan, melainkan pada terlalu banyaknya janji yang tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk ditepati.
(GUS)
Berita Terkait
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
News
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Di sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.
Rabu, 19 Agu 2026 20:52
News
Memaknai Kemerdekaan: Pendidikan untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur
SETIAP 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali menundukkan kepala untuk mengenang pengorbanan para founding fathers dan para pahlawan yang dengan nasionalisme dan patriotisme telah mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan.
Senin, 17 Agu 2026 10:59
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Sitti Husniah Talenrang jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi PBG
2
Bertahun-Tahun Mangkrak, Warga Tole-Tole Desak Pindahkan Ekskavator dari Badan Jalan
3
Bupati AAS Ungkap Proyek Triliunan Masuk Bone, Ribuan Lapangan Kerja Terbuka
4
MG ZS Hybrid+ Masuk Makassar, Tawarkan Fleksibilitas untuk Mobilitas Jarak Jauh
5
Pertamina Gandeng Mahasiswa Perkuat Pengawasan Distribusi BBM & LPG Bersubsidi di Sulsel
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Sitti Husniah Talenrang jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi PBG
2
Bertahun-Tahun Mangkrak, Warga Tole-Tole Desak Pindahkan Ekskavator dari Badan Jalan
3
Bupati AAS Ungkap Proyek Triliunan Masuk Bone, Ribuan Lapangan Kerja Terbuka
4
MG ZS Hybrid+ Masuk Makassar, Tawarkan Fleksibilitas untuk Mobilitas Jarak Jauh
5
Pertamina Gandeng Mahasiswa Perkuat Pengawasan Distribusi BBM & LPG Bersubsidi di Sulsel