Opini

Sekolah Bukan Pabrik Nilai

Senin, 03 Agu 2026 09:37
Sekolah Bukan Pabrik Nilai
Humas Sekolah Islam Athirah Wahyu Saputra. Foto/Istimewa
Comment
Share
Oleh : Wahyu Saputra
Humas Sekolah Islam Athirah

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu terdengar ketika seorang anak pulang membawa rapor.

"Nilainya berapa?"

Jarang sekali ada yang bertanya, "Apa hal baru yang kamu pelajari selama satu semester ini?"

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menggambarkan cara kita memandang pendidikan. Kita terlalu akrab dengan angka. Nilai tinggi membuat kita lega, sedangkan nilai rendah membuat kita panik. Di tengah kebiasaan itu, pelan-pelan kita lupa bahwa sekolah tidak pernah didirikan untuk memproduksi angka.

Saya sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang setiap selesai ujian hanya menunggu satu hal: penilaian. Bukan tentang apakah ia sudah berusaha. Bukan tentang apakah ia mulai berani berbicara di depan kelas. Bukan pula tentang apakah ia kini lebih jujur atau lebih peduli kepada teman-temannya. Semua seolah diringkas menjadi satu pertanyaan, "Dapat berapa?

Padahal, kehidupan tidak sesederhana rapor.

Tidak ada perusahaan yang merekrut seseorang hanya karena dahulu ia memperoleh nilai 100 saat sekolah dasar. Tidak ada tetangga yang menghormati kita semata-mata karena pernah menjadi juara kelas. Yang dicari orang justru hal-hal yang sering kali tidak pernah tertulis dalam rapor: apakah kita dapat dipercaya, mampu bekerja sama, menghargai orang lain, atau tetap tenang ketika menghadapi masalah.

Ironisnya, justru kemampuan seperti itulah yang sering luput dari perhatian.

Kita terlalu sibuk mengejar angka hingga lupa bahwa anak-anak juga sedang belajar menjadi manusia.

Saya pernah melihat seorang anak yang nilai akademiknya biasa saja. Ia tidak pernah masuk daftar juara. Namun, setiap pagi, dialah yang pertama membantu temannya mengangkat kursi. Ketika ada teman yang lupa membawa bekal, ia membaginya tanpa diminta. Saat temannya menangis karena dimarahi guru, ia datang untuk menenangkan.

Semua itu tidak pernah muncul di rapor.

Tidak ada kolom yang menuliskan bahwa anak ini memiliki empati yang besar. Tidak ada angka untuk mengukur kepeduliannya. Padahal, bisa jadi sifat itulah yang kelak membuatnya lebih berhasil dalam kehidupan daripada sekadar kemampuan menghafal rumus.

Bukan berarti nilai tidak penting. Nilai tetap dibutuhkan sebagai alat untuk melihat perkembangan belajar. Guru juga memerlukan ukuran agar dapat mengevaluasi proses pembelajaran. Masalahnya muncul ketika nilai berubah menjadi tujuan utama, bukan lagi sekadar alat.

Akibatnya, belajar kehilangan makna.

Anak-anak membaca buku karena takut menghadapi ulangan. Mereka menghafal karena ingin memperoleh nilai tinggi. Setelah ujian selesai, sebagian besar materi pun ikut hilang. Yang tersisa hanyalah rasa lega karena berhasil melewati tes.

Kalau pendidikan hanya berhenti sampai di situ, berarti kita sedang mengajarkan anak mengejar hasil tanpa menikmati proses.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, memperoleh jawaban sudah tidak sesulit dahulu. Dalam hitungan detik, mesin dapat menyelesaikan soal, membuat ringkasan, bahkan menulis esai. Jika sekolah hanya mengajarkan anak mencari jawaban yang benar, cepat atau lambat teknologi akan melakukannya dengan lebih baik.

Yang tidak dapat digantikan oleh mesin adalah karakter.

Kejujuran tidak bisa diunduh. Empati tidak bisa diciptakan oleh aplikasi. Tanggung jawab tidak lahir dari kecerdasan buatan. Semua itu tumbuh dari kebiasaan, keteladanan, serta interaksi antara guru, orang tua, dan anak setiap hari.

Di sinilah sekolah memegang peran yang sesungguhnya. Bukan sebagai tempat mencetak anak-anak dengan nilai yang seragam, melainkan sebagai ruang tempat setiap anak menemukan dirinya. Ada yang tumbuh melalui angka. Ada yang berkembang lewat seni. Ada yang bersinar di lapangan olahraga. Ada pula yang menjadi penggerak bagi teman-temannya.

Mereka tidak harus sama.

Sebab, pendidikan memang tidak pernah berbicara tentang menyeragamkan manusia. Pendidikan adalah proses membantu setiap anak menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan yang selama ini terlalu sering kita ulang.

Bukan lagi, "Berapa nilaimu?"

Melainkan, "Hari ini kamu belajar menjadi orang seperti apa?"

Sebab, pada akhirnya, sekolah bukanlah pabrik yang menghasilkan angka. Sekolah adalah tempat yang menumbuhkan manusia. Dan manusia tidak pernah bisa diukur hanya dengan selembar rapor.
(TRI)
Berita Terkait
Berkat Dukungan PLN, SMKN 1 Konawe Utara Kini Miliki Laboratorium TIK Sendiri
News
Berkat Dukungan PLN, SMKN 1 Konawe Utara Kini Miliki Laboratorium TIK Sendiri
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menghadirkan laboratorium TIK di SMKN 1 Konawe Utara pada 2025.
Kamis, 30 Jul 2026 11:01
Kebijakan yang Mungkin Tak Populer, Tetapi Selamatkan Masa Depan Makassar
News
Kebijakan yang Mungkin Tak Populer, Tetapi Selamatkan Masa Depan Makassar
Bagi sebagian orang, kebiasaan baru ini dianggap merepotkan. Sampah organik, terutama limbah dapur, dinilai membutuhkan waktu untuk dikelola, memerlukan tempat khusus, bahkan dikhawatirkan dapat menimbulkan bau di lingkungan rumah.
Rabu, 29 Jul 2026 22:01
Pengelolaan Dana Kekayaan Negara (Danantara): Antara Stabilitas Makroekonomi, Investasi Strategis, & Akuntabilitas Publik
News
Pengelolaan Dana Kekayaan Negara (Danantara): Antara Stabilitas Makroekonomi, Investasi Strategis, & Akuntabilitas Publik
Dalam beberapa dekade terakhir, pengelolaan dana cadangan negara telah berkembang dari sekadar instrumen penyimpanan devisa menjadi instrumen strategis yang mampu menentukan arah pembangunan ekonomi suatu negara.
Rabu, 29 Jul 2026 10:25
Ayah Hadir atau Sekadar Viral? Menguji Kampanye #AyahWajibHadir di Era Algoritma Media Sosial
News
Ayah Hadir atau Sekadar Viral? Menguji Kampanye #AyahWajibHadir di Era Algoritma Media Sosial
KAMPANYE "Ayah Wajib Hadir" memenuhi linimasa media sosial dengan ribuan unggahan inspiratif. Di balik viralitas tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah media sosial benar-benar mampu mengubah budaya pengasuhan, atau hanya memperkuat simbol yang cepat dilupakan?
Kamis, 23 Jul 2026 15:42
Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029
News
Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan seharusnya tidak berhenti sebagai agenda lima tahunan untuk memilih ketua.
Sabtu, 18 Jul 2026 14:16
Berita Terbaru