Melihat Kembali Makna Hari Buruh
Jum'at, 01 Mei 2026 08:32
Andi Makmur Burhanuddin, Legislator DPRD Makassar. Foto: Istimewa
Oleh Andi Makmur Burhanuddin
(Legislator DPRD Makassar)
SUDAH lebih dari satu abad sejak Hari Buruh dicanangkan, berakar dari peristiwa pada 1 Mei 1886 di Chicago, ketika para pekerja turun ke jalan menuntut jam kerja yang lebih manusiawi sebuah perjuangan yang kemudian dikenang dunia sebagai titik awal lahirnya Hari Buruh Internasional.
Hari ini, banyak hal telah berubah dalam dunia kerja. Ada yang tetap, ada yang berkembang, dan ada pula yang bergeser mengikuti zaman. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah keyakinan bahwa setiap pekerjaan semestinya mendapatkan penghargaan yang setimpal, dengan kondisi kerja yang wajar dan manusiawi. Sebab di balik setiap pekerjaan, selalu ada manusia dengan kebutuhan hidup, tanggung jawab, dan harapan yang sama sederhananya: dihargai atas apa yang mereka lakukan.
Kita bisa melihatnya dalam keseharian. Buruh bangunan harian yang bekerja di bawah terik matahari demi menyelesaikan satu demi satu struktur yang kita gunakan. Pengemudi ojek online yang berpindah dari satu perjalanan ke perjalanan lain, memastikan orang sampai tujuan dan kebutuhan terpenuhi. Para sales dan marketing produk yang terus bergerak, bertemu banyak orang, membawa produk dari satu pintu ke pintu lain, sering kali dengan ketidakpastian hasil di akhir hari.
Mereka adalah bagian dari denyut kehidupan kota yang sering kita anggap biasa. Namun di balik rutinitas itu, ada tenaga, waktu, dan ketekunan yang tidak sederhana.
Hari Buruh selalu menjadi momen untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dekat kehidupan para pekerja di sekitar kita.
Hari Buruh adalah tentang manusia tentang orang-orang yang setiap hari bangun lebih pagi dari banyak orang, menyiapkan diri, lalu berangkat bekerja dengan membawa harapan sederhana: kehidupan yang lebih baik untuk diri mereka dan keluarga yang mereka cintai.
Di balik apa yang sering kita anggap biasa jalan yang kita lewati, bangunan yang berdiri kokoh, makanan yang tersaji di meja, hingga layanan yang memudahkan hidup ada begitu banyak tangan yang bekerja dengan tekun. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, dan kadang rasa lelah yang dipendam tanpa banyak kata.
Tidak semua pekerjaan terlihat, tidak semua usaha mendapat sorotan. Namun setiap peran memiliki arti. Setiap keringat yang jatuh adalah bagian dari cerita besar tentang bagaimana kehidupan terus berjalan.
Hari ini bukan hanya soal peringatan, tetapi tentang mengingat kembali bahwa di sekitar kita ada banyak orang yang berjuang dengan cara mereka masing-masing. Mereka punya mimpi, kekhawatiran, dan harapan yang tidak jauh berbeda dari kita semua.
Semoga kita bisa lebih peka lebih menghargai, lebih memahami, dan lebih peduli. Bukan hanya hari ini, tetapi juga dalam keseharian. Karena pada akhirnya, dunia kerja bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang manusia di dalamnya.
Selamat Hari Buruh. Semoga setiap langkah, sekecil apa pun, selalu membawa kebaikan.
(Legislator DPRD Makassar)
SUDAH lebih dari satu abad sejak Hari Buruh dicanangkan, berakar dari peristiwa pada 1 Mei 1886 di Chicago, ketika para pekerja turun ke jalan menuntut jam kerja yang lebih manusiawi sebuah perjuangan yang kemudian dikenang dunia sebagai titik awal lahirnya Hari Buruh Internasional.
Hari ini, banyak hal telah berubah dalam dunia kerja. Ada yang tetap, ada yang berkembang, dan ada pula yang bergeser mengikuti zaman. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah keyakinan bahwa setiap pekerjaan semestinya mendapatkan penghargaan yang setimpal, dengan kondisi kerja yang wajar dan manusiawi. Sebab di balik setiap pekerjaan, selalu ada manusia dengan kebutuhan hidup, tanggung jawab, dan harapan yang sama sederhananya: dihargai atas apa yang mereka lakukan.
Kita bisa melihatnya dalam keseharian. Buruh bangunan harian yang bekerja di bawah terik matahari demi menyelesaikan satu demi satu struktur yang kita gunakan. Pengemudi ojek online yang berpindah dari satu perjalanan ke perjalanan lain, memastikan orang sampai tujuan dan kebutuhan terpenuhi. Para sales dan marketing produk yang terus bergerak, bertemu banyak orang, membawa produk dari satu pintu ke pintu lain, sering kali dengan ketidakpastian hasil di akhir hari.
Mereka adalah bagian dari denyut kehidupan kota yang sering kita anggap biasa. Namun di balik rutinitas itu, ada tenaga, waktu, dan ketekunan yang tidak sederhana.
Hari Buruh selalu menjadi momen untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dekat kehidupan para pekerja di sekitar kita.
Hari Buruh adalah tentang manusia tentang orang-orang yang setiap hari bangun lebih pagi dari banyak orang, menyiapkan diri, lalu berangkat bekerja dengan membawa harapan sederhana: kehidupan yang lebih baik untuk diri mereka dan keluarga yang mereka cintai.
Di balik apa yang sering kita anggap biasa jalan yang kita lewati, bangunan yang berdiri kokoh, makanan yang tersaji di meja, hingga layanan yang memudahkan hidup ada begitu banyak tangan yang bekerja dengan tekun. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dikeluarkan, dan kadang rasa lelah yang dipendam tanpa banyak kata.
Tidak semua pekerjaan terlihat, tidak semua usaha mendapat sorotan. Namun setiap peran memiliki arti. Setiap keringat yang jatuh adalah bagian dari cerita besar tentang bagaimana kehidupan terus berjalan.
Hari ini bukan hanya soal peringatan, tetapi tentang mengingat kembali bahwa di sekitar kita ada banyak orang yang berjuang dengan cara mereka masing-masing. Mereka punya mimpi, kekhawatiran, dan harapan yang tidak jauh berbeda dari kita semua.
Semoga kita bisa lebih peka lebih menghargai, lebih memahami, dan lebih peduli. Bukan hanya hari ini, tetapi juga dalam keseharian. Karena pada akhirnya, dunia kerja bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang manusia di dalamnya.
Selamat Hari Buruh. Semoga setiap langkah, sekecil apa pun, selalu membawa kebaikan.
(GUS)
Berita Terkait
News
Perempuan, Gender, dan Kepemimpinan Pendidikan
Setiap tanggal 21 April, Indonesia bersukacita merayakan Hari Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik.
Senin, 27 Apr 2026 11:22
News
Iman yang Bergerak: Dari Kesadaran Menuju Kemenangan
QS. At-Taubah/9: 20 menghadirkan satu pesan yang tegas sekaligus mendalam: bahwa iman sejati bukan sekadar keyakinan batin, melainkan energi yang melahirkan gerak hijrah dan jihad
Rabu, 22 Apr 2026 09:11
News
Jusuf Kalla Tidak Mungkin Menista Agama
Hanya berselang sehari, setelah Jusuf Kalla (JK) menentukan sikap, melaporkan dugaan fitnah atas dirinya yang dituding oleh Rismon Sianipar, menjadi pendonor di balik kisruh “ijazah palsu” Jokowi.
Senin, 20 Apr 2026 08:47
News
Milad Bawaslu: Antara Prosedur Demokrasi dan Krisis Integritas
MOMENTUM Milad Bawaslu bukan sekadar penanda usia kelembagaan, tetapi ruang kontemplasi atas tanggung jawab besar dalam menjaga arah demokrasi. Selamat Milad Bawaslu RI ke-18: Mengukuhkan Demokrasi.
Rabu, 08 Apr 2026 13:51
News
Saatnya Menata Ulang Manajemen Sekolah
Meski tetap berpijak pada cita-cita luhur yang sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, strategi yang ditempuh Abdul Mu'ti kini menunjukkan pergeseran signifikan dari pendahulunya.
Kamis, 02 Apr 2026 06:12
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Penuhi Persyaratan, Achmad Fadhil Siap Bertarung di Muscab HIPMI Gowa
2
1.200 Siswa SIT Darul Fikri Makassar Ikut Simulasi Manasik Haji Terpadu
3
Sudah Masuk Musim Kemarau, Tapi Masih Hujan? Ini Penjelasan BMKG
4
GMTD Bagikan Dividen dan Sahkan Pengurus di RUPST 2026
5
Guru SMPN 1 Arungkeke Kenakan Pakaian Adat di Hari Jadi Jeneponto
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Penuhi Persyaratan, Achmad Fadhil Siap Bertarung di Muscab HIPMI Gowa
2
1.200 Siswa SIT Darul Fikri Makassar Ikut Simulasi Manasik Haji Terpadu
3
Sudah Masuk Musim Kemarau, Tapi Masih Hujan? Ini Penjelasan BMKG
4
GMTD Bagikan Dividen dan Sahkan Pengurus di RUPST 2026
5
Guru SMPN 1 Arungkeke Kenakan Pakaian Adat di Hari Jadi Jeneponto