Politik Boleh Lupa, Tapi Kami Tidak
Senin, 26 Jan 2026 13:04
Illank Radjab, SH (Pendiri Lembaga Study Hukum Dan Advokasi Rakyat Sulawesi Selatan (LASKAR SULSEL). Foto: Istimewa
Oleh: Illank Radjab, SH(Pendiri Lembaga Study Hukum Dan Advokasi Rakyat Sulawesi Selatan (LASKAR SULSEL).
"Menyikapi Mundurnya RMS dari Partai Nasdem"
DUNIA politik berbicara dengan suara keras—deret angka, kursi yang berderet, janji yang dipoles cahaya sorot kamera, tepuk tangan yang menipu lebih sering daripada mengakui.
Tapi ada sunyi. Sunyi yang menembus nadi, yang meninggalkan luka di permukaan sejarah, aroma pengkhianatan yang hanya bisa dicium oleh mereka yang menatap politik dengan mata hati.
Mundurnya Rusdi Masse bukan sekadar headline, bukan sekadar perubahan label. Ia adalah gema lirih, getir, yang menegaskan: politik boleh lupa, tapi nurani tidak. Figur yang pernah menjadi simbol kini menapak jalan sendiri.
Apakah langkah itu lahir dari pertimbangan rasional, atau dari kosmetika citra yang menutupi retorika kosong?
Robert A Dahl mengingatkan: kekuasaan tersebar dalam jaringan, setiap keputusan adalah respons terhadap tekanan, pengaruh, dan ambisi.
Loyalitas dibungkus kepatuhan mempesona; keberanian dijadikan gestur terukur. Tapi jejak langkah tidak pernah berdusta. Ia tertulis di antara nadi sejarah, menunggu mata yang berani membaca, hati yang tidak bisa dibeli.
Bagi mereka yang masih menempatkan kesetiaan sebagai martabat, bagi yang masih mengagungkan konsistensi bersikap, bagi yang menuntut pembelajaran moral politik: Ucapkan selamat tinggal untuk Rusdi Masse.
Apapun pola kampanye politiknya, pragmatisme, demonstrasi, retorika yang dipoles, jejak itu akan terbaca oleh zaman. Ia meninggalkan pelajaran pahit, namun menjadi suluh bagi mereka yang menyalakan api integritas. Cahaya yang tidak padam oleh sorot lampu atau headline sesaat.
Langkah mundur RMS adalah pertanyaan yang mengalir di nadi generasi yang memperhatikan sejarah dengan mata telanjang, dengan hati yang tak bisa ditipu.
Giovanni Sartori mengingatkan: sistem partai adalah arena simbolik. Figur yang meninggalkan partai bukan sekadar pindah; ia menegaskan atau meragukan makna kesetiaan.
Setiap mundur adalah duri yang menusuk tekstur sejarah. Tidak terdengar oleh banyak orang, tapi terasa oleh mereka yang melihat politik sebagai medan moral, medan peperangan diam yang menuntut keberanian.
Etika politik, menurut Michael Walzer, mengajarkan: pengkhianatan terhadap kesetiaan adalah duri bagi pembelajaran, luka bagi komunitas, bayangan bagi masa depan.
Politik bukan sekadar citra, bukan sekadar gestur; politik adalah narasi. Politik adalah sejarah yang berjalan. Mundurnya RMS adalah bab yang tidak bisa dihapus. Sunyi tapi menggaung. Memaksa mereka yang menilai dengan nurani untuk tidak berdiam diri.
Dunia politik adalah medan pertempuran yang tak terlihat.
Apakah figur akan bertarung dengan kosmetika citra instan, ataukah ia akan membiarkan jejaknya berbicara dengan bahasa keberanian?
Setiap langkah, setiap bisikan, tercatat, bukan di headline atau timeline, tapi di antara percakapan warga yang jeli, di catatan pengamat yang menulis tanpa sorotan kamera, di nadi yang tidak berdusta.
RMS kini berdiri di persimpangan: antara narasi instan dan integritas abadi, antara pengakuan yang dipoles dan konsekuensi nyata.
Dunia politik boleh lupa; sorot lampu akan padam, headline akan diganti.Tapi bagi mereka yang mencatat, langkah ini adalah fragmen lirih: simbol atau luka. Pengingat bahwa politik memang boleh lupa, tapi kesetiaan, integritas, dan nurani tidak.
Politik bukan sekadar pertarungan suara. Politik adalah puisi yang tertulis dalam langkah manusia.Mundurnya RMS adalah bait lirih, membisu tapi berbicara, sunyi tapi bergaung, meninggalkan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu, oleh keberanian, oleh integritas yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipoles.
Bagi siapa pun yang menyalakan suluh perjuangan moral, bagi hati yang menuntut keadilan dan konsistensi, langkah mundur ini adalah pelajaran dan peringatan:politik boleh menghapus nama, memoles citra, menghidupkan retorika, tapi sejarah akan menuntut jawaban. Politik boleh lupa, tapi kami tidak!!!
"Menyikapi Mundurnya RMS dari Partai Nasdem"
DUNIA politik berbicara dengan suara keras—deret angka, kursi yang berderet, janji yang dipoles cahaya sorot kamera, tepuk tangan yang menipu lebih sering daripada mengakui.
Tapi ada sunyi. Sunyi yang menembus nadi, yang meninggalkan luka di permukaan sejarah, aroma pengkhianatan yang hanya bisa dicium oleh mereka yang menatap politik dengan mata hati.
Mundurnya Rusdi Masse bukan sekadar headline, bukan sekadar perubahan label. Ia adalah gema lirih, getir, yang menegaskan: politik boleh lupa, tapi nurani tidak. Figur yang pernah menjadi simbol kini menapak jalan sendiri.
Apakah langkah itu lahir dari pertimbangan rasional, atau dari kosmetika citra yang menutupi retorika kosong?
Robert A Dahl mengingatkan: kekuasaan tersebar dalam jaringan, setiap keputusan adalah respons terhadap tekanan, pengaruh, dan ambisi.
Loyalitas dibungkus kepatuhan mempesona; keberanian dijadikan gestur terukur. Tapi jejak langkah tidak pernah berdusta. Ia tertulis di antara nadi sejarah, menunggu mata yang berani membaca, hati yang tidak bisa dibeli.
Bagi mereka yang masih menempatkan kesetiaan sebagai martabat, bagi yang masih mengagungkan konsistensi bersikap, bagi yang menuntut pembelajaran moral politik: Ucapkan selamat tinggal untuk Rusdi Masse.
Apapun pola kampanye politiknya, pragmatisme, demonstrasi, retorika yang dipoles, jejak itu akan terbaca oleh zaman. Ia meninggalkan pelajaran pahit, namun menjadi suluh bagi mereka yang menyalakan api integritas. Cahaya yang tidak padam oleh sorot lampu atau headline sesaat.
Langkah mundur RMS adalah pertanyaan yang mengalir di nadi generasi yang memperhatikan sejarah dengan mata telanjang, dengan hati yang tak bisa ditipu.
Giovanni Sartori mengingatkan: sistem partai adalah arena simbolik. Figur yang meninggalkan partai bukan sekadar pindah; ia menegaskan atau meragukan makna kesetiaan.
Setiap mundur adalah duri yang menusuk tekstur sejarah. Tidak terdengar oleh banyak orang, tapi terasa oleh mereka yang melihat politik sebagai medan moral, medan peperangan diam yang menuntut keberanian.
Etika politik, menurut Michael Walzer, mengajarkan: pengkhianatan terhadap kesetiaan adalah duri bagi pembelajaran, luka bagi komunitas, bayangan bagi masa depan.
Politik bukan sekadar citra, bukan sekadar gestur; politik adalah narasi. Politik adalah sejarah yang berjalan. Mundurnya RMS adalah bab yang tidak bisa dihapus. Sunyi tapi menggaung. Memaksa mereka yang menilai dengan nurani untuk tidak berdiam diri.
Dunia politik adalah medan pertempuran yang tak terlihat.
Apakah figur akan bertarung dengan kosmetika citra instan, ataukah ia akan membiarkan jejaknya berbicara dengan bahasa keberanian?
Setiap langkah, setiap bisikan, tercatat, bukan di headline atau timeline, tapi di antara percakapan warga yang jeli, di catatan pengamat yang menulis tanpa sorotan kamera, di nadi yang tidak berdusta.
RMS kini berdiri di persimpangan: antara narasi instan dan integritas abadi, antara pengakuan yang dipoles dan konsekuensi nyata.
Dunia politik boleh lupa; sorot lampu akan padam, headline akan diganti.Tapi bagi mereka yang mencatat, langkah ini adalah fragmen lirih: simbol atau luka. Pengingat bahwa politik memang boleh lupa, tapi kesetiaan, integritas, dan nurani tidak.
Politik bukan sekadar pertarungan suara. Politik adalah puisi yang tertulis dalam langkah manusia.Mundurnya RMS adalah bait lirih, membisu tapi berbicara, sunyi tapi bergaung, meninggalkan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh waktu, oleh keberanian, oleh integritas yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipoles.
Bagi siapa pun yang menyalakan suluh perjuangan moral, bagi hati yang menuntut keadilan dan konsistensi, langkah mundur ini adalah pelajaran dan peringatan:politik boleh menghapus nama, memoles citra, menghidupkan retorika, tapi sejarah akan menuntut jawaban. Politik boleh lupa, tapi kami tidak!!!
(GUS)
Berita Terkait
News
RMS Pergi, NasDem Goyang? PSI Tak Otomatis Diuntungkan
Kabar pamitnya Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem sejatinya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Selama hampir setahun terakhir, isu ini berulang kali beredar di ruang publik, meskipun kerap dibantah oleh jajaran DPW NasDem Sulawesi Selatan.
Senin, 26 Jan 2026 12:45
News
Jalan Berstatus Provinsi, Derita Menjadi Milik Kabupaten
Maka, Jalan provinsi di Gowa dan Luwu maupun di kabupaten lainnya mampu mengajarkan satu hal penting kepada kita bahwa status boleh berada di provinsi, tetapi penderitaan selalu bermukim di kabupaten.
Minggu, 25 Jan 2026 13:31
News
Dosa Sosial dan Kelalaian Negara di atas Saluran Drainase
Ada kota yang tampak hidup karena ramainya aktivitas warganya. Ada pula kota yang tampak sibuk karena warganya berjuang bertahan hidup.
Kamis, 22 Jan 2026 18:12
News
Menuju Setahun Kepemimpinan SAR-Kanaah, Sidrap sebagai Barometer Baru Ekonomi Sulsel
Saat kepemimpinan Kabupaten Sidrap berpindah ke Bupati Syaharuddin Alrif (SAR) dan Wakil Bupati Nurkanaah pada tahun 2025, optimisme masyarakat akan adanya perubahan begitu besar.
Rabu, 21 Jan 2026 12:04
News
Slow Communication di Tengah Histeria Media Sosial
Di tengah histeria media sosial yang ditandai oleh kecepatan, respons instan, dan obsesi pada visibilitas, praktik komunikasi manusia mengalami pergeseran mendasar.
Selasa, 20 Jan 2026 23:18
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Air Terjun Barassang Dinilai Berpotensi Jadi Ikon Wisata Baru Gowa
2
Bupati Fathul Fauzy Resmikan Pembangunan Pesantren Pertama di Ulu Ere
3
Politik Boleh Lupa, Tapi Kami Tidak
4
PT Semen Tonasa Komitmen Tingkatkan Daya Saing UMKM dengan Standar K3
5
Irmawati Sila Terpilih Aklamasi Pimpin DPC Hanura Makassar 2025–2030
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Air Terjun Barassang Dinilai Berpotensi Jadi Ikon Wisata Baru Gowa
2
Bupati Fathul Fauzy Resmikan Pembangunan Pesantren Pertama di Ulu Ere
3
Politik Boleh Lupa, Tapi Kami Tidak
4
PT Semen Tonasa Komitmen Tingkatkan Daya Saing UMKM dengan Standar K3
5
Irmawati Sila Terpilih Aklamasi Pimpin DPC Hanura Makassar 2025–2030