Opini
Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan
Jum'at, 13 Mar 2026 12:02
Syarifuddin Jurdi, Dosen UIN Alauddin Makassar dan Komisioner KPU Prov. Sulsel 2018-2023. Foto: Istimewa
Oleh: Syarifuddin Jurdi
Dosen UIN Alauddin Makassar
Kebenaran dapat bersumber dari dua sumber yakni kebenaran wahyu (al-haqq) yang bersifat transendental dan kebenaran ilmiah yang bersifat relatif, belum pasti, serta hasil ijtihad manusia. Kebenaran wahyu dan kebenaran ilmiah merupakan dua sumber kebenaran, meski yang kedua bersifat relatif.
Kebenaran yang bersumber pada wahyu kontras dengan kecendrungan positivistik dan empirisisme dalam ilmu-ilmu modern yang hanya percaya pada kebenaran yang dapat diverifikasi dan terjangkau panca-indera manusia atau kebenaran ilmiah.
Fakta ilmiah (al-haqā’iq al-’ilmiyyah) merupakan hasil observasi langsung terhadap fenomena atau data empiris, observasi itu dilakukan secara berulang-ulang dan terverifikasi melalui metode ilmiah, hasilnya dapat diterima oleh komunitas ilmiah. Fakta bersifat universal, dapat diulang, dan memiliki nilai validitas yang tinggi. Fakta ilmiah berfungsi sebagai bukti eksternal atas kebenaran wahyu.
Ketika al-Qur'an mengisyaratkan fenomena alam yang baru ditemukan berabad-abad kemudian seperti perkembangan janin atau perluasan alam semesta, fakta ilmiah tersebut sebagaimana telah diterangkan oleh sejumlah sarjana terdahulu berfungsi sebagai penegasan bahwa al-Qur'an telah menggambarkan soal itu.
Ilmuwan memiliki daya tarik untuk melakukan observasi dan penelitian terhadap fenomena dan fakta-fakta ilmiah, tindakan seperti ini dijelaskan oleh al-Qur’an Surat Yunus [10] ayat 101 “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Perhatikanlah apa saja yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan itu (untuk menghindarkan azab Allah) dari kaum yang tidak beriman”.
Demikian juga dengan fenomena ilmiah yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia seperti manfaat air yang sangat besar bagi kehidupan, hal ini secara fundamental sesuai dengan isyarat di dalam QS al-Anbiyā’/21: 30 “Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup...”, artinya air itu sebagai sumber kehidupan.
Air hujan juga disebutkan manfaatnya dalam Surat Qaaf ayat 9 “Dan Kami turunkan dari air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”.
Dari air melahirkan teori pengetahuan yang bervariasi misalnya teori asal usul kehidupan yang menyebutkan bahwa sains modern sepakat bahwa kehidupan dimulai dari air, teori ini menegaskan bahwa organisme pertama (mikroba) muncul di lautan purba karena air menyediakan pelarut kimia yang sempurna untuk pembentukan molekul seperti DNA.
Teori daur ulang yang merumuskan bagaimana air menguap, membentuk awan dan kembali turun hujan. Kemudian beberapa teori lainnya sebagai hasil kajian para ilmuwan mengenai teori struktur molekul (H2O) dan lain-lain.
Hasil observasi dan penelitian akan menghasilkan teori keilmuan yang tersusun secara sistematis. Teori ilmiah merupakan kerangka konseptual, model, atau penjelasan yang diciptakan oleh akal manusia untuk mengaitkan dan menjelaskan fakta-fakta yang ada. Menurut filsuf ilmu seperti Karl Popper, teori ilmiah memiliki sifat tentatif (sementara), hipotetik (dugaan teruji), dan harus dapat difalsifikasi (dibuktikan salah).
Teori ilmiah akan mengalami penyempurnaan ketika ada fakta-fakta baru dan temuan-temuan baru sebagaimana yang disebutkan oleh Thomas Kuhn dengan revolusi paradigma melalui karya monumentalnya The Structure of Scientific Revolution sebagai kebutuhan mendasar untuk mendialogkan berbagai fakta ilmiah.
Misalnya mendialogkan antara pendekatan islamisasi ilmu dan saintifikasi Islam sebagai peta jalan yang bersifat transformasional, ia akan selalu lahir dari paradigm shift (perubahan paradigma), suatu penekanan yang penting bahwa realitas sosial dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of knowing tertentu.
Posisi teori ilmiah dalam perspektif al-Qur'ani dapat menjelaskan fenomena alam semesta, seperti temuan mengenai langit dan bumi yang dahulu menyatu lalu dipisahkan, yang selaras dengan Teori Big Bang yang baru ditemukan pada abad yang lalu.
Sekitar lebih dari miliaran 13,8 miliar tahun yang lalu, seluruh materi dan energi di alam semesta terkonsentrasi dalam satu titik yang sangat kecil, padat, dan panas (singularitas). Alam semesta tercipta dari ketiadaan dalam satu peristiwa ledakan hebat.
Alam semesta tidak hanya "meledak" dan berhenti, tetapi terus mengembang dan meregang sejak ledakan awal tersebut, sebuah proses yang masih berlangsung hingga kini.
Bukti kuatnya adalah pengamatan bahwa galaksi-galaksi jauh bergerak menjauhi kita. Teori ini menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika yang kita amati saat ini berlaku di seluruh alam semesta dan telah bekerja sejak momen pertama penciptaan alam semesta.
Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Al-Anbiya [21] ayat 30 "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
Untuk memperjelaskan pesan ayat tersebut, ayat yang lain menjelaskan bagaimana Allah Swt meluaskannya, dalam al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat [51] ayat 47 Allah berfirman "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya".
Penemuan ilmiah yang menjelaskan tentang alam semesta justru terjadi dalam beberapa abad terakhir, artinya perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan-temuan baru justru memperkuat posisi al-Qur’an yang relevan dengan kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, teori ilmiah sebagai hasil dari ijtihād akal manusia dalam merespons āyāt kawniyyah.
Ilmuwan muslim didorong untuk merumuskan teori, tetapi ia tidak boleh menjadi kriteria kebenaran bagi wahyu. Jika terdapat pertentangan antara teori ilmiah dan teks wahyu yang Qaṭ’ī al-Dalālah (makna pasti), maka teori ilmiah harus diinterpretasi ulang atau ditolak dalam kerangka epistemologi Islam.
Antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan tidaklah terdapat pertentangan, temuan-temuan ilmiah dalam sains modern justru menguatkan wahyu Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an, baik soal alam semesta, masalah kedokteran, kesehatan dan lain sebagainya.
Epistemologi Islam dihadapkan pada dikotomi antara al-Qur’an dan ilmu agama yang bersumber pada wahyu dan Ilmu umum atau sains yang bersumber dari rasio dan empiris tidaklah bertentangan. Dikotomi ilmu agam dan umum tidak perlu dipertentangkan, karena ilmu yang memiliki kekuatan rasional dan cerdas (sains modern) tanpa basis wahyu dan moral, akan menghasilkan masalah kemanusiaan.
Al-Qur'an sendiri menawarkan solusi epistemologis yang bersifat menyeluruh, tidak hanya memuat ayat-ayat qauliyyah, tetapi juga mendorong untuk menjelajahi ayat-ayat kauniyyah melalui perintah tafakkur dan tadabbur tentang apa yang terjadi di jagad raya.
Kebenaran ilmiah yang merupakan hasil dari eksplorasi ayat-ayat kauniyyah merupakan sebuah jalur untuk memahami kebenaran yang absolut yaitu wahyu dari Allah swt. Dalam al-Qur’an Surat Āli ‘Imrān (3): 191 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”.
Secara jelas ayat ini mengikat aktivitas ilmiah (tafakkur) dengan dimensi spiritual (dzikr), menandaskan bahwa kebenaran ilmiah harus selalu berujung pada pengakuan Kebenaran Ilahi. Melihat hubungan erat antara wahyu dan alam, munculah diskursus Tafsīr ‘Ilmī, yaitu metode menafsirkan ayat-ayat kawniyyāt dengan mengaitkannya pada teori dan fakta ilmiah modern.
Kebenaran ilmiah dalam kerangka al-Qur'an menuntut adanya pembedaan metodologis yang ketat antara fakta ilmiah (al-Ḥaqā’iq al-’Ilmiyyah) dan teori ilmiah (al-Naẓariyyāt al-’Ilmiyyah), keduanya memiliki status epistemologi atau cara mengetahui dan memvalidasi pengetahuan yang mendasar, fakta merujuk pada data empiris yang dapat diobservasi, diukur, dan diverifikasi secara independen.
Kegagalan memisahkan antara fakta ilmiah dan teori ilmiah merupakan akar dari perdebatan mengenai tafsīr ‘ilmī, di mana ayat suci dipaksakan untuk menyesuaikan diri dengan hipotesis sains yang masih tentatif. Perspektif Qur'ani menerima sains sebagai cara untuk menyingkap Āyāt Kawniyyah (tanda-tanda alam), namun ia harus tetap tunduk pada prinsip Wahyu.
Wallahu a’lam bi shawab
Dosen UIN Alauddin Makassar
Kebenaran dapat bersumber dari dua sumber yakni kebenaran wahyu (al-haqq) yang bersifat transendental dan kebenaran ilmiah yang bersifat relatif, belum pasti, serta hasil ijtihad manusia. Kebenaran wahyu dan kebenaran ilmiah merupakan dua sumber kebenaran, meski yang kedua bersifat relatif.
Kebenaran yang bersumber pada wahyu kontras dengan kecendrungan positivistik dan empirisisme dalam ilmu-ilmu modern yang hanya percaya pada kebenaran yang dapat diverifikasi dan terjangkau panca-indera manusia atau kebenaran ilmiah.
Fakta ilmiah (al-haqā’iq al-’ilmiyyah) merupakan hasil observasi langsung terhadap fenomena atau data empiris, observasi itu dilakukan secara berulang-ulang dan terverifikasi melalui metode ilmiah, hasilnya dapat diterima oleh komunitas ilmiah. Fakta bersifat universal, dapat diulang, dan memiliki nilai validitas yang tinggi. Fakta ilmiah berfungsi sebagai bukti eksternal atas kebenaran wahyu.
Ketika al-Qur'an mengisyaratkan fenomena alam yang baru ditemukan berabad-abad kemudian seperti perkembangan janin atau perluasan alam semesta, fakta ilmiah tersebut sebagaimana telah diterangkan oleh sejumlah sarjana terdahulu berfungsi sebagai penegasan bahwa al-Qur'an telah menggambarkan soal itu.
Ilmuwan memiliki daya tarik untuk melakukan observasi dan penelitian terhadap fenomena dan fakta-fakta ilmiah, tindakan seperti ini dijelaskan oleh al-Qur’an Surat Yunus [10] ayat 101 “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Perhatikanlah apa saja yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah berguna tanda-tanda (kebesaran Allah) dan peringatan-peringatan itu (untuk menghindarkan azab Allah) dari kaum yang tidak beriman”.
Demikian juga dengan fenomena ilmiah yang secara langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia seperti manfaat air yang sangat besar bagi kehidupan, hal ini secara fundamental sesuai dengan isyarat di dalam QS al-Anbiyā’/21: 30 “Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup...”, artinya air itu sebagai sumber kehidupan.
Air hujan juga disebutkan manfaatnya dalam Surat Qaaf ayat 9 “Dan Kami turunkan dari air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam”.
Dari air melahirkan teori pengetahuan yang bervariasi misalnya teori asal usul kehidupan yang menyebutkan bahwa sains modern sepakat bahwa kehidupan dimulai dari air, teori ini menegaskan bahwa organisme pertama (mikroba) muncul di lautan purba karena air menyediakan pelarut kimia yang sempurna untuk pembentukan molekul seperti DNA.
Teori daur ulang yang merumuskan bagaimana air menguap, membentuk awan dan kembali turun hujan. Kemudian beberapa teori lainnya sebagai hasil kajian para ilmuwan mengenai teori struktur molekul (H2O) dan lain-lain.
Hasil observasi dan penelitian akan menghasilkan teori keilmuan yang tersusun secara sistematis. Teori ilmiah merupakan kerangka konseptual, model, atau penjelasan yang diciptakan oleh akal manusia untuk mengaitkan dan menjelaskan fakta-fakta yang ada. Menurut filsuf ilmu seperti Karl Popper, teori ilmiah memiliki sifat tentatif (sementara), hipotetik (dugaan teruji), dan harus dapat difalsifikasi (dibuktikan salah).
Teori ilmiah akan mengalami penyempurnaan ketika ada fakta-fakta baru dan temuan-temuan baru sebagaimana yang disebutkan oleh Thomas Kuhn dengan revolusi paradigma melalui karya monumentalnya The Structure of Scientific Revolution sebagai kebutuhan mendasar untuk mendialogkan berbagai fakta ilmiah.
Misalnya mendialogkan antara pendekatan islamisasi ilmu dan saintifikasi Islam sebagai peta jalan yang bersifat transformasional, ia akan selalu lahir dari paradigm shift (perubahan paradigma), suatu penekanan yang penting bahwa realitas sosial dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of knowing tertentu.
Posisi teori ilmiah dalam perspektif al-Qur'ani dapat menjelaskan fenomena alam semesta, seperti temuan mengenai langit dan bumi yang dahulu menyatu lalu dipisahkan, yang selaras dengan Teori Big Bang yang baru ditemukan pada abad yang lalu.
Sekitar lebih dari miliaran 13,8 miliar tahun yang lalu, seluruh materi dan energi di alam semesta terkonsentrasi dalam satu titik yang sangat kecil, padat, dan panas (singularitas). Alam semesta tercipta dari ketiadaan dalam satu peristiwa ledakan hebat.
Alam semesta tidak hanya "meledak" dan berhenti, tetapi terus mengembang dan meregang sejak ledakan awal tersebut, sebuah proses yang masih berlangsung hingga kini.
Bukti kuatnya adalah pengamatan bahwa galaksi-galaksi jauh bergerak menjauhi kita. Teori ini menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika yang kita amati saat ini berlaku di seluruh alam semesta dan telah bekerja sejak momen pertama penciptaan alam semesta.
Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Al-Anbiya [21] ayat 30 "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
Untuk memperjelaskan pesan ayat tersebut, ayat yang lain menjelaskan bagaimana Allah Swt meluaskannya, dalam al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat [51] ayat 47 Allah berfirman "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya".
Penemuan ilmiah yang menjelaskan tentang alam semesta justru terjadi dalam beberapa abad terakhir, artinya perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan-temuan baru justru memperkuat posisi al-Qur’an yang relevan dengan kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, teori ilmiah sebagai hasil dari ijtihād akal manusia dalam merespons āyāt kawniyyah.
Ilmuwan muslim didorong untuk merumuskan teori, tetapi ia tidak boleh menjadi kriteria kebenaran bagi wahyu. Jika terdapat pertentangan antara teori ilmiah dan teks wahyu yang Qaṭ’ī al-Dalālah (makna pasti), maka teori ilmiah harus diinterpretasi ulang atau ditolak dalam kerangka epistemologi Islam.
Antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan tidaklah terdapat pertentangan, temuan-temuan ilmiah dalam sains modern justru menguatkan wahyu Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an, baik soal alam semesta, masalah kedokteran, kesehatan dan lain sebagainya.
Epistemologi Islam dihadapkan pada dikotomi antara al-Qur’an dan ilmu agama yang bersumber pada wahyu dan Ilmu umum atau sains yang bersumber dari rasio dan empiris tidaklah bertentangan. Dikotomi ilmu agam dan umum tidak perlu dipertentangkan, karena ilmu yang memiliki kekuatan rasional dan cerdas (sains modern) tanpa basis wahyu dan moral, akan menghasilkan masalah kemanusiaan.
Al-Qur'an sendiri menawarkan solusi epistemologis yang bersifat menyeluruh, tidak hanya memuat ayat-ayat qauliyyah, tetapi juga mendorong untuk menjelajahi ayat-ayat kauniyyah melalui perintah tafakkur dan tadabbur tentang apa yang terjadi di jagad raya.
Kebenaran ilmiah yang merupakan hasil dari eksplorasi ayat-ayat kauniyyah merupakan sebuah jalur untuk memahami kebenaran yang absolut yaitu wahyu dari Allah swt. Dalam al-Qur’an Surat Āli ‘Imrān (3): 191 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”.
Secara jelas ayat ini mengikat aktivitas ilmiah (tafakkur) dengan dimensi spiritual (dzikr), menandaskan bahwa kebenaran ilmiah harus selalu berujung pada pengakuan Kebenaran Ilahi. Melihat hubungan erat antara wahyu dan alam, munculah diskursus Tafsīr ‘Ilmī, yaitu metode menafsirkan ayat-ayat kawniyyāt dengan mengaitkannya pada teori dan fakta ilmiah modern.
Kebenaran ilmiah dalam kerangka al-Qur'an menuntut adanya pembedaan metodologis yang ketat antara fakta ilmiah (al-Ḥaqā’iq al-’Ilmiyyah) dan teori ilmiah (al-Naẓariyyāt al-’Ilmiyyah), keduanya memiliki status epistemologi atau cara mengetahui dan memvalidasi pengetahuan yang mendasar, fakta merujuk pada data empiris yang dapat diobservasi, diukur, dan diverifikasi secara independen.
Kegagalan memisahkan antara fakta ilmiah dan teori ilmiah merupakan akar dari perdebatan mengenai tafsīr ‘ilmī, di mana ayat suci dipaksakan untuk menyesuaikan diri dengan hipotesis sains yang masih tentatif. Perspektif Qur'ani menerima sains sebagai cara untuk menyingkap Āyāt Kawniyyah (tanda-tanda alam), namun ia harus tetap tunduk pada prinsip Wahyu.
Wallahu a’lam bi shawab
(UMI)
Berita Terkait
News
Ketika Demokrasi Tersandera Politik Uang
Setiap kali seorang kepala daerah ditangkap karena korupsi, kita tidak hanya menyaksikan kejatuhan seorang pejabat, tetapi juga melihat cermin retaknya integritas demokrasi kita.
Jum'at, 13 Mar 2026 05:39
News
Politik dan Simbolisasi Agama
Mencermati ekspresi Islam Indonesia sejak awal keterlibatan dalam proses pembangunan bangsa hingga kini, kita akan menemukan varian kelompok Islam yang cenderung kepada perjuangan yang menekankan pada legal-formal agama dalam kehidupan politik.
Kamis, 12 Mar 2026 13:10
News
Mi‘raj Sunyi di Malam Ramadan
RAMADAN bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan pendakian spiritual. Siang hari Ramadan melatih manusia menahan lapar dan dahaga, sedangkan malam hari Ramadan membuka jalan bagi jiwa untuk kembali kepada sumber cahayanya.
Kamis, 12 Mar 2026 06:00
Sulsel
Al-Qur'an, Akal dan Fitrah
Al-Qur’an dalam beberapa pesannya menyebut bahwa manusia itu sebenarnya diciptakan sebagai sebaik-baik makhluk, (akhsani taqwim), karena manusia merupakan mahluk Tuhan yang diberi kemampuan mempergunakan akal pikirannya yang dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah, sehingga bisa memposisikan dirinya.
Rabu, 11 Mar 2026 12:26
News
Dari Athena sampai Nusantara: Merawat Nalar di Tengah Kekuasaan yang Menggoda
TULISAN ini merupakan refleksi yang muncul setelah mengikuti bedah buku Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan karya Al Makin dalam Forum Guru Besar Insan Cita.
Rabu, 11 Mar 2026 06:07
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pemkab Maros Percepat Pembayaran Gaji PPPK Paruh Waktu
2
Mudik Hepi 2026: Telkomsel Berangkatkan 200 Pemudik dari Makassar
3
Kinerja Solid 2025, Adira Finance Hadirkan Program Ramadan untuk Masyarakat
4
Pemkot Makassar Siapkan Rp86 Miliar THR, PPPK Paruh Waktu Ikut Dapat
5
Imigrasi Parepare Raih Penghargaan Pelayanan Publik dari Ombudsman
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pemkab Maros Percepat Pembayaran Gaji PPPK Paruh Waktu
2
Mudik Hepi 2026: Telkomsel Berangkatkan 200 Pemudik dari Makassar
3
Kinerja Solid 2025, Adira Finance Hadirkan Program Ramadan untuk Masyarakat
4
Pemkot Makassar Siapkan Rp86 Miliar THR, PPPK Paruh Waktu Ikut Dapat
5
Imigrasi Parepare Raih Penghargaan Pelayanan Publik dari Ombudsman