Evakuasi 5 Korban ATR 42-500 Dikebut via Udara, Berburu Jendela Cuaca Tiga Jam

Jum'at, 23 Jan 2026 08:51
Evakuasi 5 Korban ATR 42-500 Dikebut via Udara, Berburu Jendela Cuaca Tiga Jam
Visual area operasi SAR evakuasi korban ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung. Foto: SINDO Makassar/Najki S Limonu
Comment
Share
MAROS - Proses evakuasi lima korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter, Jumat (23/2/2026). Evakuasi difokuskan pada jendela cuaca terbatas pada pagi hari.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan operasi evakuasi memanfaatkan periode cuaca terbaik antara pukul 08.00 hingga 11.00 Wita.

“Dari pemaparan BMKG, kami melihat pukul 08.00 hingga 11.00 Wita menjadi window time terbaik. Pada ketinggian maksimal 5.000 feet, pertumbuhan awan tidak begitu banyak, hanya awan-awan scatter,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, helikopter memungkinkan untuk mengevakuasi lima body part korban langsung dari puncak Gunung Bulusaraung yang berada pada ketinggian sekitar 4.000 hingga 4.200 kaki.

Strategi evakuasi udara dipilih karena jalur darat menuju helipad dinilai tidak efektif dan memakan waktu hingga tiga jam.

“Kita lihat sendiri, jangankan tiga jam, satu jam saja cuaca bisa berubah sangat cepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak pukul 05.00 Wita tim SAR bergerak dari bawah untuk membawa lima paket korban menuju puncak. Proses penarikan dari lereng ke puncak diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam.

“Kami targetkan pukul 08.00 sampai 09.00 Wita sudah berada di puncak. Di saat itu helikopter sudah standby untuk menjemput,” jelasnya.

Dalam operasi ini, dua helikopter milik Basarnas dan TNI AU dikerahkan. Evakuasi dilakukan secara bergantian tanpa menunggu seluruh korban terkumpul di puncak.

“Begitu satu sampai dua jenazah sudah tiba di puncak, langsung dijemput helikopter. Satu heli lainnya sudah disiapkan untuk korban berikutnya,” katanya.

Untuk mendukung operasi, pesawat modifikasi cuaca dijadwalkan terbang lebih awal guna mencegah pertumbuhan awan di lokasi evakuasi. Arifaini menyebutkan, upaya penjemputan langsung ke titik korban sebelumnya terkendala faktor keselamatan penerbangan.

“Pertumbuhan awan sangat cepat. Pandangan pilot hanya sekitar 15 meter dan berada di sisi tebing. Dari segi safety, tidak memungkinkan helikopter masuk ke titik itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, satu korban sebelumnya telah berhasil dievakuasi melalui jalur darat dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara pada malam hari. Sementara lima korban lainnya dalam proses penarikan menuju puncak untuk dievakuasi melalui jalur udara.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru