Menag Ajak Guru Besar UIN Alauddin Bangun Episentrum Ilmu dan Peradaban

Senin, 09 Feb 2026 19:28
Menag Ajak Guru Besar UIN Alauddin Bangun Episentrum Ilmu dan Peradaban
Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar dalam Pengukuhan Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Senin 9 Februari 2026. Foto: Humas UIN Alauddin
Comment
Share
GOWA - Menteri Agama (Menag) RI, Prof Nasaruddin Umar mengajak guru besar UIN Alauddin Makassar menjaga tradisi keilmuan. Ia mau, daerah di mana kampus berdiri, dikenal sebagai kota ilmuwan, episentrum peradaban Islam.

Ajakan ini disampaikan Menag Nasaruddin ketika memberi sambutan pada upacara pengukuhan guru besar UIN Alauddin Makassar di Gedung Auditorium Kampus II, Samata, Kabupaten Gowa, Senin (9/2/2026).

"109 guru besar (UIN Alauddin) ini kalau bekerja efisien dan efektif saya yakin, kita akan menciptakan sesuatu, nama Makassar sebagai kota ilmuwan, episentrum peradaban Islam. Mari bekerja bersama," ucap Menag Nasaruddin.

Ada tiga guru besar yang dikukuhkan pada edisi ini. Mereka masing-masing adalah Prof Dr H Andi Achruh, Prof Dr Hj Indo Santalia, dan Prof Dr H Abd Rauf Muhammad Amin. Ketiganya mencukupkan jumlah guru besar UIN Alauddin Makassar menjadi 109 orang.

Agar daerah ini menjadi episentrum, Menag Nasaruddin menyarankan agar guru besar aktif melakukan penelitian, diskusi, hingga menulis. Ia mau, para guru besar memproduksi ilmu pengetahuan alih-alih menjadi konsumen.

"Kita harus terus meneliti, jangan sampai pertemuan kita di ruang dosen bicara tentang rumah, kendaraan, keluarga, pengamat politik, tetapi lupa disiplin ilmu. Saya mohon, tradisi keilmuan di lingkungan kampus, hidup. Wacana internasional dan nasional dikaji di kampus," beber dia.

Menag Nasaruddin mengambil contoh Mesir sebagai negara yang membangun ruang diskusi keilmuan yang bahkan menjamur di masjid-masjid.

"Di Mesir, masjid-masjid ada halaqah, karena banyak sekali profesornya. Di Jakarta yang menghadiri itu bukan dosen, profesor, tetapi kelas menengah, orang kaya yang mau belajar Islam. Padahal seharusnya yang bicara dinamika keislaman modern dan kontemporer itu adalah kita," sambung Menag Nasaruddin.

"Jangan berhenti belajar dan menulis. Kekurangan kita, ilmuannya jarang menulis, di Mesir seolah ada buku baru tiap hari. Di sini, setahun gak sampai 100 buku baru. Yang ada terjemahan berbahasa Arab dan Inggris. Penulis inti kurang. Ulama jarang menulis. Iran ulama mereka rajin menulis, rajin melakukan ijtima, pertemuan akademik," sambung Menag Nasaruddin.

Di sisi lain, Menag Nasaruddin memuji UIN Alauddin yang terus memproduksi guru besar. Sampai hari ini, total sudah ada 109 guru besar, kampus keagamaan Islam terbanyak kedua di bawah Kemenag setelah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

"Saya dengan Pak Sekjend (Prof Phil Kamaruddin Amir), gak pernah membayangkan, bahwa orang yang ada di Kemenag, menduduki puncak dari sini (UIN Alauddin)," puji Menag Nasaruddin.

Ia juga sempat memuji pidato pengukuhan para guru besar yang sarat akan keilmuan. Mereka juga menawarkan kebaruan dan solusi visioner dalam bidang keilmuan masing-masing.

"Pidato pengukuhan ini sudah tidak ada bedanya dari negara maju yang lain. Metode penelitian terukur, konsep jelas, dan konklusi jelas, saya menganggap prestasi akademik UIN Alauddin layak," pungkas Menag Nasaruddin.

Sebagai informasi, Prof Dr H Andi Achruh dikukuhkan dalam Bidang Ilmu Pendidikan Islam Kontemporer; Prof Dr Hj Indo Santalia dalam Bidang Ilmu Teologi Kebudayaan Islam; dan, Prof Dr H Abd Rauf Muhammad Amin dalam Bidang Kepakaran Ushul Fikih.

"Saya sangat mengenal dan dekat kepada tiga orang ini. Prof Indo Santalia saya kenal dengan keteduhannya, Prof Andi Achruh saya kenal dengan keteguhannya, Prof Abdul Rauf dengan ketekunannya. Bilamana ketiganya bersinergi, luar biasa, sebuah karakter kuat yang luar biasa," kata Rektor UIN Alauddin, Prof Hamdan Juhannis singkat.

Sementara itu, Sekretaris Jendral Kemenag, Prof Dr Phil Kamaruddin Amin dalam testimoninya mengajak ketiga guru besar yang baru saja dikukuhkan agar bisa memberdayakan umat dengan keilmuannya.

"Kualitas Profesor kita, tidak ditentukan dari seberapa dalam dan luas ilmu yang kita miliki, tetapi seberapa besar ilmu kita bisa berdampak secara sosial, dan bahkan bisa meng-empower dan memberdayakan umat dan bangsa kita. Semoga kita terus bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa," katanya singkat.

Pengukuhan itu dihadiri oleh tokoh dalam berbagai latar belakang.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru