Ahli Ungkap Kompleksitas Gempa Bitung Sulut, Pemerintah Diminta Ambil Langkah Ini
Kamis, 02 Apr 2026 12:37
Tangkapan layar BMKG. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Pusat Studi Gempa Sulawesi mengimbau pemerintah segera mengambil langkah cepat pascagempa berkekuatan Magnitudo 7,4 (Mw) yang mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara (Sulut) dan sekitarnya pada Kamis (2/4/2026) pagi.
Praktisi Pusat Studi Gempa Sulawesi, Dr. Ir. Ardy Arsyad menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak.
“Kami mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima.
Selain itu, pemerintah diminta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak tsunami lokal.
Langkah lain yang dinilai penting adalah memperkuat mitigasi berbasis peta risiko dan kondisi geologi setempat agar upaya penanggulangan lebih tepat sasaran.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gempa berkekuatan Mw 7,4 terjadi pada 1 April 2026 pukul 22.48 UTC atau 2 April 2026 pukul 06.48 WITA. Pusat gempa berada di Laut Maluku, sekitar 126 kilometer barat laut Ternate, dengan kedalaman sekitar 30–35 kilometer.
Berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa dari USGS dan BMKG, gempa ini merupakan sesar oblique-reverse atau kombinasi sesar naik dan geser yang terjadi di dalam lempeng (intraslab).
Ardy menjelaskan, gempa ini tergolong signifikan secara ilmiah karena terjadi di kawasan zona subduksi ganda (double subduction) Laut Maluku, tempat dua lempeng samudera saling menunjam dari arah berlawanan, yakni Lempeng Sangihe dan Halmahera.
Kondisi tersebut menciptakan sistem tegangan yang kompleks sehingga gempa tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi.
Meski bukan gempa megathrust, kejadian ini tetap memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir. Hal ini menunjukkan bahwa potensi tsunami tetap ada, meskipun tingkat bahayanya lebih terbatas.
Selain itu, gempa dengan magnitudo besar berpotensi menimbulkan guncangan kuat, terutama di daerah dengan tanah lunak yang dapat memperkuat gelombang seismik. Wilayah dengan sedimen jenuh air juga berpotensi mengalami likuefaksi.
Pusat Studi Gempa Sulawesi menekankan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan terus mengikuti informasi resmi dari BMKG serta instansi terkait.
Pusat Studi Gempa Sulawesi juga akan terus melakukan analisis lanjutan untuk memahami lebih jauh dinamika tektonik regional serta implikasinya terhadap risiko kebencanaan di Sulawesi dan sekitarnya.
Praktisi Pusat Studi Gempa Sulawesi, Dr. Ir. Ardy Arsyad menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak.
“Kami mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima.
Selain itu, pemerintah diminta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak tsunami lokal.
Langkah lain yang dinilai penting adalah memperkuat mitigasi berbasis peta risiko dan kondisi geologi setempat agar upaya penanggulangan lebih tepat sasaran.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gempa berkekuatan Mw 7,4 terjadi pada 1 April 2026 pukul 22.48 UTC atau 2 April 2026 pukul 06.48 WITA. Pusat gempa berada di Laut Maluku, sekitar 126 kilometer barat laut Ternate, dengan kedalaman sekitar 30–35 kilometer.
Berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa dari USGS dan BMKG, gempa ini merupakan sesar oblique-reverse atau kombinasi sesar naik dan geser yang terjadi di dalam lempeng (intraslab).
Ardy menjelaskan, gempa ini tergolong signifikan secara ilmiah karena terjadi di kawasan zona subduksi ganda (double subduction) Laut Maluku, tempat dua lempeng samudera saling menunjam dari arah berlawanan, yakni Lempeng Sangihe dan Halmahera.
Kondisi tersebut menciptakan sistem tegangan yang kompleks sehingga gempa tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi.
Meski bukan gempa megathrust, kejadian ini tetap memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir. Hal ini menunjukkan bahwa potensi tsunami tetap ada, meskipun tingkat bahayanya lebih terbatas.
Selain itu, gempa dengan magnitudo besar berpotensi menimbulkan guncangan kuat, terutama di daerah dengan tanah lunak yang dapat memperkuat gelombang seismik. Wilayah dengan sedimen jenuh air juga berpotensi mengalami likuefaksi.
Pusat Studi Gempa Sulawesi menekankan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan terus mengikuti informasi resmi dari BMKG serta instansi terkait.
Pusat Studi Gempa Sulawesi juga akan terus melakukan analisis lanjutan untuk memahami lebih jauh dinamika tektonik regional serta implikasinya terhadap risiko kebencanaan di Sulawesi dan sekitarnya.
(MAN)
Berita Terkait
News
PHRI dan IHGMA Sulsel Salurkan Donasi untuk Korban Gempa NTT
PHRI Sulsel bersama Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Sulsel menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Senin, 24 Agu 2026 16:00
News
Mahtan Buka Donasi Bertajuk MAHTANCare Peduli Bencana Gempa NTT
Masyarakat Hijrah Tanpa Nama (Mahtan) kembali membuka donasi untuk membantu korban bencana gempa hebat 7,7 Magnitudo yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pekan lalu.
Sabtu, 22 Agu 2026 19:24
News
Warga Jeneponto Mengungsi di Flores Minta Bantuan Bupati Usai Gempa
Sejumlah warga asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), meminta perhatian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto.
Jum'at, 21 Agu 2026 21:26
News
Tim ERT MDA Bergabung dalam Misi ESDM Siaga Bencana di NTT
PT Masmindo Dwi Area (MDA) mengirim tiga personel Emergency Response Team (ERT) untuk bergabung dalam misi kemanusiaan ESDM Siaga Bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jum'at, 21 Agu 2026 21:13
News
Pelindo - Pelni Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT
PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo berkolaborasi dengan PT Pelayaran Nasional Indonesia atau Pelni untuk mempercepat distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Jum'at, 21 Agu 2026 18:31
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
BYD Tech Culture Fest Sambangi Makassar, Pamerkan Teknologi Mobil Listrik
2
Gerindra Sulsel Tingkatkan Kapasitas 115 Legislatornya Bahas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
3
Kemah Pramuka Madrasah Sulsel Diikuti Ribuan Peserta dari 24 Daerah
4
Warga Lutim Resah Pemadaman Listrik Bergilir, PLN Ungkap Penyebabnya
5
Pelindo - Australia Jajaki Kerja Sama Maritim, Perkuat Konektivitas Indonesia Timur
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
BYD Tech Culture Fest Sambangi Makassar, Pamerkan Teknologi Mobil Listrik
2
Gerindra Sulsel Tingkatkan Kapasitas 115 Legislatornya Bahas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
3
Kemah Pramuka Madrasah Sulsel Diikuti Ribuan Peserta dari 24 Daerah
4
Warga Lutim Resah Pemadaman Listrik Bergilir, PLN Ungkap Penyebabnya
5
Pelindo - Australia Jajaki Kerja Sama Maritim, Perkuat Konektivitas Indonesia Timur