Mengenal Program Sosial Ahmadiyah: Donor Kornea Mata hingga Bangun Rumah Belajar

Sabtu, 04 Apr 2026 11:06
Mengenal Program Sosial Ahmadiyah: Donor Kornea Mata hingga Bangun Rumah Belajar
Suasana pelaksanaan kegiatan FGD 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia. Kegiatan ini melibatkan puluhan jurnalis di Makassar. Foto/Tri Yari Kurniawan
Comment
Share
MAKASSAR - Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia. Kegiatan yang melibatkan puluhan jurnalis ini dilaksanakan di kantor Ahmadiyah Makassar, Jalan Annuang, pada Jumat (3/4/2026).

FGD 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia membahas keberadaan serta kontribusi Ahmadiyah di tengah masyarakat. Suasana dialog yang cair mendorong peserta saling bertukar pandangan sekaligus memperkuat pemahaman bersama.

Dalam forum ini, Ahmadiyah menegaskan posisinya sebagai bagian dari umat Islam yang menjalankan ajaran sesuai syariat. Mulai dari syahadat, rukun Islam, rukun iman, kitab suci hingga nabi penutup sama dengan umat Islam lainnya.

Forum ini dimanfaatkan untuk meluruskan berbagai stigma yang masih berkembang di masyarakat. Termasuk menjelaskan tantangan bagi muslim Ahmadiyah dan juga kontribusinya secara global maupun nasional.

Sekretaris Pers dan Juru Bicara Nasional Ahmadiyah, Yendra Budiana, menyampaikan bahwa komunitas Ahmadiyah di Indonesia tetap konsisten menjalankan aktivitas keagamaan dan sosial, meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

Yendra memaparkan program atau gerakan sosial kemanusiaan dari Ahmadiyah cukup banyak. Di antaranya yakni Humanity First, Keluarga Donor Mata Indonesia, gerakan donor darah, Clean the City, pembangunan 100 rumah belajar, penanaman 100 ribu pohon, kader penggerak perdamaian, hingga layanan pengobatan homeopathy.

Salah satu yang menarik adalah program Keluarga Donor Mata Indonesia, yang telah berjalan termasuk di Makassar. Diakui Yendra, program ini juga cukup banyak tantangannya, seperti penolakan dari keluarga hingga aspek teknis perihal penyimpanan dan batas waktu donor kornea mata.

"Program donor kornea mata ini telah berjalan, termasuk di Makassar. Ahmadiyah dikenal sebagai komunitas pendonor kornea mata terbanyak dan berkesinambungan di Indonesia," kata dia.

Ahmadiyah bahkan mendapatkan rekor MURI sebagai komunitas pendonor mata terbanyak secara berkesinambungan. Pada tahun 2025, dilaporkan lebih dari 6.800 anggota JAI terdaftar sebagai calon pendonor, dengan ratusan yang sudah mendonorkan korneanya.

Di bidang dakwah, berbagai inisiatif juga terus dilakukan Ahmadiyah, seperti penerjemahan Al-Qur’an ke berbagai bahasa, kampanye perdamaian global, pembangunan masjid di berbagai negara, serta kajian solusi Islam terhadap isu-isu global terkini.

Selain itu, pada FGD kali ini jaringan media Ahmadiyah turut diperkenalkan, baik di tingkat internasional seperti Muslim Television Ahmadiyah, alislam.org, Review of Religions, dan alhakam.org, maupun di Indonesia seperti ahmadiyah.id, rajapena.org, Warta Ahmadiyah, dan MTA Indonesia Studio.

Melalui forum ini, diharapkan kolaborasi antara Ahmadiyah dan jurnalis dapat terus diperkuat, terutama dalam menghadirkan informasi yang inklusif, edukatif, serta bebas dari hoaks.

Ketua Jemaat Ahmadiyah Makassar, Frywanto Beny, menjelaskan bahwa kegiatan FGD bertajuk Live In Jurnalis Sulawesi Selatan ini merupakan tindak lanjut dari agenda sebelumnya sekaligus langkah awal memperkuat kolaborasi.

"Ini follow up dari kegiatan festival media pada September 2025 di Rotterdam (Makassar). Dipandang perlu pelatihan karena kami butuh SDM andal untuk publikasi kegiatan," ucapnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat dimaksimalkan. Ia juga menaruh asa agar kolaborasi dengan jurnalis terus berlanjut di berbagai bidang. Lewat forum ini, pihaknya juga ingin menegaskan bahwa Ahmadiyah 100 persen Islam.

Senada dengan itu, Sekretaris AJI Makassar, Chaerani Arief, menilai kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan membangun ekosistem yang inklusif.

"Ini adalah kegiatan kolaborasi AJI dan Ahmadiyah. Ini sudah dilakukan dan sudah berkelanjutan. Ini juga bagian dari dukungan dan ruang perjuangan dari AJI untuk menciptakan ekosistem Inklusif," ujarnya.

Menurut dia, jurnalis punya peran besar untuk mendukung keberagaman. "Semoga teman-teman bisa melahirkan karya jurnalistik yang lebih inklusif, bisa berjuang untuk kelompok marjinal," pungkasnya.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru