Keliling 13 Daerah, IAS Temukan Kerinduan & Harapan Kader Golkar Sulsel

Jum'at, 14 Agu 2026 19:38
Keliling 13 Daerah, IAS Temukan Kerinduan & Harapan Kader Golkar Sulsel
Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) telah menuntaskan roadshow ke 13 daerah dalam rangka konsolidasi pasca-Musda. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Tiga belas daerah telah disambangi Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dalam rangka konsolidasi pasca-Musda. Dari perjalanan itu, satu hal terasa kuat: kehadiran IAS masih menyisakan ruang dalam ingatan kader dan masyarakat di daerah.

Di sejumlah daerah, IAS disambut dengan nostalgia atas kiprahnya, pengakuan atas pengalaman kepemimpinannya, hingga harapan agar ia mampu membawa Golkar Sulsel menjadi lebih kuat.

Di Tana Toraja, misalnya, IAS disambut sebagai sosok yang memiliki ikatan dengan daerah. Ia disebut sebagai keturunan Puang Tondong sekaligus kader terbaik Tana Toraja. Dalam kunjungan tersebut, IAS bahkan kembali menerima topi Toraja untuk kedua kalinya, masing-masing dari dua Ketua DPD Golkar Tana Toraja yang berbeda.

Sambutan serupa muncul di Luwu Utara. Ketua Harian Golkar Luwu Utara Basir menyebut IAS bukan orang asing bagi kader di daerah tersebut. Kompetensi dan pengalamannya pun dinilai tidak perlu diragukan.

Di Palopo, Ketua DPD Golkar Palopo Rachmat Masri Bandaso mengenang kembali kepemimpinan IAS di Golkar. Ia berharap Palopo ke depan dapat kembali menjadi salah satu basis kuat Partai Golkar.

Sementara di Wajo, Ketua DPD Golkar Wajo dr. Baso Rahmanuddin menilai pengalaman IAS memimpin Makassar selama dua periode menjadi modal penting untuk memimpin Golkar Sulsel.

“Pak IAS dua periode menjadi Wali Kota Makassar. Pembangunannya masih kita rasakan sampai saat ini. Beliau pemimpin yang visioner, bukan hanya dalam pemerintahan, tetapi juga dalam memimpin partai,” kata Baso.

Harapan besar juga disampaikan dari Luwu Timur. Ketua DPD Golkar Luwu Timur Aripin menyebut IAS sebagai tokoh pemersatu Sulsel. Ia optimistis kepemimpinan IAS dapat membawa Golkar kembali merebut posisi pimpinan DPRD.

Namun, roadshow ke 13 daerah itu bukan sekadar perjalanan untuk menerima sambutan dan bernostalgia.

Di Toraja Utara, misalnya, Ketua DPD Golkar Toraja Utara Johannes Bassang secara terbuka mengakui masih dibutuhkan pembenahan di tubuh partai. Persoalan tersebut kemudian menjadi bagian dari agenda konsolidasi IAS yang lebih terukur.

IAS menargetkan konsolidasi organisasi di tingkat kabupaten/kota rampung hingga akhir 2026. Setelah itu, konsolidasi struktur hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan ditargetkan tuntas pada 2027.

Dalam setiap kunjungan, IAS juga mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi kader dan masyarakat, mulai dari kondisi ekonomi, pertanian, hilirisasi, pariwisata, hingga hubungan antara struktur partai dan anggota legislatif.

Dari rangkaian pertemuan itu, pesan IAS semakin jelas: Musda telah selesai dan kini saatnya Golkar Sulsel kembali bekerja.

Konsolidasi organisasi, penguatan kader, membangun kedekatan dengan masyarakat, serta meningkatkan perolehan kursi menjadi agenda yang harus dikerjakan secara bersama-sama.

IAS menyadari target tersebut tidak mungkin dicapai seorang diri. “Tidak mungkin saya bekerja sendiri. Apa yang sudah kita targetkan juga tidak mungkin tanpa upaya bersama. Kita membutuhkan soliditas pengurus dan kader,” kata IAS.

Kerinduan yang Belum Hilang
Tiga belas daerah dengan karakter dan dinamika politik yang berbeda memberikan respons beragam terhadap kedatangan IAS. Namun, ada satu benang merah yang muncul: IAS masih memiliki tempat dalam ingatan kader di daerah.

Ada yang mengenang kepemimpinannya, menyebutnya bukan orang asing, menyambutnya sebagai putra daerah, hingga menitipkan harapan untuk masa depan Golkar Sulsel. Bahkan, ada yang mendoakan perjalanan politik IAS ke tingkat yang lebih tinggi.

IAS mungkin telah meninggalkan panggung pemerintahan daerah, tetapi jejak kepemimpinannya belum sepenuhnya hilang dari ingatan masyarakat dan kader.

Setelah menyambangi 13 daerah, yang dibawa pulang IAS bukan hanya catatan konsolidasi organisasi, melainkan juga sebuah pesan dari daerah: ruang untuk kembali bekerja bersama masih terbuka lebar.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru