Cerita Prof Eko dan Jejak Menara Pinisi: Dari Mengawal Gagasan Pembangunan Kampus hingga Menatap Masa Depan UNM
Sabtu, 29 Agu 2026 13:44
Dokumentasi pribadi Prof Eko Hadi Sujiono.
MAKASSAR - Bagi banyak orang yang datang ke Universitas Negeri Makassar (UNM), Menara Pinisi adalah bangunan yang sulit dilewatkan.
Menjulang di kawasan kampus, bentuknya yang menyerupai layar kapal pinisi menjadi salah satu identitas visual UNM.
Namun, di balik bangunan yang kini menjadi ikon tersebut, terdapat cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar pembangunan fisik.
Ada gagasan yang harus dirumuskan. Ada kebutuhan kampus yang harus diterjemahkan menjadi perencanaan. Ada proposal yang harus disusun. Ada komunikasi yang harus dibangun dengan berbagai pihak. Dan ada proses panjang untuk memastikan sebuah agenda universitas memperoleh dukungan kebijakan dan pembiayaan.
Di dalam proses panjang itulah nama Prof. Eko Hadi Sujiono menjadi salah satu bagian dari jejak kolektif pembangunan UNM.
Eko bergabung dalam Task Force UNM sejak 2004. Setahun kemudian, ia menjadi bagian dari Tim Pengembang UNM dan kemudian memimpin tim tersebut hingga 2012.
Posisi tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai agenda pengembangan institusi.
Bukan hanya membicarakan apa yang ingin dibangun, tetapi juga bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi program yang dapat diperjuangkan melalui mekanisme kelembagaan.
Menara Pinisi dan Kerja yang Tidak Terlihat
Pembangunan sebuah gedung universitas tidak pernah dimulai dari peletakan batu pertama.
Jauh sebelumnya, terdapat pekerjaan yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Kebutuhan harus dipetakan. Perencanaan harus disusun. Kesiapan teknis harus diperhitungkan. Manfaat akademik harus dijelaskan. Dan yang tidak kalah penting, gagasan tersebut harus dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam proses kebijakan dan penganggaran.
Dalam konteks pembangunan Menara Pinisi, proses tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Rektor UNM saat itu, Prof Dr H Arismunandar.
Sejumlah unsur kampus terlibat dalam proses tersebut.
Eko menjadi salah satu bagian dari tim yang mengawal agenda pengembangan UNM, termasuk mengomunikasikan kebutuhan pembangunan kampus kepada sejumlah pihak strategis.
Di antaranya Wakil Presiden RI periode 2004–2009 Jusuf Kalla, Komisi X DPR RI, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Keterlibatan tersebut memberikan satu pelajaran penting. Sebuah gagasan besar tidak cukup hanya dirancang di dalam kampus.
Gagasan itu harus mampu dijelaskan, dikomunikasikan, dan diperjuangkan melalui jalur kelembagaan yang tersedia.
Dalam proses pembangunan perguruan tinggi, kemampuan akademik memang penting.
Namun, kemampuan membangun komunikasi dan jejaring kelembagaan juga tidak kalah penting.
Sebab, kebutuhan kampus sering kali harus bertemu dengan kebijakan pemerintah, prioritas pembangunan nasional, serta mekanisme penganggaran yang memiliki aturan tersendiri.
Bukan Pekerjaan Satu Orang
Menara Pinisi kemudian berdiri sebagai salah satu penanda perubahan UNM. Tetapi bangunan tersebut bukan hasil kerja satu orang.
Ada pimpinan yang mengambil keputusan. Ada tim yang menyusun perencanaan. Ada tenaga teknis yang mengerjakan detail.
Ada unsur pemerintah yang memproses kebijakan dan anggaran.
Ada pula banyak orang di lingkungan UNM yang memberikan tenaga, gagasan, dan dukungan.
Karena itu, menyebut sejarah Menara Pinisi semata sebagai keberhasilan seseorang tentu tidak menggambarkan keseluruhan proses.
Justru nilai penting dari pengalaman tersebut terletak pada kemampuan bekerja dalam sebuah tim besar untuk mewujudkan tujuan bersama.
Bagi Eko, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di UNM.
Setelah terlibat dalam Tim Pengembang, ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari Senat UNM pada 2009–2016.
Ia juga memimpin Tim Penyusun Kinerja Rencana Strategis UNM pada 2010–2011. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan persoalan yang berbeda.
Jika pembangunan fisik berbicara mengenai ruang dan fasilitas, rencana strategis berbicara mengenai arah perjalanan universitas.
Apa yang harus menjadi prioritas? Ke mana universitas harus bergerak?
Bagaimana sumber daya yang terbatas dapat diarahkan pada program yang paling penting?
Dan bagaimana agar setiap program tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari pengalaman kelembagaan yang kemudian membentuk cara pandang seorang akademisi terhadap universitas.
Dari Membangun Gedung ke Membangun Ekosistem
Kini, tantangan UNM tentu berbeda dengan dua dekade lalu.
Jika pada masa pembangunan Menara Pinisi salah satu kebutuhan penting adalah memperkuat sarana dan prasarana, maka perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Persaingan perguruan tinggi semakin terbuka. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara mahasiswa belajar dan dosen bekerja.
Riset dituntut menghasilkan dampak. Dosen muda membutuhkan ruang untuk berkembang.
Mahasiswa membutuhkan pengalaman yang lebih dekat dengan dunia kerja dan persoalan nyata.
Sementara masyarakat mengharapkan perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi.
Dalam situasi seperti itu, pembangunan universitas tidak lagi cukup dimaknai sebagai membangun gedung.
Yang harus dibangun adalah ekosistem. Laboratorium harus hidup.
Kelompok riset harus tumbuh. Dosen muda harus memperoleh kesempatan. Mahasiswa harus diberi ruang untuk mencoba.
Kerja sama dengan industri harus diperluas. Jejaring internasional harus dimanfaatkan. Dan hasil penelitian harus lebih banyak diterjemahkan menjadi manfaat bagi masyarakat.
Pengalaman Eko dalam pengembangan institusi menjadi relevan pada titik ini. Sebab, pengalaman masa lalu tidak seharusnya hanya dikenang sebagai catatan sejarah.
Pengalaman seharusnya menjadi pelajaran untuk menghadapi persoalan yang baru.
Dari Pinisi untuk Masa Depan
Menara Pinisi memiliki makna simbolik yang menarik bagi UNM. Pinisi adalah kapal yang identik dengan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan mengarungi lautan.
Sebuah kapal tidak cukup hanya memiliki bentuk yang bagus. Ia membutuhkan arah. Membutuhkan nakhoda.
Membutuhkan awak yang memahami tugas masing-masing. Dan yang paling penting, seluruh awak harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Universitas pun demikian. Rektor memang memegang posisi penting. Tetapi universitas tidak akan bergerak hanya karena seorang rektor memiliki gagasan.
Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, peneliti, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat semuanya merupakan bagian dari ekosistem universitas.
Karena itu, kepemimpinan perguruan tinggi pada masa mendatang membutuhkan kemampuan untuk menyatukan potensi yang sudah ada, bukan sekadar membuat program baru.
Pengalaman dalam pembangunan institusi memberikan pelajaran bahwa perubahan besar membutuhkan waktu. Tidak semuanya dapat diselesaikan dalam satu periode.
Tetapi setiap periode kepemimpinan harus mampu meninggalkan fondasi yang lebih baik bagi periode berikutnya.
Tantangan UNM ke Depan
Menjelang Pemilihan Rektor UNM periode 2026–2030, pertanyaan mengenai masa depan universitas menjadi semakin penting.
UNM memiliki kekuatan besar sebagai perguruan tinggi yang memiliki akar kuat dalam pendidikan dan menghasilkan banyak tenaga pendidik untuk Indonesia.
Namun, kekuatan tersebut harus terus dikembangkan. UNM perlu memperkuat reputasi akademik dan riset.
Mendorong lebih banyak inovasi. Membuka kesempatan lebih luas bagi dosen muda. Memperkuat internasionalisasi. Menghubungkan penelitian dengan kebutuhan Sulawesi Selatan.
Serta memastikan transformasi digital dan kecerdasan buatan menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar mengikuti tren.
Di sisi lain, kampus juga perlu menjaga sesuatu yang tidak kalah penting: budaya akademik yang sehat.
Universitas adalah tempat orang belajar berbeda pendapat.
Tempat gagasan diuji. Tempat penelitian dikritik. Dan tempat generasi muda diberi kesempatan untuk tumbuh.
Karena itu, membangun universitas pada akhirnya bukan hanya persoalan anggaran dan infrastruktur.
Membangun universitas adalah membangun manusia dan ekosistem yang memungkinkan manusia itu berkembang.
Jejak Masa Lalu, Gagasan untuk Masa Depan
Prof Eko Hadi Sujiono bukan satu-satunya tokoh dalam sejarah pembangunan Menara Pinisi.
Dan memang tidak seharusnya demikian. Menara Pinisi adalah hasil kerja kolektif banyak orang.
Namun, keterlibatan Eko dalam Tim Pengembang UNM dan berbagai proses pengembangan institusi menjadi bagian dari perjalanan yang memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan kampus dapat dikawal melalui kerja tim, komunikasi, dan jejaring kelembagaan.
Pengalaman itu memberi satu pelajaran yang mungkin relevan untuk masa depan UNM. Universitas yang besar tidak dibangun dalam satu malam.
Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten, kerja tim yang panjang, keberanian memperjuangkan gagasan, serta kemampuan menghubungkan kepentingan kampus dengan kebutuhan masyarakat.
Menara Pinisi adalah salah satu bukti dari perjalanan tersebut. Kini, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membangun menara.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: Apa yang akan dibangun di dalamnya?
Laboratorium seperti apa yang akan lahir? Penelitian seperti apa yang akan dikembangkan?
Mahasiswa seperti apa yang akan dihasilkan? Dosen muda seperti apa yang akan tumbuh?
Dan seberapa besar manfaat UNM dapat dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi bagian dari percakapan publik menjelang pemilihan rektor.
Sebab, masa depan universitas tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin.
Masa depan universitas ditentukan oleh visi yang dibangun, orang-orang yang dilibatkan, dan kemampuan mengubah visi tersebut menjadi kerja nyata.
Jika Menara Pinisi menjadi simbol perjalanan UNM pada masa lalu, maka tantangan generasi berikutnya adalah memastikan universitas mampu terus berlayar menghadapi masa depan.
Bukan hanya dengan bangunan yang semakin tinggi.
Tetapi dengan ilmu pengetahuan yang semakin kuat, manusia yang semakin berkembang, dan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Menjulang di kawasan kampus, bentuknya yang menyerupai layar kapal pinisi menjadi salah satu identitas visual UNM.
Namun, di balik bangunan yang kini menjadi ikon tersebut, terdapat cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar pembangunan fisik.
Ada gagasan yang harus dirumuskan. Ada kebutuhan kampus yang harus diterjemahkan menjadi perencanaan. Ada proposal yang harus disusun. Ada komunikasi yang harus dibangun dengan berbagai pihak. Dan ada proses panjang untuk memastikan sebuah agenda universitas memperoleh dukungan kebijakan dan pembiayaan.
Di dalam proses panjang itulah nama Prof. Eko Hadi Sujiono menjadi salah satu bagian dari jejak kolektif pembangunan UNM.
Eko bergabung dalam Task Force UNM sejak 2004. Setahun kemudian, ia menjadi bagian dari Tim Pengembang UNM dan kemudian memimpin tim tersebut hingga 2012.
Posisi tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai agenda pengembangan institusi.
Bukan hanya membicarakan apa yang ingin dibangun, tetapi juga bagaimana sebuah gagasan dapat diterjemahkan menjadi program yang dapat diperjuangkan melalui mekanisme kelembagaan.
Menara Pinisi dan Kerja yang Tidak Terlihat
Pembangunan sebuah gedung universitas tidak pernah dimulai dari peletakan batu pertama.
Jauh sebelumnya, terdapat pekerjaan yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Kebutuhan harus dipetakan. Perencanaan harus disusun. Kesiapan teknis harus diperhitungkan. Manfaat akademik harus dijelaskan. Dan yang tidak kalah penting, gagasan tersebut harus dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam proses kebijakan dan penganggaran.
Dalam konteks pembangunan Menara Pinisi, proses tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Rektor UNM saat itu, Prof Dr H Arismunandar.
Sejumlah unsur kampus terlibat dalam proses tersebut.
Eko menjadi salah satu bagian dari tim yang mengawal agenda pengembangan UNM, termasuk mengomunikasikan kebutuhan pembangunan kampus kepada sejumlah pihak strategis.
Di antaranya Wakil Presiden RI periode 2004–2009 Jusuf Kalla, Komisi X DPR RI, serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Keterlibatan tersebut memberikan satu pelajaran penting. Sebuah gagasan besar tidak cukup hanya dirancang di dalam kampus.
Gagasan itu harus mampu dijelaskan, dikomunikasikan, dan diperjuangkan melalui jalur kelembagaan yang tersedia.
Dalam proses pembangunan perguruan tinggi, kemampuan akademik memang penting.
Namun, kemampuan membangun komunikasi dan jejaring kelembagaan juga tidak kalah penting.
Sebab, kebutuhan kampus sering kali harus bertemu dengan kebijakan pemerintah, prioritas pembangunan nasional, serta mekanisme penganggaran yang memiliki aturan tersendiri.
Bukan Pekerjaan Satu Orang
Menara Pinisi kemudian berdiri sebagai salah satu penanda perubahan UNM. Tetapi bangunan tersebut bukan hasil kerja satu orang.
Ada pimpinan yang mengambil keputusan. Ada tim yang menyusun perencanaan. Ada tenaga teknis yang mengerjakan detail.
Ada unsur pemerintah yang memproses kebijakan dan anggaran.
Ada pula banyak orang di lingkungan UNM yang memberikan tenaga, gagasan, dan dukungan.
Karena itu, menyebut sejarah Menara Pinisi semata sebagai keberhasilan seseorang tentu tidak menggambarkan keseluruhan proses.
Justru nilai penting dari pengalaman tersebut terletak pada kemampuan bekerja dalam sebuah tim besar untuk mewujudkan tujuan bersama.
Bagi Eko, pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di UNM.
Setelah terlibat dalam Tim Pengembang, ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari Senat UNM pada 2009–2016.
Ia juga memimpin Tim Penyusun Kinerja Rencana Strategis UNM pada 2010–2011. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan persoalan yang berbeda.
Jika pembangunan fisik berbicara mengenai ruang dan fasilitas, rencana strategis berbicara mengenai arah perjalanan universitas.
Apa yang harus menjadi prioritas? Ke mana universitas harus bergerak?
Bagaimana sumber daya yang terbatas dapat diarahkan pada program yang paling penting?
Dan bagaimana agar setiap program tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari pengalaman kelembagaan yang kemudian membentuk cara pandang seorang akademisi terhadap universitas.
Dari Membangun Gedung ke Membangun Ekosistem
Kini, tantangan UNM tentu berbeda dengan dua dekade lalu.
Jika pada masa pembangunan Menara Pinisi salah satu kebutuhan penting adalah memperkuat sarana dan prasarana, maka perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Persaingan perguruan tinggi semakin terbuka. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara mahasiswa belajar dan dosen bekerja.
Riset dituntut menghasilkan dampak. Dosen muda membutuhkan ruang untuk berkembang.
Mahasiswa membutuhkan pengalaman yang lebih dekat dengan dunia kerja dan persoalan nyata.
Sementara masyarakat mengharapkan perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi.
Dalam situasi seperti itu, pembangunan universitas tidak lagi cukup dimaknai sebagai membangun gedung.
Yang harus dibangun adalah ekosistem. Laboratorium harus hidup.
Kelompok riset harus tumbuh. Dosen muda harus memperoleh kesempatan. Mahasiswa harus diberi ruang untuk mencoba.
Kerja sama dengan industri harus diperluas. Jejaring internasional harus dimanfaatkan. Dan hasil penelitian harus lebih banyak diterjemahkan menjadi manfaat bagi masyarakat.
Pengalaman Eko dalam pengembangan institusi menjadi relevan pada titik ini. Sebab, pengalaman masa lalu tidak seharusnya hanya dikenang sebagai catatan sejarah.
Pengalaman seharusnya menjadi pelajaran untuk menghadapi persoalan yang baru.
Dari Pinisi untuk Masa Depan
Menara Pinisi memiliki makna simbolik yang menarik bagi UNM. Pinisi adalah kapal yang identik dengan kemampuan masyarakat Sulawesi Selatan mengarungi lautan.
Sebuah kapal tidak cukup hanya memiliki bentuk yang bagus. Ia membutuhkan arah. Membutuhkan nakhoda.
Membutuhkan awak yang memahami tugas masing-masing. Dan yang paling penting, seluruh awak harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Universitas pun demikian. Rektor memang memegang posisi penting. Tetapi universitas tidak akan bergerak hanya karena seorang rektor memiliki gagasan.
Dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, peneliti, alumni, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat semuanya merupakan bagian dari ekosistem universitas.
Karena itu, kepemimpinan perguruan tinggi pada masa mendatang membutuhkan kemampuan untuk menyatukan potensi yang sudah ada, bukan sekadar membuat program baru.
Pengalaman dalam pembangunan institusi memberikan pelajaran bahwa perubahan besar membutuhkan waktu. Tidak semuanya dapat diselesaikan dalam satu periode.
Tetapi setiap periode kepemimpinan harus mampu meninggalkan fondasi yang lebih baik bagi periode berikutnya.
Tantangan UNM ke Depan
Menjelang Pemilihan Rektor UNM periode 2026–2030, pertanyaan mengenai masa depan universitas menjadi semakin penting.
UNM memiliki kekuatan besar sebagai perguruan tinggi yang memiliki akar kuat dalam pendidikan dan menghasilkan banyak tenaga pendidik untuk Indonesia.
Namun, kekuatan tersebut harus terus dikembangkan. UNM perlu memperkuat reputasi akademik dan riset.
Mendorong lebih banyak inovasi. Membuka kesempatan lebih luas bagi dosen muda. Memperkuat internasionalisasi. Menghubungkan penelitian dengan kebutuhan Sulawesi Selatan.
Serta memastikan transformasi digital dan kecerdasan buatan menjadi alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan sekadar mengikuti tren.
Di sisi lain, kampus juga perlu menjaga sesuatu yang tidak kalah penting: budaya akademik yang sehat.
Universitas adalah tempat orang belajar berbeda pendapat.
Tempat gagasan diuji. Tempat penelitian dikritik. Dan tempat generasi muda diberi kesempatan untuk tumbuh.
Karena itu, membangun universitas pada akhirnya bukan hanya persoalan anggaran dan infrastruktur.
Membangun universitas adalah membangun manusia dan ekosistem yang memungkinkan manusia itu berkembang.
Jejak Masa Lalu, Gagasan untuk Masa Depan
Prof Eko Hadi Sujiono bukan satu-satunya tokoh dalam sejarah pembangunan Menara Pinisi.
Dan memang tidak seharusnya demikian. Menara Pinisi adalah hasil kerja kolektif banyak orang.
Namun, keterlibatan Eko dalam Tim Pengembang UNM dan berbagai proses pengembangan institusi menjadi bagian dari perjalanan yang memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan kampus dapat dikawal melalui kerja tim, komunikasi, dan jejaring kelembagaan.
Pengalaman itu memberi satu pelajaran yang mungkin relevan untuk masa depan UNM. Universitas yang besar tidak dibangun dalam satu malam.
Ia dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten, kerja tim yang panjang, keberanian memperjuangkan gagasan, serta kemampuan menghubungkan kepentingan kampus dengan kebutuhan masyarakat.
Menara Pinisi adalah salah satu bukti dari perjalanan tersebut. Kini, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membangun menara.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: Apa yang akan dibangun di dalamnya?
Laboratorium seperti apa yang akan lahir? Penelitian seperti apa yang akan dikembangkan?
Mahasiswa seperti apa yang akan dihasilkan? Dosen muda seperti apa yang akan tumbuh?
Dan seberapa besar manfaat UNM dapat dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi bagian dari percakapan publik menjelang pemilihan rektor.
Sebab, masa depan universitas tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin.
Masa depan universitas ditentukan oleh visi yang dibangun, orang-orang yang dilibatkan, dan kemampuan mengubah visi tersebut menjadi kerja nyata.
Jika Menara Pinisi menjadi simbol perjalanan UNM pada masa lalu, maka tantangan generasi berikutnya adalah memastikan universitas mampu terus berlayar menghadapi masa depan.
Bukan hanya dengan bangunan yang semakin tinggi.
Tetapi dengan ilmu pengetahuan yang semakin kuat, manusia yang semakin berkembang, dan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
(UMI)
Berita Terkait
News
Prof Eko Hadi Sujiono Bawa Pengalaman Riset Belanda ke UNM
Perjalanan seorang peneliti ke luar negeri tidak selalu berakhir ketika pesawat membawanya pulang ke Indonesia.
Rabu, 26 Agu 2026 07:48
Makassar City
Himatik FT-UNM Gelar ACO 2026, Bekali Calon Engineer Lewat Semangat Konstelasi
Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (Himatik) Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (FT-UNM) menggelar Academic Culture Orientation (ACO) di Gedung Dekanat FT-UNM, Sabtu (22/8/2026).
Senin, 24 Agu 2026 06:26
News
FIKK UNM Latih Siswa SMP Negeri 11 Makassar Terapkan School Active Break untuk Kurangi Risiko Sedentari
Program Studi Promosi Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMP Negeri 11 Makassar, melalui pelatihan Peregangan Dinamis Gerakan School Active Break di Sekolah sebagai Mitigasi Risiko Sedentari Siswa.
Kamis, 20 Agu 2026 18:15
News
Output Riset Tumbuh 12 Persen, UNM Pimpin Akselerasi PTN Kawasan Timur
Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatat pertumbuhan output riset sebesar 12 persen pada periode Januari–Juni 2026. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam pemetaan 11 perguruan tinggi negeri kawasan Timur Indonesia yang ditampilkan berdasarkan data Elsevier.
Rabu, 19 Agu 2026 15:25
News
Tiga Dekade Mengabdi, Prof Eko Hadi Sujiono Nyatakan Siap Pimpin UNM
Momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Negeri Makassar (UNM), 17 Agustus 2026, menjadi hari yang memiliki makna khusus bagi Prof Eko Hadi Sujiono.
Selasa, 18 Agu 2026 19:03
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler