Jelang Penjurian, 24 Guru se-Sulawesi Peserta TTC 2026 Bakti BCA Ikuti Bootcamp

Kamis, 17 Sep 2026 19:57
Jelang Penjurian, 24 Guru se-Sulawesi Peserta TTC 2026 Bakti BCA Ikuti Bootcamp
Salah satu dari 12 tim peserta TTC BCA 2026 tampak serius membenahi inovasi pada kegiatan Boorcamp di Hotel Santika, Kota Makassar. Foto: SINDO Makassar/Luqman Zainuddin
Comment
Share
MAKASSAR - Sebanyak 12 tim peserta Teacher Tech Championship (TTC) 2026 mengikuti Teacher Innovator Bootcamp di Hotel Santika Makassar, Kamis (17/9/2026).

Bootcamp menjadi salah satu tahapan dalam rangkaian TTC 2026. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk memperkuat kompetensi sekaligus mematangkan inovasi yang telah dikembangkan melalui proses mentoring dan pendampingan.

TTC 2026 merupakan program kompetisi dan pengembangan profesional guru yang dipersembahkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA. Kompetisi ini ditujukan bagi guru SMA/MA di wilayah Sulawesi yang mengampu mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, Informatika, serta Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).

Mengusung tema “Inovasi alat bantu pembelajaran berbasis STEM untuk mendukung Deep Learning (pembelajaran berkesadaran, bermakna dan menggembirakan)”, TTC 2026 memberikan ruang bagi para guru untuk mengembangkan gagasan dan prototipe alat bantu pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.

12 tim yang terdiri atas 24 guru ini berasal dari 12 sekolah di enam provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

Mereka berasal dari MAN 2 Kota Makassar, MAN Pinrang, SMAS Al-Azhar Mandiri Palu, MAN 3 Kota Makassar, MAN Insan Cendekia Gowa, MAN 1 Majene, SMA Negeri 1 Balaesang, SMAN 1 Gowa, SMA Negeri 1 Kabila, UPTD SMAN 1 Dapurang, SMA Negeri 2 Bitung, dan SMAN 1 Kendari.

Dalam TTC 2026, para guru tidak hanya berkompetisi menghasilkan karya, tetapi juga mendapatkan pembekalan untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, coding dasar, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), serta pendekatan design thinking.

Berbagai inovasi yang dikembangkan peserta menggabungkan teknologi digital dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah. Mulai dari aplikasi berbasis AI, laboratorium virtual, permainan edukatif, simulasi lingkungan, hingga perangkat fisik yang terhubung dengan sistem digital.

EcoSense City MAN Insan Cendekia Gowa

Salah satu peserta, Nurul Inayah Khairaty, guru Biologi MAN Insan Cendekia Gowa, mengatakan dirinya mengetahui TTC 2026 melalui media sosial. Informasi tersebut kemudian diperkuat melalui grup sekolah setelah adanya edaran dari Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan.

Nurul kemudian mengikuti kegiatan bersama rekannya, Nurmadinah, yang memiliki latar belakang Matematika sekaligus mengajar Informatika. Keduanya mengembangkan EcoSense City: Smart Environmental Learning System for Data-Driven Decision Making.

Inovasi tersebut merupakan alat bantu pembelajaran hybrid yang menggabungkan perangkat fisik berupa maket kota dengan perangkat digital berupa dashboard.

Nurul menjelaskan, siswa nantinya dapat melakukan simulasi pada maket dan melihat perubahan indikator lingkungan melalui dashboard digital.

“Jadi sebenarnya ini simulasi yang menggabungkan antara dua alat. Jadi ada hardware dan ada software. Jadi nanti siswa itu untuk belajar, khususnya materi lingkungan, nanti mereka bisa memprediksikan bagaimana kondisi kota ketika misalkan siswa melakukan perilaku tertentu,” kata Nurul.

Dalam simulasi tersebut, siswa dapat melihat hubungan antara satu kondisi dengan kondisi lingkungan lainnya. Misalnya, perubahan pada zona sampah akan memperlihatkan dampaknya terhadap zona air dan zona hijau.

EcoSense City menggunakan maket kota berukuran sekitar 60 x 40 sentimeter yang terbagi menjadi tiga zona. Sementara komponen digitalnya berupa dashboard berbasis HTML, CSS, dan JavaScript yang dijalankan secara luring melalui laptop guru.

Dashboard tersebut menampilkan status ketiga zona, menghitung EcoSense Sustainability Index (ESI), serta menyajikan grafik perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu. Ketika salah satu zona mendekati ambang kritis, sistem akan memberikan pertanyaan reflektif yang mendorong siswa menganalisis penyebab dan merancang tindakan perbaikannya sendiri.

Konsep tersebut juga disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah. Data dari lingkungan sekolah, termasuk zona sampah, nantinya dapat dimasukkan ke dalam sistem untuk diolah menggunakan statistik deskriptif dasar dan ditampilkan dalam bentuk grafik.

Menurut Nurul, inovasi tersebut berangkat dari persoalan bahwa siswa sebenarnya telah mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi pengetahuan tersebut belum selalu mendorong tindakan.

“Nah, jadi sebenarnya tujuannya ini adalah, siswa sebenarnya kan sudah tahu, semua orang juga sudah tahu kalau misalkan sampah harus dipilah, bagaimana tindakan kita ke lingkungan. Cuma gap-nya adalah kita hanya tahu saja, tetapi belum tergerak untuk melakukan tindakan aksi,” ujarnya.

Melalui simulasi tersebut, siswa diharapkan dapat melihat konsekuensi dari tindakan yang dilakukan terhadap lingkungan.

“Jadi harapannya nanti gap antara dengan adanya simulasi ini, nanti siswa bukan cuma tahu saja, tapi bisa sampai tergerak untuk melakukan tindakan nyata terhadap kondisi-kondisi lingkungan yang sedang terjadi,” lanjutnya.

Nama kota dalam simulasi juga dapat dibuat oleh siswa. Konsep ini membuat siswa seolah-olah memiliki kota sendiri yang harus dirawat.

KIMORA MAN 2 Makassar

Inovasi lainnya datang dari MAN 2 Kota Makassar melalui KIMORA (Kimia Monitoring & Reasoning AI) yang dikembangkan guru Kimia Hj. Nurhamida Yusuf bersama rekannya Chairul Akbar.

KIMORA dirancang sebagai alat bantu ajar Kimia berbentuk hybrid, yakni menggabungkan perangkat fisik bersensor dengan sistem digital berbasis suara. Alat tersebut dapat digunakan untuk berbagai materi Kimia dengan mengganti parameter yang diuji, mulai dari asam-basa, larutan, hingga kimia lingkungan.

Menurut Nurhamida, KIMORA dibuat untuk memudahkan guru dan siswa dalam melakukan praktikum. Dalam satu perangkat, siswa dapat melakukan pengukuran sejumlah indikator, antara lain suhu, pH, dan Total Dissolved Solids (TDS).

Perangkat KIMORA memiliki wadah pengujian yang dilengkapi tiga sensor. Siswa memilih sensor yang digunakan melalui menu pada layar yang terhubung dengan mikrokontroler ESP32. Hasil pengukuran kemudian dapat dikirim ke dashboard untuk disusun dalam bentuk tabel dan grafik.

KIMORA juga dilengkapi fitur Reasoning AI berbasis suara. Sistem dapat memberikan pertanyaan pemantik kepada siswa, sementara siswa dapat memberikan jawaban melalui suara.

Menurut Nurhamida, keberadaan AI membuat kegiatan praktikum menjadi lebih interaktif. Selain melakukan pengukuran, siswa dapat memperoleh penjelasan mengenai kondisi air sekaligus melakukan tanya jawab dengan sistem.

Konsep tersebut membuat proses praktikum tidak hanya berfokus pada hasil pengukuran. Siswa juga diarahkan untuk memahami hasil yang diperoleh dan mengembangkan proses berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sistem.

KIMORA juga memiliki potensi digunakan lintas materi karena parameter yang diuji dapat disesuaikan. Dengan demikian, satu perangkat dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan investigasi dalam pembelajaran Kimia.

Nurhamida mengapresiasi BCA atas inisiasi ini. Menurutnya, TTC menjadi ruang untuk merancang teknologi berdasarkan persoalan nyata di kelas sekaligus menyempurnakan alat yang sebelumnya telah digunakan bersama siswa.

Selain EcoSense City dan KIMORA, para peserta TTC 2026 membawa beragam inovasi lain. Di antaranya MATHRACK dari MAN Pinrang yang memanfaatkan Math City Map, ChemMission WebLab dari MAN 3 Kota Makassar, GenPlay dari SMAN 1 Gowa, TI SENANG dari SMA Negeri 1 Kabila, Physion dari UPTD SMAN 1 Dapurang, SAVER-KIT dari SMA Negeri 2 Bitung, serta AJARI dari SMAN 1 Kendari.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru