blu by BCA Digital dan Transformasi Finansial Generasi Muda Indonesia

Jum'at, 31 Jul 2026 09:41
blu by BCA Digital dan Transformasi Finansial Generasi Muda Indonesia
blu by BCA Digital menjadi pilihan andal bagi generasi muda untuk bijak mengelola keuangan. Foto/Ilustrasi/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Bagi Andi Ulfa (28), mengelola uang dulu hanyalah memastikan gaji cukup hingga akhir bulan. Selama bertahun-tahun, ia menjadi nasabah BCA untuk memenuhi kebutuhan transaksi harian. Namun, setahun terakhir, cara pandangnya terhadap keuangan mulai berubah setelah mengenal blu by BCA Digital.

Bukan karena tren bank digital semata. Perempuan muda yang aktif bekerja di Kota Makassar itu justru mengaku awalnya tertarik karena hal yang sederhana. Ia tergoda promo yang kerap muncul di media sosial.

"Awalnya saya sering lihat promonya di media sosial. Saya pikir lumayan, bisa lebih hemat," kata Ulfa, saat berbincang dengan SINDO Makassar, akhir Juli 2026.

Keputusan mencoba aplikasi itu ternyata membawa perubahan yang tidak ia duga. Promo memang membuat pengeluaran lebih ringan, tetapi fitur-fitur yang tersedia justru perlahan membentuk kebiasaan baru dalam mengelola uang.

Ulfa mulai memanfaatkan bluSaving untuk memisahkan tabungan berdasarkan tujuan. Dana darurat tidak lagi bercampur dengan anggaran liburan ataupun kebutuhan belanja. Ketika ingin menabung bersama teman, bisa memakai bluGether, sedangkan fitur Analisis Transaksi membantunya melihat ke mana saja uangnya mengalir setiap bulan.

Tanpa harus mencatat secara manual, ia kini dapat mengevaluasi kebiasaan belanja dan menentukan pengeluaran mana yang perlu dikurangi. "Buat saya, sekarang mengatur uang jadi lebih rapi. Kita jadi tahu pengeluaran terbesar ada di mana dan bisa lebih disiplin menabung," ujarnya.

Kemudahan lain yang paling ia rasakan adalah transaksi yang praktis. Transfer ke rekening BCA dapat dilakukan tanpa biaya administrasi, pembayaran menggunakan QRIS berlangsung cepat, dan rekening dapat diakses kapan saja melalui telepon genggam.

Bagi Ulfa, layanan digital banking tidak lagi sekadar memindahkan aktivitas perbankan ke aplikasi. Kehadirannya justru membantu membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Pengalaman itu, kata dia, telah membuktikan bahwa teknologi bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga menjadi alat untuk belajar mengelola keuangan.

Perubahan perilaku seperti yang dialami Ulfa menjadi salah satu alasan mengapa layanan perbankan digital terus berkembang di Indonesia. Generasi muda tidak hanya membutuhkan layanan yang cepat, tetapi juga solusi yang membantu mereka menyusun prioritas keuangan di tengah gaya hidup yang serba dinamis.

Komisaris Utama BCA Digital, Grace Putri Aju Dewijany, dalam laporan tahunan terbaru mengatakan, transformasi tersebut menjadi peluang bagi industri perbankan untuk menghadirkan inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut dia, di tengah dinamika ekonomi global, BCA Digital terus menjaga pertumbuhan melalui strategi bisnis yang adaptif, inovasi berkelanjutan, serta berbagai kampanye edukatif yang mendorong literasi dan inklusi keuangan.

"Inovasi kami tidak berhenti pada pengembangan produk dan layanan. Kami juga menghadirkan kolaborasi, program edukasi, hingga berbagai inisiatif keberlanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas," kata Grace.

Ia menambahkan, meningkatnya jumlah nasabah, pertumbuhan dana pihak ketiga, volume transaksi, serta penyaluran kredit menjadi bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan BCA Digital. Hal itu juga menunjukkan komitmen perusahaan dalam memperluas akses keuangan yang inklusif.

blu by BCA Digital dan Transformasi Finansial Generasi Muda Indonesia

Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Digital BCA, Lanny Budiati, menekankan pertumbuhan tersebut juga tercermin pada kinerja perusahaan sepanjang 2025. Jumlah nasabah telah melampaui 3 juta orang. Dana pihak ketiga mencapai Rp14,3 triliun atau tumbuh 22 persen dibanding tahun sebelumnya.

Adapun penyaluran kredit meningkat menjadi Rp8,6 triliun atau naik 31 persen, sedangkan pendapatan operasional mencapai Rp1,5 triliun, tumbuh 38 persen. Di saat yang sama, laba bersih melonjak 98 persen menjadi Rp213,4 miliar. BCA Digital juga meraih 50 penghargaan di berbagai bidang.

Menurut Lanny, angka-angka tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang terus dikembangkan BCA Digital.

"Lebih dari sekadar pertumbuhan bisnis, kami ingin menghadirkan solusi finansial yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Itulah semangat Tumbuh Bareng Kamu, tumbuh bersama setiap langkah nasabah dalam mencapai tujuan finansialnya," katanya.

Ia menambahkan, tantangan industri digital banking bukan hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memastikan keamanan transaksi. Karena itu, BCA Digital terus memperkuat infrastruktur teknologi sekaligus menjalankan berbagai program edukasi, termasuk kampanye #JagaDataJagaHarta, agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga data pribadi.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae. Menurutnya, digitalisasi perbankan merupakan keniscayaan yang harus diikuti dengan peningkatan literasi masyarakat.

OJK telah menyiapkan berbagai regulasi, mulai dari Blueprint Digitalisasi Perbankan hingga kebijakan mengenai ketahanan siber, untuk memastikan inovasi berjalan beriringan dengan perlindungan konsumen. Namun, ia menegaskan bahwa keamanan transaksi digital juga bergantung pada kedisiplinan nasabah dalam menjaga PIN, kata sandi, dan data pribadi.

"Jangan pernah memberikan PIN ataupun kata sandi kepada siapa pun. Kejahatan terjadi karena ada kesempatan, dan kesempatan itu jangan sampai kita ciptakan sendiri," ujarnya.

Nah, pengalaman Ulfa menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Terkadang, semua hanya berawal dari keinginan mencari promo agar lebih hemat. Dari sana lahir kebiasaan baru yakni mencatat pengeluaran, menata tabungan, menetapkan tujuan keuangan, hingga memahami pentingnya keamanan transaksi.

Di tengah perkembangan teknologi, generasi muda memang selalu menemukan seribu satu cara mengelola keuangan mereka. Dan, ketika inovasi digital dipadukan dengan literasi dan inklusi keuangan, setiap transaksi bukan lagi sekadar aktivitas finansial, melainkan langkah kecil menuju masa depan yang lebih terencana.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru