Gandeng Inggris, Unhas Kembangkan Riset Pengelolaan Sampah Rendah Karbon

Senin, 19 Okt 2026 16:18
Gandeng Inggris, Unhas Kembangkan Riset Pengelolaan Sampah Rendah Karbon
Foto bersama antara pimpinan Unhas, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, dan jajaran Pemkot Makassar, di Fakultad Peternakan Unhas, Senin (19/10/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Universitas Hasanuddin (Unhas) menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic James Robert Jermey, dalam rangka penguatan program Low Carbon Development Indonesia-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF), di Ruang Senat, Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin (19/10/2026).

Agenda kunjungan ini mencakup Kuliah Umum, Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), serta peninjauan program Pengelolaan Sampah Terintegrasi Berbasis Teknologi Maggot dan Ayam Alope UNHAS-1, di wilayah Fakultas Peternakan Unhas.

Kerja sama tersebut menjadi langkah nyata Unhas dan Pemerintah Inggris melalui pendanaan UK-PACT dalam mendukung pembangunan rendah karbon, inovasi teknologi, serta penguatan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas kemitraan strategis ini. Ia menegaskan bahwa misi utama Unhas adalah menghadirkan riset yang berdampak langsung sebagai solusi atas permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi.

"Kita berterima kasih kemudian juga bersyukur ada kerjasama yang luar biasa. Bagi Unhas, misinya adalah bagaimana mengembangkan riset untuk mendapatkan solusi-solusi. Jadi hasil riset itu harus menjadi solusi. Hari ini kita kemudian mengkonversi sampah itu menjadi sumber daya yang sangat bermanfaat," ujarnya.

Ia menambahkan, konsep kehidupan rendah karbon tidak hanya sekadar bentuk kesadaran terhadap perubahan iklim, tetapi juga difokuskan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Tetapi low-carbon development ini, program ini, kemudian kita konversi menjadi sesuatu yang bermanfaat langsung, bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga bermanfaat kepada ekonomi sosial masyarakat yang memang diprogramkan secara bersama-sama seluruh stakeholder," tambahnya.

Menurutnya, kerja sama ini menjadi bentuk program integrasi yang sangat baik dengan dukungan dari Pemerintah Inggris.

"Jadi suatu program integrasi yang luar biasa yang didukung oleh pemerintah Inggris yang kita harapkan kelak walaupun dimulai dari kecil tapi ini akan diadopsi di beberapa daerah, sudah banyak yang antre," sebutnya.

Ketua Dewan Pembina KPTN-KTI itu juga berharap agar keberadaan ayam alopie dapat menjadi simbol kebangkitan ekonomi lokal berbasis sumber daya daerah.

"Karena di dalamnya juga ada pemberdayaan ayam alope yang merupakan kebanggaan nasional, dan kita berharap ayam alopie ini juga nanti akan menjadi simbol bangkitnya ekonomi lokal yang berbasis pada sumber daya lokal juga," terangnya kepada wartawan.

Rektor yang akrab disapa Prof JJ itu menyampaikan bahwa penyeimbangan antara perlindungan lingkungan dan kesejahteraan warga menjadi dorongan utama

"Jadi ini sesuatu yang kita harapkan motivasi utama dan terutama tentu adalah menyeimbangkan antara menyelamatkan lingkungan dan juga mensejahterakan masyarakat melalui program-program sirkular ekonomi yang tadi sudah kita banyak macam yang kemudian semua bernilai ekonomi mulai dari produksi maggot," sambungnya.

Selain maggot, kata Prof JJ, produksi kompos dan budidaya cacing juga diproyeksikan akan memberikan nilai tambah ekonomi.

"Tentu memproduksi ayam alopie yang nilai atau biaya-biaya pemeliharaannya bisa lebih murah karena menggunakan pakan yang lebih murah tetapi juga tetap berkualitas dan juga fresh. Saya berharap ini menjadi awal yang baik. Memang belum selesai, tapi ini sudah sekitar 60% yang kita harapkan di bulan-bulan nanti sudah akan beroperasi penuh. Pak Dubes berjanji akan datang lagi untuk meresmikan secara lebih transparan. Terima kasih Pak Dubes," tutupnya.

Sementara, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic James Robert Jermey, menyampaikan bahwa kunjungannya ke Unhas bertujuan untuk melihat secara langsung implementasi kolaborasi Indonesia–Inggris di bawah kerangka UK-PACT.

"Hari ini untuk melihat secara langsung bagaimana kerjasama Indonesia - Inggris di bawah UK-PACT (UK Low Carbon Development Initiative Innovation and Technology Fund) mendorong delapan solusi iklim yang inovatif," katanya.

Ia menuturkan bahwa kemitraan riset dan inovasi ini berfokus mengonversi sampah organik menjadi sumber daya produktif yang bernilai ekonomis bagi masyarakat.

"Saya juga berkesempatan bertemu dengan para perempuan dan anak muda yang mendapatkan pelatihan digital melalui SIIP serta para perempuan dan pejuang konservasi lokal di Maros yang menginspirasi, yang kami dukung melalui program Setapak," tuturnya.

Dubes Inggris mengapresiasi upaya mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi komunitas setempat.

"Saya juga menjelajahi lukisan gua prasejarah dan stalagmit yang luar biasa di Leang-Leang yang telah menginspirasi penelitian dan pariwisata yang didukung oleh British Council melibatkan seniman Inggris hingga kini," ucapnya.

Tidak hanya itu, Dominic James Robert Jermey berharap agar pertemuan ini mampu mempererat hubungan antar dua negara.

"Seiring semakin eratnya kemitraan strategis Indonesia dan Inggris, saya berharap kunjungan ini dapat memperdalam kerjasama dengan Sulawesi Selatan guna mendorong pertumbuhan hijau, inklusi digital, dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat," pungkasnya.

Melalui penguatan kemitraan strategis ini, Pemerintah Inggris dan Unhas berharap kolaborasi di Sulawesi Selatan dapat terus diperdalam guna mendorong pertumbuhan hijau (green growth), inklusi digital, serta inovasi yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, menyatakan bahwa Pemerintah Kota Makassar memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) tersebut.

"Kami tentu menunggu pembangunan ini hingga beroperasi 100%, setelah itu akan kami tinjau kembali. Tentu akan ada banyak hal yang berkaitan dengan teknis, mulai dari perizinannya, kemudian nanti hal-hal penunjang seperti pengelolaan magotnya, atau mungkin bagaimana penanganan sampahnya. Tentu hal tersebut akan kami support secara 100% karena kami telah menandatangani MoU," katanya kepada SINDO Makassar.

Helmy berharap bantuan dan dukungan dari Pemerintah Inggris tersebut tidak berhenti di Unhas saja, melainkan dapat diperluas ke berbagai wilayah lainnya.

"Seperti universitas atau sekolah-sekolah lain, atau mungkin juga kawasan-kawasan bisnis lain, agar dapat melakukan hal yang sama. Ini merupakan bukti nyata kita dalam mendukung program Makassar Bebas Sampah 2029," harapnya.

Dia bilang bahwa untuk tahap awal pengelolaan masih berfokus di lingkup Unhas sembari memantau dan menguji kapasitas operasional.

"Untuk saat ini, tentu dengan kapasitas yang belum mereka mulai pada Februari nanti, untuk melihat kapasitasnya, mungkin masih sekitar lingkup Unhas dulu. Tetapi tentu nanti jika beriringnya waktu, karena magot ini rakus akan sampah. Tentu akan kita ambil sampah dari kecamatan pastinya. Kecamatan Tamalanrea atau Biringkanaya, karena merupakan lokasi yang paling dekat dari lokasi Unhas ini," jelas Helmy.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru