UMI Latih 31 Imam Rawatib, Perkuat Budaya Kampus Islami dan Pendidikan Karakter

Senin, 26 Okt 2026 09:33
UMI Latih 31 Imam Rawatib, Perkuat Budaya Kampus Islami dan Pendidikan Karakter
Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperkuat budaya kampus Islami melalui Pelatihan Imam Rawatib dalam Lingkup UMI yang dibuka pada Senin (26/10/2026).
Comment
Share
MAKASSAR - Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperkuat budaya kampus Islami melalui Pelatihan Imam Rawatib dalam Lingkup UMI yang dibuka pada Senin (26/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Catur Dharma UMI, khususnya Dharma Keempat tentang Komitmen Keumian dan Pendidikan Karakter.

Rektor UMI, Prof Hambali Thalib, diwakili Wakil Rektor IV UMI, Dr KH Muhammad Ishaq Samad, Mmembuka kegiatan yang berlangsung di Aula Prof Masrurah Mokhtar, Kantor UPT Pengembangan Karakter dan Dakwah (PKD) UMI, Kampus II.

Pelatihan tersebut diikuti 31 peserta dan dihadiri Kepala UPT PKD UMI, Dr Andi Darmawangsa, Ketua Panitia Dr Abdul Qahar, serta sejumlah kepala bidang dalam lingkup UPT PKD UMI.

Dalam sambutan Rektor UMI yang dibacakan Muhammad Ishaq Samad, ditegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk manusia beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian dari budaya kampus yang diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai Islami.

“Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah atau mata kuliah. Pendidikan karakter harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian kampus melalui keteladanan, pembiasaan, dan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai Islami,” demikian pesan Rektor UMI.

Rektor UMI menekankan bahwa imam rawatib memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan religius di lingkungan universitas. Tugas imam tidak hanya memimpin salat lima waktu, tetapi juga menjadi teladan dalam kedisiplinan spiritual, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan membina akhlak jamaah.

Melalui salat berjamaah, sivitas akademika belajar tentang disiplin dan ketaatan. Sementara itu, keteraturan saf mencerminkan nilai persaudaraan, kebersamaan, dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam aktivitas akademik dan pekerjaan sehari-hari, mulai dari kejujuran, kedisiplinan, kesantunan berkomunikasi hingga tanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Menurut Rektor UMI, imam rawatib yang berkualitas bukan hanya memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an dengan baik, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu menjadi teladan bagi jamaah.

Pelatihan Imam Rawatib UMI dirancang untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam sejumlah aspek, di antaranya membaca Al-Qur'an sesuai kaidah tajwid dan makharijul huruf, memahami fikih salat, serta memiliki keterampilan memimpin salat berjamaah.

Selain kemampuan teknis, peserta juga diharapkan memperkuat akhlak, keteladanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai ke-UMI-an.

Dengan peningkatan kompetensi tersebut, masjid di lingkungan UMI diharapkan dapat berfungsi lebih optimal sebagai pusat pembinaan iman, akhlak, ukhuwah Islamiyah, dan dakwah Qur'ani.

Rektor UMI juga berharap UPT PKD bersama pimpinan dan pengelola masjid dapat menindaklanjuti pelatihan melalui pembinaan berkala, pendampingan, serta evaluasi yang terarah.

Langkah tersebut dinilai penting agar pelatihan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi memberikan dampak berkelanjutan terhadap kualitas pelayanan ibadah dan pembinaan karakter di lingkungan kampus.

Penguatan kualitas imam rawatib menjadi bagian dari upaya UMI membangun ekosistem kampus Islami. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada pada pengelola masjid dan UPT PKD, tetapi juga melibatkan pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Rektor UMI mengingatkan pentingnya keselarasan antara nilai-nilai yang diajarkan dengan perilaku yang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai kita berbicara tentang akhlak, tetapi perilaku kita tidak mencerminkannya. Pendidikan karakter yang paling efektif bukan hanya melalui apa yang kita ucapkan, tetapi melalui apa yang kita contohkan,” demikian pesan Rektor UMI.

Ia berharap masjid-masjid di lingkungan UMI semakin makmur dan menjadi tempat yang menenangkan hati, memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan tanggung jawab sivitas akademika. Upaya ini sekaligus memperkuat penerapan nilai luhur UMI, yakni “Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, Akhlaqul Karimah,” sebagai landasan mewujudkan universitas sebagai menara ilmu dan iman sekaligus pusat dakwah dan peradaban.

Melalui pelatihan ini, UMI menegaskan komitmennya memperkuat implementasi Catur Dharma, khususnya Dharma Keempat tentang Komitmen Keumian dan Pendidikan Karakter. Program tersebut diharapkan melahirkan imam rawatib yang kompeten, berintegritas, dan istiqamah, sekaligus mendukung terwujudnya masjid yang makmur dan sivitas akademika yang berkarakter Islami.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru