Kisah Pengabdian Bidan Cahaya Husniati di Pelosok Majene
Senin, 26 Okt 2026 17:26
Bidan Cahaya, Husniati menempuh jalan setapak untuk menjangkau masyarakat di pelosok Banua Adolang, Kabupaten Majene. Foto/Istimewa
MAJENE - Perjalanan menuju pasien bisa memakan waktu berjam-jam, melewati jalan terjal, menyeberangi sungai, hingga dilanjutkan dengan berjalan kaki. Namun, bagi Husniati, medan berat bukan alasan untuk berhenti melayani. Di pelosok Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, bidan ini terus mendatangi warga yang membutuhkan pertolongan, terutama ibu hamil, ibu melahirkan, bayi, dan anak-anak.
Untuk menjangkau warga di Dusun Coci, Husniati harus berkendara sepeda motor selama sekitar dua jam, menyeberangi sungai, lalu berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Perjalanan panjang itu menjadi bagian dari pengabdiannya selama sekitar enam tahun sebagai bidan di tanah kelahirannya.
Pengabdian Husniati mendapat dukungan melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Program ini menjadi bagian dari upaya PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) dalam membantu para bidan yang bertugas di wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan para bidan yang bertugas di wilayah terpencil membutuhkan dukungan agar dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik.
Bagi Husniati, menjadi bidan bukan sekadar profesi, melainkan pilihan untuk mengabdi kepada masyarakat di daerah asalnya. Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia tumbuh bersama enam saudara lainnya dan menjadi satu-satunya yang memilih profesi bidan. Di tengah kesibukan melayani warga, ia juga berupaya membantu pendidikan dua adiknya, sembari menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
Selama bertugas, Husniati melayani warga di sejumlah dusun, antara lain Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, ia mendatangi masyarakat untuk memberikan edukasi tentang kesehatan ibu dan anak serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026. Saat itu, Husniati menerima panggilan untuk membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte. Bersama bidan lainnya, Masrianti, ia menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Pamboang untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Namun, keluarga pasien sempat ragu untuk melakukan rujukan. Husniati pun menghabiskan hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya penanganan di fasilitas kesehatan. Tantangan berikutnya muncul ketika ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien. Ibu tersebut harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Sekitar pukul 03.00 WITA, dalam perjalanan menggunakan ambulans menuju Puskesmas Pamboang, ibu tersebut akhirnya melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram. Pengalaman itu menggambarkan beratnya tantangan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, ketika tenaga medis tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga harus mampu mendampingi warga melewati kendala akses dan keraguan dalam mengambil keputusan.
Sebelum bergabung dengan Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang dihadapinya. Dukungan melalui YBM PLN kemudian menjadi salah satu penguat bagi Husniati untuk terus menjalankan tugasnya melayani masyarakat.
Husniati berharap warga di pelosok semakin mudah memperoleh pelayanan kesehatan, terutama bagi ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Ia ingin tetap mendampingi masyarakat meskipun akses dan sarana pelayanan belum sepenuhnya memadai.
“Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi,” ujar Husniati.
Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar mendukung upaya memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kerjanya. Perjalanan Husniati di pelosok Majene menunjukkan bahwa menghadirkan layanan kesehatan tak cukup hanya dengan tenaga dan pengetahuan medis. Dibutuhkan pula ketekunan untuk menempuh jalan sulit, mendatangi warga, dan tetap hadir ketika pertolongan dibutuhkan.
Untuk menjangkau warga di Dusun Coci, Husniati harus berkendara sepeda motor selama sekitar dua jam, menyeberangi sungai, lalu berjalan kaki selama kurang lebih satu jam. Perjalanan panjang itu menjadi bagian dari pengabdiannya selama sekitar enam tahun sebagai bidan di tanah kelahirannya.
Pengabdian Husniati mendapat dukungan melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN. Program ini menjadi bagian dari upaya PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) dalam membantu para bidan yang bertugas di wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan para bidan yang bertugas di wilayah terpencil membutuhkan dukungan agar dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, kami berharap dukungan ini dapat membantu para bidan menjalankan pengabdian sekaligus mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Didik.
Bagi Husniati, menjadi bidan bukan sekadar profesi, melainkan pilihan untuk mengabdi kepada masyarakat di daerah asalnya. Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia tumbuh bersama enam saudara lainnya dan menjadi satu-satunya yang memilih profesi bidan. Di tengah kesibukan melayani warga, ia juga berupaya membantu pendidikan dua adiknya, sembari menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
Selama bertugas, Husniati melayani warga di sejumlah dusun, antara lain Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, ia mendatangi masyarakat untuk memberikan edukasi tentang kesehatan ibu dan anak serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada Jumat dini hari, 9 Oktober 2026. Saat itu, Husniati menerima panggilan untuk membantu seorang ibu yang hendak melahirkan di Dusun Ratte. Bersama bidan lainnya, Masrianti, ia menyarankan agar pasien segera dirujuk ke Puskesmas Pamboang untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
Namun, keluarga pasien sempat ragu untuk melakukan rujukan. Husniati pun menghabiskan hampir dua jam untuk menjelaskan pentingnya penanganan di fasilitas kesehatan. Tantangan berikutnya muncul ketika ambulans tidak dapat menjangkau rumah pasien. Ibu tersebut harus diusung menggunakan tandu selama sekitar satu jam menuju jalan yang bisa dilalui kendaraan.
Sekitar pukul 03.00 WITA, dalam perjalanan menggunakan ambulans menuju Puskesmas Pamboang, ibu tersebut akhirnya melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3.100 gram. Pengalaman itu menggambarkan beratnya tantangan pelayanan kesehatan di wilayah terpencil, ketika tenaga medis tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga harus mampu mendampingi warga melewati kendala akses dan keraguan dalam mengambil keputusan.
Sebelum bergabung dengan Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela dari pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang dihadapinya. Dukungan melalui YBM PLN kemudian menjadi salah satu penguat bagi Husniati untuk terus menjalankan tugasnya melayani masyarakat.
Husniati berharap warga di pelosok semakin mudah memperoleh pelayanan kesehatan, terutama bagi ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Ia ingin tetap mendampingi masyarakat meskipun akses dan sarana pelayanan belum sepenuhnya memadai.
“Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi,” ujar Husniati.
Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar mendukung upaya memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kerjanya. Perjalanan Husniati di pelosok Majene menunjukkan bahwa menghadirkan layanan kesehatan tak cukup hanya dengan tenaga dan pengetahuan medis. Dibutuhkan pula ketekunan untuk menempuh jalan sulit, mendatangi warga, dan tetap hadir ketika pertolongan dibutuhkan.
(TRI)
Berita Terkait
Ekbis
Promo Energi Berdikari, PLN Beri Diskon Tambah Daya hingga 50 Persen
PT PLN (Persero) menghadirkan diskon 50 persen biaya penyambungan tambah daya melalui promo Energi Berdikari untuk memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81.
Jum'at, 23 Okt 2026 12:42
Ekbis
Kendaraan Listrik di Sulselrabar Tumbuh 53,7 Persen, PLN Perluas Jaringan SPKLU
Pertumbuhan kendaraan listrik di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mendorong kebutuhan infrastruktur pengisian daya yang semakin luas.
Senin, 19 Okt 2026 14:14
News
PLN Raih Sector Champion dan Runner Up di Danantara CX100 Award 2026
PLN meraih predikat Sector Champion kategori Energy & Public Utilities sekaligus menempati posisi Runner Up dalam daftar 100 BUMN dengan layanan terbaik pada ajang Danantara Indonesia CX100 Award 2026.
Rabu, 14 Okt 2026 13:36
Ekbis
Listrik Andal, UMKM Tumbuh: PLN UID Sulselrabar Perkuat Ekonomi Masyarakat
PLN UID Sulselrabar memperkuat dukungan terhadap UMKM melalui penyediaan energi listrik sekaligus program pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian pelaku usaha lokal.
Rabu, 14 Okt 2026 08:46
News
PLN Gandeng Koperasi Desa Merah Putih, Bayar Listrik Kini Lebih Dekat
PT PLN (Persero) memperluas akses layanan kelistrikan bagi masyarakat melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Selasa, 13 Okt 2026 19:10
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Yura Yunita Meriahkan Puncak HUT ke-74 KALLA di NIPAH PARK
2
Arum Spink Pertanyakan MRC Bulukumba Tak Masuk Daftar Voters KLB PSSI Sulsel
3
Pemkab Gowa Harap Operasi Patuh Pallawa 2026 Pacu Kesadaran Berkendara
4
Pertamina Sulawesi Raih Penghargaan Berkat Program Kampung Lontara
5
Wali Kota Makassar Minta Proyek Stadion Untia Libatkan Tenaga Kerja Lokal
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Yura Yunita Meriahkan Puncak HUT ke-74 KALLA di NIPAH PARK
2
Arum Spink Pertanyakan MRC Bulukumba Tak Masuk Daftar Voters KLB PSSI Sulsel
3
Pemkab Gowa Harap Operasi Patuh Pallawa 2026 Pacu Kesadaran Berkendara
4
Pertamina Sulawesi Raih Penghargaan Berkat Program Kampung Lontara
5
Wali Kota Makassar Minta Proyek Stadion Untia Libatkan Tenaga Kerja Lokal