Kemenag Sulsel Dorong Mahasiswa UIM Jadi Agen Kerukunan Beragama

Kamis, 15 Jan 2026 11:21
Kemenag Sulsel Dorong Mahasiswa UIM Jadi Agen Kerukunan Beragama
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid saat berbicara di depan mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, mengajak mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Ghazali untuk menjadi agen kerukunan di tengah masyarakat.

“Saat turun ke masyarakat, termasuk ketika melaksanakan KKN, jadilah duta moderasi beragama yang menyejukkan, merangkul, dan memberi teladan,” pesan Ali Yafid.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Dialog Penguatan Moderasi Beragama dan Dakwah Inklusif bagi Mahasiswa, hasil kerja sama Kanwil Kemenag Sulsel, Universitas Islam Makassar, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel, di Kampus UIM, Kamis (15/1/2026).

Di hadapan 200 mahasiswa UIM, Ali Yafid menegaskan pentingnya membumikan nilai-nilai moderasi beragama, tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, kerukunan umat beragama harus menjadi kekuatan sinergi dan kolaborasi dalam mendukung pembangunan nasional serta peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa moderasi beragama sejatinya telah menjadi bagian dari jati diri seorang Muslim. Islam, kata dia, merupakan agama yang menjunjung tinggi keseimbangan dan norma, serta menjauhkan umatnya dari sikap ekstrem.

Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk memperkuat pemahaman tentang dakwah inklusif, sekaligus membangun komitmen bersama dalam menjaga kerukunan, persatuan, dan keutuhan bangsa melalui pendekatan keagamaan yang moderat dan berorientasi pada kemanusiaan.

Sebelumnya, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulsel, H. Aminuddin, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia terus memperkuat arah kebijakan pembangunan keagamaan melalui Asta Protas Menteri Agama, salah satunya membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan. Kebijakan tersebut menegaskan bahwa kerukunan umat beragama tidak dapat dibiarkan tumbuh secara alamiah, tetapi harus diupayakan secara aktif, terencana, dan berkelanjutan.

Menurut Aminuddin, penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting dari implementasi tagline Kementerian Agama, “Ikhlas Beramal”, sekaligus penguatan paradigma Layanan Keagamaan Berdampak.

“Setiap program keagamaan tidak boleh berhenti pada capaian administratif atau seremonial semata, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, memperkuat harmoni sosial, dan mendorong kemajuan bangsa,” ujar Aminuddin.

Sementara itu, Rektor UIM Prof. KH. Muammar Bakry mengapresiasi kepercayaan Kemenag Sulsel yang menunjuk Kampus UIM sebagai penyelenggara pertama kegiatan tersebut.

“Mudah-mudahan yang hadir sebagai agen moderasi dan kerukunan agama yang inklusif ini sekali lagi bisa berdampak pada khalayak masyarakat luas,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, 200 mahasiswa peserta dialog mendeklarasikan diri sebagai Agen Kerukunan. Deklarasi dipimpin oleh Ferdi Purnawirawan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), penerima Beasiswa Santri Berprestasi Kementerian Agama.

Deklarasi Agen Kerukunan Universitas Islam Makassar menyatakan komitmen sebagai berikut:

1. Menjunjung tinggi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn dalam kehidupan kampus.

2. Menjaga persaudaraan, saling menghormati, dan hidup rukun dalam keberagaman.

3. Menjadi teladan dalam menebarkan kedamaian, toleransi, dan akhlak mulia.

4. Menolak segala bentuk kekerasan, perpecahan, dan paham yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai kebangsaan.

5. Menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab ekologis sebagai bagian dari iman dengan merawat, melindungi, dan melestarikan lingkungan hidup sebagai amanah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru