Opini
Masjid, Globalisasi dan Spiritualitas
Selasa, 03 Mar 2026 10:45
Syarifuddin Jurdi, Dosen UIN Alauddin Makassar dan Komisioner KPU Prov. Sulsel 2018-2023. Foto: Istimewa
Oleh: Syarifuddin Jurdi
Dosen UIN Alauddin Makassar
Memasuki abad ke-21, berbagai peristiwa sosial politik terjadi pada hampir semua negara, perubahan-perubahan besar berlangsung dengan cepat, mencakup banyak aspek dan dimensi kehidupan.
Dalam lingkup Asia dan Indonesia misalnya, perubahan bermula dari krisis ekonomi, krisis politik dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang berujung pada kejatuhan Presiden Soeharto, perubahan berkembang ke berbagai sektor lainnya. beriringan dengan itu, terjadi revolusi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penemuan baru dalam bidang ini membuka jalan bagi tumbuhnya generasi baru yang memiliki citra dan kecendrungan tertentu dalam hidupnya, sejumlah ilmuwan dalam berbagai bidang menyadari adanya perubahan tersebut, baik ilmuwan sosial, budaya dan para ahli dalam bidang teknologi informasi.
Alvin Toffler sudah memprediksi bahwa manusia masa depan akan mengalami apa yang ia sebut future shock, manusia kewalahan menghadapi perubahan yang terjadi dalam waktu yang terlalu singkat, salah satunya kelebihan Informasi (Information Overload), Toffler memprediksi bahwa manusia akan dibanjiri informasi yang berlebihan, membuat sulit dalam menentukan keputusan yang tepat.
Dalam aspek spiritual dan sosial untuk merespons kecendrungan perkembangan umat manusia adalah makin mengglobalnya kehidupan, semua aspek terkoneksi.
Catatan penting adalah diperlukan suatu kesadaran untuk membaca kecendrungan perubahan itu secara kritis dan reflektif, sarjana sosial seperti Kuntowijoyo (cendekiawan muslim) muncul dengan pemikirannya yang kritis dan mengembangkan paradigma ilmu sosial baru yaitu ilmu sosial profetik. Gagasan ini telah muncul dalam Jurnal Ulumul Qur’an edisi pertama melalui rubrik wawancara.
Pada awal 2000-an, Kuntowijoyo menulis buku yang cukup menarik yakni Muslim Tanpa Masjid, suatu karya yang penting bagi bangkitnya kesadaran intelektual muslim dalam merespons kondisi umat Islam yang cenderung berorientasi pada ritual pribadi, Kuntowijoyo melakukan kritik terhadap fenomena semakin banyaknya umat Islam yang menjalankan ibadah ritual secara pribadi, tanpa peduli dengan kolektiva.
Beragama berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang tidak otoritatif, mungkin dalam bahasa kontemporernya hari ini, beragama berdasarkan informasi yang tidak valid, terdistorsi oleh berbagai motif dan kepentingan.
Misalnya seseorang mengambil pilihan dan sikap atas potongan video di media sosial, atau fatwa-fatwa keagamaan yang tidak utuh melalui media sosial, atas dasar itu menentukan sikapnya dalam beragama maupun dalam beribadah, jadi pilihan dalam beragamanya bukan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari kitab-kitab yang otoritatif atau ulama yang mumpuni.
Pilihan beragama yang dilakukan umat Islam menurut Kuntowijoyo merupakan pilihan yang teralienasi atau terpisah dari kehidupan sosial, budaya, dan politik yang lebih luas, beragamanya umat Islam itu secara tradisional diwadahi oleh simbol masjid atau komunitas keumatan.
Masjid bagi umat Islam berfungsi sebagai simpul atau biasa disebut melting pot dalam jaringan global umat Islam, masjid dapat menghubungkan komunitas lokal dengan isu kemanusiaan, masalah dunia Islam serta perkembangan di berbagai belahan dunia. Masjid menjadi sumber persaudaraan dan solidaritas sesama muslim lintas budaya, lintas suku, lintas bangsa dan negara.
Masjid pada era globalisasi berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, literasi digital dapat digerakkan melalui masjid untuk kepentingan ketrampilan praktis, pemanfaatan teknologi yang produktif bagi umat, diskusi, seminar dan kajian untuk membahas masalah kemanusiaan universal. Itu merupakan makna masjid secara konvensional dan tradisional, masjid yang identik dengan bangunan sebagai tempat ibadah.
Perspektif kritis Kuntowijoyo dengan paradigma “masjid” menjadi penting sebagai panggilan intelektual untuk mengambil prakarsa dalam mengoreksi cara beragama yang rajin beribadah atau ritual (naik haji berulang, umrah setiap tahun dll.), namun kurang peduli terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab publik.
Ide muslim dan masjid merupakan ide global yang menunjukkan bahwa umat Islam menjadikan hamparan bumi ini sebagai masjid, Muhammad Iqbal – seorang sarjana Islam Pakistan yang cukup berpengaruh luas, salah satu karyanya yang cukup penting adalah The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal pernah menyebutkan bahwa masjid secara tradisional merupakan tempat suci di mana umat Islam bersujud (sajdah), mengakui keagungan Tuhan, dan menanggalkan perbedaan duniawi.
Iqbal memperluas makna masjid tidak hanya bangunan tempat ibadah, tetapi masjid mencakup seluruh alam semesta ini, bahwa tindakan beribadah (mengingat, mematuhi, dan berserah diri kepada Tuhan) tidak terbatas pada bangunan fisik tertentu, tetapi bisa dilakukan di mana saja, kapan saja.
Dalam hal ini, Iqbal menentang gagasan bahwa spiritualitas sejati hanya dapat ditemukan dalam bangunan masjid dan jauh dari aktivitas keduniaan, tapi Iqbal mendorong umat Islam untuk aktif di dunia—di pasar, di laboratorium ilmiah, di medan politik—karena semua tempat tersebut adalah arena di mana kehendak Ilahi dapat diwujudkan, pada tempat-tempat itulah seorang hamba akan dapat berinteraksi dengan Tuhan.
Masjid bagi Iqbal merupakan simbol yang menyatukan umat Islam, ini relevan dengan globalisasi yang mendorong proses integrasi dan interaksi yang mendalam antara berbagai negara, budaya, dan individu di seluruh dunia, sehingga batas-batas geografis menjadi kurang relevan, spiritualitas juga sebenarnya memiliki makna yang sama sebagai simbol masjid bagi umat Islam. Dalam hal ini, masjid merupakan bangunan dan tempat para hamba bersujud pada Allah.
Jadi, ketika seorang hamba sedang kuliah dalam rangka bersujud pada Allah maka tempat kuliahnya otomatis menjadi masjid. Jika seorang gadis menerima lamaran seseorang pemuda demi persujudan pada Allah, maka rumah tangganya menjadi masjid bagi kehidupan mereka. Jika seorang presiden memimpin bangsa demi sujudnya pada Allah maka seluruh wilayah negara yang dipimpinnya akan tumbuh menjadi masjid yang sangat kokoh.
Selanjutnya jika seorang pedagang berjualan demi sujudnya pada Allah, pasar seketika menjadi masjid. Maka dimanapun ada hamba yang merealisasikan persujudannya pada Allah, maka otomatis ia tengah mendirikan masjid. Itulah ide globalisasi dalam dimensi spiritual, bahwa sesungguhnya seluruh bumi Allah adalah masjid (Kusuma Jaya, 2016).
Globalisasi yang kita dengar, diskusikan, perdebatkan dan kritik adalah globalisasi perdagangan, pasar – dan bukanlah apa yang kita pahami sebagai fenomena masjid yang mengglobal dalam arti dan makna yang telah dijelaskan tersebut diatas. Globalisasi merupakan representasi ideologi neoliberalisme dengan menempatkan kebebasan pasar, semua kewenangan dan otoritas perlahan-lahan dipreteli untuk memuluskan bekerjanya ideologi neoliberalisme.
Ideologi ini bukan mengatasi kesenjangan dan ketidakadilan, tetapi justru memproduksi mekanisme pasar yang tidak adil, mempertajam ketimpangan ekonomi antar negara-bangsa, bahkan apa yang pernah berkembang pada fase awal industrialisasi yang menyebut bahwa globalisasi merupakan penghisapan global oleh negara industri maju terhadap negara-negara berkembang.
Globalisasi dengan ideologi neoliberalismenya akan menghasilkan dehumanisasi (merendahkan manusia) sebagai akibat dari implementasi produk teknologi yang menyebabkan keberadaan manusia yang bergerak tanpa kesadaran.
Globalisasi yang memproduksi dehumanisasi inilah yang direspons oleh Kuntowijoyo dengan Muslim Tanpa Masjid, orientasi spiritualnya mengembalikan peran masjid sebagai satu instrumen umat Islam yang bersifat global sebagai sarana menghasilkan humanisasi (memanusiakan manusia).
Menurut Ashad bahwa ini bukan berorientasi pada upaya untuk memperbanyak masjid, tetapi bagaimana menempatkan semangat dan orientasi spiritual umat untuk mengabdi dalam kondisi, situasi dan tempat apapun, masjid merupakan sarana untuk memposisikan manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa bersujud.
Wallahu a’lam bi shawab
Dosen UIN Alauddin Makassar
Memasuki abad ke-21, berbagai peristiwa sosial politik terjadi pada hampir semua negara, perubahan-perubahan besar berlangsung dengan cepat, mencakup banyak aspek dan dimensi kehidupan.
Dalam lingkup Asia dan Indonesia misalnya, perubahan bermula dari krisis ekonomi, krisis politik dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang berujung pada kejatuhan Presiden Soeharto, perubahan berkembang ke berbagai sektor lainnya. beriringan dengan itu, terjadi revolusi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penemuan baru dalam bidang ini membuka jalan bagi tumbuhnya generasi baru yang memiliki citra dan kecendrungan tertentu dalam hidupnya, sejumlah ilmuwan dalam berbagai bidang menyadari adanya perubahan tersebut, baik ilmuwan sosial, budaya dan para ahli dalam bidang teknologi informasi.
Alvin Toffler sudah memprediksi bahwa manusia masa depan akan mengalami apa yang ia sebut future shock, manusia kewalahan menghadapi perubahan yang terjadi dalam waktu yang terlalu singkat, salah satunya kelebihan Informasi (Information Overload), Toffler memprediksi bahwa manusia akan dibanjiri informasi yang berlebihan, membuat sulit dalam menentukan keputusan yang tepat.
Dalam aspek spiritual dan sosial untuk merespons kecendrungan perkembangan umat manusia adalah makin mengglobalnya kehidupan, semua aspek terkoneksi.
Catatan penting adalah diperlukan suatu kesadaran untuk membaca kecendrungan perubahan itu secara kritis dan reflektif, sarjana sosial seperti Kuntowijoyo (cendekiawan muslim) muncul dengan pemikirannya yang kritis dan mengembangkan paradigma ilmu sosial baru yaitu ilmu sosial profetik. Gagasan ini telah muncul dalam Jurnal Ulumul Qur’an edisi pertama melalui rubrik wawancara.
Pada awal 2000-an, Kuntowijoyo menulis buku yang cukup menarik yakni Muslim Tanpa Masjid, suatu karya yang penting bagi bangkitnya kesadaran intelektual muslim dalam merespons kondisi umat Islam yang cenderung berorientasi pada ritual pribadi, Kuntowijoyo melakukan kritik terhadap fenomena semakin banyaknya umat Islam yang menjalankan ibadah ritual secara pribadi, tanpa peduli dengan kolektiva.
Beragama berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang tidak otoritatif, mungkin dalam bahasa kontemporernya hari ini, beragama berdasarkan informasi yang tidak valid, terdistorsi oleh berbagai motif dan kepentingan.
Misalnya seseorang mengambil pilihan dan sikap atas potongan video di media sosial, atau fatwa-fatwa keagamaan yang tidak utuh melalui media sosial, atas dasar itu menentukan sikapnya dalam beragama maupun dalam beribadah, jadi pilihan dalam beragamanya bukan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari kitab-kitab yang otoritatif atau ulama yang mumpuni.
Pilihan beragama yang dilakukan umat Islam menurut Kuntowijoyo merupakan pilihan yang teralienasi atau terpisah dari kehidupan sosial, budaya, dan politik yang lebih luas, beragamanya umat Islam itu secara tradisional diwadahi oleh simbol masjid atau komunitas keumatan.
Masjid bagi umat Islam berfungsi sebagai simpul atau biasa disebut melting pot dalam jaringan global umat Islam, masjid dapat menghubungkan komunitas lokal dengan isu kemanusiaan, masalah dunia Islam serta perkembangan di berbagai belahan dunia. Masjid menjadi sumber persaudaraan dan solidaritas sesama muslim lintas budaya, lintas suku, lintas bangsa dan negara.
Masjid pada era globalisasi berperan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, literasi digital dapat digerakkan melalui masjid untuk kepentingan ketrampilan praktis, pemanfaatan teknologi yang produktif bagi umat, diskusi, seminar dan kajian untuk membahas masalah kemanusiaan universal. Itu merupakan makna masjid secara konvensional dan tradisional, masjid yang identik dengan bangunan sebagai tempat ibadah.
Perspektif kritis Kuntowijoyo dengan paradigma “masjid” menjadi penting sebagai panggilan intelektual untuk mengambil prakarsa dalam mengoreksi cara beragama yang rajin beribadah atau ritual (naik haji berulang, umrah setiap tahun dll.), namun kurang peduli terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab publik.
Ide muslim dan masjid merupakan ide global yang menunjukkan bahwa umat Islam menjadikan hamparan bumi ini sebagai masjid, Muhammad Iqbal – seorang sarjana Islam Pakistan yang cukup berpengaruh luas, salah satu karyanya yang cukup penting adalah The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal pernah menyebutkan bahwa masjid secara tradisional merupakan tempat suci di mana umat Islam bersujud (sajdah), mengakui keagungan Tuhan, dan menanggalkan perbedaan duniawi.
Iqbal memperluas makna masjid tidak hanya bangunan tempat ibadah, tetapi masjid mencakup seluruh alam semesta ini, bahwa tindakan beribadah (mengingat, mematuhi, dan berserah diri kepada Tuhan) tidak terbatas pada bangunan fisik tertentu, tetapi bisa dilakukan di mana saja, kapan saja.
Dalam hal ini, Iqbal menentang gagasan bahwa spiritualitas sejati hanya dapat ditemukan dalam bangunan masjid dan jauh dari aktivitas keduniaan, tapi Iqbal mendorong umat Islam untuk aktif di dunia—di pasar, di laboratorium ilmiah, di medan politik—karena semua tempat tersebut adalah arena di mana kehendak Ilahi dapat diwujudkan, pada tempat-tempat itulah seorang hamba akan dapat berinteraksi dengan Tuhan.
Masjid bagi Iqbal merupakan simbol yang menyatukan umat Islam, ini relevan dengan globalisasi yang mendorong proses integrasi dan interaksi yang mendalam antara berbagai negara, budaya, dan individu di seluruh dunia, sehingga batas-batas geografis menjadi kurang relevan, spiritualitas juga sebenarnya memiliki makna yang sama sebagai simbol masjid bagi umat Islam. Dalam hal ini, masjid merupakan bangunan dan tempat para hamba bersujud pada Allah.
Jadi, ketika seorang hamba sedang kuliah dalam rangka bersujud pada Allah maka tempat kuliahnya otomatis menjadi masjid. Jika seorang gadis menerima lamaran seseorang pemuda demi persujudan pada Allah, maka rumah tangganya menjadi masjid bagi kehidupan mereka. Jika seorang presiden memimpin bangsa demi sujudnya pada Allah maka seluruh wilayah negara yang dipimpinnya akan tumbuh menjadi masjid yang sangat kokoh.
Selanjutnya jika seorang pedagang berjualan demi sujudnya pada Allah, pasar seketika menjadi masjid. Maka dimanapun ada hamba yang merealisasikan persujudannya pada Allah, maka otomatis ia tengah mendirikan masjid. Itulah ide globalisasi dalam dimensi spiritual, bahwa sesungguhnya seluruh bumi Allah adalah masjid (Kusuma Jaya, 2016).
Globalisasi yang kita dengar, diskusikan, perdebatkan dan kritik adalah globalisasi perdagangan, pasar – dan bukanlah apa yang kita pahami sebagai fenomena masjid yang mengglobal dalam arti dan makna yang telah dijelaskan tersebut diatas. Globalisasi merupakan representasi ideologi neoliberalisme dengan menempatkan kebebasan pasar, semua kewenangan dan otoritas perlahan-lahan dipreteli untuk memuluskan bekerjanya ideologi neoliberalisme.
Ideologi ini bukan mengatasi kesenjangan dan ketidakadilan, tetapi justru memproduksi mekanisme pasar yang tidak adil, mempertajam ketimpangan ekonomi antar negara-bangsa, bahkan apa yang pernah berkembang pada fase awal industrialisasi yang menyebut bahwa globalisasi merupakan penghisapan global oleh negara industri maju terhadap negara-negara berkembang.
Globalisasi dengan ideologi neoliberalismenya akan menghasilkan dehumanisasi (merendahkan manusia) sebagai akibat dari implementasi produk teknologi yang menyebabkan keberadaan manusia yang bergerak tanpa kesadaran.
Globalisasi yang memproduksi dehumanisasi inilah yang direspons oleh Kuntowijoyo dengan Muslim Tanpa Masjid, orientasi spiritualnya mengembalikan peran masjid sebagai satu instrumen umat Islam yang bersifat global sebagai sarana menghasilkan humanisasi (memanusiakan manusia).
Menurut Ashad bahwa ini bukan berorientasi pada upaya untuk memperbanyak masjid, tetapi bagaimana menempatkan semangat dan orientasi spiritual umat untuk mengabdi dalam kondisi, situasi dan tempat apapun, masjid merupakan sarana untuk memposisikan manusia sebagai hamba Allah yang senantiasa bersujud.
Wallahu a’lam bi shawab
(UMI)
Berita Terkait
News
Islam Rendah
Islam rendah sebenarnya orang lebih mengidentikkan dengan istilah Islam rakyat atau Islam pedesaan yang menunjukkan praktik agama yang berkembang di kalangan masyarakat pedesaan, suku-suku, dan kalangan awam perkotaan
Senin, 02 Mar 2026 09:45
News
Netralitas ASN: Ketika Loyalitas Berhadapan dengan Hukum dan Amanah
SALAH satu problem mendasar kepemiluan kita adalah netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Isu ini kerap diperlakukan sebagai pelanggaran personal, padahal sesungguhnya berakar pada persoalan nilai: benturan antara loyalitas birokrasi dan tuntutan keadilan pemilu.
Senin, 02 Mar 2026 05:32
News
Islam Tinggi
Istilah Islam tinggi (high Islam) dan Islam rendah (low Islam) saya rujuk pada tulisan Ernest Gellner yang menunjukan pada kualifikasi seorang muslim dalam aktualisasi dirinya di masyarakat.
Minggu, 01 Mar 2026 14:00
News
Kritik sebagai Amanah Moral: Menyetel Nurani, Menjaga Peradaban
KRITIK sering dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban. Ia dianggap suara sumbang yang merusak harmoni, apalagi ketika diarahkan kepada kekuasaan atau kemapanan.
Minggu, 01 Mar 2026 05:35
News
Jayapura: Jangan Sampai Kita Terlalu Cepat Melupakan Akar
KEMARIN, sebelum melanjutkan perjalanan dengan Kereta Cepat Whoosh ke Bandung, saya dan Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, singgah sejenak di sebuah masjid kecil dekat stasiun Guna melaksanakan salat Jum'at.
Sabtu, 28 Feb 2026 11:53
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Novotel Makassar Kembali Hadirkan Penawaran Eksklusif & Beragam Hadiah di Pameran TSM
2
DPRD Makassar Desak Dinkes Layangkan Teguran ke RSIA Paramount
3
Masjid, Globalisasi dan Spiritualitas
4
Kalah 2-4 dari Persita, Suporter PSM Makassar Masuk Lapangan Usai Laga
5
PT Semen Tonasa Dukung Pembangunan Infrastruktur di Desa Bulu Cindea
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Novotel Makassar Kembali Hadirkan Penawaran Eksklusif & Beragam Hadiah di Pameran TSM
2
DPRD Makassar Desak Dinkes Layangkan Teguran ke RSIA Paramount
3
Masjid, Globalisasi dan Spiritualitas
4
Kalah 2-4 dari Persita, Suporter PSM Makassar Masuk Lapangan Usai Laga
5
PT Semen Tonasa Dukung Pembangunan Infrastruktur di Desa Bulu Cindea