Kemarau Picu Krisis Air Bersih di Maros, 92 Ribu Jiwa Terdampak
Minggu, 12 Jul 2026 14:38
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, To Wadeng menjelaskan situasi kekeringan di Kabupaten Maros. Foto: SINDO Makassar/Najmi S limonu
MAROS - Sedikitnya 92 ribu jiwa di Kabupaten Maros mulai terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau yang memasuki puncaknya pada Juli 2026.
Hingga saat ini, terdapat tujuh kecamatan yang mulai merasakan dampak kekeringan. Tiga di antaranya mengalami kondisi paling parah, yakni Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, To Wadeng, mengatakan tujuh kecamatan yang terdampak meliputi Bontoa, Lau, Maros Baru, Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
"Berdasarkan rilis BMKG kemarau sudah terjadi sejak awal Juni lalu, dan perkiraan puncak musim kemarau ada di bulan Juli. Di Kabupaten Maros ada tiga Kecamatan yang telah terdampak sangat parah, yakni Kecamatan Bontoa, Maros Baru dan Lau," ujarnya saat dihubungi, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, sekitar 92 ribu jiwa di tujuh kecamatan tersebut mulai merasakan dampak berkurangnya ketersediaan air bersih.
"Yang paling banyak itu di Kecamatan Bontoa. Dari tujuh Kelurahan dan Desa yang ada, sekitar 90% wilayahnya telah terdampak. Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa. Memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih," jelasnya.
Ia mengakui, sejumlah wilayah di Maros memang menjadi langganan kekeringan ketika hujan tidak turun selama sekitar satu bulan.
"Kecuali mereka membeli air atau mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah," katanya.
BPBD Maros pun telah menyusun jadwal penyaluran air bersih ke wilayah yang terdampak paling parah, yakni Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
"Rencananya, bulan ini kami sudah akan menyalurkan air bersih di pekan ketiga-keempat untuk Kecamatan Bontoa, Lau dan Maros Baru," katanya.
To Wadeng memprediksi jumlah wilayah terdampak akan bertambah. Jika tahun lalu terdapat delapan kecamatan yang mengalami kekeringan, tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem.
"Tahun lalu itu ada sekitar 8 Kecamatan yang terdampak. Tapi tahun ini diprediksi akan terdampak 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem. Yakni Kecamatan Turikale, Marusu, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, Lau dan Maros Baru," ungkapnya.
Saat ini BPBD Maros hanya memiliki empat armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi sehingga pihaknya telah meminta dukungan armada dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.
"Idealnya harus ada 8 armada penyaluran air bersih, untuk membackup penyaluran air bersih. Sementara kita hanya memiliki 4 armada saja. Makanya kita berkoordinasi ke Balai Pompengan dan BPBD Provinsi Sulsel untuk diberikan bantuan armada air bersih," ujarnya.
Hingga saat ini, terdapat tujuh kecamatan yang mulai merasakan dampak kekeringan. Tiga di antaranya mengalami kondisi paling parah, yakni Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maros, To Wadeng, mengatakan tujuh kecamatan yang terdampak meliputi Bontoa, Lau, Maros Baru, Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
"Berdasarkan rilis BMKG kemarau sudah terjadi sejak awal Juni lalu, dan perkiraan puncak musim kemarau ada di bulan Juli. Di Kabupaten Maros ada tiga Kecamatan yang telah terdampak sangat parah, yakni Kecamatan Bontoa, Maros Baru dan Lau," ujarnya saat dihubungi, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, sekitar 92 ribu jiwa di tujuh kecamatan tersebut mulai merasakan dampak berkurangnya ketersediaan air bersih.
"Yang paling banyak itu di Kecamatan Bontoa. Dari tujuh Kelurahan dan Desa yang ada, sekitar 90% wilayahnya telah terdampak. Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa. Memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih," jelasnya.
Ia mengakui, sejumlah wilayah di Maros memang menjadi langganan kekeringan ketika hujan tidak turun selama sekitar satu bulan.
"Kecuali mereka membeli air atau mendapatkan bantuan air bersih dari Pemerintah," katanya.
BPBD Maros pun telah menyusun jadwal penyaluran air bersih ke wilayah yang terdampak paling parah, yakni Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
"Rencananya, bulan ini kami sudah akan menyalurkan air bersih di pekan ketiga-keempat untuk Kecamatan Bontoa, Lau dan Maros Baru," katanya.
To Wadeng memprediksi jumlah wilayah terdampak akan bertambah. Jika tahun lalu terdapat delapan kecamatan yang mengalami kekeringan, tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem.
"Tahun lalu itu ada sekitar 8 Kecamatan yang terdampak. Tapi tahun ini diprediksi akan terdampak 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem. Yakni Kecamatan Turikale, Marusu, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, Lau dan Maros Baru," ungkapnya.
Saat ini BPBD Maros hanya memiliki empat armada mobil tangki untuk mendistribusikan air bersih. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi sehingga pihaknya telah meminta dukungan armada dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.
"Idealnya harus ada 8 armada penyaluran air bersih, untuk membackup penyaluran air bersih. Sementara kita hanya memiliki 4 armada saja. Makanya kita berkoordinasi ke Balai Pompengan dan BPBD Provinsi Sulsel untuk diberikan bantuan armada air bersih," ujarnya.
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
Bupati Maros Bagi-bagi Masker ke ASN
Bupati Maros, AS Chaidir Syam membagi-bagikan masker kepada seluruh ASN. Pembagian masker dilakukan saat apel rutin Pemkab Maros di Lapangan Pallantikang, Senin (12/10/2026).
Senin, 12 Okt 2026 09:58
Sulsel
Kualitas Udara Memburuk, Bupati Maros Imbau Warga Pakai Masker
Kualitas Udara di Kabupaten Maros saat ini terindikasi buruk, yang diakibatkan kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
Minggu, 11 Okt 2026 09:47
Sulsel
300 Ribu Warga Maros Terdampak Kekeringan, 5 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Kemarau panjang yang melanda hampir semua wilayah Sulawesi Selatan, berdampak pada kekeringan dan minimnya air bersih.
Rabu, 07 Okt 2026 13:03
News
Akses Air Bersih Diperkuat, PLN Siapkan Sumur Bor dan Tandon di Kaluku Bodoa
Untuk memperkuat akses sekaligus kesiapsiagaan menghadapi risiko kekeringan, PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi mendukung penyediaan 12 sumur bor dan 17 tandon air yang menjangkau masyarakat di 51 RT.
Rabu, 30 Sep 2026 12:47
Sulsel
Siswa SD Maros Juara Panahan Tradisional Sulsel
Moch Idham Khalid Pasya, siswa kelas V Kuttab Al-Azka Maros, meraih juara II pada ajang panahan tradisional tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Rabu, 30 Sep 2026 11:27
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bakal Calon Ketua Perebutkan 27 Suara di Musda Demokrat Sulsel 2026
2
FIFGROUP Maros Edukasi Pelajar tentang Literasi Keuangan dan Jamsos
3
Penerbangan Kuala Lumpur-Madinah Dibatalkan, 53 Jemaah Umrah Terdampak
4
Bawaslu Selayar Temukan 3 Orang Meninggal yang Masuk Daftar Pemilih di Putabangun
5
Akibat Kabut Asap, Pos Polair Parepare Bagikan Masker dan Himbau Nelayan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bakal Calon Ketua Perebutkan 27 Suara di Musda Demokrat Sulsel 2026
2
FIFGROUP Maros Edukasi Pelajar tentang Literasi Keuangan dan Jamsos
3
Penerbangan Kuala Lumpur-Madinah Dibatalkan, 53 Jemaah Umrah Terdampak
4
Bawaslu Selayar Temukan 3 Orang Meninggal yang Masuk Daftar Pemilih di Putabangun
5
Akibat Kabut Asap, Pos Polair Parepare Bagikan Masker dan Himbau Nelayan