Al Markaz Makassar Gelar Dialog Kebangsaan Bahas Moderasi Beragama
Sabtu, 15 Agu 2026 19:56
Suasana Dialog Kebangsaan di Aula Masjid Al Markaz Al Islami, Sabtu (15/8/2026). Foto: Istimewa
MAKASSAR - Yayasan Islamic Center Masjid Al Markaz Al Islami Makassar menggelar Dialog Kebangsaan di Aula Masjid Al Markaz Al Islami, Sabtu (15/8/2026).
Dialog tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari persatuan, keberagaman, moderasi beragama, hingga peran masyarakat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dialog dipandu Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami yang juga Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Muammar Bakry.
Forum tersebut menghadirkan Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Sulsel Kombes Pol Anang Triarsono, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ishaq Iskandar, serta Sekretaris Umum FORHATI Sulsel sekaligus Sekretaris Badan Zakat, Infak, dan Sedekah Al Markaz Al Islami, Andi Sri Wulandani Thamrin.
Ketua Harian Yayasan Islamic Center Al Markaz Al Islami, Prof. Mustari Mustafa, mengatakan Dialog Kebangsaan merupakan agenda tahunan yang kini memasuki pelaksanaan tahun kedua.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi berbagai elemen masyarakat untuk membahas persoalan kebangsaan secara terbuka.
Momentum menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kata dia, menjadi kesempatan untuk memperkuat pesan persatuan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Pesan kemerdekaan itu yang paling penting adalah persatuan. Kemudian nilai cinta terhadap bangsa dan negara,” ujar Prof Mustari.
Ia mengatakan Masjid Al Markaz Al Islami tidak hanya diharapkan menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang muamalah dan ruang publik bagi masyarakat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
“Masjid tidak hanya dicitrakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat muamalah, tempat kita bisa mengekspresikan kecintaan terhadap bangsa melalui dialog,” katanya.
Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Sulsel, Kombes Pol Anang Triarsono, menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai kesepakatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, perbedaan pendapat yang muncul dalam forum tersebut merupakan gambaran kecil dari kemajemukan masyarakat Indonesia.
“Dari perbedaan perlu sarana bagaimana boleh berbeda, tapi prinsip tetap satu,” ujar Anang.
Ia mengatakan keberagaman masyarakat Indonesia membutuhkan sikap saling menghargai. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan ialah melalui moderasi beragama.
Menurut Anang, moderasi beragama berarti tidak bersikap eksklusif dan tidak merasa menjadi kelompok yang paling benar, dengan tetap menyadari keberagaman agama, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia.
“Kita menyadari bahwa kita ini hidup di Indonesia dengan segala keberagaman dari Sabang sampai Merauke,” katanya.
Anang juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap Indonesia sebagai negara hukum. Menurutnya, aturan hukum diperlukan untuk menjaga keteraturan dan mencegah tindakan yang dapat mengganggu kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Andi Sri Wulandani Thamrin menyoroti peran strategis perempuan dalam memperkuat moderasi beragama.
Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Perempuan sebagai Penggerak Moderasi Beragama”, ia mengatakan perempuan memiliki posisi penting dalam membangun karakter anak dan keluarga, termasuk menanamkan sikap menghargai perbedaan.
Ia juga menyoroti tantangan penyebaran paham radikal melalui media sosial dan ruang digital yang menyasar anak-anak dan perempuan.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Mereka memiliki peran penting dalam mendidik generasi untuk menghargai perbedaan dan menangkal ekstremisme sejak dini,” ujarnya.
Menurut Andi Sri, ketahanan keluarga menjadi salah satu aspek penting dalam mencegah berkembangnya intoleransi dan ekstremisme.
Ia menilai perempuan di Sulawesi Selatan memiliki potensi besar menjadi penggerak moderasi beragama. Potensi tersebut didukung capaian pembangunan perempuan serta modal sosial dan budaya masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam forum tersebut, Andi Sri mengusulkan dialog lintas iman yang secara khusus melibatkan perempuan dari berbagai organisasi, komunitas, dan latar belakang keagamaan.
Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang komunikasi sekaligus memperkuat jejaring perempuan sebagai agen perdamaian.
Ia juga mendorong agar rumah ibadah semakin ramah bagi perempuan dan anak. Upaya tersebut mencakup peningkatan kesadaran terhadap pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan rumah ibadah.
Selain itu, Andi Sri mengusulkan pelatihan literasi digital dan cek fakta bagi perempuan untuk menghadapi penyebaran informasi keliru maupun provokatif di ruang digital.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Prof. Mustari. Ia mengatakan rencana dialog khusus perempuan dapat segera diwujudkan.
“Karena ini sudah kita ucapkan di forum publik seperti ini, tentu ini menjadi satu rencana bagi kita dan menjadi beban moral untuk kita realisasikan,” katanya.
Prof. Mustari mengatakan pihak Al Markaz akan melihat momentum dan kesiapan untuk melaksanakan forum tersebut tanpa harus menunggu Dialog Kebangsaan tahun berikutnya.
Melalui Dialog Kebangsaan tersebut, Yayasan Islamic Center Masjid Al Markaz Al Islami menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang dialog bagi berbagai elemen masyarakat.
Forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertukar pandangan, tetapi juga memperkuat persatuan, moderasi beragama, toleransi, serta keterlibatan perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga dan kehidupan sosial.
Upaya tersebut dinilai relevan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, dengan menempatkan keberagaman sebagai kekuatan untuk memperkokoh persatuan dan menjaga keutuhan bangsa.
Dialog tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari persatuan, keberagaman, moderasi beragama, hingga peran masyarakat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dialog dipandu Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami yang juga Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Muammar Bakry.
Forum tersebut menghadirkan Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Sulsel Kombes Pol Anang Triarsono, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ishaq Iskandar, serta Sekretaris Umum FORHATI Sulsel sekaligus Sekretaris Badan Zakat, Infak, dan Sedekah Al Markaz Al Islami, Andi Sri Wulandani Thamrin.
Ketua Harian Yayasan Islamic Center Al Markaz Al Islami, Prof. Mustari Mustafa, mengatakan Dialog Kebangsaan merupakan agenda tahunan yang kini memasuki pelaksanaan tahun kedua.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi berbagai elemen masyarakat untuk membahas persoalan kebangsaan secara terbuka.
Momentum menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kata dia, menjadi kesempatan untuk memperkuat pesan persatuan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Pesan kemerdekaan itu yang paling penting adalah persatuan. Kemudian nilai cinta terhadap bangsa dan negara,” ujar Prof Mustari.
Ia mengatakan Masjid Al Markaz Al Islami tidak hanya diharapkan menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang muamalah dan ruang publik bagi masyarakat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.
“Masjid tidak hanya dicitrakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat muamalah, tempat kita bisa mengekspresikan kecintaan terhadap bangsa melalui dialog,” katanya.
Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Sulsel, Kombes Pol Anang Triarsono, menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai kesepakatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, perbedaan pendapat yang muncul dalam forum tersebut merupakan gambaran kecil dari kemajemukan masyarakat Indonesia.
“Dari perbedaan perlu sarana bagaimana boleh berbeda, tapi prinsip tetap satu,” ujar Anang.
Ia mengatakan keberagaman masyarakat Indonesia membutuhkan sikap saling menghargai. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan ialah melalui moderasi beragama.
Menurut Anang, moderasi beragama berarti tidak bersikap eksklusif dan tidak merasa menjadi kelompok yang paling benar, dengan tetap menyadari keberagaman agama, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia.
“Kita menyadari bahwa kita ini hidup di Indonesia dengan segala keberagaman dari Sabang sampai Merauke,” katanya.
Anang juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap Indonesia sebagai negara hukum. Menurutnya, aturan hukum diperlukan untuk menjaga keteraturan dan mencegah tindakan yang dapat mengganggu kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Andi Sri Wulandani Thamrin menyoroti peran strategis perempuan dalam memperkuat moderasi beragama.
Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Perempuan sebagai Penggerak Moderasi Beragama”, ia mengatakan perempuan memiliki posisi penting dalam membangun karakter anak dan keluarga, termasuk menanamkan sikap menghargai perbedaan.
Ia juga menyoroti tantangan penyebaran paham radikal melalui media sosial dan ruang digital yang menyasar anak-anak dan perempuan.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Mereka memiliki peran penting dalam mendidik generasi untuk menghargai perbedaan dan menangkal ekstremisme sejak dini,” ujarnya.
Menurut Andi Sri, ketahanan keluarga menjadi salah satu aspek penting dalam mencegah berkembangnya intoleransi dan ekstremisme.
Ia menilai perempuan di Sulawesi Selatan memiliki potensi besar menjadi penggerak moderasi beragama. Potensi tersebut didukung capaian pembangunan perempuan serta modal sosial dan budaya masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam forum tersebut, Andi Sri mengusulkan dialog lintas iman yang secara khusus melibatkan perempuan dari berbagai organisasi, komunitas, dan latar belakang keagamaan.
Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang komunikasi sekaligus memperkuat jejaring perempuan sebagai agen perdamaian.
Ia juga mendorong agar rumah ibadah semakin ramah bagi perempuan dan anak. Upaya tersebut mencakup peningkatan kesadaran terhadap pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan rumah ibadah.
Selain itu, Andi Sri mengusulkan pelatihan literasi digital dan cek fakta bagi perempuan untuk menghadapi penyebaran informasi keliru maupun provokatif di ruang digital.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Prof. Mustari. Ia mengatakan rencana dialog khusus perempuan dapat segera diwujudkan.
“Karena ini sudah kita ucapkan di forum publik seperti ini, tentu ini menjadi satu rencana bagi kita dan menjadi beban moral untuk kita realisasikan,” katanya.
Prof. Mustari mengatakan pihak Al Markaz akan melihat momentum dan kesiapan untuk melaksanakan forum tersebut tanpa harus menunggu Dialog Kebangsaan tahun berikutnya.
Melalui Dialog Kebangsaan tersebut, Yayasan Islamic Center Masjid Al Markaz Al Islami menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang dialog bagi berbagai elemen masyarakat.
Forum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertukar pandangan, tetapi juga memperkuat persatuan, moderasi beragama, toleransi, serta keterlibatan perempuan dalam menjaga ketahanan keluarga dan kehidupan sosial.
Upaya tersebut dinilai relevan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, dengan menempatkan keberagaman sebagai kekuatan untuk memperkokoh persatuan dan menjaga keutuhan bangsa.
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
Walkot Munafri Gaungkan Moderasi Beragama pada Peresmian Gereja Katedral Makassar
Wali Kota Munafri Arifuddin menggaungkan semangat moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Makassar. Hal itu ia sampaikan pada saat meresmikan Gereja Katedral Keuskupan Agung.
Jum'at, 31 Okt 2025 09:44
Makassar City
Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Gelar Dialog Bersama dalam Rumah Besar Islam
Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami menggelar Dialog Konstruktif Antar Komponen Umat dengan tema "Bersama dalam Rumah Besar Islam, di Ballroom Masjid.
Minggu, 06 Jul 2025 18:14
News
Rajin Ibadah, Tiga Jemaah Menangkan Umrah Karunia Ramadan Al-Markaz
Salah seorang pemenang, Hj. Asriani, mengaku tak pernah menyangka dirinya bisa menjadi salah satu pemenang umrah Karunia Ramadan Al-Markaz.
Rabu, 26 Apr 2023 18:15
News
Cerita Hidayat Galib, Rajin Tarawih di Masjid Al-Markaz Diganjar Umrah
Jemaah yang berdomisili di Papua, Hidayat Galib, berhasil menjadi pemenang pertama umrah Karunia Ramadan Al-Markaz Al Islami, Kota Makassar, Provinsi Sulsel.
Minggu, 09 Apr 2023 20:27
News
Program Karunia Ramadan, Jemaah Masjid Al-Markaz Berkesempatan Raih Umrah Gratis
Hadiah umrah dapat diperoleh dalam event bertajuk 'Karunia Ramadan Al-Markaz' yang berlangsung di pelataran parkir dan pintu masuk Masjid Al-Markaz Al-Islami selasa 1-20 April 2023.
Selasa, 04 Apr 2023 19:19
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PKKMB UNM, Prof Hasmyati Harap Jadi Momentum Transformasi Kampus
2
Unhas Kembangkan Teknologi Pascapanen untuk Konversi Kopi Robusta di Bululumba
3
Golkar Lutim Buka Pintu Lebar, Aripin Ungkap Sudah Ada Figur Baru yang Siap Bergabung
4
Reses di Balantang, Bangkit Soroti Dugaan Ketidakadilan Penerimaan Tenaga Kerja
5
Kolaborasi PLN & Pemkot Makassar Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan Makassar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
PKKMB UNM, Prof Hasmyati Harap Jadi Momentum Transformasi Kampus
2
Unhas Kembangkan Teknologi Pascapanen untuk Konversi Kopi Robusta di Bululumba
3
Golkar Lutim Buka Pintu Lebar, Aripin Ungkap Sudah Ada Figur Baru yang Siap Bergabung
4
Reses di Balantang, Bangkit Soroti Dugaan Ketidakadilan Penerimaan Tenaga Kerja
5
Kolaborasi PLN & Pemkot Makassar Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan Makassar